.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      PIKIRAN RAKYAT 29 MEI 2011

      Menumbuhkan Spirit Budaya Baca

       

      SELASA (24/5) ada peristiwa istimewa di Jawa Barat. Dalam rangka memperingati Hari Perpustakaan dan Kearsipan, Gubernur Jawa Barat mem-berikan penghargaan kepada tiga belas orang yang berjasa dalam mengembangkan dan melestarikan perpustakaan di Jawa Barat. Mereka berasal dari kalangan birokrasi, media massa, tokoh masyarakat, pengelola perpustakaan sekolah, hingga pengelola perpustakaan berbasis komunitas.

      Penghargaan ini tentu saja bukan per-soalan prestise, tetapi merupakan motivasi bagi para penerima untuk senantiasa konsisten dalam meningkatkan minat baca masyarakat Jawa Barat. Secara umum, apa yang menjadi komitmen gubernur kali ini juga merupakan stimulus bagi masyarakat Jabar untuk senantiasa berkontribusi bagi pengembangan sumber daya manusia (SDM), khususnya dalam bidang minat baca.

      Program ini juga semakin signifikan di tengah kondisi masyarakat yang menurut berbagai riset akademis masih rendah mi­nat bacanya. Bahkan kondisi ini disinyalir hampir tidak bergeser dari tahun ke tahun. Kompleksitas persoalan pada aspek budaya baca menyebabkan minimnya pengem­bangan baik secara kualitatif maupun kuantitatif perpustakaan yang ada di negara ini.. Rata-rata pendidikan rendah, kurangnya bahan bacaan, minimnya partisipasi masyarakat, hingga kurangnya perhatian pengambil kebijakan. Perpustakaan memang ruang yang garing jika dilihat dari aspek materi, tetapi sangat vital dari aspek pengembangan peradaban manusia.

       

      Sampai hari ini belum pernah ada yang membantah bahwa salah satu karakteristik masyarakat maju adalah melek huruf sehingga menjadikan aktivitas membaca sebagai gaya hidup. Di negara-negara berkembang tradisi membaca tetap tinggi kendati gempuran media televisi dan inter­net semakin kuat. Artinya, membaca adalah identitas masyarakat berkemajuan.

      Problem di Jawa Barat

      Data saat ini menunjukkan rata-rata pen­didikan di Jawa Barat masih berkisar di 7,8 tahun, artinya usia kelas VIIISLTP (belum lulus SLTP). Bagi masyarakat yang hidup di perkotaan besar seperti Kota Bandung mi-salnya mungkin menganggap hal ini mus-tahil, sebab di Kota Bandung masyarakat-nya relatif berpendidikan dengan rata-rata pendidikan usia kuliah. Namun, ketimpan-gan akan terasa jika kita menoleh kondisi masyarakat di daerah-daerah.

      Fakta lain, lebih dari 60 persen pen-duduk Jawa Barat tinggal di daerah. Dari aspek rata-rata pendidikan, mereka jauh dari masyarakat Kota Bandung. Apa artinya? Ternyata dengan angka rata-rata pendidikan masyarakat Jawa Barat, per­soalan budaya baca bukan perkara mudah. Membagi-bagikan buku misalnya hanya persoalan teknis dan dapat diselenggarakan dalam waktu singkat asal ada mata anggarannya—dan mata anggaran bisa diciptakan secara instan. Namun, yang pal­ing penting adalah membangun kesadaran akan pentingnya aktivitas membaca bagi masyarakat.

      Kompleksitas persoalan budaya baca kini menjadi agenda mendesak dan harus men­jadi bagian tak terpisahkan dari grand de­sign pencapaian visi Jawa Barat 2025. Mengapa demiMan? Jika budaya baca men­jadi bagian dari identitas kemajuan suatu negara atau daerah, hal itu harus menjadi agenda yang ada di dalamnya kalau dikatakan prioritas.Karena yang dibangun adalah budaya, logikanya tidak mungkin mengubah dalam waktu sekejap. Perlu proses panjang untuk menumbuhkan budaya ini, yang penting adalah bagaimana Mta memulainya, tidak hanya wacana tetapi konkret di lapangan. Mengubah budaya berarti juga mengubah pola piMr, cara pandang, termasuk hal-hal teknisnya seperti mengganti aktivitas masyarakat yang kurang bermanfaat kemu-dian diganti dengan membaca.

      Dengan melihat cita-cita besar yaitu membangun budaya baca dan diband-ingkan dengan tingkat kompleksitas per­soalan yang ada, paling tidak dapat dijem-batani melalui beberapa langkah konkret berikut.

      Pertama, membangun budaya baca harus berawal dari good will dari pemegang kebi­jakan. Pada saat komunitas kreatif sudah melakukan kegiatannya sendiri, pemerintah sebaiknya merespons dengan program yang lebih massif lagi. Komunitas biasanya ha­nya terfokus pada lahan garapan yang tidak terlalu luas karena berbagai keterbatasan. Apa yang dilakukan Pemprov Jawa Barat Selasa lalu merupakan langkah tak ter­pisahkan dari agenda berkelanjutan dengan membangun sinergi dengan kekuatan-kekuatan civil society di tingkat bawah.

      Kedua, budaya baca sebaiknya dimulai dari perdesaan. Argumentasinya, selain mayoritas penduduk Jawa Barat ada di perdesaan, juga sesungguhnya sarana baca di perkotaan sudah tersedia, tinggal mau memanfaatkannya. Masyarakat desa, pro-blemnya adalah minimnya fasilitas, sen-tuhan dari aspek budaya baca, atau pembe lajaran secara umum. Membangun buaaya baca di perdesaan berbeda dengan mereha-bilitasi sekolah roboh yang bisa dilakukan dalam waktu singkat.

      Ketiga, bahan bacaan. Bahan bacaan se-lain tersedia juga harus sesuai dengan ke-butuhan masyarakat. Tidak ada budaya membaca jika bahan bacaannya tidak ada, juga bagaimana bahan bacaan itu akan dibaca jika memang tidak menarik atau tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Bahan bacaan sebaiknya bersifat segment­ed disesuaikan dengan prioritas usia masyarakat yang akan menjadi calon pem-baca. Ketersediaan bahan bacaan juga harus bersifat berkala kendati buku yang mereka terima tidak selamanya baru dalam arti cetakan, tetapi baru dalam arti keda-tangan dan belum mereka ketahui sebelum-nya.

      Keempat, budaya baru tidak akan muncul begitu saja tanpa adanya rekayasa sistemik dan melalui agen-agen yang berperan sebagai penyadar masyarakat. Dalam konteks ini dibutuhkan semacam fasilitator yang terdiri atas kalangan masyarakat lokal yang bertugas men-dampingi masyarakatnya sendiri. Orang lokal memiliki dua keuntungan, pertama dia sangat paham kondisi masyarakatnya sendiri, kedua akan menjarmn keberlang-sungan. Mereka adalah orang yang secara kerelaan memiliki kesadaran dan kemauan untuk melakukan tugas ini dengan tanpa mengganggu aktivitas positif yang sudah berjalan. Aktivitas yang dibangun bersifat kultural dan alamiah.

      Alhasil, pascarangkaian kegiatan edukatif dan apresiasi terhadap penggerak perpus-takaan, diharapkan terbangun sinergi pro-


      auKtir aan oeroagai eiemen masyaiaKai pemerintah untuk merancang gerakan penting dalam rangka membangun tradisi baru. Artinya, pemberian penghargaan ini diharapkan menimbulkan efek domino se-hingga euforia tidak hanya terjadi di jan-tung kota, tetapi berdenyut di perdesaan.

      Dengan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (Bapusipda) sebagai simpul,,semua kekuatan masyarakat baik itu komunitas, organisasi kemasyarakatan, tempat ibadah, maupun jaringan ibu-ibu PKK bisa melakukan kerja sama secara langsung dalam mengembangkan jejaring yang lebih luas. Pundi-pundi bahan bacaan yang tidak hanya datang dari Pusnas tetapi juga berba-gai penerbit buku dan bahan bacaan yang sengaja dibuat untuk program pengemban-gan minat baca, dapat dibuat secara lebih massif.

      Karena membangun budaya tidak bisa dalam waktu singkat, apa yang dilakukan merupakan tahapan perjalanan panjang yang mungkin dapat dirasakan lima, sepu-luh, atau dua puluh tahun ke depan. Oleh karena itu, membangun budaya baca sama sekali tidak bisa dilakukan secara instan, tetapi melalui aktivitas berkelanjutan dan harus dilakukan secara bersama-sama de­ngan berbagai elemen termasuk masyarakat lokal (desa) sebagai pemilik sekaligus pe-lestari budaya itu sendiri. Wallahualam.***

      RONITABRONI,

      penggagas Kampung Belajar, pegiat Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Provinsi Jawa Barat, penerima penghargaan Gubernur Jabar dalam mengembangkan dan melestarikan per-pustakaan di Jawa Barat.

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Saturday, 03 March 2012 10:05  

      Items details

      • Hits: 515 clicks
      • Average hits: 5.6 clicks / month
      • Number of words: 8687
      • Number of characters: 77938
      • Created 7 years and 8 months ago at Saturday, 03 March 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 8 months ago at Saturday, 03 March 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,797
      • Sedang Online 77
      • Anggota Terakhir Suwardi

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9124321
      DSCF8803.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC