.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      SENIN, 11 JANUARI 2010 I MEDIA INDONESIA

      Menulis

      You don't write because you want to say something;

      you write because you've got something to say. (F Scott Fitzgerald)

      MARI kita perhatikan cara para guru menulis soal ujian/tes untuk siswa mereka. Dalam berbagai kesempatan melakukan riset dan pelatihan terhadap guru, Edu selalu menemukan banyaksekali kelemahan guru dalam merangkai kalimat yang bisa dimengerti siswanya ketika membuat soal-soal ujian/tes. Apalagi jika benruk soalnya esai, bentuk kalimatnya pasti lebih pendek daripada pertanyaan-pertanyaan dalam bentuk multiple choice dan pilihan ganda. Itu pun biasanya mereka buat dengan cara mengikuti pola soal yang sudah ada dalam buku-buku panduan soal ujian/tes.

      Kemampuan menganalisis dan mengungkapkan gagasan melalui sebuah tulisan menjadi sesuatu yang sangat mahal bagi para guru dan siswa. Titik tolak lemahnya kebanyakan ada pada keterbatasan mereka sendiri yang kurang membaca. Selain buku pokok bahan ajar, jarang sekali kita menemukan guru yang 'gila baca' sehingga wawasannya sangat luas dan dicintai siswa-siswinya. Kelemahan membaca inilaTi yang menimbulkan persoalan awal mengapa kemampuan menulis guru, dan berujung pada kemampuan menulis siswa, sangat lemah. Bahasa lisan dalam bentuk instruksi seolah men­jadi satu-satunya media pembelajaran yang mampu mereka berikan kepada para siswa.

       

      Tak jarang juga sebenarnya mereka bertanya, "Pak, bagaimana caranya agar bisa menulis?" Maka nasihat pertama yang keluar adalah sebuah ungkapan populer dari Epictetus: "If you wish to be a writer, write!". Ungkapan ini sebe­narnya ingin mengatakan bahwa menulis sebe­narnya merupakan suatu kegiatan yang produk-tif dan ekspresif. James McCrimmon dalam Writing With Purpose (1967) mengingatkan bahwa seorang penulis harus terampil memanfaatkan pengetahuan struktur bahasa dan kosakata sekaligus. Untuk memulainya seorang guru harus dapat meyakinkan dirinya sendiri bahwa menulis merupakan kegiatan mencatat, me-rekam, meyakinkan, melaporkan, menginfor-masikan, dan memengaruhi pembaca atau siswanya. Maksud dan tujuan seperti itu hanya dapat dicapai dengan baik jika guru dapat menyusun dan merangkai jalan pikiran dan memukakannya secara tertulis dengan jelas, lancar, dan komunikatif. Kejelasan itu amat bergantung pada pikiran, organisasi, pemakaian dan pemi-lihan kata, serta struktur kalimat.

      Penting juga untuk diketahui para guru bahwa pada umumnya, tulisan dapat dikelom-pokkan atas empat macam bentuk, yaitu narasi, deskripsi, eksposisi, dan argumentasi. Bentuk tulisan narasi dipilih jika penulis ingin bercerita kepada pembaca. Narasi biasanya ditulis berdasarkan rekaan atau imajinasi. Akan tetapi, narasi dapat juga ditulis berdasarkan pengamatan atau wawancara. Narasi pada umumnya merupakan himpunan peristiwa yang disusun berdasarkan urutan waktu atau urutan kejadian. Dalam tulisan narasi, selalu ada tokoh-tokoh yang terlibat dalam suatu atau berbagai peristiwa.

      Bentuk tulisan deskripsi dipilih jika penulis ingin menggambarkan bentuk, sifat, rasa, corak dari hal yang diamatinya. Deskripsi juga dilaku-kan untuk melukiskan perasaan, seperti bahagia, takut, sepi, sedih, dan sebagainya. Penggambaran itu mengandalkan pancaindra dalam proses penguraiannya. Tujuan deskripsi adalah membentuk, melalui ungkapan bahasa, imajinasi pembaca agar dapat merhbayangkan suasana,, orang, peristiwa, dan agar mereka dapat mema-hami suatu sensasi atau emosi. Pada umumnya, deskripsi jarang berdiri sendiri. Bentuk tulisan tersebut selalu menjadi bagian dalam bentuk tulisan lainnya.

      Benruk tulisan eksposisi dipilih jika penulis ingin memberikan informasi, penjelasan, ke-terangan atau pemahaman. Berita merupakan bentuk tulisan eksposisi karena memberikan informasi. Tulisan dalam majalah dan buku teks merupakan bentuk eksposisi. Sedangkan tulisan berbenruk argumentasi bertujuan meyakinkan orang, membuktikan pendapat atau pendirian pribadi, atau membujuk pembaca agar penda­pat pribadi penulis dapat diterima. Benruk ar­gumentasi dikembangkan untuk memberikan penjelasan dan fakta-fakta yang tepat sebagai alasan untuk menunjang kalimat topik (thesis sentence), seperti ditemui dalam kolom opini/ wacana / gagasan / pendapat.

      Yang juga perlu diperhatikan para guru yang ingin mulai menulis adalah, kendatipun keempat bentuk tulisan tersebut memiliki ciri masing-masing, mereka tidak secara ketat terpisah satu sama lain. Selamat mencoba!

      Oleh

      Ahmad Baedowi

      Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Saturday, 03 March 2012 09:24  

      Items details

      • Hits: 441 clicks
      • Average hits: 4.8 clicks / month
      • Number of words: 5611
      • Number of characters: 50222
      • Created 7 years and 8 months ago at Saturday, 03 March 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 8 months ago at Saturday, 03 March 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,797
      • Sedang Online 76
      • Anggota Terakhir Suwardi

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9124539
      DSCF8790.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC