.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      MEDIA INDONESIA, 04 JANUARI 2010

       

      Gus Dur, Guru untuk Semua


      Inalillahi wa inna ilaihi raji'un. Dari Allah segala sesuatu berasal, dan kepada Allah juga segala sesuatu akan kembali. Kiai Haji Abdurrahman Wahid, yang akrab kita sapa dengan Gus Dur, wafat dan menyerahkan sekaligus mengembalikan ruhnya kepada Sang Empunya Arwah, Allah SWT. Perasaan sedih, pilu, dukacita dan kehilangan berkecamuk sedemikian rupa, ditampakkan oleh seluruh anak bangsa ini. Tak peduli agama, suku bangsa, bentuk rupa dan status sosialnya, sernua merasa kehi­langan sosok Guru Bangsa yang humanis ini dan telah meninggalkan banyak warisan ide dan gagasan.

      Sebagai guru bangsa, pasti tak cukup bagi kolom ini untuk menggambarkannya. Tetapi untuk kebutuhan pengajaran, penting diingat bahwa Gus Dur tumbuh dan berkembang dari keluarga agamis yang memiliki tradisi kultural dan intelektual yang mapan di lingkungan masyarakat Jombang. Edu teringat almarhum Cak Nur, yang juga intelektual dan ulama asal Jombang, suatu ketika pernah berkata bahwa Gus Dur adalah "Cucu kakeknya (KH Hasyim Asy'ari) dan anak bapaknya (KH Wahid Hasyim)." Kakek dan ayah Gus Dur adalah ula­ma terkemuka negeri ini yang memi­liki banyak jasa dan peninggalan berharga bagi tradisi Nahdiyin di Tanah Air. Karena itu wajar jika Gus Dur mampu menjaga bahkan meneruskan tradisi kultural dan intelektual keluarganya jauh lebih besar dan luas.

       

      Peran keluarga pada pribadi Gus Dur sangatlah kental. Kebiasaan membaca yang ditumbuhkan dalam kelu­arga besar Gus Dur patut ditiru oleh semua orang tua yang menginginkan anaknya menjadi cerdas. Pendek kata, dengan tradisi membaca inilah kemudian Gus Dur tak bersusah payah untuk terjebak pada pendidikan for­mal ala sekolah atau madrasah. Bagi Gus Dur, membaca bisa di mana saja dan apa saja, yang penting ada minat untuk mengetahui sesuatu. Patut di percaya bahwa tradisi keluarga Gus Dur yang mencintai pendidikan, ta'lim, tarbawi, dan ta'dib inilah yang membuat ungkapan Cak Nur di atas terasa sangat kontekstual bagi para orang tua. Seolah ungkapan Cak Nur di atas ingin menegaskan, jika anakmu mau berhasil, dampingi dia, bimbing dia, dan kasihi dia sepenuh hati. Prinsip kelekatan (attachment) dalam psikologi pendidikan merupakan kekayaan luar biasa yang diperoleh Gus Dur dari kakek dan ayahnya.

      Dengan modal kekayaan dampingan/kelekatan (attachment) itulah Gus Dur tumbuh menjadi pribadi yang sangat percaya diri, supel, mudah bergaul, toleran, dan mencintai keadilan. Dengan basis pengetahuan keislamannya yang luas dan keyakinannya akan prinsip rahmatan lil'alamin, Gus Dur mampu dan berani melawan otoritarianisme kekuasaan, ketidakadilan, dan kesewenang-wenangan. Meskipun pandangan-pandangannya sangat tak biasa dan terkadang penuh kontroversi, sebagai guru bangsa, Gus Dur sesungguhnya banyak mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan yang sangat universal sekaligus berani melabrak mitos-mitos kaku dan tak bertanggung jawab tentang demokrasi, pluralisme, dan multikulturalisme.

      Dari perspektif pedagogis, Gus Dur mengerti benar pesan Nabi Muham­mad agar berbicara dengan beragam lapisan sosial masyarakat menggunakan bahasa mereka sendiri. Ketika berbicara tentang ketidakadilan, Gus Dur sangat meledak-ledak karena ingin membela kaum tertindas yang kebanyakan minoritas. Tetapi ketika berbicara dengan para politisi dan ilmuwan, bahasa dan pendapat Gus Dur tak jarang sangat kontroversial dan baru bisa dipahami kemudian. Justru di sinilah the legacy of Gus Dur dalam bidang pendidikan terlihat. Pandangan-pandangan Gus Dur sa­ngat kental dengan kesadaran tentang betapa senjangnya tingkat pendidikan yang terjadi di masyarakat. Adagium 'gitu aja kok repot' merupakan jembatan yang bisa menggambarkan sekaligus menghubungkan tingginya perbedaan tingkat pendidikan di masyarakat kita.

      Pendek kata, beribu-ribu halaman tak akan pernah cukup untuk menuliskan sepak terjangnya ketika hidup. Terlalu sempurna kisahnya, karena penuh pujian dan cacian, penuh cinta dan kebencian, serta penuh penghargaan dan yang tak disangka. Sebagai guru bangsa, tindakan dan ucapannya adalah pelajaran, diamnya laksana sekolah, dan setiap teman dan lawannya merupakan guru yang harus menjadi penuntun keraguan dan kegelapan siapa saja. Sungguh banyak manfaat hidup Gus Dur yang bisa diambil siapa saja dengan arif dan tanpa prasangka. Selamat jalan Guru untuk Semua, kepada Tuhan kumohonkan ampun untukmu. Al-lahumma ighfirlahu warhamhu;wa'afihi wa'fu anhu. Amin.

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Monday, 27 February 2012 06:28  

      Items details

      • Hits: 711 clicks
      • Average hits: 7.6 clicks / month
      • Number of words: 2434
      • Number of characters: 20602
      • Created 7 years and 10 months ago at Monday, 27 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 10 months ago at Monday, 27 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 98
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9127448
      Dialog_Peradaban.jpg

      Kalender & Agenda

      December 2019
      S M T W T F S
      1 2 3 4 5 6 7
      8 9 10 11 12 13 14
      15 16 17 18 19 20 21
      22 23 24 25 26 27 28
      29 30 31 1 2 3 4

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC