.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      MEDIA INDONESIA, 05  MEI   2009

      Mengapresiasi Guru bagi Pendidikan

      Oleh KiSupriyoko

      Pamong Taman Siswa, Pembina Sekolah Unggulan Insan Cendekia Yogyakarta, mantan Sekretaris Komisi Nasional (Komnas) Pendidikan Indonesia

      SIAPA pun tentu sependapat bahwa guru sangat menentukan kemajuan suatu bangsa. Logikanya, kemajuan bangsa sangat ditentukan mutu pendidikan dan mutu pendidikan sangat ditentukan guru. Sarana dan prasarana pendidikan itu penting, fasilitas belajar juga penting, kurikulum pendi­dikan pun sangat penting, begitu juga dengan pengelolaan pendidikan dan sistem penilaian yang tak bisa dikesampingkan. Namun, itu semua tidak ada artinya kalau tidak ada guru yang baik.

      Di Indonesia, kesadaran akan pentingnya guru dalam penentuan mutu pendidikan sesungguhnya sudah terjadi sejak lama, tapi aksi nyata atas kesadaran tersebut belumlah lama. Dengan diberlakukannya Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, atau yang lazim disebut UU Guru, merupakan salah satu bentuk aksi nyata atas kesadaran terse­but.

       

      Di lingkungan Departemen Pendidikan Na­sional (Depdiknas) sendiri secara khusus telah dibentuk direktorat jenderal yang khusus 'mengelola' guru, yaitu Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK). Hal itu juga merupakan bentuk lain aksi nyata atas kesadaran pentingnya guru dalam menentukan mutu pendidikan.

      Variabel antara

      Kalau di negara kita sudah terjadi kesadar­an tentang pentingnya guru dalam menentukan mutu pendidikan, mengapa sampai kini sering terjadi aksi, protes, sampai dengan demonstrasi untuk memperjuangkan hak-hak para pahlawan tanpa tanda jasa? Bahkan aksi tersebut di samping dilakukan masyarakat nonguru sampai oleh guru itu sendiri.

      Belum lama ini bahkan ada guru dan guru besar dari Sulawesi Selatan yang mengajukan tuntutan ke Mahkamah Konstitusi (MK) karena merasa Pasal 49 UU Sisdiknas 'mengabaikan' peran sentral guru.

      Kalau kita ingat, lahirnya UU Guru itu sendi­ri dapat dikatakan sebagai hasil kompromi atau bentuk win-win solution, di antara dua kepentingan yang saling tarik menarik. Kepentingan pertama adalah tuntutan kesejahteraan, dalam hal ini kesejahteraan guru harus diprioritaskan kalau ingin pendidikan di Indonesia bisa segera bangkit dari keterpurukan. Kepentingan kedua adalah tuntutan keprofesionalan, dalam hal ini keprofesionalan guru harus dinomorsatukan kalau ing­in pendidikan di negeri ini tidak terpuruk selamanya.

      Kedua kepentingan itu pun akhirnya terpenuhi. UU Guru memberikan jaminan kesejah­teraan bagi guru, tapi tidak sembarang guru, hanya guru yang profesional yang berhak mendapatkan kesejahteraan memadai. Tentu istilah memadai di sini sangat relatif sifatnya.

      Kalau ditelaah secara mendalam, pihak yang berada pada kepentingan pertama (kesejahtera­an) dan kepentingan kedua (keprofesionalan) memiliki substansi yang sama, yaitu sama-sama mendudukkan guru pada posisi yang sentral untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Adapun bedanya adalah, di antara keduanya memiliki metode yang berbeda.

      Kesejahteraan dan keprofesionalan bukanlah tujuan akhir; keduanya hanya merupakan variabel antara (intervening variable) untuk mencapai kemajuan pendidikan di Indonesia. Dengan demikian kurang pada tempatnya kalau kita saling bertikai soal kesejahteraan dan keprofe­sionalan yang menghabiskan energi untuk memajukan pendidikan nasional.

      Benahi sertifikasi

      Realitasnya, UU Guru sudah berada pada tahap implementasi. Ratusan ribu guru sudah terlibat dalam kegiatan pencarian sertifikat pendidik. Sertifikat yang dikejar guru tidak sekadar berfungsi sebagai alasan pembenar, dalam bahasa hukumnya rechtsvaardigingsgrond, akan tetapi sebagai dasar hukum atau legal standing atas dirinya sebagai seorang profe­sional.

      Sertifikasi pendidik sudah dimulai pertengahan 2007, dan sampai kini masih sangat semarak kegiatannya. Secara kuantitas jumlah guru kita sekitar 2,7 juta orang, sedangkan yang lolos sertifikasi belum genap 0,7 juta orang. Itu berarti masih sekitar 2 juta guru yang akan mengejar sertifikasi. Itu memerlukan keseriusan dan kerja keras untuk membereskannya.

      Masalahnya adalah, apakah model portofolio dengan pengisian seperti kegiatan yang dikembangkan pemerintah untuk menyertifikati guru sekarang ini sudah tepat?

      Justru di situlah permasalahannya! Model portofolio yang biasa dipakai di Barat dan dapat dijalankan dengan produktif disinyalir berbeda ceritanya di Indonesia. Di samping rawan de­ngan pemalsuan data, model itu sangat memberatkan bagi kebanyakan guru yang tidak memiliki tradisi mendokumentasi aneka kegiatan yang secara langsung dan tak langsung mendukung profesinya sebagai tenaga pendidik. Alhasil berbagai cara, termasuk yang tidak edukatif, dilakukan sebagian guru untuk memenuhinya.

      Pembenahan terhadap proses sertifikasi, terutama menyangkut pemberlakuan model porto­folio, kiranya sangat diperlukan. Itu semua dimaksudkan untuk memperlancar proses serti­fikasi tanpa mengorbankan kualitas untuk memajukan pendidikan Indonesia.

      Kita memang bangga dilakukannya apresiasi terhadap para guru untuk mencapai kemajuan pendidikan, meskipun demikian koreksi atas konsep dan langkah kiranya perlu dilakukan. Hari Pendidikan Nasional sekarang ini kiranya merupakan momentum yang tepat untuk merenungkannya!

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Monday, 27 February 2012 07:47  

      Items details

      • Hits: 745 clicks
      • Average hits: 8 clicks / month
      • Number of words: 2417
      • Number of characters: 19891
      • Created 7 years and 9 months ago at Monday, 27 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 9 months ago at Monday, 27 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,797
      • Sedang Online 110
      • Anggota Terakhir Suwardi

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9124810
      DSCF8790.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC