.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Minat Baca
E-mail

SENIN, 11 JANUARI 2010 I MEDIA INDONESIA

Menulis

You don't write because you want to say something;

you write because you've got something to say. (F Scott Fitzgerald)

MARI kita perhatikan cara para guru menulis soal ujian/tes untuk siswa mereka. Dalam berbagai kesempatan melakukan riset dan pelatihan terhadap guru, Edu selalu menemukan banyaksekali kelemahan guru dalam merangkai kalimat yang bisa dimengerti siswanya ketika membuat soal-soal ujian/tes. Apalagi jika benruk soalnya esai, bentuk kalimatnya pasti lebih pendek daripada pertanyaan-pertanyaan dalam bentuk multiple choice dan pilihan ganda. Itu pun biasanya mereka buat dengan cara mengikuti pola soal yang sudah ada dalam buku-buku panduan soal ujian/tes.

Kemampuan menganalisis dan mengungkapkan gagasan melalui sebuah tulisan menjadi sesuatu yang sangat mahal bagi para guru dan siswa. Titik tolak lemahnya kebanyakan ada pada keterbatasan mereka sendiri yang kurang membaca. Selain buku pokok bahan ajar, jarang sekali kita menemukan guru yang 'gila baca' sehingga wawasannya sangat luas dan dicintai siswa-siswinya. Kelemahan membaca inilaTi yang menimbulkan persoalan awal mengapa kemampuan menulis guru, dan berujung pada kemampuan menulis siswa, sangat lemah. Bahasa lisan dalam bentuk instruksi seolah men­jadi satu-satunya media pembelajaran yang mampu mereka berikan kepada para siswa.

Last Updated on Saturday, 03 March 2012 09:24 Read more...
 
E-mail

Menuju Era Masyarakat Belajar

Baru 20 ribu SD memiliki perpustakaan.

Adi tampak duduk tenang. Tak ada kata yang terucap dari mulutnya yang mungil, tak ada lirikan dari kedua bola matanya. Orang-orang yang melintas di sekitarnya tidak membuatnya tergoda untuk memerhatikan. la tetap asyik, tenggelam dalam bacaan buku yang ada di hadapannya.

Siswa kelas V salah satu Sekolah Dasar (SD) di Jakarta ini bukan sedang mengikuti ulangan. Adi tengah mengisi jam istirahat pelajaran di sekolahnya dengan membaca buku bacaan di perpustakaan.

la tidak sendirian. Beberapa teman sekolahnya melakukan hal serupa. Mereka larut membaca, memelototi bacaan poguler yang ada di perpustakaan itu. Beruntung, perpustakaan sekolah mereka menyediakan buku bacaan dalam jumlah yang cukup dan bervariasi. Ketersediaan tersebut membuat anak-anak itu mudah menambah pengetahuan, sesuai dengan perkembangan usianya,Keceriaan seperti yang dialami Adi dan teman-teman sekolahnya di perpustakaan, tidak bisa dirasakan oleh Ryan. Meski duduk di kelas yang sama, tapi siswa SD di bilangan Tangerang ini tidak seberuntung Adi dan kawan-kawan.

Last Updated on Saturday, 03 March 2012 09:20 Read more...
 
E-mail

Menjadikan Membaca Lebih Bermakna

RESENSI BUKU

MEMBACA adalah sebuah peradaban. Dengan membaca, seseorang atau sebuah masyarakat mampu menghadirkan sebuah peradaban baru yang lebih maju. Contohnya Jepang yang han-cur lebur setelah mengalami kekalahan telak dalam Pe-rang Dunia II. Pada pertengahan 1945, negeri matahari terbiti tubak pecundang. Tapi kini, mereka adalah pionir industri dunia dan menjadi salah negara maju di kolong jagat.

Resepnya sederhana. Se­telah takluk di tangan sekutu, pemerintah jepang mengumpulkan tenaga guru yang tersisa untuk mengajar anak-anak dan pemuda. Salah satunya dengan menggalakkan semangat membaca. Hasil-nya, bangsa Jepang kini dike-nal sangat gandrung dengan buku, dan mereka seperti menemukan peradaban baru.Dalam agama mana pun membaca merupakan aktivitas suci, dan termasuk ibadah. Di agama Islam, misal-nya. Wahyu pertama yang di-sampaikan kepada Nabi Mu­hammad SAW adalah perin-tah untukmembaca atau iqra.Perintah itu tertulis dalam kitab suci Alquran surat al-Alaq 1-5. Dalam kurun waktu 23 tahun setelahnya, Rasulullah dan Umat Islam ber-hasil menguasai Jazirah Arab dan menghadirkan sebuah peradaban yang baru, setelah era kegelapan. Membaca mempunyai makna dahsyat.

Last Updated on Saturday, 03 March 2012 09:08
 
E-mail

Pikiran Rakyat 24 November 2008

Meningkatkan Gemar Membaca

pada Guru & Siswa



Forum guru

Sudah tak terhitung lagi, tulisan yang menaingatkan pentingnya membaca. Akan tetapi, sampai sejauh ini tampak-nya membaca belum menjadi kebiasaan, apalagi membudaya, termasuk di kalangan guru dan sisiva.

S

EBAGAI seorang pendidik dan terdidik cobalah bertanya, berapa jam sehari waktu yang dipergunakan untuk memba­ca? Atau, berapa buku yang dibaca dalam seminggu, sebulan, atau setahun? Apakah Anda termasuk gemar membaca? Tampaknya, mem­baca memang sesuatu yang mudah dilakukan, tetapi sulit dilaksanakanya.

Sejatinya, masyarakat Indonesia telah mengenal membaca sejak la­ma. Apabila kita dalami lebih dekat di kalangan tokoh-tokoh agama dan pesantren, membaca kitab (terma­suk kitab suci) sudah menjadi kebiasaan rutin sehari-hari. Sementara itu di lingkungan keraton, para bangsawan kerap membaca serat-serat berupa puisi dan ajaran hidup. Bahkan, tokoh proklamator Indonesia, Bung Karno dan Bung Hatta dapat dijadikan panutan dan model gemar membaca. Kedua proklamator tersebut menghabiskan banyak waktu di penjara dengan membaca dan belajar. Berbagai jenis buku bacaan, terbukti telah mengokohkan semangat perjuangan mereka dan memberikan inspirasi menentang kolonialisme dan imperialisme.

Hams diakui dengan jujur, motivasi dan kegemaran membaca di kalangan guru dan siswa masih kurang. Membaca belum termasuk kebutuhan dan menjadi budaya. Wak­tu senggang lebih banyak dimanfaatkan untuk menonton televisi, bermain, mengobrol, atau mungkin melamun.

Last Updated on Saturday, 03 March 2012 08:32 Read more...
 


Page 2 of 27

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,797
  • Sedang Online 86
  • Anggota Terakhir Suwardi

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9124478
DSCF8794.jpg

Kalender & Agenda

November 2019
S M T W T F S
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC