.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Pendidik
E-mail

SENIN, 26 OKTOBER 2009 MEDIA INDONESIA

CALAKEDU

JK sang Guru Bangsa

DI tengah hiruk pikuk pujian terhadap kiprah dan peran Jusuf Kalla (JK) sebagai wakil presiden 5 tahun terakhir datang bertubi-tubi, Edu justru prihatin dengan warisan yang sudah ditinggal-kannya. The legacy of JK seperti tak ada habisnya, apalagi jika yang menilai adalah sejawat, kolega, bahkan keluarga. Image tentang ketegasan, kecepatan dalam bertindak, tangkas, cerdas, sederhana, tak suka basa-basi, seperti melekat pada semua sisi dan wajah JK. Seperti Napoleon dan Julio Caesar layaknya, kecilnya tubuh tak menyebabkan pendeknya akal.

Komaruddin Hidayat bilang bahwa dari aspek kultural, JK merupakan wajah Islam moderat yang nasionalis, di mana antara keislaman dan keindonesiaan bergabung jadi satu. Budaya pedagang dan budaya orang pantai merupakan karakteristik yang sangat menarik pada diri JK. Budaya ini dalam keseharian tergambar dari cara JK yang selalu ingin menerima tamu jika mereka datang, dan ketika keluar, dia selalu mencari kawan, bukan lawan.

Selama 5 tahun bertugas, JK telah menjadi sahabat media, bahkan dalam bahasa Soeryo pratomo, JK merupakan representasi dari darling of the media, kekasihnya media. Sebagai dan laksana kekasih, JK selalu tampil semringah dan serius ketika berbicara di depart media. Tindakan dan pernyataannya selalu ditunggu media meskipun penuh kontroversi. Jangan lupa, kontroversi adalah bagian tak terpisahkan dari ba-tang tubuh dan pikiran JK selama lima tahun terakhir.

Last Updated on Friday, 02 March 2012 05:51 Read more...
 
E-mail

KOMPAS , JUMAT, 22 MEI 2009

Ironi Sertifikasi Guru

Oleh MARIA FK NAMANG

Sebanyak 5.000 guru NTB sudah berharap Hardiknas 2009 yang lalu bakal menjadi momen berkah. Dengan ijazah S-l yang cepat diperoleh (hanya enam bulan), mereka sudah bisa "diperhitungkan" dalam proses sertifikasi.

Sialnya, uang melayang, gelar pergi, dan penderitaan menghadang (Kompas, 4/5). Ada apa?

Operator kurikulum

Pendidikan lanjut untuk guru itu penting. Dengan tambahan ilmu, guru akan lebih efektif melaksanakan tugas. la menjadi subyek kreatif yang menularkan ide-ide pembaru.

Namun, mengapa hal itu sulit tercapai? Menurut Gimeno J (1989) dalam Investigation en la Escuela, sasaran pendidikan bukan menjadikan guru sebagai subyek yang kreatif, tetapi sekadar operator kurikulum.

Hashweh MZ (1996) dalam Ef­fects of Science Teachers' Epistemological Beliefs in Teaching, melihat lebih jauh praksis ini. Pemerintah sebagai penanggung jawab berasumsi, kurikulum yang dibuat bersifat tak tergantikan. Guru bisa berkreasi sebatas metodologis-pedagogis.

Last Updated on Friday, 02 March 2012 05:47 Read more...
 
E-mail

KOMPAS, 22 MEI 2009

Guru Honorer, Siapa Peduli?


Oleh ST KARTONO

Nasib sekitar 922.000 guru ho­norer atau wiyata bakti di sekolah negeri maupun swasta masih belum jelas. Hal itu disebabkan sebagian besar sekolah swasta dan negeri tidak sanggup menaikkan pendapatan mereka, sedangkan bantuan dari pemerintah amat terbatas (Kompas, 15/5). Siapa dapat mengubah nasib guru honorer?

Bayaran seminggu

Keberadaan guru honorer di sekolah negeri maupun swasta seperti dianggap siluman, antara ada dan tiada. Jika terkait peker­jaan, mereka mengambil porsi jam pelajaran sama dengan guru tetap. Namun, jika menghitung-hitung pemberian kesejah­teraan finansial, mereka diabaikan hak-hak kemanusiaannya.

Honor mereka dibayar berdasarkan jam mengajar selama satu minggu. Jika honor tiap jam se­besar Rp 20.000 dan sepekan mengajar 20 jam, honorarium sebulan sebesar Rp 400.000. Itulah yang terjadi pada guru hono­rer, mengajar satu bulan dengan bayaran satu minggu.

Last Updated on Friday, 02 March 2012 05:41 Read more...
 
E-mail

 

Kompas, 24 Oktober 2009

Mutu Pendidik yang Mengecewakan

Oleh ALI KHOMSAN

Kinerja guru tampak meningkat saat mengurus proses sertifikasi. Namun, setelah itu, mereka kembali bertugas seperti semula, tak ada perbaikan performans. Karena itu, guru yang baik, yang telah maupun belum mendapat sertifikasi, perlu terus mendapat pelatihan, aktif meng-ikuti seminar atau lokakarya untuk mendapat wawasan tambah-an guna memperbaiki kinerjanya di sekolah.

Harus disadari, perjalanan ser­tifikasi pendidik hingga kini be­lum berjalan mulus. Sebagian gu­ru kesulitan memenuhi syarat mengajar 24 jam seminggu, padahal ini merupakan prasyarat dibayarkannya dana sertifikasi. Di lain pihak, meski sudah meng­ajar 24 jam, dana sertifikasi belum rutin keluar, dirapel empat atau enam bulan sekali. Entah di mana mismanajemen   terjadi. Departemen Pendidikan Nasional berdalih, dana sudah dialokasikan sampai kabupaten atau kota dan keterlambatan pembayaran sertifikasi bukan salah pemerintah pusat.

Last Updated on Monday, 27 February 2012 08:12 Read more...
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 8

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,788
  • Sedang Online 154
  • Anggota Terakhir Robertrab

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9091399
Dialog_Peradaban.jpg

Kalender & Agenda

November 2018
S M T W T F S
28 29 30 31 1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 1

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC