.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail
      Article Index
      Pelatihan Membangkitkan Minat Baca: Sebuah pendekatan alternatif
      Page 2
      Page 3
      Page 4
      Page 5
      Page 6
      Page 7
      Page 8
      Page 9
      Page 10
      Page 11
      Page 12
      Page 13
      Page 14
      All Pages

      Pelatihan Membangkitkan Minat Baca:

      Sebuah pendekatan alternatif

       

      Anda tidak bisa mengajari sesuatu kepada seseorang,

      Anda hanya dapat membantu orang itu

      menemukan sesuatu dalam dirinya

      (Galileo Gallilei)

       

       

      Fungsi utama perpustakaan adalah untuk membangkitkan dan meningkatkan minat baca masyarakat yang dilayaninya (pemustaka). Dengan program-program yang dibuatnya, perpustakaan menjadi pelopor dalam menarik minat masyarakat supaya dekat dengan sumber informasi. Dan pustakawan berperan sebagai agen perubahan untuk menciptakan masyarakat membaca (reading society) sebagai salah satu pilar utama menuju masyarkat belajar (learning society). Walapun kesan yang ada sekarang ini adalah perpustakaan dan pustakawan hanya berperan sebagai pelayan saja bagi kebutuhan informasi masyarakat, sejatinya para pustakawanlah yang mengadakan pelatihan-pelatihan atau berbagai macam program dan juga berinisiatif untuk menulis literatur yang dapat membangkitkan semangat membaca masyarakat, karena ia setiap hari bergulat dengan sumber informasi, di samping itu juga karena pustakawanlah yang paling dekat dengan para pemustaka.

      Membangun kebiasaan membaca bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah, tidak hanya cukup dengan membeli buku dan membuat perpustakaan, akan tetapi bukan juga sebuah pekerjaan yang teralalu sulit untuk dilakukan. Pada zaman informasi seperti yang tengah terjadi sekarang ini, menemukan sumber informasi bukanlah pekerjaan yang sulit, akan tetapi ironisnya minat baca masyarakat tetap saja rendah. Hal ini menunjukkan bahwa rendahnya minat baca bukan hanya diakibatkan oleh ketiadaan sumber informasi semata, akan tetapi merupakan kondisi psikologis atau mentalitas seseorang. Untuk itu membangun kebiasaan membaca harus dimulai dari membangun kepribadian individu, dan apabila ingin membangun masyarakat membaca, harus melakukan sebuah upaya yang massif dan simultan dalam membangun kepribadian atau budaya masyarakat menjadi masyarakat yang gemar membaca. Sesungguhnya minat baca dapat diciptakan sebelum perpustakaan itu ada.

      Memang, telah banyak beredar buku dan literatur yang membahas tentang minat baca, akan tetapi kalau kita prhatikani ternyata hampir sebagian besar buku-buku tersebut membahas tentang peran orang tua atau guru dalam mengkondisikan anak atau murid, terutama usia Balita sampai sekolah dasar, supaya gemar membaca. Secara teoritis buku-buku tersebut menggunkan pendekatan Pavlovian yang berlandaskan pada teori stimulus-respon serta pengkodisian (conditioning). Termasuk buku Pedoman Minat Baca yang dibuat oleh Perpustakaan Nasional (2002) juga menggunakan pendekatan ini.

      Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa timbulnya selera membaca disebabkan oleh adanya koleksi yang beragam dan variatif. Selanjutnya selera membaca ini akan menimbulkan minat baca, yang kalau diulang terus-menerus akan menghasilkan kebiasaan membaca. Dan kebiasaan membaca ini akan menjadi landasan dari pengembangan koleksi. Dari pola seperti di atas dapat terlihat bahwa ada korelasi yang sangat kuat antara koleksi dengan kebiasaan membaca. Faktor utama untuk menumbuhkan minat baca adalah koleksi. Hampir semua bentuk program dan kegiatan pembinaan minat baca yang ditawarkan oleh Perpustakaan Nasional juga bersifat ”pemaksaan” dengan kegiatan yang diwajibkan atau diharuskan. Di samping itu juga disodorkan kegiatan-kegaitan yang bersifat rangsangan seperti lomba, dll. Pendek kata semua kegiatan itu ”berasal dari luar” diri si peserta didik. Bukan berdasarkan pada proaktivitas yang timbul atas dasar kesadaran ”dari dalam diri” mereka.

      Sekali lagi, pola pembinaan minat baca tersebut di atas dilandaskan pada teori determinisme terutama determinisme lingkungan. Secara singkat teori determinisme tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

       

      Mengapa seseorang tidak memiliki minat baca ? Jawabannya ada tiga macam: 1) karena memang sudah warisan dari orang tua. Mulai dari kakek-nenek memang tidak suka membaca dan itu sudah ada dalam DNA anda sampai hari ini. Sifat ini deteruskan dari generasi ke generasi berikutnya dan anda mewarisinya. Inilah yang disebut dengan determinisme genetis. 2) Anda tidak sedang membaca, karena memang sejak kecil dibesarkan oleh oleh orang tua yang tidak pernah mendekatkan diri anda dengan bacaan. Saya tidak sedang membaca memang tidak diberi teladan oleh orang tua malah orang tua Anda selalu mengatakan bahwa membaca itu perbuatan yang hanya buang waktu saja. Pengasuhan anda, pengalaman masa kanak-kanak anda pada dasarnya membentuk kecenderungan pribadi dan sususan karakter anda. Itulah sebabnya anda tidak senang membaca.Inilah yang disebut dengan determinisme psikis. 3) Sedangkan determinisme lingkungan pada dasarnya mengatakan bahwa anda tidak senang membaca karena atasan atau bawahan, teman-teman, dan guru atau dosen ada juga tidak senang membaca; di samping itu juga di rumah, di kantor, di sekolah tidak disediakan perpustakaan; serta tidak ada peraturan perusahaan yang mengharuskan anda untuk membaca; situasi ekonomi yang kurang mendukung dan tidak adanya kebijakan nasional tentang minat baca. Seseorang atau sesuatu di lingkungan andalah yang bertanggung jawab atas tidak adanya minat baca pada diri anda.


      Ketiga macam determinan di atas dilandasi oleh teori stimulus/respons yang sering kita hubungkan dengan eksperimen Pavlov dengan anjingnya. Gagasan dasarnya adalah bahwa kita dikondisikan untuk berespons dengan cara tertentu terhadap stimulus tertentu (Covey, 1997)

      Kekurangan dari pendekatan di atas di antaranya adalah akan mengalami kesulitan bila diterapkan pada usia remaja sampai dewasa, di samping itu juga waktu yang dibutuhkan terlalu lama.

      Sampai saat ini penulis belum pernah menemukan buku atau literatur yang membahas tentang metode meningtkan minat baca untuk orang dewasa. Karena tentu saja sangat berbeda cara memperlakukan Balita dengan orang dewasa. Orang dewasa bisanya sudah kebal terhadap lingkungan, dia sudah memiliki sebuah kesadaran diri yang timbul dari dalam untuk melakukan sesuatu.

      Untuk melengkapi upaya membangkitkan minat baca ini, saya akan mencoba dengan menggunakan pendekatan lain yaitu yang saya sebut dengan “terapi minat baca”. Istlihan ini mungkin belum ada dalam literatur perpustakaan ataupun literatur pendidikan. Landasan teoritis terapi minat baca ini saya ambil dari konsep pendidikan kritis Paulo Freire, seorang ideolog pendidikan dari Brazil, yang dipadukan dengan konsep membangun Tujuh Kebisaan Manusia Yang Sangat Efektif dari Stephen R. Covey.

      Pendekatan ini didasarkan kepada sebuah teori bahwa manusia tidak hanya digerakan oleh stimulus yang sangat mekanistis, akan tetapi manusia adalah merupakan makhluk yang memiliki kehendak bebas. Di antara stimulus dan respons terdapat kekuatan manusia yang besar, yaitu kebebasan untuk memilih.

      Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa kita sebagai manusia sangat bertanggung jawab atas hidup kita sendiri. Perilkau kita adalah fungsi dari keputusan kita, bukan kondisi kita. Kita dapat menomorduakan perasaan sesudah nilai. Kita mempunyai inisiatif dan tanggung jawab untuk membuat segala sesuatunya terjadi. Perilaku adalah produk dari pilihan sadar, berdasarkan nilai, dan bukan produk dari kondisi atau berdasarkan perasaan.

      Kemampuan untuk menomorduakan impuls sesudah nilai merupakan inti orang yang proaktif. Orang yang reaktif digerakkan oleh perasaan, oleh keadaan, oleh kondisi, oleh lingkungan mereka. Orang yang proaktif digerakan oleh nilai—nilai-nilai yang sudah dipikirkan secara cermat, diseleksi, dan dihayati.

      Untuk membangkitkan dan membangun minat baca tidak hanya harus dilandaskan pada lingkungan atau kondisi, tetapi juga dapat didasarkan pada pilihan yang sadar. Membaca bukan sebuah kewajiban yang datang dari ”luar” dan harus dilakukan dengan terpaksa, akan tetapi sebuah kebutuhan yang timbul dari ”dalam diri” akan dilakukan dengan senang hati.

      Tentu saja perasaan itu akan timbul dalam diri seseorang setelah diberikan pemahaman tentang pentingnya membaca untuk peningkatan kualitas hidup seseorang.

      Konsep ”terapi minat baca” ini hanya bisa diterapkan untuk orang dewasa. Pembelajaran disampaikan dengan pelatihan selama dua hari dengan menggunakan pendekatan pengajaran orang dewasa (andragogi).



      SUMBER MOTIVASI MEMBACA

       

      Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (QS. 13:11).

       

      Motivasi adalah keadaan dalam diri individu yang memunculkan, mengarahkan, dan mempertahankan perilaku. Dengan kata lain menurut Kartini Kartono motivasi adalah dorongan terhadap seseorang agar mau melaksanakan sesuatu. Dengan dorongan (driving force) di sini dimaksudkan: desakan yang alami untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan hidup dan merupakan kecenderungan untuk mempertahankan hidup (http://id.wikipedia. org/wiki/Motivasi).

      Sesungguhnya upaya menumbuhkan motivasi membaca dapat bersumber dari empat dimensi manusia (mental, emosional, spiritual, dan fisik). Dengan menghidupkan satu atau lebih dimensi manusia tersebut seseorang dapat termotivasi dalam membaca. Keempat dimensi tersebut apabila diartikulasikan kedalam bentuk kegiatan manusia maka akan seperti berikut: Visualisasi (visualitation) untuk dimensi mental; Tanggung jawab (responsibility) untuk dimensi spiritual; Kenyamanan dan kesukaan (excited) untuk dimensi emosional; Gerakan (move) untuk dimensi fisik. Manusia pada dasarnya memiliki kemampuan memotivasi diri untuk membaca yang tidak terbatas. Semakin besar upaya untuk menyalakan sumber pemicu motivasi semakin besar motivasi yang dihasilkan. Akan tetapi untuk memulainya, langkah yang paling awal dan paling penting adalah melakukan penyadaran.

      PENYADARAN

      Yang dimaksud penyedaran di sini adalah sebuah proses di mana membuat seseorang sadar atas diri dan situasinya yang kemudian akan membuka jalan untuk berusaha mengubahnya. Menumbuhkan kesadaran sangat perlu sebagai langkah awal dari bangkitnya motivasi. Kesadaran merupakan kunci yang harus dimiliki seseorang agar perubahan dapat tercapai. Dengan adanya kesadaran yang dimiliki, maka seseorang akan sangat mudah untuk menyelesaikan problem-problem pribadi atau sosial yang ada di masyarakat. Dalam proses penyadadaran ini seseorang akan dihadapkan dengan berbagai macam problematika sosial seperti kemiskinan, pengangguran, konflik, persaingan dan lain-lain yang terjadi di Indonesia pada saat ini. Peserta akan diajak untuk bersama-sama membaca secara kontekstual lingkungan sosial yang senantiasa mengepung kehidupannya setiap hari. Ia akan diposisikan sebagai subyek bukan obyek dan menjadikan realitas sosial sebagai materi pembelajaran. Pembelajaran diberikan dengan pendekatan dialogis yang berorientasi pada terwujudnya kesadaran kritis dalam diri. Peserta akan dibimbing untuk memasuki tiga jenis kesadaran, sebagaimana digolongkan oleh Pauolo Freire, yaitu kesadaran magis (magical consciousness), kesadaran naif (naival consciousness) dan kesadaran kritis (critical consciousness).

      1. Kesadaran Naif: keadaan yang dikatergorikan dalam kesadaran ini adalah lebih melihat “aspek manusia” sebagai akar penyebab masalah masyarakat. Masalah etika, kreativitas dan need for achievement dalam kesadaran ini di anggap sebagai penentu perubahan.. Jadi dalam menganalisis penyebab kemiskinan masyarakat, kesalahannya terletak di masyarakat sendiri. Masyarakat dianggap malas membaca, tidak memiliki kewiraswastaan atau tidak memiliki budaya membangun dan seterusnya

      2. Kesadaran Magis yakni suatu kesadaran masyarakat yang tidak mampu melihat kaitan antara satu faktor dengan faktor lain. Kesadaran magis dibangkitkan dengan mengatikan bahwa kegiatan membaca sebagai sebuah pekerjaan suci yang dititahkan oleh agama (teologi membaca).

      3. Kesadaran Kritis, kesadaran ini lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah. Pendekatan struktural menghindari “blaming the victims” (menyalahkan korban) dan melakukan analisis kritis untuk menyadari struktur dan sistem sosial, politik, ekonomi dan budaya serta akibatnya terhadap keadaan masyarakat.Untuk bisa mencapai kesadaran kritis dibutuhkan pendidikan kritis yang berbasis pada realitas sosial.


      Seseorang belum bisa dikatakan sadar apabila belum mengetahui keadaan (realitas) yang sedang dialaminya, serta belum mau merubah keadaan tersebut menjadi lebih baik. Dalam proses penyadaran ini akan ditekankan bahwa yang sangat bertanggung jawab atas masa depan adalah dirinya sediri. Sebagaimana Allah befirman dalam Alqur’an surah Ar-Ra’d ayat 11, diterangkan bahwa perubahan masyarakat harus dimulai dari diri manusianya (kesadaran). M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah mengatakan bahwa: ada beberapa hal yang perlu di garisbawahi menyangkut ayat tersebut. Pertama, ayat tersebut berbicara tentang perubahan sosial, bukan perubahan individu. Kedua, sunnatullah yang dibicarakan ayat ini berkaitan dengan kehidupan duniawi bukan ukhrawi. Ketiga, ayat ini berbicara tentang dua pelaku perubahan yakni Allah dan Manusia. Keempat, ayat ini menekankan bahwa perubahan yang dilakukan oleh Allah, haruslah didahului oleh perubahan yang dilakukan oleh masyarakat menyangkut “sisi dalam” mereka. Tanpa perubahan ini, mustahil akan terjadi perubahan sosial. Karena itu boleh saja terjadi perubahan penguasa atau perubahan sistem, tetapi jika “sisi dalam” masyarakat tidak berubah, maka keadaan akan tetap bertahan sebagaimana sediakala. Jika demikian, dalam pandangan Al-Qur’an yang paling pokok guna keberhasilan suatu perubahan sosial adalah perubahan “sisi dalam manusia”, karena manusialah yang melahirkan aktivitas, baik positif maupun negatif, dan bentuk, sifat serta corak aktivitas itulah yang mewarnai keadaan masyarakat (positif dan negatif)

      Sisi dalam” manusia dinamai nafs, dan “sisi luar” dinamai jism. Jika kita ibaratkan nafs dengan sebuah wadah, maka nafs adalah sebuah wadah besar yang di dalamnya ada kotak yang berisikan segala sesuatu yang disadari oleh manusia (gagasan dan kemauan). Al-Qur’an menamai “kotak” itu dengan qalbu. Di dalam qalbu (hati) inilah tersimpan suatu kesadaran (tingkah laku manusia). Suatu masyarakat tidak akan berubah keadaan lahiriahnya, sebelum mereka mengubah lebih dahulu apa yang ada dalam wadah nafs-nya antara lain adalah gagasan dan kemauan atau tekad untuk berubah. Gagasan yang benar yang disertai dengan kemauan suatu kelompok masyarakat dapat mengubah keadaan masyarakat itu. Tetapi gagasan saja tanpa kemauan atau kemauan saja tanpa gagasan tidak akan menghasilkan perubahan.

      Hasil akhir yang diinginkan dari proses penyadaran ini adalah adanya perubahan paradigma—yang merupakan sumber dari sikap dan perilaku manusia. Perubahan paradigma ini akan mampu menggerakaan seseorang dari satu cara melihat dunia ke cara yang lain. Hanya dengan perubahan paradigma inilah yang akan menghasilkan perubahan budaya baca yang kuat dalam masyarakat. Yang tadinya tidak perduli terhadap berbagai macam persoalan menjadi merasa bertanggung jawab dan siap untuk mengambil peran. Culture is the way we think, the way we do thing around here ( budaya adalah cara kita berpikir yang akan mempengaruhi cara kita melakukan segala hal di sekitar kita). Untuk menuju perubahan budaya (budaya membaca), langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan cara mengubah paradigma jika kita ingin menggali lebih banyak manfaat dari membaca. Harus mulai menempatkan mindset ke jalan yang benar bahwa membaca adalah sebuah kebutuhan jika ingin terus bertahan hidup dalam persaingan global yang semakin ketat ( Mutiah Lilhaq, s.a.)



      VISI (MIMPI)

      Malam itu, 4 April tahun 1968. Martin Luther King sedang berdiri di balkon lantai 2 Lorraine Motel di Memphis, Amerika. Di motel itu ia dan para pejuang keseteraan lainnya menginap, sebelum berpidato dalam sebuah unjuk rasa akbar untuk kesetaraan. Namun  sebutir peluru mengubah segalanya. Peluru itu bersarang menembus kepalanya. Ia tersungkur dan dinyatakan tewas sejam kemudian

      Salah satu yang paling terkenal dari Martin Luther King adalah pidatonya yang kemudian dikenang sebagai pidato ”Saya Bermimpi” atau I have a dream:

       

      "Saya bermimpi. Suatu mimpi yang berakar dalam di mimpi Amerika sendiri. Saya bermimpi, suatu hari bangsa ini akan bangkit dan menghidupkan arti sejati dari asasnya: Kami meyakini kebenaran-kebenaran ini tanpa syarat: bahwa semua manusia diciptakan setara."Pidato ini diucapkan di Washington di hadapan lebih dari seperempat juga orang, pada 28 AGustus 1963. ’I have a Dream’ disebut-sebut sebagai salah satu pidato paling inspiratif untuk perubahan sosial politik umat manusia.” [www.kabarindonesia. com/07-Apr-2008]

       

      Setelah terjadinya perubahan paradigma, langkang selanjutnya untuk mengarah hidup adalah dengan menetapakan visi pribadi atau membangun sebuah mimpi. Yang dimaksud dengan mimpi di sini adalah merupkan sebuah proyeksi atau imajinasi atau cita-cita atau daya khayal seseorang untuk diperjuangan di masa depan. Bukan mimpi yang merupakan “bunga” pada saat kita tidur atau lamunan. Mimpi sangat perlu dimiliki seseorang sebagai suatu penuntun arah akan ke mana dia berjalan di hari depan. Mimpi juga sangat diperlukan supaya seseorang dapat mempunyai perencaran hidup.

      Mimpi merupakan salah satu faktor yang dapat membangkitkan motivasi seseorang, termasuk motivasi membaca. Sebuah mimpi atau cita-cita yang sudah benar-benar menjadi pilihan akan membuat seseoranga termotivasi untuk menggapainya terlepas dari apapun yang menghalangi dirinya, sebagaimana yang dikatakan oleh Fred Polak: “Faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan peradaban-peradaban dunia adalah ‘visi kolektif’ yang dimiliki oleh para individunya mengenai masa depan mereka".

      Sebagian besar kegagalan, baik dalam skala pribadi maupun komunal, adalah diakibatkan oleh kegagalan menetapkan visi. Dan sebaliknya, visi yang jelas merupakan langkah awal untuk mencapai sukses. Sebuah visi secara sederhana dapat dirumuskan hanya dengan sebuah pertanyaan: “Apa sebenarnya yang kuinginkan?”. Atau bisa juga dengan mereka-reka masa depan yang diinginkan dalam khayalan bahkan dalam mimpi. Tanpa visi, kehidupan seseorang tidak akan memiliki arah yang jelas dan proaktif dalam memaksimalkan dan mengoptimalkan potensi dirinya.

      Visi dapat membuat seseorang menciptakan realitas, tidak hanya beraksi terhadap realitas tersebut. Kegunaan lainnya adalah dalam menanggapi berbagai rintangan yang menghadang. Apabila visi yang dimiliki adalah sebuah visi yang jelas dan juga besar, maka rintangan akan dipandang sebagai tantangan bukan penghalang.

      Dalam sakala yang lebih besar baik itu berupa korporasi ataupun negara, visi sama pentingnya sebagaimana dalam invdividu. Dalam korporasi, visi menggambarkan tingkat keadaan organisasi yang diinginkan di masa depan (Kartajaya, 2002: 669). Referensi dari visi adalah sebuah imajinasi, mimpi, atau khayalan tentang masa depan. Kalau orang telah memiliki sifat-sifat seperti itu, maka ia disebut orang yang visioner. Orang ini akan menjadi daya tarik, menggerakkan, dan menjadi sumber insprirasi.


      “Kepemimpinan yang baik itu artinya mengetahui sebarapa banyak dari masa yang akan datang boleh diperkenalkan kepada masa kini.”. kata Peter Burwash. Masa yang akan datang selalu menjadi milik orang-orang yang melihat kemungkinan-kemungkinan jauh sebelum mereka menjadi kenyataan. Orang-orang ini mempunyai visi mengenai sesuatu yang dapat menjadi kenyataan, dan kemudian berusaha membuatnya menjadi kenyataan. Orang besar selalu berpikir melampaui zaman. Dia adalah manusia-manusia yang dilahirkan untuk masa depan. Tabiatnya adalah tidak pernah puas dengan apa yang telah tercapai hari ini.

      Orang-orang besar selalu memiliki semangat yang tak terkekang yang dibawa dari lahir. Mereka berani melangkah maju sebagai perintis. Mereka selalu yakin bahwa apa-apa yang akan terjadi di masa yang akan datang itu tidak pasti atau tidak bisa diketahui, dan karenanya penuh dengan ketidakpastian yang amat besar. Namun, orang-orang besar selalu terampil berantisipasi yang akhirnya mampu mengendalikan masa depan mereka.

      Ary Ginanjar Agustian mengatakan bahwa visi merupakan sumber kekuatan dari semua perubahan baik skala individu maupun skala institusi besar seperti negara. Setiap kemajuan peradaban untuk menjadi bangsa besar atau setiap perusahaan global multinasional pasti diawali dengan penetapan visi yang kemudian diyakininya sehingga menjadi ciata-cita tertinggi yang harus diperjuangkan apapun tebusannya (Agustian, 2007).

      Dr. Charles Garfield telah mengadakan penelitian ekstensif tentang orang-orang yang berprestasi puncak, baik dalam olah raga maupun bisnis, Ia terpesona dengan prestasi puncak pekerjaannya dengan program NASA, mengamati para astronot melatih diri di bumi, berulang-ulang dalam ruang simulasi sebelum mereka berangkat keluar angkasa. Walaupun ia memiliki gelar doktor dalam matematika, ia memutuskan untuk kuliah kembali dan mendapatkan satu gelar lagi, doktor dalam bidang psikologi dan mempelajari karakteristik orang-orang yang berprestasi puncak. Salah satu dari hal utama yang diperlihatkan dari penelitiannya adalah bahwa hampir setiap atlet kelas dunia dan orang-orang yang berprestasi lainnya adalah mereka melakukan visualisasi. Mereka melihatnya, mereka merasakannya, mereka mengalami­nya sebelum mereka benar-benar melakukannya. Mereka memulai dengan tujuan akhir di benaknya.

      Thomas A. Edison adalah penjual koran di kereta api, John D. Rockefeller hanya mempunyai upah enam Dollar perminggu. Julius Caesar menderita penyakit ayan. Napoleon punya orang tua kelas rendahan dan jauh dari kategori cerdas (peringkat empat puluh enam di akademi militer dalam kelas dengan siswa enam puluh lima orang). Beethoven seorang yang tuli, sama seperti Thomas A. Edison. PIato berpunggung bungkuk dan Stephen Hawkings lumpuh.. Apa yang memberi orang-orang besar ini stamina untuk mengatasi kekurangan mereka yang cenderung di bawah rata-rata ini menjadi orang-orang yang sukses? Setiap orang mempunyai impian dalam batin yang menyalakan api yang tidak dapat dipadamkan. Hubert H. Humprey mengatakan: "Apa yang anda lihat adalah apa yang anda bisa capai." Konrad Adenauer benar ketika dia berkata, ”Kita semua hidup di bawah langit yang sama, tetapi tidak semua orang punya cakrawala yang sama."

      Segala sesuatu diciptakan dua kali. Ciptaan pertama adalah ciptaan imaginasi di dalam alam pikiran, dan ciptaan kedua adalah ciptaan nyata pada alam fisik. Ketika seseorang arsitek merancang sebuah gedung, maka ciptaan pertamanya adalah sebuah "rencana", dan ciptaan keduanya adalah bangunan itu sendiri. Begitu juga kehidupan manusia. Ciptaan pertama rnereka adalah visi dan ciptaan kedua adalah masa depan mereka sendiri.

      Visi adalah suatu pandangan ke depan. Apabila pandangan mata hanya mampu melihat sebatas mata memandang yang jangkauannya sangat terbatas, maka visi adalah suatu pandangan tanpa batas, yang mampu menernbus ruang dan waktu. Visi itulah pembimbing hidup kita. Visi adalah sebuah autopilot. (Agustian, 2007)

      Menurut Anis Matta (2007) semua karya besar yang memenuhi lembaran sejarah ummat manusia bermula dari imajinasi. Ini bukan hanya ada di dalam dunia kepahlawanan militer, melainkan merata dalam semua bidang kepahlawanan. Temuan-temuan ilmiah selalu didahului oleh imajinasi.: jauh sebelum dilakukannya pengujian di laboratorium ; jauh sebelumnya adanya perumusan teori. Maka, fiksi-fiksi ilmiah selalu menemukan konteksnya di sini : bahwa mercusuar imajinasi telah menyorot seluruh wilayah kemungkinan, dan apa yang harus dilakukan kemudian adalah tinggal membuktikannya. Studi-studi futurologi juga menemukan konteksnya di sini. Memang, selalu harus ada bantuan data-data pendahuluan. Namun, data-data itu hanyalah bagian dari sebuah dunia yang telah terbentuk dalam ruang imajinasi.

      Para pemimpin bisnis dan politik serta tokoh-tokoh pergerakan dunia juga menemukan kekuatan mereka dari sini. Bahwa apa yang sekarang kita sebut visi dan kreativitas adalah ujung dari pangkal yang kita sebut iamjinasi. Bacalah biografi Bill Gates atau Ciputra, maka Anda akan menemukan seorang pengkhayal. Bacalah biografi John F. Kennedy atau Soekarno, maka Anda juga akan menemukan seorang pengkhayal. Bacalah pula biografi Sayyid Quthb, maka sekali lagi Anda akan menemukan seorang pengkhayal. Dalam dunia pemikiran, kebudayaan, dan kesenian, imajinasi bahkan menjadi tulang punggung yang menyangga kreativitas para pahlawan di bidang ini.


      Kekuatan imajinasi sesungguhnya terletak pada beberapa titik. Pertama, pada wilayah kemungkinan yang tidak terbatas, yang terangkai dalam ruang imajinasi. Itu membantu kita untuk berfikir holistik dan komprehensif, menyusun peta keinginan dan menentukan pilihan-pilihan tindakan yang sangat luas. Kedua, optimisme yang selalu lahir dari luasnya ruang gerak dalam wilayah kemungkinan serta banyaknya pilihan tindakan dalam segala situasi. Ketiga, imajinasi membimbing kita bertindak secara terencana oleh karena ia menjelaskan ruang dan memberi arah bagi apa yang mungkin kita lakukan.

      Akan tetapi, imajinasi tentu saja bukan mukjuzat. Harus ada kekuatan lain yang menyertainya agar ia efektif. Yang jelas, Anda mau belajar menjadi ‘pengkhayal ulung’, barangkali Anda telah memiliki sebagian dari potensi ledakan kepahlawanan” (Tarbawi, 30 Juni 2001)

      Salah satu kelemahan orang Indonesia adalah kurangnya daya khayal atau mimpi dalam dirinya. Padahal, khayalan akan melahirkan kreativitas dan produktivitas. Mimpi ibarat ibu hamil yang akan melahirkan inspirasi dan inovasi. Kalau kita perhatikan ternyata lembaran-lembaran sejarah ditulis oleh para pemimpi. Apakah mereka itu usahawan, negarawan, ilmuwan, maupun budayawan.

      Buku-buku motivasi dan pengembangan kepribadian selalu mendoktrin kita : Mulailah dari mimpi, karena kebesaran selalu bermula dari sana. Kalimat itu telah menjadi sebuah ‘sabda’ yang diriwayatkan oleh para motivator dan inovator dalam beerbagai pelatihan manajemen, mereka seperti menemukan sumber energi bagi kemajuan mereka.

      Mimpi adalah kata yang menyederhanakan rumusan dari segenap keinginan-keinginan kita, cita-cita yang ingin kita raih dalam hidup, atau visi dan misi. Anggapan ia seperti sebuah maket, ia adalah miniatur kehidupan yang ingin Anda ciptakan.

      Kekuatan mimpi terletak pada kejelasannya. Sebuah keinginan yang tervisualisasi dengan jelas dalam benak kita akan menjelma menjadi kekuatan motivasi yang dahsyat. Kemauan dan tekat menemukan akarnya pada mimpi kita. (Tarbawi, 31 Juli 2001).


      Meneladani Minat Baca Sang Pahlawan

      Untuk menguatkan semua langkah di atas, bahwa untuk membangkitkan motivasi membaca harus dimulai dengan perubahan paradigma serta menciptakan sebuah mimpi, penulis akan menukilkan kisah-kisah hidup orang-orang sukses yang dibangun dari kebiasaan membaca, salah satunya adalah Bung Hatta, negarawan sejati yang memiliki mimpi ”Indonesia Merdeka”

      Menurut penulis, menelusuri jejak para pahlawan adalah menelusuri jajak para kutu buku. Pahlawan tanpa tanda jasa mungkin saja ada, tetapi pahlawan tanpa “tanda baca” itu sangat sulit mencari figurnya. Lembaran hidup para pahlawan tidak bisa dipiskan dari lembaran-lembaran naskah yang dia baca dan dia tulis. Mungkin sudah menjadi hukum besi sejarah bahwa seorang pemimpin biasanya juga ia adalah seorang orator dan penulis. Bahkan bisa dihipotesiskan bahwa menulis dan retorika merupakan faktor determinan untuk menjadi seorang pemimpin. Tanpa dua macam keterampilan itu sangat sulit seseorang di sebut pemimpin atau pahlawan atau orang besar. Karena, bagaimana bisa berbicara dan menulis apabila tidak memiliki banyak pengetahuan yang instrumen utamnya adalah membaca. Memang, dengan rekaysa misalnya membuat tulisan atas nama dirinya atau dibuatkan teks pidatonya, bisa saja seseorang menjadi pemimpin, akan tetapi sejarah kelak akan membuktikan bahwa dia bakanlah pemimpin yang otentik. Dalam konteks nasional, kita dapat melihat hampir semua pahlawan kemerdekaan adalah kutu buku. Dalam tulisan ini penulis hanya akan mengulas pengalaman membaca salah seorang proklamator yang sangat terkenal dengan minat bacanya yaitu Bung Hatta. Yang oleh Deliar Noer dalam buku Biografi Politik Bung Hatta (1990: 143) disebut ”Pembaca dan pencatat yang cermat.”

      Sebetulnya yang paling berjasa dalam membesarkan tokoh kita ini adalah bukan hanya sekolah formalnya akan tetapi bahan bacaannya. Dan yang paling menentukan dalam perjuangannya bukan guru-gurunya semata akan tetapi atas dasar usahanya sendiri. Tokoh kita ini, berkat kerakusan dalam membaca, telah menjadi seorang pembelajar mandiri sejak dini. Kehidupan orang-orang besar persis seperti yang dikatakan oleh Thomas Jefferson (1815) ” aku tidak bisa hidup tanpa buku”

      Berikut ini akan saya kutipkan pengalaman membaca Bung Hatta yang diambil dari Memoir-nya (1982). Pada awal menjadi murid di PHS (Prins Hendrik School) Jakarta pada tahun 1919 (pada saat berumur 17 tahun) ia menuturkan: ”Selagi melihat-lihat buku di sana tampak oleh Mak Etek Ayub tiga macam buku yang dinanggapnya perlu aku baca nanti, yaitu N.G. Pierson, Staathuishoudkunde, 2 jilid; H.P. Quack, De Socialisten, 6 jilid, Bellamy, Het Jaar 2000. Inilah buku-buku yang bermula kumiliki yang menjadi dasar perpustakaanku.

      Malam itu juga kumulai membaca buku Nellamy. Waktu aku akan tidur liwat tengah malam sudah leibh seperempat isi buku itu kubaca. Barangkali akan terus kubaca sampai tamat, apabla besok harinya aku tidak mesti sekolah. Pembacaan itu besok harinya kuteruskan sampai tamat buku itu kubaca. Bacaan itu kuanggap bacaan pertama.

      Biasanya buku-buku yang mengenai mata pelajaran aku pelajari pada malam hari. Buku-buku lainnya, buku roman dan buku tambahan untuk meluaskan pengetahuan kubaca pada sore hari sesudah pukul 4 atau setengah 5.

      Setelah tiga kali berturut-turut buku Bellamy tamat kubaca, kumulai membalik-balik buku Quack, De Socaialisten yang 6 jilid itu.

      Pada vakansi besar pertengahan tahun 1920 aku pulang ke Bukittinggi. Di situ dapat kubaca kembali uraian Quack tentang Robert Owen dalam De Socialisten jilid 2 seluruhnya. Waktu itu dapat pula kubaca uraian Quack tentang Ferdinand Lassalle dari De Socialisten jilid 4. Aku asyik membacanya dan aku pandang pujangga sosilis itu penuh romantik. Setelah aku memperoleh buku-buku dari Mak Etek Ayub, aku tidak banyak lagi keluar berjalan-jalan dengan sepeda seperti sebelumnya.”


      Dua tahun kemudian (1921) pada saat beliau melanjutkan studinya di negeri Belanda, atau pun sedang mengadakan kunjungan ke negara-negara lain, hal pertama yang dilakukan beliau adalah memborong buku. Seperti yang ia lakukan pada saat pergi ke Jerman, di antara buku-buku yang dibelinya adalah: Gustav Schmoler, Grundrisz der Algemein Volkswirtschaftlehre, 2 jilid, 1400 halaman; Bohm Bawerk, Kapital und Kapitalzins, 1400 halam; Werner Sombart Der Modere Kapitalismus, 4 jilid, 2100 halaman; dan banyak lagi sampai beliau mengatakan: “‘harta’ bukuku memang bertambah luas terus sejak aku kembali dari Hamburg tahun 1922”. Beliau memiliki disimplin membaca yang sangat hebat dalam perjalnan hidupnya. Pada saat studi di Belanda ia memiliki agenda sebagai berikut: ” Menurut kebiasaan pukul 7 malam aku sudah mulai belajar di kamarku sampai jam 12 tengah malam. Karangan-karangan untuk majalah Indonesia Merdeka bisanya kutulis sesudah jam 9 malam. Kadang-kadang aku bekerja sampai pukul 2 tengah malam. Di waktu itu kerja larut malam itu senang sekali rasanya. Itulah dalam garis besar hidupku sehari-hari!”. Kebiasaan ini beliau lanjutkan di tanah air, sekalipun dalam pembuangannya.

      Terkadang untuk memahami sebuah buku beliau memiliki tekad, ketekunan, dan kesabaran yang luar biasa, seperti penuturannya beriktu ini: ”Sesudah aku sampai di rumah, aku mulai mempelajari buku Jellinek, Allgemeine Staatslhehre. Kupusatkan studiku pada buku ini, empat bulan lamanya. Sepanjang hari buku itu saja yang kupelajari. Buku-buku untuk mata pelajaran lain dan diktat hanya malam hari saja dapat kuperhatikan. Demikian juga karangan-karangan untuk Daulat Ra’yat. Tiap hari aku minum Tonikum untuk memperkuat badan dan pikiran. Tetapi sesudah 4 bulan badanku merasa lusu dan otakku tak sanggup lagi menerima pelajaran baru. Ini kurasakan kira-kira dua minggu menjelang ujian pada akhir Juli 1932.”

      Pada tahun yang sama, setelah menumpuh ujian, belaiu persiapan untuk pulang ke Indonesia. Tentu saja diantara barang bawaan yang turut serta ke tanah air adalah buku-bukunya.”Sudah aku rencanakan bahwa buku-buku yang akan kubawa pulang tidak lebih banyak dari 2m3, dimuat dalam 16 peti besi yang masing-masing berukuran setengah meter kubik. Selebihnya kutinggalkan, kubagikan kepada dua orang teman dekat di waktu itu.”

      Bagi Bung Hatta buku merupakan istri pertanya. Ke mana pun beliau pergi buku selalu menyertainya, termasuk ke pembuangan sekalipun. Pada waktu mau di buang ke Boven Digul, beliau meminta izin selama tiga hari kepada petugas untuk mengapak dulu buku-bukunya yang akan dibawa serta. Buku yang dibawa ke pembuangan pada waktu itu sejumlah 4m3 yang dibagi kedalam 16 peti dengan ukuran masing-masing seperempat meter kubik.

      Begitulah gambaran tentang semangat membaca Bung Hatta. Perjalana hidupnya adalah sejarah membaca dan menulis. Dan inilah sesungguhnya salah satu warisan beliau yang paling berharga bagi bangsa Indonesia: membaca.

      Penyampaian kisah-kisah kepahlawanan akan dilakukan dengan metode storytelling yang telah terbukti efektivitasnya dalam mempengaruhi pikiran dan membentuk karakter manusia.



      MEMBANGUN PENGETAHUAN

      Menurut Anis Matta (2006) akar dari semua tindakan, perilaku, kebiasaan, dan karakter kita adalah lintasan pikiran yang bertebaran dalam benak. Lintasan pikiran itu menyerbu benak kita, maka ia berkembang menjadi memori, dan memori itu secara perlahan berkembang menjadi ide, atau gagasan, atau pikiran.

      Pikiran itu selanjutnya menukik lebih jauh dalam diri kita, dalam wilayah emosi, dan membentuk keyakinan. Maka, keyakinan berkembang menjadi kemauan, dan secara perlahan, kemauan berkembang menjadi tekad. Begitu ia menjadi tekad, pikiran itu telah memperoleh energi atau tenaga agar ia terwujud dalam kenyataan.

      Setelah itu, tekad menjalar ke dalam tubuh dan menggerakkannya. Maka, lahirlah tindakan. Bila tindakan tersebut dilakukan secara berulang-ulang, maka terbentuklah kebiasaan, dan bila kebiasaan itu berlangsung dalam waktu lama, terbentuklah karakter.

      Jadi, tindakan adalah output, sedangkan inputnya adalah pikiran. Dalam diri kita, pikiran-pikiran itu mengalami proses pengelolaan yang rumit. Kita mempunyai pusat penyimpanan informasi yang bernama otak, yang menyerap informasi melalui proses penginderaan dan penalaran, untuk kemudian dikelola oleh akal. Dimana di sana terjadi pembenaran dan penyalahan, penerimaan dan penolakan, serta keyakinan dan keraguan. Secara sikuensial, kita mengalami proses memahami, memilih, memutuskan, dan melakukan.

      Seperti mekanisme kerja komputer, otak adalah tempat penyimpanan informasi atau hardisk, sedangkan akal adalah instrumen pengelola informasi atau prosessor. Output intemalnya adalah kesadaran, dan output ekstemalnya adalah tindakan. Akal menentukan pilihan atas tindakan-tindakan yang secara sadar kita lakukan. Demikianlah, kita menyaksikan bagaimana kepribadian kita dibentuk dari sana: dari pikiran-pikiran kita. Demikian juga selanjutnya, kualitas pikiran-pikiran kita akan membentuk kualitas kepribadian kita, dan kualitas kepribadian kita akan membentuk kualitas hidup kita.

      Sikap kita terhadap segala sesuatu akan ditentukan o!eh persepsi kita tentang sesuatu itu. Persepsi adalah kumpulan informasi yang membetuk pemahaman dan kesadaran kita tentang sesuatu. Karena itu, benar atau salahnya sebuah informasi akan sesuatu, menentukan benar atau salahnya persepsi kita temang sesuatu tersebut.

      Akan tetapi, sesuatu atau apa pun itu yang ada dan wujud, hanya akan kita sikapi manakala ia telah masuk dalam wilayah kesadaran kita. Maka, sesuatu itu bukan sekedar ada, tetapi kita sadari keberadaannya. Dengan dasar itu, kita menentukan kedudukannya (persepsi) dan kemudian menentukan bagaimana cara mensikapinya. Jadi, mungkin ada banyak sesuatu yang wujud dan eksis, tetapi tidak masuk dalam wilayah kesadaran kita, dan karenanya kita tidak melakukan sesuatu terhadapnya.

      Namun, begitu ia masuk dalam wilayah kesadaran kita, maka sesuatu itu segera mempunyai wujud dalam pikiran kita. Selanjutnya, pengenalan kita atas wujud sesuatu tersebut, kita sederhanakan dalam bentuk sebuah simbol atau nama. Jadi, di balik nama atau simbol tersebut, terdapat sebuah pemahaman, sebuah persepsi, yang menentukan cara kita mensikapinya.

      Begitulah. pikiran itu bekerja seperti lampu sorot. Karena itu, dalam jarak beberapa mil dari setiap dermaga, selalu ada lampu sorot yang menyorot setiap kapal yang mendekat. Apabila ada kapal yang masuk dalam jangkauan sorotannya, maka penjaga batas pantai akan memberikan perintah tertentu. Akan tetapi, sebuah kapal mungkin ada di sekitar kawasan tersebut, tetapi belum masuk dalam jangkauan sorotannya, dan karenanya kapal itu tidak akan diberikan perintah tertentu oleh petugas penjaga batas pantai. Bukan karena kapat itu tidak ada, sebab ia ada tetapi ia belum masuk dalam jangkaun sorotannya.

      Demikian juga dengan tindakan-tindakan kita, atau kejadian dan peristiwa kehidupan yang kita saksikan. Ia merupakan panampakan luar dari sesuatu yang ada dalam diri kita, yaitu kesadaran yang terbentuk dalam alam pikiran kita. Pikiran adalah bingkai yang mcmbatasi ruang tindakan. Pikiran adalah ruang pcnciptaan pcrtama bagi manusia. Maka, tidak ada tindakan yang dapat melampaui luasnya wilayah pikiran, dan sebuah tindakan menampakkan diri dalam pikiran, sebelum ia menampakkan diri dalam kenyataan.


      Jadi, pikiran merupakan kekuatan pembimbing dan pengarah yang membentuk tindakan serta kebiasaan dan karakter kila. Pikiran menciptakan perasaan terbimbing dan terarah dalam diri kita. Suatu perasaan yang selanjutnya menciptakan efek ketenangan, keyakinan, dan kepastian. Efek-efek itulah sesuangguhnya yang memberikan kekuatan pada tindakan-tindakan kita.

      Dalam skala yang lebih luas, pikiran-pikiran itu sama dengan nilai-nilai yang berkembang dalam suatu masyarakat, yaitu suatu kekuatan yang mengarahkan dan membentuk perilaku kolektif masyarakat, yang kemudian kita sebut budaya. Jadi, budaya adalah tampak luar, sedang kekuatan internalnya adalah nilai-nilai.

      Dengan kaidah ini, kita bisa menjelaskan banyak fenomena kehidupan, seperti kegagalan dan kesuksesan, kemiskinan dan kekayaan, penjajahan dan keterjajahan, serta keberdayaan dan ketidakberdayaan. Bahwasanya di balik semua fenomena tersebut terdapat pikiran-pikiran pada skala individu, atau nilai-nilai pada skala masyarakat, yang mengarahkan dan membentuk mereka. Orang-orang miskin, misalnya, hidup dengan pikiran-pikiran pada skala individu dan nilai-nilai pada skala masyarakat, yang mengarahkan dan membentuk mereka. Orang-orang miskin, misalnya hidup dengan pikiran-pikiran dan nilai-nilai tertentu yang mengokohkan kemiskinannya, dan tidak memungkinkan mereka keluar dari jeratan kemiskinan itu, kecuali jika mereka memutus mata rantainya dari sana : dari pikiran-pikiran dan nilai-nilai yang mereka percayai.

      Dari landasan teoritis di atas kita dapat memahami betapa pentingnya informasi bagi kehidupan manusia. Tanpa informasi tidak ada yang dapat diproses dalam mekanisme pikiran kita. Dan instrumen yang paling penting dalam memperoleh informasi adalah membaca.


      TEKAD

      Dalam sejarahnya, manusia telah mampu melakukan hal-hal yang besar dengan tekad. Keberhasilan dan kegagalan adalah fenomena dari tekad. Hanya kekuatan tekad yang mengantarkan seseorang kepada kesuksesan atau kegagalan.

      Dengan tekadlah manusia dapat menggpai yang dinginkannnya. Tangan kita, dengan segala kesempurnaan mekanismenya, tidak akan mampu memegang segelas air jika tidak ada tekad yang mendukungnya. Seseorang yang tampak sehat, tidak akan mampu untuk berdiri apabila tidak ada tekad . Bukan kekuatan tubuh dan keluasan pikiran seseorang bisa bergerak, tekadlah yang menyokong tubuh sehingga membuatnya bergerak. Karena itu, dalam realita, burung-burung tidak terbang dengan sayap-sayapnya, mereka terbang dengan kekuatan tekadnya, ikan-ikan tidak berenang dengan badannya, mereka berenang dengan kehendak atau tekadnya. Dan ketika manusia mempunyai kehendak untuk berenang, dia bisa berenang bagai seekor ikan.

      Sikap optimistik terhadap kehidupan akan memperkuat tekad, sebaliknya, sikap pesimistik kan melemahkannya, merampasnya dari kekuatan besarnya. Maka jika ada yang menghambat kemajuan kita dalam hidup, penghambat itu adalah diri kita sendiri. Sudah terbukti lebih dari seribu kali bahwa tak ada satu orang pun di dunia ini yang dapat menjadi musuh terburuk kita daripada diri kita sendiri, karena dalam tiap kegagalan, kita melihat diri kita berdiri dalam cahaya kita sendiri (Khan, 2000:103)

      Tekad adalah jembatan dimana pikiran-pikiran masuk dalam wilayah fisik dan menjelma menjadi tindakan. Tekad adalah energi jiwa yang memberikan kekuatan kepada pikiran untuk merubahnya menjadi tindakan.

      Pikiran tidak akan pernah berujung dengan tindakan, jika ia tidak turun dalam wilayah hati, dan berubah menjadi keyakinan dan kemauan, serta kemudian membulat menjadi tekad. Begitu ia menjelma jadi tekad, maka ia memperoleh energi yang akan merangsang dan menggerakkan tubuh untuk melakukan perintah-perintah pikiran.

      Bila tekad itu kuat dan membaja, maka tubuh tidak dapat, atau tidak sanggup menolak perintah-perintah pikiran tersebut. Akan tetapi, bila tekad itu tidak terlalu kuat, maka daya rangsang dan geraknya terhadap tubuh tidak akan terlalu kuat, sehingga perintah-perintah pikiran itu tidak terlalu berwibawa bagi tubuh kita.

      Maka, kekuatan dari kelemahan kepribadian seseorang sangat ditentukan oleh sebesar apa tekadnya, yang merupakan energi jiwa yang terdapat dalam dirinya. Tekad yang membaja akan meloloskan setiap pikiran di seluruh prosedur kejiwaan, dan segera merubahnya menjadi tindakan.

      Ttekad adalah energi jiwa yang memberikan tenaga dan kekuatan untuk melakukan sesuatu. Pikiran menciptakan ruang bagi tindakan yang mungkin kita lakukan, dan karenanya ia merupakan akar dari semua tindakan, perilaku, dan kebiasaan kita. Namun, tekad memberikan kita dorongan dan tenaga untuk melakukannya. Pikiran memberikan kita arah, tetapi tekad mendorong kita untuk melangkah. Pikiran menerangi jalan kehidupan kita, tetapi tekadlah yang meringankan kaki kita menjalaninya.

      Kepribadian kita seperti sebuah kerajaan. Pikiran adalah orang-orang bijak yang memberikan nasihat bagaimana seharusnya kerajaan dikelola. Akan tetapi, tekad adalah sang raja yang memerintah dalam diri kita. Dialah yang menentukan pilihan atas nasihat-nasihat itu; dialah yang memutuskan mana diantara nasihat-nasihat itu yang harus dilaksanakan. Adapun tubuh adalah rakyat dan pasukan yang melaksanakan perintah sang raja. Jika sang raja mempunyai kekuatan dan wibawa. maka rakyat dan pasukan akan tllnduk kepadanya, dan nasihat-nasihat yang bijak itu dapat menjelma menjadi kenyataan.

      Tekad merangsang dan mendorong tubuh kita untuk bergerak melakukan perintah­-perintahnya. Tekad yang besar akan memberikan perintah yang banyak kepada tubuh dan membuatnya lelah bekerja. Tekad mempunyai kemampuan memaksa tubuh bekerja melampaui kemampuannya yang tampak secara kasat mata. Namun, yang sesungguhnya terjadi adalah tubuh kita beradaptasi dengan perintah-perintah tekad.


      Inilah yang menjelaskan semua raliasia dibalik keajaiban yang sering kita saksikan dalam kehidupan nyata. Pernahkah anda menyaksikan bagaimana orang buta menjadi ulama? Atau bagaimana sebuah pasukan kecil dapat mengalahkan sebuah pasukan besar? Atau bagaimana seorang anak miskin menjadi konglomerat? Atau bagaimana seorang mahasiswa drop out menjadi seorang cendekiawan atau seorang penemu? Atau bagaimana seseorang yang lumpuh dapat sembuh dan berjalan normal kembali? Keajaiban-keajaiban itu selalu dapat dijelaskan dengan baik oleh kekuatan tekad.

      Tekad merupakan indikator keberdayaan dan kekuatan kepribadian. Tekad menjelaskan keutuhan pribadi seseorang. Bahwasanya diantara pikiran dan tindakan seseorang tidak ada jarak sama sekali; bahwasanya diantara pikiran dan tindakan seseorang tidak ada rintangan yang dapat menghalangi. Tekad ibarat jalan tol yang memberikan keleluasaan bagi pikirannya untuk menjelma menjadi tindakan nyata dalam waktu yang sangat cepat.

      Lebih dari itu, tekad bahkan dapat melawan berbagai macam penyakit dalam tubuh kita. Penelitian-penelitian mutakhir dalam bidang kedokteran bahkan menunjukkan lebih dari 50% sebab kesembuhan sesungguhnya bersurnber dari tekad yang kuat untuk sembuh.

      Penjelasannya adalah sebagai berikut. Tanamkanlah dalam diri anda sebuah keyakinan yang kuat bahwa penyakit yang sedang anda derita dapat anda sembuhkan sendiri. Kembangkanlah keyakinan itu dalam jiwa anda secara terus menerus. Jangan pernah memikirkan penyakit itu, tetapi fokuskanlah pikiran anda pada semua manfaat yang anda peroleh setelah sembuh. Pikirkanlah kesembuhan anda secara terus menerus, jangan pernah menyerah pada tekanan penyakit anda, dan jangan pernah tergoda oleh dorongan untuk pasrah, kalah, dan tidak peduli. Secara perlahan, bangunlah semangat yang kuat untuk melawan penyakit itu, keyakinan yang mutlak bahwa anda dapat mengalahkannya, dan kepercayaan bahwa takdir akan berpihak kepada kesembuhan anda. Maka, niscaya anda akan menyaksikan tubuh anda secara perlahan beradaptasi dengan mengikuti perintah dari tekad anda. Tekad kesembuhan adalah kesembuhan itu sendiri.

      Kesuksesan besar yang diraih seseorang dalam hidupnya adalah gabungan dari kesuksesan kccil yang ia raih sebelumnya, satu persatu. Kesuksesan besar selalu diraih setelah seseorang melalui suatu rentang waktu yang lama, perjuangan yang panjang dan berliku, dan sudah pasti sangat melelahkan.

      Dalam rentang waktu yang lama tersebut, seseorang hanya dapat meraih sukses besar apabila ia dapat mengalahkan kelelahan dan godaan jiwanya untuk mundur dari perjuangan. Dari sanalah kita rnenemukan bahwa sesungguhnya faktor-faktor utama yang rnenentukan kesuksesan seseorang tidak saja bersumber pada kecerdasannya, tetapi terutama ditentukan oleh sifat-sifat jiwanya, yaitu kesabaran, keuletan, dan ketekunan.

      Orang-orang cerdas yang gagal dalam hidup, atau tidak mencapai prestasi puncak dalam hidupnya, pada umumnya disebabkan karena kecerdasan mereka tidak didukung oleh sifat-sifat jiwa tersebut; kesabaran, keuletan, dan ketekunan.

      Manajemen moderen boleh saja menggantikan kata "bekerja keras" dengan kala "bekerja cerdas" dalam kamus kesuksesan, tetapi mereka tidak dapat menafikan unsur "waktu" sebagai proses yang menguji "daya tahan" seseorang dalam pendakiannya rnenuju puncak kesuksesan. Waktu merupakan variabel tetap yang menguji kekuatan mental seseorang. Perjalanan menuju puncak kesuksesan merupakan pendakian jiwa yang sangat melelahkan. Hanya mereka yang sabar, ulet, dan tekun yang dapat bertahan untuk tetap mendaki menuju puncak kesuksesan.

      Darimanakah sifat-sifat jiwa itu terbentuk? Jawabannya adalah dari tekad. Jadi, kesabaran, keuletan, dan ketekunan adalah buah dari tekad yang kuat.


      Cobalah amati orang-orang yang berpengaruh dalam sejarah, atau dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kita. Anda akan menemukan bahwa pengaruh mereka sesungguhnya bersumber dari kekuatan tekad mereka. Jika anda dapat dipengaruhi oleh seseorang di sekitar anda, maka cobalah periksa sebab-sebab mengapa orang itu dapat mempengaruhi anda. Atau cobalah tanya diri anda, mengapa anda cenderung mengikuti kata-kata atau perintah orang itu? Mengapa orang itu bisa mengatur anda? Jawabannya adalah karena mereka mempunyai tekad yang kuat.

      Kepercayaan kita kepada orang lain, siapa pun orang itu, ditentukan oleh seberapa jauh konsistensi orang tersebut dalam melakukan semua yang ia pikirkan, atau semua yang ia katakan. Kita akan rnenyimpan rasa hormat atau respek pada orang-­orang yang melakukan semua yang ia pikirkan atau semua yang ia katakan. Sebab, kita akan menganggap orang itu kuat. Jika seseorang, misalnya, mengancam akan membunuh anda, tetapi karena anda tidak percaya bahwa orang itu dapat membunuh anda-mungkin karena keberaniannya tidak cukup, maka anda tidak akan takut atau terpengaruh dengan ancamannya.

      Demikianlah selanjutnya. Kita percaya kepada setiap orang yang dapat merealisasikan semua pikirannya, ucapannya, dan rencananya. Jika orang-orang seperti itu mengarahkan perhatian dan pikirannya pada satu titik, maka kita akan segera percaya kalau ia pasti akan melakukan tindakan tertentu dalam masalah itu.

      Orang-orang yang bertekad baja selalu menyebarkan kepastian, keyakinan, kepercayaan, dan ketenangan kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Sebab, di sana tidak ada kebohongan, tidak ada penyimpangan, tidak ada kata mundur, tidak ada keraguan, tidak ada rasa takut, dan tidak ada kelemahan. Tekad yang kuat menggabungkan unsur keyakinan dan keberanian, kepastian dan keteguhan, serta kepercayaan dan ketegaran. Itu semua merupakan simbol kekuatan karakter yang membuat, atau bahkan dapat memaksa orang lain tunduk dan bersedia diatur. Karena itu, tekad yang kuat dan membaja adalah syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

      Dalam kehidupan sosial, kita dapat menyaksikan perbedaan kepribadian yang dibentuk yang disebabkan dari perbedaan kekuatan dan kelemahan tekad. Maka, muncul beberapa pertanyaan. Apakah tekad merupakan karunia yang diberikan kepada orang-orang tertentu saja, atau ia merupakan kekuatan perolehan yang dapat dimiliki oleh setiap orang? Darimanakah tekad itu terbentuk? Syarat-syarat apa yang harus dipenuhi untuk dapat memiliki tekad yang kuat?"

      Tekad merupakan kondisi kejiwaan yang dibentuk oleh banyak faktor, dan karenanya merupakan kekuatan perolehan yang dapat dimiliki oleh setiap orang. Faktor-faktor pembentuk tekad merupakan aspek-aspek yang dapat dianalisa, dan setiap orang dapat melatih dirinya untuk memilikinya. Adapun faktor-faktor yang membentuk tekad adalah sebagai berikut.

      Tekad adalah energi atau power yang muncul ke permukaan jiwa sebagai respon atas rangsangan gagasan tertentu, dan yang menjadi obsesi atau cita-cita yang ingin kita raih. Obsesi atau cita-cita itu dapat dibentuk oleh pehamanan keagamaan, idealisme kemanusiaan, ideologi dan falsafah hidup, atau bahkan insting kebinatangan dalam diri kita.

      Obsesi merupakan proses visualisasi dari tujuan tertentu dalam hidup kita. Supaya ia mempunyai daya rangsang yang kuat, obsesi selalu disertai dengan pembenaran-pembenaran yang menimbulkan kepercayaan dan keyakinan akan kebenaran, kesucian, dan keluhurannya. Dengan cara demikian, obsesi merasuk dalam jiwa dengan kuat dan membangkitkan secara berturut-turut perhatian, minat, keinginan, kemauan, dan akhirnya tekad.

      Comments
      Irwan Thahir Manggala  - SELAMAT     |2009-09-14 04:11:16
      SELAMAT HARI GEMAR BACA NASIONAL BESOK 14 SEPTEMBER 2009
      akhiri   |2009-11-02 09:05:34
      mohon izin copy artikelnya
      KUN WARDOYO  - Pelatihan Membangkitkan Minat Baca sebuah pendekat   |2010-02-17 16:18:49
      terima kasih atas artikelnya yang telah menambah wawasan kami
      aman musthofan  - kebiasaan membaca   |2011-02-11 05:21:05
      thanks for your information
      wisnu   |2010-03-13 18:08:01
      nice artikel, mohon izin copy artikelnya...
      trinil  - trip dan trik minat baca     |2010-06-09 17:18:40
      bahasannya cukup bagus yang sekarang lagi ngetrendnya untuk meningkatkan minat
      baca, untuk ini kami mohon memberikan tip dan trik supaya senang membaca yang
      logika saja, makasih
      Tiffany28Silva  - answer this topic     |2010-09-15 05:16:16
      It's good that people can receive the loans and it opens new chances.
      buy research paper  - respond this topic     |2010-09-16 05:38:09
      If decide to create the essay writer paper, you would have to know that this
      involves a hard work! Different students fail their customized term paper,
      because they do not know how to write! That’s sorrowful, but the order essays
      service would assist such kind of people any time they need it.
      essay order  - reply this topic     |2010-09-16 09:04:18
      The essay writing service could provide all people with the idea close to essay
      writing help and this is perfect that you display scholars your article about
      this good topic.
      buy writing paper  - answer this post     |2010-09-18 07:07:02
      Are willing to use free time for your activities? You would be able to do that
      utilizing the buy a custom essay service.
      buy an essay  - respond     |2010-09-20 22:09:56
      I guess, it’s very good stuff about this good post. Students would buy essay
      or buy term paper at the term paper writing services.
      essay online  - re     |2010-09-21 01:10:20
      It would be absorbing to compose the application paper writing but that needs a
      lot of hard work in any case. Thus studenst, which are lack of time, buy
      customized reports and essays. This way, they get a success. So why should you
      waste your free time?
      essays help  - respond this topic     |2010-09-28 10:00:47
      I did not know that the essay writing service can present the research papers
      online while several hours. But, I changed my mind after the first order.
      thesis writing  - respond this post     |2010-10-06 07:24:08
      Lots of lecturers want to see the skills of writing, thus, we must find custom
      dissertation to purchase dissertation international. In such way you prove the
      writing technique. And as well you should bring thesis writing service.
      plagiarism check  - re     |2010-10-12 13:22:55
      You cannot detect if your papers are unique until you utilize the plagiarism
      detector. You should know that plagiarized stuff can make problems.
      sommaroy   |2010-10-24 21:41:39
      mohon ijin copy artikelnya trim
      puataka somma kirig kudus   |2010-10-24 21:43:03
      artikel nya bagus tuk bangkitkan minat baca
      custom college papers  - respond this topic     |2010-10-25 00:42:48
      Every college student may feel a crisis of her education connected with essays
      finishing. Therefore, students have no another way out than to buy termpaper.
      Sample Essays     |2010-12-10 00:12:40
      I believe this is the main reason why some people are attracted towards
      dangerous sports or activities while others abstain from engaging in such
      things. In my view, those who have a strong liking towards this phenomenon,
      display certain physical and mental characteristics.
      Sample Essays  - Training Arouse Interest in Reading: An alternativ     |2010-12-13 18:28:39
      The Training Arouse Interest in Reading An alternative approach, and I think
      this is really good approach to have such things is always been good to have.
      Sample Essays     |2010-12-23 19:02:59
      Great work!! Information provided in the post is true and knowledge providing.
      Since long I was looking for such type of post. Thanks
      buy essay papers  - re     |2010-12-26 04:10:36
      That's known that essays completing complications trouble all students a lot.
      But, the problem is not as serious as it supposes to be! Hence, do not trouble
      just about it and buy essay papers.
      Term Papers  - Training Arouse Interest in Reading: An alternativ     |2011-01-07 02:28:34
      The Training Arouse Interest in Reading an alternative approach, is some thing
      nice to get know about and I think this is really good to have such information
      for knowledge to gain.
      anton ip  - trims atas artikelnya   |2011-03-16 17:25:00
      mohon ijin untuk copy artikelnya, buat tambah referensi bahan ajar
      mortgage loans  - reply this post     |2011-10-14 22:02:53
      If you want to buy a house, you would have to get the credit loans. Furthermore,
      my father commonly uses a student loan, which is the most reliable.
      Usep Muahajir   |2012-03-10 18:14:10
      Bismillahirrahmaanirrahiim,mohon ijin untuk mengcopy artikelnya
      widya  - membangkitkan minat membaca     |2012-03-11 01:23:49
      artikelnya sangat menarik, mohon ijin copy artikelnya
      ayu rahmani novita   |2012-03-21 01:17:19
      AKU INGIN MENJADI ANGGOTA BARU
      ayu rahmani novita  - anggota baru   |2012-03-21 01:18:41
      mohon di ijinkan
      Anonymous  - untuk Ayu   |2012-03-25 19:49:06
      Silahkan isi di KEANGGOTAAN
      Mkes  - Re     |2012-04-02 09:14:08
      One of my frined was struggeling for money and got a loan from payday loans.
      amel bogor   |2012-07-12 20:00:34
      artikel yang menarik, ijin mengcopy.
      http://www.bookwormlab.com/  - bookwormlab     |2013-03-25 22:20:38
      Good morning, want to reveal to all who will see this soobschenie
      http://www.bookwormlab.com/, that this site remarkable! Professionals are
      engaged in his services high level and with enormous experience!
      http://topresearchpapers.com/h  - research papers     |2013-05-03 02:05:14
      On our site http://topresearchpapers.com/help experimental writers work which
      have knowledges and high earnings pick-a-back, because they know the business.
      Jenny3031   |2014-11-28 23:27:03
      There are many students who are worried about writing effective papers and
      deadlines for submitting their essay papers are very short. They are in trouble
      what to do? If you are one of them then you'll batter understand this situation.
      Now kick away all worries because now you can hire professional writers to ask
      custom-paper-writing.org on my behalf and within the deadlines. I assure you
      this is easiest way of getting good grades and I hope you guys will find it
      effective :)
      bobi  - www.perfectessaysonline.com     |2014-12-19 22:59:08
      College students should think two times before they start their free term papers
      creating, just because that will be more simple to buy essay writing at essay
      editing service. And here's the best service http://www.perfectessaysonline.com.
      Furthermore, this saves your time!
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Monday, 01 June 2009 14:59  

      Items details

      • Hits: 46279 clicks
      • Average hits: 379.3 clicks / month
      • Number of words: 9463
      • Number of characters: 72009
      • Created 11 years and 2 months ago at Monday, 01 June 2009 by Administrator
      • Modified 11 years and 2 months ago at Monday, 01 June 2009 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,795
      • Sedang Online 98
      • Anggota Terakhir Eka Evriza

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9116234
      Jantung_Sekolah1.jpg

      Kalender & Agenda

      August 2019
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 31

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC