.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      SENIN, 11 MEI 2009 I MEDIA INDONESIA

      Guru, Sertifikasi, dan Mutu Pendidikan

      Oleh Fuad Fachruddin

      Direktur INSEP dan Tim Pengembang Yayasan Pendidikan Sukma, Jakarta

      BEBERAPA minggu lalu, saya diminta menjadi narasumber dalam semi­nar nasional sehari tentang sertifikasi dan mutu pendidikan yang diselenggarakan Program Pascasarjana IAIN Raden Fatah di Baturaja, Sumatra Selatan. Saya merasa haru, agak terkejut, dan agak mempertanyakan ketika melihat aula pusat kesenian dan kebudayaan kabupaten tersebut penuh dihadiri sekitar 300 guru. Saya berbisik pada teman, salah seorang Asisten Direktur Program Pascasarjana IAIN itu, tentang jumlah peserta. Teman saya menyahuti jumlah peserta acara ini sedikit jika dibandingkan dengan seminar dengan tema yang sama di kabupaten lainnya, yakni 1.000 orang peserta. Jumlah ini menjadi fenomena menarik untuk dikaji dari konteks sertifikasi dan mutu pen­didikan. Setidaknya terdapat tiga kecenderungan yang dapat ditarik dari contoh ini.

      Pertama, jumlah ini menunjukkan isyarat bahwa guru haus akan informasi yang diperlukan mereka melalukan tugas atau misi (mengajar dan mendidik) dengan baik agar visi pendidikan dapat diwujudkan. Sementara itu, forum-forum untuk mengaktualkan dan mengembangkan kemampuan guru masih sangat terbatas. Fenomena itu menunjukkan semangat belajar yang tumbuh sangat kuat. Me­reka memerlukan sentuhan program yang sistematik dan berkesinambungan (continous professional development) agar semangat belajar mereka tumbuh dan berkembang (OECD, 2006). Kedua, ada dua kepentingan yang berinteraksi antara idealisme untuk meningkatkan kompetensi guru dan kepentingan pragmatis, yaitu mendapatkan sertifikat untuk kepentingan sertifikasi di sisi lain. Hal itu dapat dimaklumi bahwa tidak mudah bagi guru un­tuk menghasilkan karya tulis akademis seperti artikel, riset aksi pembelajaran yang dapat digunakan untuk mendapat poin dalam sertifikasi. Sebab itu, tidak mengherankan kalau forum-fo­rum akade­mis seperti pelatihan, seminar atau lokakarya menjadi sasaran 'buruan' para guru untuk memenuhi tuntutan sertifikasi.

       

      Yang lebih menyedihkan dan bahkan merusak moral adalah mencari atau meminta sertifikat kepada panitia-panitia seminar atau pelatihan sebagai dokumen untuk serti­fikasi tanpa mengikuti kegiatan tersebut. Tindakan seperti ini termasuk dalam kategori korupsi dalam pendidikan. Jika tindakan dibiarkan dan menjadi sesuatu yang lumrah, dunia pendidikan berada dalam kondisi bahaya. Tindakan jalan pintas dalam pendidik­an seperti kecurangan dalam UN (ujian na­sional) dan program gelar (S-2 dan S-3) yang tidak memenuhi syarat dan ketentuan aka­demis nyaris menjadi sesuatu yang lumrah demi gengsi atau kekuasaan. Mudah-mudahan guru-guru kita tidak terseret oleh jalan pintas.

      Mutu guru dan sertffikasi

      Dalam diskusi seminar tersebut, kami mendapatkan pertanyaan kritis dari beberapa guru, misalnya, "Anda yakin bahwa sertifikasi an sich dapat meningkatkan mutu? Bagaimana kami dapat lolos dalam sertifikasi, sedangkan kami bertugas di sekolah-sekolah yang serbakekurangan dari berbagai aspek seperti guru bermuru, sumber belajar, dan fasilitas? Juga, bagaimana kami dapat memenuhi syarat sertifikasi, sedangkan kami tidak dapat memberikan karya-karya tulis termasuk riset aksi pembelajaran yang disyaratkan otoritas. Kami selalu bekerja dan bekerja, tapi kami tidak mendapat pendam-pingan secara intensif untuk membuat karya tulis dan riset aksi pembelajaran yang diakui."

      Pertanyaan-pertanyaan tersebut menggelitik dan hendaknya menjadi bahan perhatian, kajian, dan penyusun program peningkatan mutu pendidikan mengingat anggaran pendidikan konon sudah mencapai 20%. Peningkatan mutu guru harus menjadi prioritas utama sejalan dengan meningkatnya angga­ran pendidikan karena guru yang otoritatif, kompeten, qualified, dan profesional merupakan syarat yang diperlukan untuk mewujudkan mutu pendidikan. Sementara itu, guru yang belum memenuhi standar (underqualifed) dan salah kamar (mismatched teacher) masih banyak ditemukan di sekolah-sekolah kita (SMP/SMA) terlebih di madrasah-madrasah (MTs dan MA). Gambaran tersebut dapat dilihat dari data nasional 2008.

      Secara nasional, Indonesia memiliki 2.783.321 guru yang tersebar di jenjang pen­didikan dasar dan menengah (termasuk SLB, MI, MTs, dan MA). Dari jumlah tersebut, sebagian besar (1.739.484 guru atau 62,50%) berlatar pendidikan formal di bawah S-l (D-3, D-2, D-l, dan SLTA). Dari jumlah itu, terdapat 722.293 guru berlatar pendidikan SLTA (41,52%) atau 25,95 % dari seluruh guru. Selebihnya berpendidikan S-l atau memiliki ijazah S-l (Depdiknas, 2008). Kondisi seperti itu juga belum termasuk keadaan kompetensi riil guru berdasarkan bidang studi yang diampu. Sampai saat ini, kita belum mendengar apakah otoritas pendidikan pernah melakukan tes kompetensi guru secara reguler untuk mengetahui posisi kemampuan mereka. Informasi ini penting bagi otoritas pendidikan untuk merumuskan dan merancang program peningkatan kemampuan profesional guru secara berkesinambungan dan sistematik (continous professional development). Guru juga merupakan faktor penentu dan ujung tombak keberhasilan implementasi kebijakan, usaha-usaha inovatif termasuk pembentukan karakter bangsa (Villega-Reimer, 2004). Karena itu, pe­ningkatan mutu guru mempunyai pengaruh signifikan terhadap mutu kelas (pembelajaran) dan pencapaian akademis peserta didik (Cadwell, 1991). Dari hasil studi diperoleh temuan bahwa terdapat hubungan kuat antara apa yang dilakukan guru dan apa yang dicapai peserta didik dalam pembelajaran (student achievement) (Sean, 2002; Creemers, 1994; Bo: man & Kimball, 2005 & Hanushek & Kair. 2005).

      Guru yang profesional, qualified, dan kom­peten akan menunjukkan mutu seorang guru. Kompetensi diartikan dengan penguasaan pengetahuan atau skill yang mencakup kemam­puan memilih dan mengetahui pilihan yang tepat (Wing-mui; May-hung & Chiao-liang, 1996; Fachruddin, 2008). Kompetensi dipahami sebagai tingkat kemampuan diri atau kualitas diri atau pribadi yang mengandung pengertian lebih luas dari performansi, pengetahuan, skill, tingkat kemahiran, mencakup niat, motif dan sikap (Wing-mui; May-hung & Chiao-liang, 1996). Kualitas berkaitan dengan apa yang diharapkan muncul dalam pribadi seseorang dan apa yang diharapkan dari apa yang seseorang lakukan.

      Dalam beberapa riset teacher effectiveness, kualitas guru mencakup beberapa hal, yaitu (a) kecerdasan dan kemampuan verbal yang membantu guru mengorganisasi dan menjelaskan gagasan, mengamati dan berpikir secara diagnostik, (b) pengetahuan tentang bagaimana mengajar suatu bidang studi kepada peserta didik (pedagogi pembelajaran), secara khusus berkaitan dengan teknik-teknik mengajar dan cara mengembangkan keterampilan berpikir tinggi, (c) kemampuan memahami peserta didik, dinamika dan style belajar serta perkembangan belajar peserta didik, kemampuan menilai dan merancang pembelajaran, membantu peserta didik yang mengalami masalah atau kesulitan belajar atau mengikuti pembela­jaran, (c) keahlian melakukan adaptasi yang memungkinkan guru membuat keputusan tentang apa yang dilakukan dalam menyahuti kebutuhan peserta didik (Darling-Hammond, 2007).

      Lalu, apakah guru kompeten atau profe­sional hanya dapat diciptakan hanya melalui sertifikasi seperti dipertanyakan guru? Untuk menjawab pertanyaan itu, perlu kita melihat dengan cermat apa sertifikasi, bagaimana pengaruh sertifikasi terhadap mutu pembelajaran dan syarat-syarat yang perlu dipenuhi agar sertifikasi memang memberi pengaruh signifikan terhadap mutu pembelajaran. Sertifikasi adalah pengakuan dari badan atau lembaga profesional terhadap seseorang anggota profesi yang telah mencapai standar atau perfor­mansi tingkat tinggi (advanced). Sertifikasi dilakukan berdasarkan penilaian (assessment) performansi, bukan merupakan kualifikasi akademis atau sederet catatan tentang kursus yang telah diikuti seseorang. Selain itu, standar sertifikasi harus memberikan penjelasan ten-tang satu set standar yang berhubungan dengan akreditasi, lisensi, dan relisensi.

      Standar akreditasi, lisensi, dan sertifikasi seperti tiga kaki kursi yang mendukung penjaminan mutu dalam suatu profesi yang telah diakui. Sistem sertifikasi adalah sarana bagi guru untuk membangun infrastruktur dalam menetapkan standar pengajaran yang bermutu tinggi, meningkatkan atau mengembangkan, standar yang ada, dan memberi pengakuan terhadap siapa-siapa yang telah memenuhi standar. Diantara tujuan utama diberlakukannya sertifikasi adalah meningkatkan efektivitas pengembangan profesionalitas guru. Standar yang sahih akan menjelaskan apa yang seharusnya diperoleh guru-guru jika mereka mem­berikan kontribusi atau peran signifikan terha­dap peningkatan mutu sekolah dan mutu pembelajaran (Ingvarson; Hattie, 2008).

      Di Amerika, sebagai contoh, guru untuk mendapatkan sertifikasi (NBPTS) harus menjawab enam tes (computer based constructed-response exercises) untuk mengukur pengetahuan atau penguasaan subject matter knowledge, harus mengumpulkan portofolio yang berisikan vi­deotapes pengajaran yang dilakukan guru, refleksi tertulis tentang tujuan dan keluaran setiap sesi dan karya peserta didik dengan materi pembelajaran yang direkam (Ingvarson, Hattie, 2008). Berdasarkan pengertian sertifikasi di atas, pengumpulan sertifikat yang kini menjadi tren dalam merespons sertifikasi sangat bertentangan dengan substansi sertifikasi sendiri.

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Monday, 27 February 2012 06:27  

      Items details

      • Hits: 267 clicks
      • Average hits: 2.8 clicks / month
      • Number of words: 3219
      • Number of characters: 25338
      • Created 7 years and 10 months ago at Monday, 27 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 10 months ago at Monday, 27 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 128
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9127496
      Dialog_Peradaban.jpg

      Kalender & Agenda

      December 2019
      S M T W T F S
      1 2 3 4 5 6 7
      8 9 10 11 12 13 14
      15 16 17 18 19 20 21
      22 23 24 25 26 27 28
      29 30 31 1 2 3 4

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC