Minat Baca Sang Pahlawan PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 02 June 2009 11:25
Article Index
Minat Baca Sang Pahlawan
Page 2
All Pages

Minat Baca Sang Pahlawan

 

Menelusuri jejak para pahlawan adalah menelusuri jajak para kutu buku. Pahlawan tanpa tanda jasa mungkin saja ada, tetapi pahlawan tanpa “tanda baca” itu sangat sulit mencari figurnya. Lembaran hidup para pahlawan tidak bisa dipiskan dari lembaran-lembaran naskah yang dia baca dan dia tulis. Mungkin sudah menjadi hukum besi sejarah bahwa seorang pemimpin biasanya juga ia adalah seorang orator dan penulis. Bahkan bisa dihipotesiskan bahwa menulis dan retorika merupakan faktor determinan untuk menjadi seorang pemimpin. Tanpa dua macam keterampilan itu sangat sulit seseorang di sebut pemimpin atau pahlawan atau orang besar. Karena, bagaimana bisa berbicara dan menulis apabila tidak memiliki banyak pengetahuan yang instrumen utamnya adalah membaca. Memang, dengan rekaysa misalnya membuat tulisan atas nama dirinya atau dibuatkan teks pidatonya, bisa saja seseorang menjadi pemimpin, akan tetapi sejarah kelak akan membuktikan bahwa dia bakanlah pemimpin yang otentik. Dalam konteks nasional, kita dapat melihat hampir semua pahlawan kemerdekaan adalah kutu buku. Dalam tulisan ini penulis hanya akan mengulas pengalaman membaca salah seorang proklamator yang sangat terkenal dengan minat bacanya yaitu Bung Hatta. Yang oleh Deliar Noer dalam buku Biografi Politik Bung Hatta (1990: 143) disebut ”Pembaca dan pencatat yang cermat.”

Sebetulnya yang paling berjasa dalam membesarkan tokoh kita ini adalah bukan hanya sekolah formalnya akan tetapi bahan bacaannya. Dan yang paling menentukan dalam perjuangannya bukan guru-gurunya semata akan tetapi atas dasar usahanya sendiri. Tokoh kita ini, berkat kerakusan dalam membaca, telah menjadi seorang pembelajar mandiri sejak dini. Kehidupan orang-orang besar persis seperti yang dikatakan oleh Thomas Jefferson (1815) ” aku tidak bisa hidup tanpa buku”

Berikut ini akan saya kutipkan pengalaman membaca Bung Hatta yang diambil dari Memoir-nya (1982). Pada awal menjadi murid di PHS (Prins Hendrik School) Jakarta pada tahun 1919 (pada saat berumur 17 tahun) ia menuturkan: ”Selagi melihat-lihat buku di sana tampak oleh Mak Etek Ayub tiga macam buku yang dinanggapnya perlu aku baca nanti, yaitu N.G. Pierson, Staathuishoudkunde, 2 jilid; H.P. Quack, De Socialisten, 6 jilid, Bellamy, Het Jaar 2000. Inilah buku-buku yang bermula kumiliki yang menjadi dasar perpustakaanku.

Malam itu juga kumulai membaca buku Nellamy. Waktu aku akan tidur liwat tengah malam sudah leibh seperempat isi buku itu kubaca. Barangkali akan terus kubaca sampai tamat, apabla besok harinya aku tidak mesti sekolah. Pembacaan itu besok harinya kuteruskan sampai tamat buku itu kubaca. Bacaan itu kuanggap bacaan pertama.

Biasanya buku-buku yang mengenai mata pelajaran aku pelajari pada malam hari. Buku-buku lainnya, buku roman dan buku tambahan untuk meluaskan pengetahuan kubaca pada sore hari sesudah pukul 4 atau setengah 5.

Setelah tiga kali berturut-turut buku Bellamy tamat kubaca, kumulai membalik-balik buku Quack, De Socaialisten yang 6 jilid itu.

Pada vakansi besar pertengahan tahun 1920 aku pulang ke Bukittinggi. Di situ dapat kubaca kembali uraian Quack tentang Robert Owen dalam De Socialisten jilid 2 seluruhnya. Waktu itu dapat pula kubaca uraian Quack tentang Ferdinand Lassalle dari De Socialisten jilid 4. Aku asyik membacanya dan aku pandang pujangga sosilis itu penuh romantik. Setelah aku memperoleh buku-buku dari Mak Etek Ayub, aku tidak banyak lagi keluar berjalan-jalan dengan sepeda seperti sebelumnya.”

Dua tahun kemudian (1921) pada saat beliau melanjutkan studinya di negeri Belanda, atau pun sedang mengadakan kunjungan ke negara-negara lain, hal pertama yang dilakukan beliau adalah memborong buku. Seperti yang ia lakukan pada saat pergi ke Jerman, di antara buku-buku yang dibelinya adalah: Gustav Schmoler, Grundrisz der Algemein Volkswirtschaftlehre, 2 jilid, 1400 halaman; Bohm Bawerk, Kapital und Kapitalzins, 1400 halam; Werner Sombart Der Modere Kapitalismus, 4 jilid, 2100 halaman; dan banyak lagi sampai beliau mengatakan: “‘harta’ bukuku memang bertambah luas terus sejak aku kembali dari Hamburg tahun 1922”. Beliau memiliki disimplin membaca yang sangat hebat dalam perjalnan hidupnya. Pada saat studi di Belanda ia memiliki agenda sebagai berikut: ” Menurut kebiasaan pukul 7 malam aku sudah mulai belajar di kamarku sampai jam 12 tengah malam. Karangan-karangan untuk majalah Indonesia Merdeka bisanya kutulis sesudah jam 9 malam. Kadang-kadang aku bekerja sampai pukul 2 tengah malam. Di waktu itu kerja larut malam itu senang sekali rasanya. Itulah dalam garis besar hidupku sehari-hari!”. Kebiasaan ini beliau lanjutkan di tanah air, sekalipun dalam pembuangannya.



Comments
Add New
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Kalender & Agenda

March 2010
S M T W T F S
28 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 1 2 3

Tidak Mungkin Intelektual Menganggur

Oleh:

Suherman

Ketua Masyarakat Literasi Indonesia (MLI)

Sarjana menganggur sangat banyak, tapi intelektual menganggur rasanya tidak mungkin alias mustahil. Sarjana dan intelektual tidak sama dan sebangun alias memiliki pengertian yang berbeda. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sarjana adalah gelar yang dicapai seseorang yang telah menamatkan pendidikan tingkat terakhir di perguruan tinggi. Sedangkan intelektual artinya seseorang yang cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan atau disebut juga cendekiawan. Jelas sarjana bukan padanan kata intelektual. Dengan memperhatikan definisi atau arti kata intelektual saja sudah dapat disimpulkan mustahil ada intelektual yang memnganggur atau terjadi trategi “pengangguran intelektual”. Akan tetapi, walaupun kata “pengangguran intelektual“ terasa rancu namun sudah terbiasa diucapkan di masyarakat umum alias salah kaprah. Seperti judul sebuah artikel di harian Tribun Jabar edisi tanggal 15 Oktober 2009 “Mewaspadai Booming Pengangguran Intelektual”, yang ditulis oleh seorang dosen pascasarjana.

Read more...