.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Kisah Buku Dalam Angka di Taman Surga

      Oleh

      Djoko Pitono

       

      DALAM bukunya yang terkenal, Indonesia: The Possible Dream (1971), mantan Duta Besar Amerika Serikat Howard Palfrey Jones memuji keindahan negeri ini. Jones juga mengakui betapa bangsa Indonesia telah mencapai tingkat kebudayaan yang tinggi di saat bangsa-bangsa Eropa masih sangat terbelakang dalam budaya neolitik.

      Tentang manusia dan budaya Jawa, misalnya, Jones menulis, ”nenek moyang orang-orang Jawa sudah ada pada masa pra-sejarah. Ditemu­kannya fosil manusia Jawa, Phithe­canthropus Erectus, di Lembah Bc­ngawan Solo (Trinil, Redl) pada 1890, memunculkan kesimpulan bahwa Jawa adalah tempat asal mula ma­nusia sekarang ini. Itu berarti tempat Taman Surga (Garden of Eden).

      "Even if that is not true, it should be; for it would be difficult to find anywhere in the world a paradise surpassing this land of lush beauty, literally a garden. Although mo­dern scholars tend to place the origin of farther north and west, the idyllic quality of the Indonesian archipelago lends itself appro­priately to the legend of Genesis, " kata Jones.

      Jones juga menulis, masyarakat Indonesia telah mengembangkan budaya sendiri yang khas, termasuk dalam bahasa dan sastra, jauh sebelum ada pengaruh dari India dan Tiongkok. Saat pengaruh itu mulai datang, mereka telah mengem­bangkan cara bercocok tanam de­ngan sistem irigasi yang canggih, terampil dalam mengolah perunggu dan besi, serta pelaut yang baik. Mereka juga memiliki teater sendiri (wayang), mengembangkan musik dalam ben­tuk gamelan, dan membuat kain batik dengan desain-desain dan bentuk-­bentuk rumit lewat proses yang rumit. Mereka adalah orang-orang yang mencintai seni, yang rumahnya dihiasi dengan ukir-ukiran yang rumit.

      Mengingat puji-pujian Howard Jones itu, terus terang hati saya tidak menentu ketika pertengahan Sep­tember lalu saya mengikuti Kongres XVI Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) di Jakarta. Itulah ketika sastrawan terkemuka Ajip Rosidi menyam­paikan ceramahnya di depan peserta kongres tentang upaya membangun masyarakat baca untuk membangun masyarakat unggul.

      Lain Howard Jones, lain pula Ajip Rosidi. Kalau Jones mengungkapkan kehebatan-kehebatan bangsa ini di masa lalu, Ajip melukiskan betapa sudah sangat terpuruknya rakyat negeri ini, sekarang. Dan, itu bisa dilihat dari keadaan dunia perbu­kuannya, sebuah indikator utama maju tidaknya suatu bangsa.

      Ajip berbicara ceplas-ceplos. Ia antara lain mengatakan, sejak Indo­nesia merdeka tidak ada satu pun pemerintahan yang menunjukkan perhatiannya yang serius kepada dunia perbukuan. Jarang ada pejabat yang peduli pada dunia perbukuan, bahkan ada kota provinsi yang tidak mempunyai perpustakaan. Mungkin peringkat kegemaran membaca bangsa kita termasuk paling rendah di dunia. "Karena itu tak heran kalau ada yang mengatakan bahwa keba­nyakan pejabat kita lebih menyukai bila rakyat tetap bodoh," kata Ajip.

      Ajip pun bermain angka. Penerbi­tan buku di Indonesia saat int sekitar 12 ribu judul buku setiap tahun dengan oplah hanya dua sampai tiga ribu setiap judul bagi bangsa dengan penduduk 225 juta niscaya tidak berarti apa-apa. Itu pun pada kenya­taan banyak penerbit yang mencetak bukunya hanya 500 eksemplar.

      "Coba saja hitung, 12 ribu x 5 ribu kita naikkan angkanya, jumlahnya hanya 60 juta buku," kata Ajip. "Dengan demikian, setiap orang hanya kebagian membaca 60 juta berbanding 225 juta = 0,27 judul buku dalam setahun!"

      Apa pula itu artinya? la pun terus menghitung. Kalau setiap buku rata-rata tebalnya 100 halaman, maka dalam 365 hari setiap orang Indonesia hanya membaca 27 halaman. Atau setiap halaman dibaca selama hampir dua minggu. "Karena angka-angka itu sudah dibesarkan, kecuali jumlah pendudu.k Indonesia, maka tentu saja kenyataan yang terjadi lebih menyedihkan dari itu," sergap Ajip.

      Bagaimana sebuah bangsa yang sebelumnya dikenal sangat maju bisa terpuruk menjadi bangsa yang terbelakang? Bagaimana bangsa yang dikenal dengan karya-karya budaya dan sastranya itu dapat terpelanting ke dalam kubangan yang besar? Jawabannya tentu bisa sangat panjang.

      Ajip sendiri berpendapat, kita sebaiknya tidak terlalu berharap dari peran pemerintah dan lebih baik masing-masing individu dan ke­lompok swasta yang sadar melaku­kan sesuatu yang berguna. Misal­nya mendirikan perpustakaan di lingkungan masing-masing.

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 6385 clicks
      • Average hits: 50.7 clicks / month
      • Number of words: 889
      • Number of characters: 6584
      • Created 11 years and 6 months ago at Thursday, 04 June 2009 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 136
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9127325
      DSCF8768.jpg

      Kalender & Agenda

      December 2019
      S M T W T F S
      1 2 3 4 5 6 7
      8 9 10 11 12 13 14
      15 16 17 18 19 20 21
      22 23 24 25 26 27 28
      29 30 31 1 2 3 4

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC