.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail
      Article Index
      Membaca Sebagai Sumber Kemajuan Bangsa
      Page 2
      All Pages

      Membaca Sebagai Sumber Kemajuan Bangsa

      A.M. Fatwa

       Kemajuan teknologi informasi yang hadir saat ini telah mengantarkan kita seakan-akan berada dalam sebuah desa kecil (small village). Batas-batas negara semakin tak terasa dan dunia seakan telah menjadi satu. Duka di Aceh menjadi duka dunia, penyanderaan di Irak menjadi perhatian dunia, bom bunuh diri di Palestina seakan suaranya terdengar sampai di negeri ini. Teknologi informasi telah menggerakkan rasa kemanusiaan, solidaritas, dan kebersamaan dunia. Di sisi lain, teknologi informasi telah menjadi media hiburan yang tidak jarang meninabobokkan budaya baca yang sebenarnya merupakan akar dari kebangkitan teknologi informasi itu sendiri.

      Kita kadang terbuai oleh kecanggihan teknologi informasi, tanpa tahu dari mana dan bagaimana teknologi tersebut lahir. Hal ini patut kita camkan bersama, karena maju mundurnya sebuah bangsa ditentukan oleh tinggi rendahnya budaya baca masyarakatnya.

      Sejarah kemajuan negara-negara di dunia, seperti Jepang, Amerika, Korea, dan negara-negara lainnya berawal dari ketekunannya membaca. Mereka tidak pernah puas dengan kemajuan yang telah dicapai sehingga mendorong mereka untuk terus membaca dan membaca. Tak ada waktu tersisa, kecuali untuk membaca dan bekerja. Ini menunjukkan bahwa betapa besarnya manfaat membaca buku bagi kemajuan sebuah bangsa.

      Kenyataan tersebut juga membuktikan bahwa buku menjadi kunci perubahan dunia. Itulah sebabnya buku sering disebut sebagai jendela peradaban. Karena dari bukulah peradaban sebuah negera menjadi maju, dan dari buku pula  sebuah peradaban tak memberi makna apa-apa ketika buku diabaikan begitu saja.

      Membaca, Sebuah Warisan yang Terputus

      Bagi bangsa Indonesia, tradisi membaca sesungguhnya memiliki legitimasi historis. Para tokoh pendiri Republik ini adalah sosok-sosok yang memiliki kegandrungan luar biasa terhadap buku. Soekarno, Sjahrir, Soepomo, Agus Salim, dan tokoh lainnya adalah tokoh-tokoh yang kutu buku. Mereka besar bukan sekadar karena sejarah pergerakan politiknya, tetapi mereka juga dikenal karena kualitas intelektualnya yang dibangun melalui membaca buku.

      Sayangnya tradisi membaca yang telah ditunjukkan oleh para founding fathers kita tidak terwarisi secara baik oleh pemimpin-pemimpin berikutnya. Tradisi membaca yang diperlihatkan oleh para tokoh pergerakan dan telah ikut mengantarkan kemerdekaan ini diletakkan sebatas kenangan sejarah masa lalu. Gemerlap pembangunan yang dicanangkan oleh rezim Orde Baru telah mengeliminasi tradisi membaca yang seharusnya menjadi landasan pembangunan itu sendiri.

      Pendekatan stabilitas yang diterapkan rezim Orde Baru demi pertumbuhan ekonomi, telah membatasi ruang kebebasan untuk membaca. Masyarakat dibatasi haknya untuk membaca buku-buku tertentu. Kebijakan politik yang justru menenggelamkan tradisi membaca ini semakin memperparah budaya baca masyarakat yang memang belum maksimal. Seleksi atas terbitan buku-buku didasarkan pada pertimbangan politik kekuasaan. Tidak heran apabila sebagian generasi bangsa ini terputus dengan sejarah masa lalunya karena intervensi kekuasaan terhadap dunia perbukuan.

      Rendahnya budaya membaca karena kebijakan politik pembangunan tersebut telah menyebabkan negara seperti bangunan yang tidak memiliki landasan yang kokoh. Gemerlap pembangunan fisik telah menyeret masyarakat pada budaya baru yang justru mematikan budaya baca, yaitu budaya konsumerisme. Dunia hiburan menjadi menu utama dalam kehidupan masyarakat. Bahkan menurut laporan Unesco, pada tahun 1973 Indonesia mengalami masa buram dunia baca ketika tak satu pun buku terbit pada tahun itu. Itulah masa peceklik buku di negeri ini, sehingga melengkapi potret buram dunia baca pada masyarakat kita.

      Saat ini masyarakat tengah menikmati kebebasan dalam berbagai level kehidupan, termasuk dalam memilih bahan bacaan. Apalagi didukung oleh keberadaan buku yang terbit seperti jamur di musim hujan. Secara logika, saat ini seharusnya tumbuh semangat dan budaya membaca yang semakin kuat. Namun tampaknya hal tersebut belum memberi banyak perubahan, karena berbagai faktor lainnya, seperti kemampuan membeli masyarakat yang rendah. Di tengah kebutuhan hidup yang semakin tinggi, masyarakat belum sempat berpikir untuk menjadikan buku sebagai menu belanjanya.

      Sungguh budaya membaca menjadi begitu mahal di tengah semakin meningkatkan kebutuhan hidup masyarakat. Namun demikian, tak ada alasan sedikit pun untuk membiarkan bangsa ini terpuruk oleh rendahnya budaya membaca yang di negara lain justru menjadi penopang utama bagi kemajuan bangsanya. Oleh sebab itu, berbagai langkah harus dilakukan oleh semua pihak, mulai dari pemerintah sebagai pengambil kebijakan, penerbit buku sebagai produsen, dan masyarakat sebagai pembaca. Kalau kebijakan masa lalu telah ikut memberi andil bagi rendahnya budaya membaca, maka saat ini pemerintah harus mampu membalikkan semua itu dengan mengeluarkan kebijakan yang mendorong bagi tumbuhnya budaya membaca.


      Membaca Sebagai Ibadah

      Menurut temuan UNDP tahun 2004, Human Development Index (HDI) kita berada pada peringkat ke 112 dari 175 negara jauh ketinggalan dari negara tetangga seperti Singapura (28), Brunei Darussalam (31), Malaysia (58), Thailand (74), Filipina (85), dan Vietnam (109). Ini menunjukkan bahwa standar hidup dan kualitas hidup bangsa Indonesia masih sangat rendah. Hal ini berdampak pula pada tingkat budaya masyarakatnya termasuk budaya membaca.

      Kenyataan ini memperlihatkan adanya kompleksitas persoalan yang menyelimuti bangsa Indonesia. Rendahnya kualitas hidup bangsa Indonesia salah satunya karena pengetahuan masyarakat masih rendah. Pengetahuan masyarakat rendah karena budaya membaca masyarakat rendah. Budaya membaca masyarakat rendah karena standar hidupnya rendah. Begitulah lingkaran setan problem kebangsaan kita saat ini.

      Untuk keluar dari lingkaran masalah ini diperlukan keterlibatan semua pihak untuk bersama-sama menyelesaikan persoalan tersebut. Kalau kita kembali berkaca pada negara-negara maju, sesungguhnya membaca menjadi prasyarat mutlak untuk mencapai kemajuan. Dengan membaca berarti kita sedang berproses menuju satu kemajuan. Membangun budaya baca, bukan sekadar menyediakan buku atau ruang baca, tetapi juga membangun pemikiran, perilaku, dan budaya dari generasi yang tidak suka membaca menjadi generasi suka membaca. Dari generasi yang asing dengan buku menjadi generasi pencinta buku. Dan dari sana kreativitas dan transfer pengetahuan bisa berlangsung dan berkembang.

      Masyarakat Indonesia belum menempatkan buku sebagai kebutuhan setelah sandang, pangan, dan papan. Masyarakat masih dalam budaya melihat dan mendengar, bukan budaya membaca. Di sinilah diperlukan dorongan baik berupa kebijakan maupun nilai-nilai yang mendorong tumbuhnya minat baca.

      Agama sesungguhnya memiliki peran penting bagi tumbuhnya budaya membaca. Sebagai bangsa yang dikenal religius, seharusnya budaya membaca menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya masyarakat kita. Apalagi agama sendiri memerintahkan umatnya untuk selalu membaca. Di dalam Islam sangat jelas bahwa membaca menjadi perintah pertama yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya.

      Sungguh sebuah ironi dalam masyarakat yang mayoritas muslim ini, budaya membaca masih jauh dari harapan. Ini membuktikan bahwa agama masih dipahami sebatas ajaran, belum menjadi bagian tak terpisahkan dari perilaku dan aktivitas hidup kita. Padahal dari membaca itulah peradaban Islam pernah mencapai puncaknya dengan munculnya filosof dan tokoh muslim yang sampai saat ini memiliki pengaruh yang luas. Franz Rosenthal, seorang orientalis terkemuka, mengatakan bahwa peradaban Islam adalah peradaban tulis. Penerjemahan besar-besaran dari karya-karya, terutama berbahasa Yunani dan perpustakaan yang didirikan menjadi penyangga peradaban Islam.

      Begitu pun dengan agama lain. Keberadaan kitab suci yang dimiliki oleh masing-masing agama menjadi bukti historis bahwa umat beragama harus bisa dan selalu membaca.

      Walaupun perkembangan teknologi informasi begitu pesat, buku tetap menjadi media yang tak terkalahkan. Kemajuan sebuah bangsa bukan berasal dari melihat atau mendengarkan, tapi dari membaca catatan-catatan, literatur, dan berkas-berkas tertulis. Nicholas Negroponte, profesor Teknologi Media di Massachussets Institute of Technology, menyatakan bahwa membaca buku atau tulisan bisa membangkitkan imajinasi-imajinasi dan metafor-metafor yang menggugah kreativitas yang tidak bisa didapatkan dari menonton televisi atau mendengarkan musik.

      Karena begitu pentingnya budaya membaca bagi kemajuan bangsa di satu sisi dan karena kompleksitas persoalan yang melingkupi budaya membaca di sisi yang lain,  maka sudah saatnya semua kalangan baik pemerintah, agamawan, tokoh masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, dan dunia perbukuan memberikan kepedulian yang lebih bagi tumbuhnya budaya membaca.

      Pendirian taman-taman bacaan di berbagai tempat, penerjemahan buku-buku asing yang bermutu, penyediaan buku-buku murah dan terjangkau, serta keteladanan tokoh masyarakat dalam membaca dan menulis buku-buku merupakan langkah strategis bagi pemberdayaan budaya baca masyarakat.

      Alhamdulillah saya secara pribadi telah menulis beberapa buku sebagai bagian dari upaya membangun budaya membaca dan menulis di kalangan masyarakat. Bahkan saya membiasakan diri memberi kado pada orang lain dalam bentuk buku, bukan dengan bunga atau uang. Ini saya kira perlu digalakkan agar orang yang tidak terbiasa membuka buku pada akhirnya tergoda untuk membaca buku karena sering menerimanya. Mari kita jadikan buku seperti makanan yang penuh gizi. Semakin banyak buku yang kita baca, semakin sehat pikiran kita. Sebaliknya semakin sedikit buku yang kita baca, pikiran kita akan kering dan peradaban kita akan hancur.

      Comments
      Made  - Manfaat Membaca   |2009-08-02 21:21:50
      Manfaat Membaca
      dwi prihatinendro  - sarjana ilmu politik   |2009-09-05 17:07:53
      DAFTAR RIWAYAT HIDUP



      DWI PRIHATINENDRO, S.IP lahir 08 Desember 1975 di Kolaka
      Sulawesi Tenggara, anak pertama dari Bapak Drs. HARYONO dan Ibu SRI SUSILOWATI.
      Alamat : Jalan Simo Pomahan Baru Barat 5/34 RT. 007 RW. 005 Kelurahan Simomulyo,
      Kecamatan Sukomanunggal, Surabaya, 60181. Nomor Telepon / HP : (031) 7483682 /
      (081) 330 677 970

      1. Lulus SD Th. 1987 dengan Danem 33,36 di SDN Aneka Tambang
      No. 2 Pomalaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara.
      2. Lulus SMP Th. 1990 dengan Danem
      45,41 di SMP Negeri 2 Surabaya.
      3. Lulus SMA Th. 1996 dengan Danem 44,73 di SMA
      A. Wahid Hasyim Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
      4. Lulus Universitas Th. 2008
      dengan IPK 3,12 di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, dengan mengambil Disiplin
      Ilmu di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Politik.
      5. Selama
      menganggur, saya hanya menjadi joki skripsi dan tesis teman teman yang antara
      lain sebagai berikut :
      a. Implementasi Peraturan Pemerintah No....
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 105896 clicks
      • Average hits: 854 clicks / month
      • Number of words: 1572
      • Number of characters: 12235
      • Created 11 years and 4 months ago at Thursday, 04 June 2009 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,796
      • Sedang Online 79
      • Anggota Terakhir Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.I

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9122055
      bacalah.jpg

      Kalender & Agenda

      October 2019
      S M T W T F S
      29 30 1 2 3 4 5
      6 7 8 9 10 11 12
      13 14 15 16 17 18 19
      20 21 22 23 24 25 26
      27 28 29 30 31 1 2

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC