Page 1 of 14
Pelatihan Membangkitkan Minat Baca:
Sebuah pendekatan alternatif
Anda tidak bisa mengajari sesuatu kepada seseorang,
Anda hanya dapat membantu orang itu
menemukan sesuatu dalam dirinya
(Galileo Gallilei)
Fungsi utama perpustakaan adalah untuk membangkitkan dan meningkatkan minat baca masyarakat yang dilayaninya (pemustaka). Dengan program-program yang dibuatnya, perpustakaan menjadi pelopor dalam menarik minat masyarakat supaya dekat dengan sumber informasi. Dan pustakawan berperan sebagai agen perubahan untuk menciptakan masyarakat membaca (reading society) sebagai salah satu pilar utama menuju masyarkat belajar (learning society). Walapun kesan yang ada sekarang ini adalah perpustakaan dan pustakawan hanya berperan sebagai pelayan saja bagi kebutuhan informasi masyarakat, sejatinya para pustakawanlah yang mengadakan pelatihan-pelatihan atau berbagai macam program dan juga berinisiatif untuk menulis literatur yang dapat membangkitkan semangat membaca masyarakat, karena ia setiap hari bergulat dengan sumber informasi, di samping itu juga karena pustakawanlah yang paling dekat dengan para pemustaka.
Membangun kebiasaan membaca bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah, tidak hanya cukup dengan membeli buku dan membuat perpustakaan, akan tetapi bukan juga sebuah pekerjaan yang teralalu sulit untuk dilakukan. Pada zaman informasi seperti yang tengah terjadi sekarang ini, menemukan sumber informasi bukanlah pekerjaan yang sulit, akan tetapi ironisnya minat baca masyarakat tetap saja rendah. Hal ini menunjukkan bahwa rendahnya minat baca bukan hanya diakibatkan oleh ketiadaan sumber informasi semata, akan tetapi merupakan kondisi psikologis atau mentalitas seseorang. Untuk itu membangun kebiasaan membaca harus dimulai dari membangun kepribadian individu, dan apabila ingin membangun masyarakat membaca, harus melakukan sebuah upaya yang massif dan simultan dalam membangun kepribadian atau budaya masyarakat menjadi masyarakat yang gemar membaca. Sesungguhnya minat baca dapat diciptakan sebelum perpustakaan itu ada.
Memang, telah banyak beredar buku dan literatur yang membahas tentang minat baca, akan tetapi kalau kita prhatikani ternyata hampir sebagian besar buku-buku tersebut membahas tentang peran orang tua atau guru dalam mengkondisikan anak atau murid, terutama usia Balita sampai sekolah dasar, supaya gemar membaca. Secara teoritis buku-buku tersebut menggunkan pendekatan Pavlovian yang berlandaskan pada teori stimulus-respon serta pengkodisian (conditioning). Termasuk buku Pedoman Minat Baca yang dibuat oleh Perpustakaan Nasional (2002) juga menggunakan pendekatan ini.
Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa timbulnya selera membaca disebabkan oleh adanya koleksi yang beragam dan variatif. Selanjutnya selera membaca ini akan menimbulkan minat baca, yang kalau diulang terus-menerus akan menghasilkan kebiasaan membaca. Dan kebiasaan membaca ini akan menjadi landasan dari pengembangan koleksi. Dari pola seperti di atas dapat terlihat bahwa ada korelasi yang sangat kuat antara koleksi dengan kebiasaan membaca. Faktor utama untuk menumbuhkan minat baca adalah koleksi. Hampir semua bentuk program dan kegiatan pembinaan minat baca yang ditawarkan oleh Perpustakaan Nasional juga bersifat ”pemaksaan” dengan kegiatan yang diwajibkan atau diharuskan. Di samping itu juga disodorkan kegiatan-kegaitan yang bersifat rangsangan seperti lomba, dll. Pendek kata semua kegiatan itu ”berasal dari luar” diri si peserta didik. Bukan berdasarkan pada proaktivitas yang timbul atas dasar kesadaran ”dari dalam diri” mereka.
Sekali lagi, pola pembinaan minat baca tersebut di atas dilandaskan pada teori determinisme terutama determinisme lingkungan. Secara singkat teori determinisme tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
Mengapa seseorang tidak memiliki minat baca ? Jawabannya ada tiga macam: 1) karena memang sudah warisan dari orang tua. Mulai dari kakek-nenek memang tidak suka membaca dan itu sudah ada dalam DNA anda sampai hari ini. Sifat ini deteruskan dari generasi ke generasi berikutnya dan anda mewarisinya. Inilah yang disebut dengan determinisme genetis. 2) Anda tidak sedang membaca, karena memang sejak kecil dibesarkan oleh oleh orang tua yang tidak pernah mendekatkan diri anda dengan bacaan. Saya tidak sedang membaca memang tidak diberi teladan oleh orang tua malah orang tua Anda selalu mengatakan bahwa membaca itu perbuatan yang hanya buang waktu saja. Pengasuhan anda, pengalaman masa kanak-kanak anda pada dasarnya membentuk kecenderungan pribadi dan sususan karakter anda. Itulah sebabnya anda tidak senang membaca.Inilah yang disebut dengan determinisme psikis. 3) Sedangkan determinisme lingkungan pada dasarnya mengatakan bahwa anda tidak senang membaca karena atasan atau bawahan, teman-teman, dan guru atau dosen ada juga tidak senang membaca; di samping itu juga di rumah, di kantor, di sekolah tidak disediakan perpustakaan; serta tidak ada peraturan perusahaan yang mengharuskan anda untuk membaca; situasi ekonomi yang kurang mendukung dan tidak adanya kebijakan nasional tentang minat baca. Seseorang atau sesuatu di lingkungan andalah yang bertanggung jawab atas tidak adanya minat baca pada diri anda.
Start your paper accomplishing and do...
ketika walikota malas baca, malas men...
minat baca rendah, jumlah penulis sed...
College students should think two tim...
There are many students who are worri...
LIPI
jurnal LIPI
Itu adalah tulisan Anda, Bapah HS Dil...
Tulisan/opini siapa ini?
Amat sangat menarik artikel tersebut ...