.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      MEDIA INDONESIA, 14 SEPTEMBER 2009

      Museum

      EDU melakukan riset kecil-kecilan terhadap guru di beberapa sekolah, berkaitan dengan pengalaman mengajar mereka. Pertama, ketika ditanya tentang aktivitas school visit sebagai salah satu metode yang digunakan para guru dalam pembelajaran, dari 20 guru di 10 sekolah menjawab tidak pernah melakukannya. Pertanyaan kedua adalah tentang arti museum sebagai salah satu target kunjungan sekolah (school visit) bagi proses belajar-mengajar. Seluruh guru mendefinisikan museum sebagai tempat penyimpanan benda-benda purbakala dan berharga, yang menyimpan peristiwa sejarah yang panjang tentang suatu benda atau peris­tiwa.

      Tak ada yang salah dengan jawaban kedua di atas. Hanya saja kita perlu khawatir bahwa ternyata kebanyakan guru tak begitu mengerti fungsi museum bagi suatu proses belajar-mengajar. Konyolnya lagi, keengganan mereka untuk mengunjungi museum disebabkan karena museum di daerah mereka kurang terawat, membosankan, dan kurang lay ak untuk dikun-jungi. Belum lagi kesulitan menjelaskan kepada orang tua siswa jika sekolah harus merencana-kan kunjungan ke luar sekolah dan berbiaya. Rata-rata sekolah paling banter hanya satu kali melakukan kunjungan luar sekolah, yaitu pada saat menjelang liburan sekolah setelah kenaikan kelas, itu pun dalam kategori wisata yang belum tentu ke museum.

       

      Tak banyak guru yang memiliki kesadaran tentang arti penting museum bagi proses bela­jar-mengajar. Padahal jika dilihat dari definisi yang diberikan oleh International Council of Museums, sebuah museum merupakan institusi permanen, nirlaba, melayani kebutuhan publik, dengan sifat terbuka, dengan cara melakukan usaha pengoleksian, mengonservasi, meriset, mengomunikasikan, dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan, dan kesenangan.

      Dari definisi di atas seharusnya baik para pengelola museum maupun para guru di seko­lah mengerti, bahwa sebagai sebuah institusi permanen yang memiliki banyak fungsi edukatif seperti riset dan konservasi, sudah seha­rusnya mereka bekerja sama dalam menggalang kebutuhan kunjungan luar sekolah bagi kebu­tuhan belajar anak-anak mereka. Inisiatif untuk memperkenalkan museum kepada sekolah perlu dilakukan para guru dan para pengelola museum sekaligus, sehingga museum juga tidak dipahami oleh para siswa seperti para guru memahaminya, yaitu sebagai tempat pe­nyimpanan benda/koleksi purbakala semata. Museum harus menjadi alternatif bahan studi oleh para guru dalam proses belajar-mengajar. Dokumentasi kekhasan masyarakat yang imajinatif dapat digunakan sebagai perencanaan masa depan anak-anak.

      Jika kesadaran tentang pentingnya museum bagi proses belajar-mengajar tertanam di benak para guru dan siswa kita, itu artinyakita sedang mengajarkan makna museum yahg secara eti-mologis berasal dari kata Yunani, mouseion, yang sebenarnya merujuk kepada nama kuil untuk sembilan Dewi Muses, anak-anak Dewa Zeus yang melambangkan ilmu dan kesenian. Dalam sejarah museum, kompleks perpustakaan yang dibangun khusus untuk seni dan sains, terutama berkaitan dengan filosofi dan riset di Alexandria oleh Ptolemy I Soter pada tahun 280 SM merupakan pertanda bahwa antara museum berkembang seiring berkembang-nya ilmu pengetahuan dan manusia semakin membutuhkan bukti-bukti otentik mengenai catatan sejarah kebudayaan.

      Keprihatinan kita terhadap guru yang kurang peduli terhadap manfaat museum untuk kebu­tuhan belajar-mengajar sebenarnya sejalan de­ngan karakter birokrasi kita yang juga lalai dalam membina dan membangun museum bagi kebutuhan riset dan konservasi yang dibutuhkan para siswa. Bayangkan, dari total 286 mu­seum yang kita miliki, saat ini hanya. 275 yang masih aktif. Itu artinya alih-alih menambah jumlah museum, kita malah kehilangan 11 museum.

      Tidak seperti di Amerika misalnya, rata-rata negara bagian di sana paling kurang memiliki 30-40 museum, baik yang dibangun dan dike-lola pemerintah, swasta, bahkan perorangan. Beberapa tokoh yang menonjol dari setiap ne­gara bagian memiliki koleksi pribadi yang bahkan dipertontonkan kepada khalayak umum. Pertanyaannya, berapa banyak tokoh sejarah, ilmuwan, budayawan, hingga pemimpin kita yang mau memberi informasi tentang koleksi pengalaman hidupannya ke dalam bentuk museum? Wallahu a'lam bi al-shflwab.

      Ahmad Baedowi

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Monday, 27 February 2012 08:10  

      Items details

      • Hits: 1062 clicks
      • Average hits: 13.1 clicks / month
      • Number of words: 2027
      • Number of characters: 17326
      • Created 6 years and 9 months ago at Monday, 27 February 2012 by Administrator
      • Modified 6 years and 9 months ago at Monday, 27 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 124
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091398
      DSCF8794.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC