Pelatihan Membangkitkan Minat Baca: Sebuah pendekatan alternatif PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 01 June 2009 14:47
Article Index
Pelatihan Membangkitkan Minat Baca: Sebuah pendekatan alternatif
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14
All Pages

Pelatihan Membangkitkan Minat Baca:

Sebuah pendekatan alternatif

 

Anda tidak bisa mengajari sesuatu kepada seseorang,

Anda hanya dapat membantu orang itu

menemukan sesuatu dalam dirinya

(Galileo Gallilei)

 

 

Fungsi utama perpustakaan adalah untuk membangkitkan dan meningkatkan minat baca masyarakat yang dilayaninya (pemustaka). Dengan program-program yang dibuatnya, perpustakaan menjadi pelopor dalam menarik minat masyarakat supaya dekat dengan sumber informasi. Dan pustakawan berperan sebagai agen perubahan untuk menciptakan masyarakat membaca (reading society) sebagai salah satu pilar utama menuju masyarkat belajar (learning society). Walapun kesan yang ada sekarang ini adalah perpustakaan dan pustakawan hanya berperan sebagai pelayan saja bagi kebutuhan informasi masyarakat, sejatinya para pustakawanlah yang mengadakan pelatihan-pelatihan atau berbagai macam program dan juga berinisiatif untuk menulis literatur yang dapat membangkitkan semangat membaca masyarakat, karena ia setiap hari bergulat dengan sumber informasi, di samping itu juga karena pustakawanlah yang paling dekat dengan para pemustaka.

Membangun kebiasaan membaca bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah, tidak hanya cukup dengan membeli buku dan membuat perpustakaan, akan tetapi bukan juga sebuah pekerjaan yang teralalu sulit untuk dilakukan. Pada zaman informasi seperti yang tengah terjadi sekarang ini, menemukan sumber informasi bukanlah pekerjaan yang sulit, akan tetapi ironisnya minat baca masyarakat tetap saja rendah. Hal ini menunjukkan bahwa rendahnya minat baca bukan hanya diakibatkan oleh ketiadaan sumber informasi semata, akan tetapi merupakan kondisi psikologis atau mentalitas seseorang. Untuk itu membangun kebiasaan membaca harus dimulai dari membangun kepribadian individu, dan apabila ingin membangun masyarakat membaca, harus melakukan sebuah upaya yang massif dan simultan dalam membangun kepribadian atau budaya masyarakat menjadi masyarakat yang gemar membaca. Sesungguhnya minat baca dapat diciptakan sebelum perpustakaan itu ada.

Memang, telah banyak beredar buku dan literatur yang membahas tentang minat baca, akan tetapi kalau kita prhatikani ternyata hampir sebagian besar buku-buku tersebut membahas tentang peran orang tua atau guru dalam mengkondisikan anak atau murid, terutama usia Balita sampai sekolah dasar, supaya gemar membaca. Secara teoritis buku-buku tersebut menggunkan pendekatan Pavlovian yang berlandaskan pada teori stimulus-respon serta pengkodisian (conditioning). Termasuk buku Pedoman Minat Baca yang dibuat oleh Perpustakaan Nasional (2002) juga menggunakan pendekatan ini.

Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa timbulnya selera membaca disebabkan oleh adanya koleksi yang beragam dan variatif. Selanjutnya selera membaca ini akan menimbulkan minat baca, yang kalau diulang terus-menerus akan menghasilkan kebiasaan membaca. Dan kebiasaan membaca ini akan menjadi landasan dari pengembangan koleksi. Dari pola seperti di atas dapat terlihat bahwa ada korelasi yang sangat kuat antara koleksi dengan kebiasaan membaca. Faktor utama untuk menumbuhkan minat baca adalah koleksi. Hampir semua bentuk program dan kegiatan pembinaan minat baca yang ditawarkan oleh Perpustakaan Nasional juga bersifat ”pemaksaan” dengan kegiatan yang diwajibkan atau diharuskan. Di samping itu juga disodorkan kegiatan-kegaitan yang bersifat rangsangan seperti lomba, dll. Pendek kata semua kegiatan itu ”berasal dari luar” diri si peserta didik. Bukan berdasarkan pada proaktivitas yang timbul atas dasar kesadaran ”dari dalam diri” mereka.

Sekali lagi, pola pembinaan minat baca tersebut di atas dilandaskan pada teori determinisme terutama determinisme lingkungan. Secara singkat teori determinisme tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

 

Mengapa seseorang tidak memiliki minat baca ? Jawabannya ada tiga macam: 1) karena memang sudah warisan dari orang tua. Mulai dari kakek-nenek memang tidak suka membaca dan itu sudah ada dalam DNA anda sampai hari ini. Sifat ini deteruskan dari generasi ke generasi berikutnya dan anda mewarisinya. Inilah yang disebut dengan determinisme genetis. 2) Anda tidak sedang membaca, karena memang sejak kecil dibesarkan oleh oleh orang tua yang tidak pernah mendekatkan diri anda dengan bacaan. Saya tidak sedang membaca memang tidak diberi teladan oleh orang tua malah orang tua Anda selalu mengatakan bahwa membaca itu perbuatan yang hanya buang waktu saja. Pengasuhan anda, pengalaman masa kanak-kanak anda pada dasarnya membentuk kecenderungan pribadi dan sususan karakter anda. Itulah sebabnya anda tidak senang membaca.Inilah yang disebut dengan determinisme psikis. 3) Sedangkan determinisme lingkungan pada dasarnya mengatakan bahwa anda tidak senang membaca karena atasan atau bawahan, teman-teman, dan guru atau dosen ada juga tidak senang membaca; di samping itu juga di rumah, di kantor, di sekolah tidak disediakan perpustakaan; serta tidak ada peraturan perusahaan yang mengharuskan anda untuk membaca; situasi ekonomi yang kurang mendukung dan tidak adanya kebijakan nasional tentang minat baca. Seseorang atau sesuatu di lingkungan andalah yang bertanggung jawab atas tidak adanya minat baca pada diri anda.



Comments
Add New
Irwan Thahir Manggala  - SELAMAT     |2009-09-14 04:11:16
SELAMAT HARI GEMAR BACA NASIONAL BESOK 14 SEPTEMBER 2009
akhiri   |2009-11-02 09:05:34
mohon izin copy artikelnya
KUN WARDOYO  - Pelatihan Membangkitkan Minat Baca sebuah pendekat   |2010-02-17 16:18:49
terima kasih atas artikelnya yang telah menambah wawasan kami
wisnu   |2010-03-13 18:08:01
nice artikel, mohon izin copy artikelnya...
trinil  - trip dan trik minat baca     |2010-06-09 17:18:40
bahasannya cukup bagus yang sekarang lagi ngetrendnya untuk meningkatkan minat
baca, untuk ini kami mohon memberikan tip dan trik supaya senang membaca yang
logika saja, makasih
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated on Monday, 01 June 2009 14:59
 

Kalender & Agenda

September 2010
S M T W T F S
29 30 31 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 1 2

Tidak Mungkin Intelektual Menganggur

Oleh:

Suherman

Ketua Masyarakat Literasi Indonesia (MLI)

Sarjana menganggur sangat banyak, tapi intelektual menganggur rasanya tidak mungkin alias mustahil. Sarjana dan intelektual tidak sama dan sebangun alias memiliki pengertian yang berbeda. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sarjana adalah gelar yang dicapai seseorang yang telah menamatkan pendidikan tingkat terakhir di perguruan tinggi. Sedangkan intelektual artinya seseorang yang cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan atau disebut juga cendekiawan. Jelas sarjana bukan padanan kata intelektual. Dengan memperhatikan definisi atau arti kata intelektual saja sudah dapat disimpulkan mustahil ada intelektual yang memnganggur atau terjadi trategi “pengangguran intelektual”. Akan tetapi, walaupun kata “pengangguran intelektual“ terasa rancu namun sudah terbiasa diucapkan di masyarakat umum alias salah kaprah. Seperti judul sebuah artikel di harian Tribun Jabar edisi tanggal 15 Oktober 2009 “Mewaspadai Booming Pengangguran Intelektual”, yang ditulis oleh seorang dosen pascasarjana.

Read more...