.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      MEDIA INDONESIA, SENIN, 25 MEI 2009

      Lemahnya Tradisi Penelitian Guru

      Oleh Aan Hasanah

      Peneliti Insep, Mahasiswa Pascasarjana UIN Bandung

      TRADISI penelitian di kalangan guru amat memprihatinkan, bukan hanya disebabkan kurangnya fasilitas pendukung, tetapi juga lemahnya pemahaman dan daya dorong intrinsik yang bisa menggerakkan guru untuk melakukan pene­litian sebagai bagian penting dari professional development. Lemahnya tradisi penelitian ini berimplikasi pada rendahnya produktivitas penelitian. Menurut Suroso (2009) Indonesia termasuk negara yang produktivitas ilmiahnya paling rendah dibanding negara-negara tetangga lainnya. Rendahnya produktivitas ilmiah terlihat dari kecilnya publikasi ilmiah dalam skala internasional. Indonesia hanya menyumbang 0,012 % dari total publikasi ilmiah. Kalah oleh Thailand (0,086%), Malaysia (0,064), Singapura (0,179%), dan Filipina (0,035%). Penyumbang terbesar publikasi ilmiah masih dipegang oleh Amerika Serikat (30,8%).

       

      Dalam jenjang pendidikan dasar dan menengah, tradisi penelitian di kalangan guru lebih parah lagi. Penelitian masih dianggap barang langka, mahal, susah dan bukan tugas guru. Beberapa waktu lalu penulis melakukan survei pada mahasiswa kualifikasi yang berasal dari guru-guru madrasah. Dari 60 orang yang disurvei, tidak ada satu guru pun yang pernah melakukan penelitian atau penelitian tindakan kelas (PTK), semacam action research untuk kebutuhan pengembangan belajar mengajar. Padahal, mereka sudah mengajar rata-rata 10 sampai 25 tahun. Beberapa alasan yang dikemukakan di antaranya, karena penelitian itu sulit, tidak memahami langkah-langkahnya, sulit menuliskannya, jam mengajar sudah padat, serta merasa bukan kewajiban utama di samping tidak adanya sumber rujukan atau bahan pendukung untuk penelitian, seperti buku, jurnal, atau hasil penelitian sejenis yang sudah dilakukan. Ketika penelitian tidak menjadi bagian dari pengembangan profesionalisme guru, tidak akan ada pengembangan dan inovasi pembelajaran yang berasal dan dikembangkan dari dan oleh guru itu sendiri. Pembelajaran akan mentok pada rutmitas yang itu-itu juga. Sementara di dunia luar perkembangan ilmu dan teknologi pembelajaran serta inovasi dari luar bergerak amat cepat. Kalau lingkungan pen­didikan tidak mampu merespons perkem­bangan luar, pendidikan kita akan tetap tertinggal jauh.

      Guru menjadi salah satu kunci penting dari meningkatnya mutu pendidikan. Dalam sebuah survei internasional tahun 2003 yang diselenggarakan oleh Organization for Eco­nomic Cooperation and Development (OECD), Finlandia masih menduduki rangking satu dalam kemampuan siswa di bidang sains, membaca, dan matematika. Hebatnya lagi, Finlandia tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga menunjukkan unggul dalam pen­didikan anak-anak lemah mental. Kenapa Finlandia memiliki pendidikan yang unggul? Jawabannya karena guru-gurunya dipilih dari lulusan-lulusan terbaik, serta profesi guru dihargai sama dengan profesi prestise lainnya. Memang dari sisi pendanaan pendidikan Finlandia sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara di Eropa, tapi masih kalah dibanding dengan beberapa negara maju lain­nya.

      Sekarang ini sebenarnya penyusunan karya tulis ilmiah (KTI) yang berbasis pada peneli­tian bagi guru telah ditetapkan menjadi prasyarat untuk kenaikan pangkat dari IVa ke atas dengan diwajibkan adanya pengumpulan angka kredit dari unsur kegiatan pengembang­an profesi, yaitu menyusun karya tulis ilmiah (Permenpan 84/1993, Kepmendikbud 25/1995). Tetapi kenapa keputusan menteri ini tetap tidak mampu mendorong terbangunnya tradisi penelitian di kalangan guru?

      Pentingnya tradisi meneliti guru

      Dalam dunia pendidikan fungsi penelitian memegang peranan penting. Di samping un­tuk meningkatkan kualitas pembelajaran, penelitian juga mendorong guru menjadi reflektif terhadap tugasnya untuk peningkatan kualitas diri ataupun siswanya. Penelitian bisa mendekati pendidikan sebagai sesuatu yang utuh, menempatkan guru di kelas sebagai penilai yang paling baik terhadap pekerjaannya sendiri secara total, serta dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik pendidikan. Guru didorong untuk mengembangkan teori pendidikannya sendiri dari praktik pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas.

      Sekarang ini ada model penelitian yang sedang dikembangkan, yakni penelitian tindakan kelas (PTK), sebuah model penelitian tindakan yang bisa dan harus dilakukan oleh semua guru dalam proses pembelajaran. PTK berusaha memahami situasi kelas secara utuh dari sudut pandang yang berbeda-beda sehingga menghasilkan entitas yang utuh pula. Di dalam PTK mengandung makna adanya perubahan pada diri guru dan siswa di dalam sistem (kelas). PTK merupakan suatu pendekatan dalam memperbaiki mutu pendi­dikan (proses belajar) melalui perubahan. Langkah-langkah yang bisa ditempuh mendorong para guru agar menjadi paham dan menyadari cara kerja yang mereka lakukan, menjadi kritis terhadap praktik pendidikan yang mereka lakukan dan guru disiapkan untuk mengikuti perubahan-perubahan. PTK bersifat partisipatoris dan kolaboratif. Subjek penelitian dipandang sebagai partisipan yang secara bersama-sama terlibat secara aktif da­lam proses inkuiri.

      Mengutip dari Stephen Kemmis, "Action research is a form of self-reflective enquiry under­taken by participants in social (including educa­tional) situations in order to improve the rational­ity and justice of (a) their own social or educa­tional practices, (b) their understanding of these practices, and (c) the situations in which the prac­tices are carried out. It is most rationally empower­ing when undertaken by participants collabora-tively...sometimes in cooperation with outsiders. (Kemmis, 1988). Secara singkat PTK merupa­kan bentuk self-reflective inquiry yang dilaku­kan guru, siswa dan kepala madrasah di dalam situasi pendidikan untuk memecahkan masalah atau memperbaiki praktik pendidik­an yang dilakukan oleh guru, memperbaiki pemahaman terhadap praktik pendidikan, memperbaiki situasi di mana praktik pendi­dikan itu dilakukan dan bisa juga digunakan untuk menerapkan atau mendesiminasi pem-baruan dalam pendidikan.

      Fungsi penelitian tindakan

      Di samping memiliki fungsi untuk me­mecahkan masalah sehari-hari yang dihadapi oleh guru dalam pembelajaran, model peneli­tian tindakan juga memiliki fungsi untuk menguji coba atau mendesiminasi inovasi pembelajaran yang baru. Sebagai pemecahan masalah, guru sebagai praktisi pasti memerlukan informasi yang khusus untuk memecah­kan masalah tersebut, termasuk usaha untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu kerja dalam kaitannya dengan situasi yang sangat khusus. Dengan PTK, guru dapat memper­baiki metode yang biasa mereka gunakan, dengan mengubah beberapa unsur yang diperkirakan kurang tepat untuk suasana kelas baru, menggunakan metode lain yang telah dikenal dan pernah diterapkan, atau menerapkan metode lain yang pernah dikenal dan belum pernah digunakan atau mengembangkan metode yang sama sekali baru.

      Sebagai alat untuk melakukan uji coba berbagai pembaruan dalam pengajaran, PTK dapat digunakan untuk menerapkan suatu inovasi mengenai pengajaran yang berkaitan dengan bidang studi yang diampu oleh guru, terutama dalam konteks kelas tempat dia mengajar. Karena itu, penting bagi para guru untuk mengetahui fungsi PTK sebagai salah satu cara untuk melakukan penelitian dalam sebuah situasi khusus. Dalam model riset semacam ini guru merupakan faktor khusus yang sering kali memegang peranan penting dalam penerapan hasil inovasi pembelajaran yang ingin dikembangkannya. Tetapi dalam suasana lain, penelitian tindakan dapat dimu-lai dengan melakukan refleksi terhadap data atau fakta yang telah tersedia dari suasana belajar-mengajar yang terjadi di sekolah.

      Hasil refleksi merupakan suatu rencana tin­dakan yang diperbaiki atau diperbarui, disertai penjelasan-penjelasan yang diperlukan yang dijadikan dasar dalam menyusun ren­cana tindakan berikutnya.

      Dengan model penelitian tindakan ini seha-rusnya guru bisa melakukan penelitian de­ngan mengikuti siklus penelitian yang sederhana, merencanakan penelitian, melakukan tindakan, melakukan observasi serta melaku­kan refleksi terhadap hasil penelitian. Karena penelitian tindakan bisa dilakukan bersamaan dengan jam mengajar, guru tidak akan kehilangan waktu, tidak mengeluarkan biaya banyak, berkaitan dengan masalah sehari-hari dalam pembelajaran sehingga model ini men­jadi lebih efisien.

      Masalahnya, sejauh mana guru terdorong melakukan langkah-langkah penelitian ini kalau tidak didorong oleh lingkungan pendi­dikan yang mengembangkan tradisi meneliti di lingkungannya, serta memiliki insentif yang juga cukup. Oleh karena itu, perlu ada kerja sama antara pemerintah daerah, perguruan tinggi setempat, dan pihak sekolah untuk bersama-sama memberikan bantuan teknis dalam membangun dan mengembangkan tradisi penelitian di kalangan guru-guru, supaya mutu pendidikan semakin bagus di tangan guru-guru yang terampil mengembangkan penelitian.

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Monday, 27 February 2012 07:22  

      Items details

      • Hits: 570 clicks
      • Average hits: 6.1 clicks / month
      • Number of words: 3250
      • Number of characters: 25762
      • Created 7 years and 9 months ago at Monday, 27 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 9 months ago at Monday, 27 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,797
      • Sedang Online 88
      • Anggota Terakhir Suwardi

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9124318
      DSCF8803.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC