.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      800x600 Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

      KOMPAS, KAMIS, 3 SEPTEMBER 2009

      Patok-Duga Pendidikan

      Oleh JC TUKIMAN TARUNA

      Perjalanan panjang dunia pendidikan Indonesia sebaiknya segera direnungkan ulang, menggunakan filsafat pendidikan yang selalu mempertanyakan hakikat pendidikan itu sendiri.

      Apabila pada abad ke-19, terutama pasca revolusi Perancis, muncul masalah nasionalisme karena lahirnya negara-negara baru, amatlah beralasan kalau sejak saat itu hakikat pendidikan terkait kuat dengan nasionalisme itu.

      Saat kemajuan teknologi pada abad ke-20 mengguncang ranah kehidupan berbangsa dan bernegara di banyak negara, pemikir seperti Huntington memprediksi akan terjadinya guncangan kuat terhadap nasionalisme itu. Lalu, ikatan kuat paham negara-bang­sa amat mungkin memudar menjadi ikat­an artifisial dan kurang menyentuh aspek-aspek emosional yang mendalam.

      Barangkali tahapan bangsa In­donesia saat ini, tahun 2009, sedang berada persis seperti pre-diksi Huntington, sampai-sampai ikatan emosional lagu kebangsaan "Indonesia Raya" lewat begitu saja, atau muncul banyak keluhan betapa siswa-siswa sekolah tidak lagi fasih menyanyikan lagu-lagu perjuangan/nasional, karena jauh lebih menghayati lagu-lagu pop.

       

      Gejala pudarnya ikatan emo­sional paham negara-bangsa memang dapat "dibendung", dan pisau-bedah yang disampaikan Huntington ialah pentingnya dikembangkan kelompok-kelompok kebudayaan dalam konteks negara-bangsa itu. Inilah hakikat pendidikan. Dalam konteks ne­gara bangsa Indonesia saat ini, hakikat pendidikan Indonesia harus dibedah dengan dua pisau-bedah ini, yang pertama patok-duga pendidikan dan yang kedua penelusuran filsafat pen­didikan.

      Patok-duga pendidikan

      Pertanyaan utama dalam pa­tok-duga (benchmarking) pendi­dikan Indonesia ialah siapakah atau tepatnya negara manakah pesaing utama dunia pendidikan kita dewasa ini?

      Jika pesaing utama kita ne­gara-bangsa Malaysia, tanpa per­lu malu, mari meningkatkan ku­alitas, pelayanan, sistem pendi­dikan, dan sebagainya sehingga dalam waktu singkat dapat bersaing dengan Malaysia.

      Demikian juga jika berdasar patok-duga ditemukan, pesaing utama kita adalah negara-bangsa Singapura, atau Filipina, atau Jerman sekalipun, mari kita tingkatkan Kemampuan bersaing dengan negara-bangsa itu.

      Patok-duga pendidikan kita akan jauh lebih realistis saat kita tentukan satu negara pesaing saja sehingga hanya dalam hitungan tahun—misalnya, hingga 2014— baik kualitas, pelayanan, sistem, keluaran dunia pendidikan Indo­nesia telah menjadi sama/sejajar patok-duga tadi.

      Patok-duga pendidikan tidak mungkin menggunakan mode comot sana comot sini; misalnya; di bidang teknologi pesaing yang kita patok ialah negara-bangsa Jepang, sedangkan di bidang ilmu pengetahuan alam adalah Jerman. Patok-duga pendidikan adalah suatu keutuhan proses meningkatkan kualitas, pelayan­an, sistem, keluaran dengan cara mengejar ketertinggalan dari sa­tu pesaing dalam kurun waktu yang telah ditentukan.

      Hakikat pendidikan

      Harus diakui, kini ikatan emosional negara-bangsa Indonesia sedang dihadapkan pada guncangan dan godaan. Dan dunia pendidikanlah yang mampu "membendung" dengan tepat melalui gerakan budaya pendi­dikan. Gerakan budaya dapat tumbuh jika empat prasyarat terpenuhi.

      Pertama, kembalikan rasionalisme sesuai tempatnya. Dunia pendidikan kita harus menempatkan akal budi manusia kian berperan. Arti lebih lanjut gerakan budaya pendidikan harus merupakan gerakan akal budi.

      Kedua, gerakan budaya pen­didikan perlu didasarkan pada humanisme, yakni dikembangkannya nilai-nilai kemanusiaan seperti kreativitas, pluralitas, penghargaan harkat martabat, dan saling menghormati.

      Ketiga, gerakan budaya pen­didikan Indonesia perlu mengedepankan hakikat aktivisme, yakni menghargai kerja/kegiatan sebagai nilai tertinggi bagi manusia Dunia pendidikan kita harus berhasil mengakui bahwa bekerja, berkegiatan, aktif, dan produktif sebagai yang paling berharga. Siswa di satuan pendidikan mana pun, juga gurunya, tiap saat harus menghasilkan sesuatu, harus produk­tif. Bahkan, proses pembelajaran harus menggambarkan proses produktif aktif.

      Keempat, dunia pendidikan di strata mana pun harus berhasil menanamkan nilai-nilai kehi­dupan permanen seperti keju-juran, kerja keras, ketekunan, ugahari, dan seterusnya.

      Hakikat pendidikan seperti uraian itu mengesankan amat normatif. Namun, hanya melalui lorong-lorong normatif semacam itulah kita yakin akan semakin berkembang gerakan budaya pendidikan Indonesia sehingga rasa khawatir mengendurnya ikatan emosional negara-bangsa akan terkikis. Semua itu membutuhkan kerja keras, tetapi hi­tungan waktu—misal kurun 2009-2014-perlu ditentukan se­bagai target pencapaian.

      JC TUKIMAN TARUNA

      Pengembang Masyarakat

      Pendidikan di Jawa Tengah

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:22  

      Items details

      • Hits: 1213 clicks
      • Average hits: 15.2 clicks / month
      • Number of words: 1093
      • Number of characters: 9233
      • Created 6 years and 8 months ago at Friday, 02 March 2012 by Administrator
      • Modified 5 years and 6 months ago at Thursday, 30 May 2013 by Suherman

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 157
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091399
      Dialog_Peradaban.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC