.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      SENIN, 6 OKTOBER 2008

      media indonesia

      Sertifikasi Kapasitas Leadership Guru

      Oleh Ahmad Baedowi

      Direktur Pendidikan Yayasan Sukma

      DALAM Undang-Undang No-mor 14/2005 tentang Guru dan Dosen, Pasal 1 ayat 1 disebut-kan bahwa guru adalah pen-didik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dengan serentetan tugas yang tidak ringan seperti ini membuat guru mem-punyai peran strategis dalam pengembangan sumber daya manusia Indonesia. Lingkup tugas guru tersebut juga jauh lebih berat dan lebih banyak, bahkan dari ruang lingkup tugas dosen dan guru besar sekalipun. Entah apa yang ada di benak para penyusun undang-undang yang membedakan makna mendidik dan mengajar dengan membimbing dan mengarahkan, serta membedakan antara menilai dan mengevaluasi.

      Belum lagi beban 'profesional' yang menyiratkan kesungguhan dan ketekunan dalam setiap usaha peningkatan kapasitas dan kompetensi guru, disertai dengan pengembangan kompetensi pedagogis, kepribadian dan sosial seorang guru. Ada banyak kekhawatiran tentang guru jika dilihat dari aspek ruang lingkup tugas, profesionalisme, dan upaya pemerintah dalam melakukan usaha pe­ningkatan kapasitas dan kompetensi guru melalui proses sertifikasi. Kekhawatiran tersebut menyangkut pola sertifikasi guru yang di dalam undang-undang sangat rentan karena kewenangan penyelenggaraannya hanya diberikan kepada lembaga pendidikan tinggi yang dirunjuk pemerintah.

       

      Secara akal sehat, pola dan proses sertifikasi dapat dipertanyakan secara sederhana, yaitu bagaimana mungkin perguruan tinggi (seperti UNJ dan UIN) yang telah mendidik mahasiswa untuk menjadi calon guru selama lima tahun dalam proses perkuliahan yang penuh tiba-tiba diberikan kewenangan tambahan untuk melakukan uji ser­tifikasi? Bukankah itu tanda dari kekurangpercayaan terhadap mutu lulusannya? Tidakkah peme­rintah dapat memikirkan skema lain dari sertifikasi, misalnya dengan menunjuk lembaga independen tertentu seperti swasta dan lembaga swasta masyarakat yang kompeten, dengan pola dan skenario lain yang tidak melulu melalui proses perkuliahan tambahan yang menyita banyak waktu dan anggaran?

      Tidak mudah memang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Selain karena birokrasi yang juga tidak mudah untuk berubah, kesempatan untuk merealisasikan program sertifikasi yang sarat dana ini juga menjadi padat kepentingan bagi semua pihak untuk berlomba menghabiskan anggaran yang tersedia. Karena itu, perlu dicari dan diso-sialisasi alternatif pola sertifikasi yang efisien, mudah dijangkau oleh kemampuan akademis rata-rata guru kita, serta applicable bagi kebutuhan unit pembelajaran di kelas. Syaratnya hanya satu, yaitu dibutuhkan penilaian komprehensif untuk memetakan kemampuan guru berdasarkan tingkat kom­petensi akademis, kepemimpinan (leadership), dan sosial. Baru kemudian program sertifikasi dilakukan berdasarkan kebutuhan ketiga aspek tersebut.

      Kepemimpinan guru

      Proses sertifikasi akan mudah dilakukan apabila kita dapat memahami sedini mungkin tentang kemampuan kepemimpinan rata-rata guru kita, balk pada tingkat penguasaan instruksional materi maupun organisasi sekolah. Dalam hal penguasaan aspek instruksional, pemahaman guru tentang pe­ngembangan kurikulum dapat disertifikasikan melalui jalur formal seperti yang dirancang pe­merintah. Jalur peningkatan kemampuan instruk­sional itu, jika dirancang dengan paduan pola in­ternship yang komprehensif dan melibatkan banyak pengawas sekolah yang kompeten, diharapkan akan meningkatkan kapasitas kepemimpinan guru. Tetapi untuk meningkatkan kemampuan organisasional dan managerial sekolah secara khusus, guru perlu dibiasakan untuk melakukan banyak peran dalam membantu tugas-tugas kepala sekolah. Inilah sala satu makna penting dari proses sertifikasi terhadap kemampuan kepemimpinan guru (Spillane, Halverson, and Diamond: 2001).

      Upaya peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan kemampuan kepemimpinan guru juga akan mempermudah upaya sekolah dalam menggalang dukungan masyarakat. Guru yang memiliki kepemimpinan yang baik akan mampu berkomunikasi secara efisien dengan masyarakat. Pada tahap ini perluasan kapasitas dan tanggung jawab guru akan memberikan ruang bagi mereka melakukan banyak inisiatif dalam bekerja atas nama sekolah. Profesionalisme jenis ini sekaligus akan meningkatkan citra sekolah dan kemampuan akademis siswa se­kaligus (Talbert & McLaughlin, 1994). Beberapa hasil riset menunjukkan semakin guru diberi kesempatan unruk membantu lebih banyak tugas-tugas administratif dan kehumasan sekolah, serta diikutsertakan dalam menentukan proses pengambilan kepurusan di
      tingkat sekolah serta disertakan dalam memantau
      keberlangsungan sebuah kebijakan, budaya sekolah akan berubah ke arah yang positif dan memberi ba­nyak peluang pada kemungkinan keberhasilan akademis yang bisa dicapai (Fessler & Ungaretti, 1994). Mengapa proses sertifikasi kemampuan kepemim­pinan guru diperlukan?

      Paling tidak ada empat alasan dan kebutuhan mengapa proses sertifikasi jenis ini perlu dilakukan. Pertama menyangkut model manfaat keikutsertaan karyawan (benefits of employee participation). Seperti telah disinggung, dengan meningkatnya peran dan fungsi kepala sekolah dalam sebuah manajemen sekolah, diperlukan banyak dukungan staf yang paham dan mampu membantu tugas-tugas tersebut. Alangkah baiknya jika peran itu juga bisa diberikan kepada para guru untuk skala dan waktu tertentu. Pembiasaan model itu akan membuat guru lebih peduli dengan proses manajerial sekolah sekaligus meningkatkan pemahaman guru terhadap bagaimana alur kebu­tuhan organisasi sekolah harus dikendalikan (Earth, 2001). Selain itu, model kesertaan jenis tersebut akan mampu meningkatkan ikatan emosional dan ko-mitmen guru terhadap perkembangan sekolah me­reka, serta meningkatkan rasa memiliki dan tumbuhnya kesadaran untuk berkembang bersama. (Weiss, Cambone, & Wyeth, 1992). Dengan demikian, kebiasaan guru kita yang secara rutin hanya bertugas mengajar dapat diantisipasi dengan model kesertaan cara itu.

      Kedua, sebagai akibat dari model penyertaan per-tama, kemampuan dan keahlian guru tentang belajar-mengajar (expertise about teaching and learning) dengan sendirinya akan meningkat. Sebagai ujung tombak pembelajaran di kelas, kemampuan berorganisasi guru melalui model-model peer-teaching, mentoring, serta kolaborasi antarguru akan serta-merta meningkatkan kemampuan guru dalam mengor-ganisasi bahan ajar dan proses pengajaran (Lieberman & Miller, 1999). Dari dua jenis model peningkatan ka­pasitas kepemimpinan guru tadi, pihak sekolah pasti akan dengan mudah memberikan semacam pengakuan dan penghargaan terhadap guru. Artinya, re-gulasi tentang karier guru akan semakin memperoleh kepastian karena sistem penilaian yang diterapkan langsung berpusat di sekolah, bukan di meja kepala dinas seoerti saat ini terjadi (Steffy, Wolfe, Pasch, and Enz, 2000). Namun, karena sistem manajemen pen­didikan kita tidak menganut asas pemisahan antara karier bidang administratif, dan profesionalitas mengajar, hal yang harus mendapat perhatian adalah pola karier yang jelas bagi guru-guru yang memiliki kapasitas kepemimpinan berlebih.

      Yang keempat, model sertifikasi kemampuan kepemimpinan guru juga pasti akan membawa dam-pak pada capaian akademis siswa (benefits to students). Artinya, jika praktik-praktik kepemimpinan berlangsung secara demokratis di sekolah, bentuk par-tisipasi guru diakui legalitasnya dalam sebuah ke-putusan yang disepakati bersama, serta komunikasi antara sekolah dan masyarakat menjadi berlangsung sangat intens dan positif karena keterlibatan penuh para guru, dapat dipastikan hal ini akan berdampak positif dan baik terhadap capaian akademis dan perkembangan mental siswa. Dalam bahasa Earth (2001), 'it has been posited that-only when teachers learn will their students learn'.

      Proses sertifikasi kemampuan kepemimpinan guru sebenarnya dapat membantu pemerintah dalam upaya meningkatkan kompetensi guru, baik kom-petensi pada aspek pedagogis, kepribadian, dan sosial. Namun, pertanyaannya adalah adakah kemungkinan kebijakan bagi pengembangan model sertifikasi jenis ini ke depan? Jika mungkin, universitas atau lembaga swadaya masyarakat jenis apa yang bisa mela-kukannya? Seperti kita ketahui bersama bahwa ke-lemahan mendasar proses peningkatan kapasitas dan kemampuan kompetensi guru kita selama ini lebih karena tiadanya keseriusan kerja sama antara para peneliti di perguraan tinggi dan otoritas pendidikan. Guru selama ini hanya menjadi objek pelatihan dan program sertifikasi yang dikembangkan tanpa riset dan penilaian tentang kebutuhan akademis guru itu sendiri.

      Harus disadari bersama bahwa kedudukan sekolah bagi masyarakat Indonesia sangat strategis, sebagai tempat penyemaian bakat siswa sekaligus ke­mampuan guru dalam mengajar. Fungsi dan kedu­dukan mereka seharusnya mendapat dukungan akademis secara maksimal dari kalangan perguruan tinggi secara konkret danberkesinambungan. Adalah tugas perguruan tinggi untuk melakukan kerja sama secara langsung dengan sekolah, atau paling tidak membuat kelompok-kelompok binaan sehingga proses sertifikasi jenis ini menjadi reliable di masa depan.


       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Friday, 24 February 2012 10:35  

      Items details

      • Hits: 363 clicks
      • Average hits: 3.9 clicks / month
      • Number of words: 2172
      • Number of characters: 17589
      • Created 7 years and 10 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 10 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 104
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9127165
      Jantung_Sekolah1.jpg

      Kalender & Agenda

      December 2019
      S M T W T F S
      1 2 3 4 5 6 7
      8 9 10 11 12 13 14
      15 16 17 18 19 20 21
      22 23 24 25 26 27 28
      29 30 31 1 2 3 4

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC