.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      KOMPAS 24 September 2004

       

      Kontroversi Pendidikan Profesi Guru

      Oleh WARAS KAMDI

      The power to change educati­on—for better or worse—is and always has been in the hands of teachers (Judith Lloyd Yero, 2003).

      Begitu strategisnya posisi guru dalam pen-didikan, maka tidak salah jika pemerintah mem-prioritaskan peningkatan mutu pendidik melalui Pen­didikan Profesi Guru sebagai kunci peningkatan mutu pendidikan nasional

      Melalui partisipasi guru, sadar atau tidak, guru secara individual memiliki kekuatan untuk mem-buat usaha pembaruan pendidik­an yang berhasil atau sebaliknya, merusaknya.

      Melalui situsnya, beberapa pekan terakhir, Direktorat Ketena-gaan Ditjen Pendidikan Tinggi memublikasikan Rancangan Per-mendiknas Pendidikan Profesi Guru disertai Pedoman Pendidik­an Profesi Guru Pra-jabatan, dan , Naskah Akademiknya.

      Sebenarnya, sejak diedarkan terbatas Juni 2007, Rancangan Pendidikan Profesi Guru itu telah menuai kontroversi. Perbedaan pandangan mencuat tajam antara tim ad hoc dengan sejumlah tokoh dan pemerhati pendidikan guru dalam pertemuan yang digelar Ditjen Dikti di Hotel Jayakarta Jakarta, 30 Maret 2008. Namun, hingga draf rancangan yang dipublikasikan itu, nyaris tak ada perubahan berarti.

       

      Inti masalah terletak pada kecermatan akademik dalam Rancangan Pendidikan Profesi Guru yang secara konseptual tidak memadai, bahkan dikesankan banyak pihak, telaah akademiknya dikerjakan serampangan dengan pendekatan berpikir kira-kira.

      Pedoman pendidikan dan Ran­cangan Permendiknasnya pun mengidap cacat bawaan dari naskah akademik Jika rancangan ini terus menggelinding menjadi ketetapan Permendiknas, dikhawatirkan akan melengkapi penga-laman pahit Presiden Yudhoyono setelah "Super Toys" dan "Banyu Geni".

      Selain itu, grand design Pen­didikan Profesional Guru dalam rangka Sertifikasi Guru menjadi makin tidak jelas juntrungnya. Kekacauan Konsep

      Ada frase yang dikacaukan satu sama lain kemudian mengundang kontroversi, yaitu “Pendidikan Profesional guru”, “Pendidikan Guru Konsekutif” ,“Pendidikan Guru Terintegrasi (concurrent)”, “Pendidikan Akademik Guru”, dan “Pendidikan Profesi Guru”

      Dalam praktik pendidikan guru di Tanah Air dikenal Pendidikan Guru Konsekutif (untuk PGSM) dan Pen­didikan Guru Terinte­grasi   (khusus   untuk PGSD).      Pendidikan Guru   Konsekutif  dimulai dengan penguasaan disiplin ilmu tertentu sesuai mata pelajaran di sekolah menengah, lalu ditambah (plug-in)  penguasaan kemampuan ilmu kependidikan.

      Jenis pelaksanaannya, Pendi­dikan Guru Konsekutif dilakukan dalam jalur kependidikan maupun jalur nonkependidikan yang kemudian menambah paket ke­pendidikan. Sedangkan Pendidik­an Guru Terintegrasi sejak awal pendidikan, penguasaan disiplin ilmu yang diajarkan di SD dan penguasaan pedagogisnya dilaku­kan   secara   terintegrasi.   Pada program S-L keduanya berujung diperolehnya ijazah (akademik) sarjana pendidikan (SPd) sehingga disebut "Pendidikan Akademik Guru".

      Keberadaan Pendidikan Pro­fesi Guru menjadi tuntutan setelah UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mensyaratkan guru profesional harus memiliki sertifikat pendidik Lazimnya seperti dilakukan pada bidang kedokteran, akuntan, atau lawyer, Pendidikan Profesi Guru dilakukan secara internship setelah melalui pendidikan akade­mik Pendidikan profesi berisi kegiatan praktik "mencemplungkan diri" menerapkan kemampuan akademik dalam kegiatan profesi guru di sekolah disertai mekanisme penyeliaan yang slstematis dan dalam waktu memadai.

      Maka, Pendidikan Profesi Gu­ru harus mensyaratkan peserta penyandang SPd, baik yang berasal dari jalur Pendidikan Kon­sekutif maupun Pendidikan Guru Terintegrasi.

      Pendidikan akademik dilakukan dalam basis kampus, ujung diperolehnya ijazah jana Sedangkan pendidikan pro­fesi dilakukan secara internship di sekolah, berujung didapatnya ser­tifikat. Semua proses pendidikan guru, mulai dari pendidikan aka­demik hingga diteruskan ke pen­didikan profesi guru disebut "Pendidikan Profesional Guru".

      Kekacauan konsep dalam Rancangan Permendiknas bermula dari Naskah Akademik dan Pedoman Pendidikan Profesi Guru versi Ditjen Dikti karena tidak mampu membedakan "Pendidik­an Guru Konsekutif" yang aka­demik dengan "Pendidikan Pro­fesi Guru" yang internship.

      Pasal 10 Struktur Kurikulum yang terdiri mata kuliah akade­mik dan pendidikan bidang studi ditambah Praktik Pengalaman Lapangan, dan Pasal 11 tentang Beban Belajar dengan rentang 18-40 SKS, jelas menunjukkan, yang dimaksud "Pendidikan Pro­fesi Guru" dalam Rancangan Per­mendiknas ini tidak lain adalah "Pendidikan Guru Konsekutif" yang bercirikan pendidikan aka­demik nyaris tak beda atau re-inkarnasi program Akta bagi S-l nonkependidikan yang dikenal selama ini.

      Ini berarti bagi peserta S-l dan D-IV (jika ada) kependidikan akan mengulang "cerita" pendi­dikan akademiknya dan bagi pe­serta S-l dan D-IV nonkepen­didikan selayaknya menempuh "Pendidikan Guru Konsekutif" guna mendapatkan "Pendidikan Akademik Guru". Singkat kata, "Pendidikan Profesi Guru" yang bercirikan kegiatan internship yang dimaksud sebenarnya belum berhasil dirumuskan.

      Reformasi LPTK

      Pasal   3   Rancangan Permendiknas   menyebutkan, program Pendi­dikan Profesi Guru diselenggarakan      LPTK yang terakreditasi dan ditetapkan pemerintah. Pengalaman        praktis LPTK  sebatas  menye-lenggarakan pendidikan guru    konsekutif   dan konkuren melalui aneka jenis paket kependidik­an,   dan   menghasilkan sarjana pendidikan (akademis)   yang   ditandai perolehan ijazah dan ge-lar SPd. Pendidikan Profesi Guru me­lalui internship di sekolah mi­nimal satu tahun itu pasti bukan format praktik pengalaman lapangan (PPL) yang selama ini dikenal di LPTK, yang masih da­lam ranah pendidikan akademik guru. Dengan kerangka pikir ba-ru, Pendidikan Profesional Guru dilakukan berjenjang dari pendidikan   sarjana   akademik   di LPTK lalu pendidikan profesi setelah sarjana, maka reformasi kurikulum LPTK secara menyeluruh dan pengembangan Pendi­dikan Profesi Guru menjadi keniscayaan dalam pengembangan Pendidikan Profesional Guru.

      Sejalan dengan itu, LPTK perlu mengembangkan program operasional internship Pendidikan Profesi Guru yang belum pernah ada, dengan penyeliaan yang sistematis berbasis sekolah laboratorium atau sekolah mitra.

      Memerhatikan dampak yang luas dalam sistem pendidikan di Tanah Air, formulasi pendidikan profesional guru tak boleh di­lakukan grusa-grusu, "kejar tayang", hanya untuk memenuhi target proyek Dalam hal ini, kita perlu lebih arif karena kini saatnya menata Pendidikan Profe­sional Guru secara cermat dan sungguh-sungguh untuk menuai generssi guru baru yang "perkasa" mengubah mutu pendidik­an, mengubah menjadi lebih baik, dan bukan merusaknya.

      WARASKAMDI

      Ketua Lembaga Pengembangan

      •Pendidikan dan Pembelajaran

      Universitas Negeri Malang;

      Anggota Kelompok Peduli Pendidikan Guru


       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Friday, 24 February 2012 10:05  

      Items details

      • Hits: 2274 clicks
      • Average hits: 24.2 clicks / month
      • Number of words: 1570
      • Number of characters: 12947
      • Created 7 years and 10 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 10 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 104
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9127149
      Dialog_Peradaban.jpg

      Kalender & Agenda

      December 2019
      S M T W T F S
      1 2 3 4 5 6 7
      8 9 10 11 12 13 14
      15 16 17 18 19 20 21
      22 23 24 25 26 27 28
      29 30 31 1 2 3 4

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC