.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail
      Article Index
      Menyoal Duta Baca Indonesia
      Page 2
      All Pages

      Menyoal Duta Baca Indonesia

      Oleh:

      Suherman

      Pustakawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

      Ketua Masyarakat Literasi Indonesia (MLI)

      Pada tahun ini Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) memilih kembali Tantowi Yahya yang keempat kalinya sebagai duta baca Indonesia (DBI). Menurut pejabat PNRI terpilihnya kembali beliau karena dianggap berhasil dalam mengembangkan budaya baca di Indonesia. Lebih lanjut pejabat tersebut mengatakan bahwa sejak diangkatnya beliau menjadi duta baca pada tahun 2006 animo dan apresiasi masyarakat terhadap bacaan sangat luar biasa. Tentu saja kita pun patut turut begembira dengan kemajuan ini yang berarti bahwa masyarakat Indonesia sedang berevolusi menjalankan takdir sejarahnya menuju kehidupan yang lebih baik. Namun dipihak lain ada sebuah pertanyaan yang mengganjal, benarkah kemajuan tersebut semata karena jasa seorang duta baca? Ataukah ini hanyalah sebuah pengakuan yang sepihak dari PNRI karena belum ada sebuah penelitian yang objektif untuk pembuktiannya. Di samping itu juga masih banyaknya masyarakat, malah mungkin sebagian besar, yang belum mengetahui kalau Tantowi Yahya itu sebagai duta baca Indonesia. Mereka hanya mengetahui Tantowi Yahya sebagai artis atau selebritas nasional yang sering muncul di televisi sebagai pemandu acara atau penyanyai.

      Penjelasan dari pejabat PNRI seperti di atas juga mudah-mudahan tidak mengecilartikan para aktivis literasi, mengingat peran mereka juga tidak bisa diremehkan dalam ikut serta memberikan solusi terhadap problematika minat baca Indonesia. Mungkin kita masih ingat bagaimana perjuangan Kiswanti, penjual jamu gendong, sambil jualan membawa dan menawarkan buku-buku untuk dibaca. Atau dedikasi Agus Munawar, tukang gorden keliling dari Kabupaten Bandung Jawa Barat, yang harus mengambil jatah uang belanjanya demi keberlangsungan taman bacaannya agar masyarakat bisa terus terlayani.

      Dalam masyarakat yang masih harus bekerja keras untuk dikatakan masyarakat terdidik atau well informed, biasanya sangat sulit untuk membedakan mana yang baik dan mana yang menarik. Tentu saja keadaan ini sangat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan memajang selebritas menjadi bintang iklan untuk menawarkan barang atau jasa peerusahaan maupun menawarkan janji dari parati politik Termasuk dalam hal ini, menjadikan selebritas sebagai duta apa saja, kecuali duta besar. Karena untuk menjadi duta besar tidak cukup hanya bermodalkan tampang, tapi juga harus berilmu dan biasanya pernah menjadi pejabat. Tak terkecuali duta Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) pun diperankan oleh selebritas. Maka pantas saja kalau lembaga-lembaga penelitian di Indonesia dikatakan oleh Jusuf Kalla, masih sebagai wakil presiden pada waktu itu, seperti museum. Malah dikalangan para peneliti Lembaga Ilmu Pengethuan Indonesia sering dibuat lelucon, bahwa tahun ini akan ada pemilihan peneliti terseksi dan ilmuwan berpenampilan terbaik.

      Ironi

      Ada beberapa hal yang harus didiskusikan berkenaan dengan duta baca Indonesia, pertama, ia adalah seorang selebritas yang tentu saja biasa tampil di televisi. Sedangkan dari berbagai macam sumber bacaan mengenai meningkatkan minat baca khususnya untuk usia dini atau anak-anak televisi sangat dianjurkan untuk dijauhi (Sebagai referensi silahkan baca buku Read Aloud Handbook karya Jim Trelease, Membuat Anak Gila Membaca karya Mohammad Fauzil Adhim, dan Matikan TV-mu karya Sunardian Wirodono). Apakah masyarakat akan meresa terdorong untuk membaca kalau dutanya saja, yang merupakan “model,” tidak pernah terlihat membaca. Akan tetapi sibuk menghibur masyarakat yang bukan dengan bacaan, akan tetapi acara-acara yang memang miskin dengan muatan pendidikan. Pendek kata, mungkinkah seorang bintang layar kaca menganjurkan pada pemirsa untuk menjauhi televisi? Ini seperti seorang ayah yang melarang anaknya untuk merokok, sambil dia sendiri merokok malah mengiklankan rokok.

      Kita akan setuju dengan Tantowi Yahya dijadikan DBI, apabila acara yang dibawakannya di televise seperti yang dilakukan oleh Oprah Winfrey, si Ratu Baca, yaitu mempromosikan buku kepada pemirsa. Serial novel Harry Potter adalah salah satu buku terlaris di duna yang dipromosikan melalaui tangan Oprah. Dalam buku Trelease seperti tersebut di atas dikemukakan bahwa ketika Oprah memulai klub bukunya (Oprah’s Book Club) ada 250,000 klub diskusi di seluruh AS, sekarang ada lebih dari setengah juta kelompok semacam itu. Saya kira PNRI akan kesulitas menjawab apabila ditanya ada berapa jumlah klub buku di Indonesia sekarang ini dan mana serta berapa yang terbentuk karena terinspirasi oleh duta baca Indonesia. Buku laris mana yang merupakan promosi dari duta baca Indonesia. Buku-buku laris di Indonesia seperti tetralogi Laskar Pelangi dan Ayat-ayat Cinta bisa menjadi bestseller bukan karena promosi dari DBI, malah tidak ada inisiatif dari PNRI sekalipun untuk menjadikan momentum ini sebagai ajang promosi kampanye membaca.

      Bedanya Oprah dengan Tantowi Yahya sangat kentara, kalau Oprah mengajak penonoton untuk membaca, Tantowi Yahya mengajak para pembaca untuk menonton.

      Memang penulis akui tentang antusiasme masyarakat terhadap Tantowi Yahya, bukan terhadap minat baca. Dalam sebuah acara kongres IPI di Bali pada tahun 2007, DBI juga hadir menjadi narasumber, para peserta juga sangat antusias menyambutnya bukan karena materi pokok bahasan yang berisi strategi atau cara-cara inovatif dalam membangun minat atau kesadaran membaca masyarakat, akan tetapi hanya sekedar untuk foto bersama


      Kader Partai

      Yang harus menjadi pertibangan kedua adalah DBI sekarang salah seorang kader partai yang terpilih menjadi anggota DPR pusat. Walaupun dia pernah berjanji “Dimanapun saya, secara profesional adalah DBI, dan tidak membawa-bawa atribut kepartaian saya, mudah-mudahan, insya Allah, saya bisa pegang amanah ini dengan baik,” tetap saja “baju” partai itu akan tetap melakat pada dirinya. Sebaiknya seorang duta adalah nonpartisan, karena bagaimana susah untuk membedakan kegiatan mana yang untuk partai dan mana yang profesional. Kecuali kalau dia menjadi duta baca utusan partai, mungkin ini malah bagus supaya partai yang lain pun rame-rame menunjuk duta baca. Kami juga tidak akan mempermasalahkan apabila yang beliau bintangi berupa iklankan komersial yang dibiayai perusahaan. Tetapi apa yang dilakukan DBI sekarang ini adalah iklan layanan masyarakat yang didanai oleh publik. Dalam hal ini kita pautut salut kepada para pejabat publik yang berasal dari artis kemudian menghentikani aktivitasnya sebagai bintang iklan komersial, walaupun hal tersebut tidak melanggar konstitusi. Beliau menghentikannya hanya karena tuntutan etika dan etiket kepemimpinan.

      Alternatif

      Para pakar pendidikan banyak yang mengatakan bahwa pembelajaran yang baik adalah melalui teladan. Pendapat tersebut senada dengan bunyi pepatah yang sering kita dengar bahwa “pengalaman adalah guru yang terbaik”. Bahkan seorang ahli psikologi komunikasi berkata bahwa tindakan akan terlihat lebih jelas daripada kata-kata. Lebih tegas lagi Allah berfirman\; “Tuhan akan murka kepada orang yang tidak melakukan apa yang dikatakannya”. Dalam hal duta baca sebaiknya diperankan oleh seseorang yang benar-benar mereperesentasikan manusia sukses karena membaca. Apakah ia seorang budayawan, cendekiawan atau intelektual, dan ilmuwan, karena orang-orang yang seperti inilah yang sudah pasti selalu bergulat dengan buku.

      Dari sosok budayawan misalnya dapat diperankan oleh Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun yang oleh teman-temannya sering dijuluki “perpustakaan berjalan” atau Ajip Rodisi yang sukses Hidup Tanpa Ijazah sebagimana judul otobiografinya. Kedua budayawan tersebut adalah orang-orang yang suskes karena membaca bukan karena sekolah. Mereka juga dapat dijadikan contoh yang baik untuk membuktikan kepada masyarakat bahwa sekolah bukanlah satu-satunya cara untuk mencari ilmu, mereka hanya mengandalkan dari membaca sehingga menjadi orang sukses.

      Dari kalangan intelektual misalnya bisa diperanakan oleh Dr. Yudi Latif, direktur Reform Institut, yang asalnya seorang kutu kupret karena menjadi kutu buku dan akhirnya menjadi orang. Karena saya kenal betul perjoeangan beliau, dia dapat dijadikan sebuah contoh yang baik untuk membuktikan bahwa kutu buku merupakan katalis yang sangat ampuh untuk mentransformasi “lingkaran setan” kemiskinan menjadi “lingkaran malaikat” kemakmuran dan kesejahteraan.

      Ketiga pribadi di atas adalah sosok-sosok yang pantas untu dijadikan manusia model dalam membaca. Selain itu juga, mereka semuanya tidak partisan atau milik masyarakat bukan milik kelompok, golongan, atau partai tertentu.

      Sudah saatnya masyarakat diarahkan untuk dapat membedakan mana yang baik dan mana yang menarik. Juga untuk memberikan informasi yang berupa tuntunan bukan hanya sekedar tontonan. Hanya ada satu cara yang sudah pasti untuk mensejahterakaan rakyat Indoneisa yaitu dengan beternak “kutu buku” sebanyak-banyaknya. Mudah-mudahan duta baca Indonesia yang akan datang bisa memerankan diri dengan baik, benar dan menarik sehingga kutu buku dapat berkembang denga pesat di tanah air tercinta ini.

      Comments
      Hasriadi  - Baru sadar     |2010-03-11 16:48:46
      terima kasih... betul juga baru sadar sekarang.. betul kita hanya salut karena
      keartisannya bukan dari apa yang telah diperbuatnya... mudah-mudahan ada DBI
      yang lebih baik lagi...
      murad  - Harusnya jangan TY   |2010-06-06 01:30:20
      Sepakat, dari dulu saya tidak pernah setuju tantowi yahya dijadikan icon DBI.
      Kurang pas. Masih banyak tokoh-tokoh lain yang lebih pantas dari Tantowi Yahya.
      Irman Sitepu,  - Dukung & Mendukung Dia Membuktikannya   |2011-05-05 18:52:12
      Hayo kita dukung dia membuktikannya,... di Golkar apa ada yang di perbuat Untuk
      BUKU ???,... kita Nantikan JAWABnya 2 Minngu lagi (next) dalam realisasi Metode
      SITEPU [sistem Terpadu Penyelesaian Persamaan Umum ]!
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Thursday, 10 December 2009 10:32  

      Items details

      • Hits: 8123 clicks
      • Average hits: 67.7 clicks / month
      • Number of words: 3973
      • Number of characters: 33310
      • Created 10 years ago at Thursday, 10 December 2009 by Administrator
      • Modified 10 years ago at Thursday, 10 December 2009 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 69
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9127075
      DSCF8803.jpg

      Kalender & Agenda

      December 2019
      S M T W T F S
      1 2 3 4 5 6 7
      8 9 10 11 12 13 14
      15 16 17 18 19 20 21
      22 23 24 25 26 27 28
      29 30 31 1 2 3 4

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC