.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Pikiran Rakyat

      Menyoal Kembali BHP

      Oleh EKODHANTO PUKBA


      SEJAK Undang-undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) ditetapkan 17 Desember 2009, jontoversi ataupun gelombang aenolakan masih terus bergejolak, baik pada tubuh mahasiswa, maupun pada praktisi-praktisi yang menyatakan peduli akan pendidikan Indonesia.Yang menjadi pertanyaan adalah, hal-hal atau faktor-faktor apa yang menyebabkan penolakan tersebut?


      Pendidikan yang berkualitas memang mahal. Atas mahalnya itulah, pemerintah bertanggung jawab kepada rakyat memberikan pendidikan, memberikan pencerdasan pada rakyat melalui pendidikan, bukan malah membebankan pen­didikan atau memasukkan pen­didikan dalam sektor jasa sektor yang dapat diperjualbelikan. Kenyataan yang terjadi hari ini justru sebaliknya, pendi­dikan semakin mahal, dan seolah-olah yang terlihat adalah pemerintah tidak mampu membiayai pendidikan.

      Tidak ada kata lain untuk ti­dak bisa karena semuanya telah diatur dalam UUD 1945 dan rakyat telah menunaikan untuk membayar pajak. Lantas hak atas pendi­dikan seharusnya telah didapat. Kita tentu mengetahui bahkan telah melihat seberapa luas dan kaya bumi pertiwi ini. Maka suatu hal yang mustahil jika bangsa ini tidak dapat memberikan fasilitas pendidikan seca-ra layak dan berkualitas pada rakyatnya.

      Bohong jika ada yang mengatakan pemerintah tidak sanggup membiayai pendidik­an mulai dari tingkat sekolah dasar sampai tingkat perguruan tinggi. Jika pemerintah ti­dak sanggup memberikan pendidikan gratis, ilmiah. kualitas kepada rakyat bukan berarti mereka melepas tanggung jawabnya atas penyelenggaraan pendidikan, khususnya bagi masyarakat marginal. Ada banyak jalan menuju Roma, itulah pepatah yang akrab terdengar di telinga kita. Pepatah tersebut sebaiknya kita cerna dengan sungguh-sungguh. Ma­sih banyak cara lain agar se-mua rakyat dapat makan de­ngan kenyang, sekolah atau ku-liah dengan tenang menikmati pendidikan yang berkualitas dengan biaya yang murah atau tanpa dipungut biaya sama sekali.

      Orientasi BHP

      Realita sesunggguhnya yang kita temukan di lapangan ada­lah semakin rakyat banyak yang "gila". Mereka tidak tahu hams berbuat apa lagi agar da-pat menjadikan putra-putrinya menjadi orang yang berguna bagi keluarga dan bangsa, alias orang besar. Mereka seolah-olah dipaksa untuk membuang jauh-jauh mimpi itu dan dipak­sa melupakannya karena hal tersebut adalah hal yang mus­tahil untuk rakyat miskin dan kecil. Jangankan membiayai pendidikan (sekolah ataupun kuliah anaknya), untuk makan saja sulit.Dengan kata lain. UU BHP telah memberikan jalan mulus bagi pemilik modal untuk me-lakukan investasi di bidang pendidikan, dan menjadikan-nya lahan berinvestasi untuk mendapatkan keuntungan be­sar. BHP bisa saja dikatakan nirlaba, tetapi pertanyaannya, apakah investasi ini bersifat nirlaba? Tentu tidak, karena investasi haras tangkan untung besar, dengan demikian hal tersebutlah yang kemudian secara otomatis akan menarik minat investor sehing-ga BHP yang bersifat nirlaba seperti diatur dalam UU BHP Pasal 4 ayat (i) tidak benar.

      Paradigma atau orientasi pendidikan sudah mulai berge-ser, yaitu untuk memanusiakan manusia. Pendidikan hari ini berorientasi pada untung rugi yang dilihat dari jumlah rupiah, dan berorientasi pada pasar (pekerjaan). Masyarakat disu-ruh/dipaksa sekolah dan kuliah agar ketika lulus nanti mereka ' mudah mendapatkan kerja. Ya, bagaimanayrame masyarakat di-setting agar berlaku demiki­an. Dan ketika lulus pun mere­ka bekerja hanya sebatas buruh semata yang dipersiapkan un­tuk mengabdi pada perusaha-an-perusahaan investor asing, tidak lebih dari situ.

      Hal ini dapat kita lihat dari jaminan peningkatan kualitas pendidikan mutu atau tenaga dari lembaga-lembaga pencetak tenaga ahli, juga dilihat dari durasi waktu yang diMfi1 kan tidak lebih dari lima tahun karena jika lebih dari lima ta­hun, ancamannya adalah DO (drop out), dan pemberian tugas-tugas yang tidak sedikit (ti­dak memberikan waktu bagi peserta didik ataupun mahasiswa dalam berkreativitas atau mengembangkan diri lewat or-ganisasi). Dengan kata lain prospek tenaga pendidikan dalam BHP ini tidak jelas.

      Perguruan tinggi diarahkan untuk mencetak tenaga-tenaga buruh yang dipersiapkan untuk mengisi dan mengabdi di perusahaan atau pabrik-pabrik in­vestor, yang setiap saat dan ka-pan saja bisa diberhentikan atau dipecat. Jika kejadiannya telah demikian mengerikan, ti­dak ada jalan lain, bangsa ini haras segera mengevaluasi dan mencari solusi yang lebih solutif atas permasalahan pendidik­an, agar pendidikan bisa menjawab krisis dan keterpurukan seperti yang terjadi sekarang ini. Semoga.

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Saturday, 03 March 2012 10:26  

      Items details

      • Hits: 1013 clicks
      • Average hits: 11 clicks / month
      • Number of words: 3864
      • Number of characters: 32904
      • Created 7 years and 8 months ago at Saturday, 03 March 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 8 months ago at Saturday, 03 March 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 82
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9125011
      DSCF8754.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC