.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Menumbuhkan Dan Merawat Semangat Membaca

      Oleh:

      Suherman

      Pada tulisan lain saya telah dibahas bagaimana membangun kebiasaan membaca pada anak melalui pengkondisian yang semuanya memerlukan peran orang tua atau orang dewas. Sebenarnya ada fakta yang mengemukakan bahwa banyak orang yang memilii semangat membaca yang membara tanpa dikondisisan sejak dini, akan tetapi tumbuh pada saat sudah dewasa atau remaja. Misalnya yang dialami oleh para founding father seperti Mohammad Hatta, Sahrir, Tan Malaka, dan lain-lain. Mereka semua tidak memiliki lingkungan yang kondusif untuk membaca. Mereka tidak pernah dibacakan cerita, tidak memilki lingkungan keluarga atau sekolah yang sebagaiamana diceritakan di atas. Akan tetapi mereka semua memiliki tradisi membaca yang baik. Seolah-olah semangat itu muncul dengan sendirinya dari dalam diri mereka. Bagimanakah menjelaskan kondisi seperti ini.

      Apabila kita menganalisis sejarah atau biografi mereka, sebenarnya semangat membaca mereka pun terangsang dari lingkungan. Mereka semua mengalami atau merasakan kehidupan di alam kolonial pada waktu itu. Mereka berhadapan langsung dengan kekejaman rezim kolonialisme yang akhirnya membangkitkan kesadaran untuk melawan. Dalam terminologi Paulo Freire hal ini disebut dengan pendidikan hadap masalah (problem-posed). Untuk melakukan peerlawanan tidak bisa melalui jalan komprontatif dengan menggunakan kekuatas fisik atau senjata. Maka yang dapat dilakukan untuk keluar dari penindasan adalah dengan menggunakan senjata pendidikan atau ilmu pengetahuan.

      Dari mempelajari biografi orang-orang besar yang saya lakukan ada berapa hal yang bisa diterapkan untuk menumbuhkan semangat membaca terutama di kalangan para remaja dan orang dewasa (andragogi).

      Pertama, menumbuhkan kesadaran. Tentu saja dengan jalan melakukan penyadaran. Yang dimaksud penyedaran di sini adalah sebuah proses di mana membuat seseorang sadar atas diri dan situasinya yang kemudian akan membuka jalan untuk berusaha mengubahnya. Menumbuhkan kesadaran sangat perlu sebagai langkah awal dari bangkitnya motivasi membaca. Kesadaran merupakan kunci yang harus dimiliki seseorang agar perubahan dapat tercapai. Dengan adanya kesadaran yang dimiliki, maka seseorang akan sangat mudah untuk menyelesaikan problem-problem pribadi atau sosial yang ada di masyarakat. Dalam proses penyadadaran ini seseorang akan dihadapkan dengan berbagai macam problematika sosial seperti kemiskinan, pengangguran, konflik, persaingan dan lain-lain yang khususnya tengah terjadi di Indonesia. Mereka diajak terlibat untuk bersama-sama membaca secara kontekstual lingkungan sosial yang senantiasa mengepung kehidupannya setiap hari. Mereka diposisikan sebagai subyek bukan obyek dan menjadikan realitas sosial sebagai materi pembelajaran. Pembelajaran diberikan dengan pendekatan dialogis yang berorientasi pada terwujudnya kesadaran kritis. Mereka dibimbing untuk memasuki tiga jenis kesadaran, sebagaimana digolongkan oleh Pauolo Freire, yaitu kesadaran magis (magical consciousness), kesadaran naif (naival consciousness) dan kesadaran kritis (critical consciousness). (1) Kesadaran Magis yakni suatu kesadaran masyarakat yang tidak mampu melihat kaitan antara satu faktor dengan faktor lain. Kesadaran magis dibangkitkan dengan mengatikan bahwa kegiatan membaca sebagai sebuah pekerjaan suci yang dititahkan oleh agama (teologi membaca). (2) kesadaran naif: keadaan yang dikatergorikan dalam kesadaran ini adalah lebih melihat “aspek manusia” sebagai akar penyebab masalah masyarakat. Masalah etika, kreativitas dan need for achievement dalam kesadaran ini di anggap sebagai penentu perubahan.. Jadi dalam menganalisis penyebab kemiskinan masyarakat, kesalahannya terletak di masyarakat sendiri. Masyarakat dianggap malas membaca, tidak memiliki kewiraswastaan atau tidak memiliki budaya membangun dan seterusnya. (3) kesadaran kritis, kesadaran ini lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah. Pendekatan struktural menghindari “blaming the victims” (menyalahkan korban) dan melakukan analisis kritis untuk menyadari struktur dan sistem sosial, politik, ekonomi dan budaya serta akibatnya terhadap keadaan masyarakat. Tidak tumbuhnya budaya membaca yang baik di masyarakat disebabkan karena ketidakpedulian pemerintah dalam menyediakan infrstruktur seperti buku, perpustakaan, anggaran, dan lain-lain.

      Seseorang belum bisa dikatakan sadar apabila belum mengetahui keadaan (realitas) yang sedang dialaminya, serta belum mau merubah keadaan tersebut menjadi lebih baik. Dalam proses penyadaran ini akan ditekankan bahwa yang sangat bertanggung jawab atas masa depan adalah dirinya sediri.

      Hasil akhir yang diinginkan dari proses penyadaran ini adalah adanya perubahan paradigma—yang merupakan sumber dari sikap dan perilaku manusia. Perubahan paradigma ini akan mampu menggerakaan seseorang dari satu cara melihat dunia ke cara yang lain. Hanya dengan perubahan paradigma inilah yang akan menghasilkan perubahan budaya membaca yang kuat dalam masyarakat. Yang tadinya tidak perduli terhadap berbagai macam persoalan sebagai efek dari rendahnya budaya membaca, menjadi merasa bertanggung jawab dan siap untuk mengambil peran.

      Kedua, Membangun mimpi atau visi hidup. Setelah terjadinya perubahan paradigma, langkang selanjutnya untuk mengarah hidup adalah dengan menetapakan visi pribadi atau membangun sebuah mimpi. Yang dimaksud dengan mimpi di sini adalah merupkan sebuah proyeksi atau imajinasi atau cita-cita atau daya khayal seseorang untuk diperjuangan di masa depan. Bukan mimpi yang merupakan “bunga” pada saat kita tidur atau lamunan. Mimpi sangat perlu dimiliki seseorang sebagai suatu penuntun arah akan ke mana dia berjalan di hari depan. Mimpi juga sangat diperlukan supaya seseorang dapat mempunyai perencaran hidup.

      Mimpi merupakan salah satu faktor yang dapat membangkitkan motivasi seseorang, termasuk motivasi membaca. Sebuah mimpi atau cita-cita yang sudah benar-benar menjadi pilihan akan membuat seseoranga termotivasi untuk menggapainya terlepas dari apapun yang menghalangi dirinya, sebagaimana yang dikatakan oleh Fred Polak: “Faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan peradaban-peradaban dunia adalah ‘visi kolektif’ yang dimiliki oleh para individunya mengenai masa depan mereka".

      Sebagian besar kegagalan, baik dalam skala pribadi maupun komunal, adalah diakibatkan oleh kegagalan menetapkan visi. Dan sebaliknya, visi yang jelas merupakan langkah awal untuk mencapai sukses. Sebuah visi secara sederhana dapat dirumuskan hanya dengan sebuah pertanyaan: “Apa sebenarnya yang kuinginkan?”. Atau bisa juga dengan mereka-reka masa depan yang diinginkan dalam khayalan bahkan dalam mimpi. Tanpa visi, kehidupan seseorang tidak akan memiliki arah yang jelas dan proaktif dalam memaksimalkan dan mengoptimalkan potensi dirinya.

      Visi dapat membuat seseorang menciptakan realitas, tidak hanya beraksi terhadap realitas tersebut. Kegunaan lainnya adalah dalam menanggapi berbagai rintangan yang menghadang. Apabila visi yang dimiliki adalah sebuah visi yang jelas dan juga besar, maka rintangan akan dipandang sebagai tantangan bukan penghalang.

      Dalam sakala yang lebih besar baik itu berupa korporasi ataupun negara, visi sama pentingnya sebagaimana dalam invdividu. Dalam korporasi, visi menggambarkan tingkat keadaan organisasi yang diinginkan di masa depan (Kartajaya, 2002: 669). Referensi dari visi adalah sebuah imajinasi, mimpi, atau khayalan tentang masa depan. Kalau orang telah memiliki sifat-sifat seperti itu, maka ia disebut orang yang visioner. Orang ini akan menjadi daya tarik, menggerakkan, dan menjadi sumber insprirasi.

      “Kepemimpinan yang baik itu artinya mengetahui sebarapa banyak dari masa yang akan datang boleh diperkenalkan kepada masa kini.”. kata Peter Burwash. Masa yang akan datang selalu menjadi milik orang-orang yang melihat kemungkinan-kemungkinan jauh sebelum mereka menjadi kenyataan. Orang-orang ini mempunyai visi mengenai sesuatu yang dapat menjadi kenyataan, dan kemudian berusaha membuatnya menjadi kenyataan. Orang besar selalu berpikir melampaui zaman. Dia adalah manusia-manusia yang dilahirkan untuk masa depan. Tabiatnya adalah tidak pernah puas dengan apa yang telah tercapai hari ini.

      Orang-orang besar selalu memiliki semangat yang tak terkekang yang dibawa dari lahir. Mereka berani melangkah maju sebagai perintis. Mereka selalu yakin bahwa apa-apa yang akan terjadi di masa yang akan datang itu tidak pasti atau tidak bisa diketahui, dan karenanya penuh dengan ketidakpastian yang amat besar. Namun, orang-orang besar selalu terampil berantisipasi yang akhirnya mampu mengendalikan masa depan mereka.

      Ary Ginanjar Agustian mengatakan bahwa visi merupakan sumber kekuatan dari semua perubahan baik skala individu maupun skala institusi besar seperti negara. Setiap kemajuan peradaban untuk menjadi bangsa besar atau setiap perusahaan global multinasional pasti diawali dengan penetapan visi yang kemudian diyakininya sehingga menjadi ciata-cita tertinggi yang harus diperjuangkan apapun tebusannya (Agustian, 2007).

      Dr. Charles Garfield telah mengadakan penelitian ekstensif tentang orang-orang yang berprestasi puncak, baik dalam olah raga maupun bisnis, Ia terpesona dengan prestasi puncak pekerjaannya dengan program NASA, mengamati para astronot melatih diri di bumi, berulang-ulang dalam ruang simulasi sebelum mereka berangkat keluar angkasa. Walaupun ia memiliki gelar doktor dalam matematika, ia memutuskan untuk kuliah kembali dan mendapatkan satu gelar lagi, doktor dalam bidang psikologi dan mempelajari karakteristik orang-orang yang berprestasi puncak. Salah satu dari hal utama yang diperlihatkan dari penelitiannya adalah bahwa hampir setiap atlet kelas dunia dan orang-orang yang berprestasi lainnya adalah mereka melakukan visualisasi. Mereka melihatnya, mereka merasakannya, mereka mengalami­nya sebelum mereka benar-benar melakukannya. Mereka memulai dengan tujuan akhir di benaknya.

      Thomas A. Edison adalah penjual koran di kereta api, John D. Rockefeller hanya mempunyai upah enam Dollar perminggu. Julius Caesar menderita penyakit ayan. Napoleon punya orang tua kelas rendahan dan jauh dari kategori cerdas (peringkat empat puluh enam di akademi militer dalam kelas dengan siswa enam puluh lima orang). Beethoven seorang yang tuli, sama seperti Thomas A. Edison. PIato berpunggung bungkuk dan Stephen Hawkings lumpuh.. Apa yang memberi orang-orang besar ini stamina untuk mengatasi kekurangan mereka yang cenderung di bawah rata-rata ini menjadi orang-orang yang sukses? Setiap orang mempunyai impian dalam batin yang menyalakan api yang tidak dapat dipadamkan. Hubert H. Humprey mengatakan: "Apa yang anda lihat adalah apa yang anda bisa capai." Konrad Adenauer benar ketika dia berkata, ”Kita semua hidup di bawah langit yang sama, tetapi tidak semua orang punya cakrawala yang sama."

      Segala sesuatu diciptakan dua kali. Ciptaan pertama adalah ciptaan imaginasi di dalam alam pikiran, dan ciptaan kedua adalah ciptaan nyata pada alam fisik. Ketika seseorang arsitek merancang sebuah gedung, maka ciptaan pertamanya adalah sebuah "rencana", dan ciptaan keduanya adalah bangunan itu sendiri. Begitu juga kehidupan manusia. Ciptaan pertama rnereka adalah visi dan ciptaan kedua adalah masa depan mereka sendiri.

      Visi adalah suatu pandangan ke depan. Apabila pandangan mata hanya mampu melihat sebatas mata memandang yang jangkauannya sangat terbatas, maka visi adalah suatu pandangan tanpa batas, yang mampu menernbus ruang dan waktu. Visi itulah pembimbing hidup kita. Visi adalah sebuah autopilot. (Agustian, 2007)

      Menurut Anis Matta (2007) semua karya besar yang memenuhi lembaran sejarah ummat manusia bermula dari imajinasi. Ini bukan hanya ada di dalam dunia kepahlawanan militer, melainkan merata dalam semua bidang kepahlawanan. Temuan-temuan ilmiah selalu didahului oleh imajinasi.: jauh sebelum dilakukannya pengujian di laboratorium ; jauh sebelumnya adanya perumusan teori. Maka, fiksi-fiksi ilmiah selalu menemukan konteksnya di sini : bahwa mercusuar imajinasi telah menyorot seluruh wilayah kemungkinan, dan apa yang harus dilakukan kemudian adalah tinggal membuktikannya. Studi-studi futurologi juga menemukan konteksnya di sini. Memang, selalu harus ada bantuan data-data pendahuluan. Namun, data-data itu hanyalah bagian dari sebuah dunia yang telah terbentuk dalam ruang imajinasi.

      Para pemimpin bisnis dan politik serta tokoh-tokoh pergerakan dunia juga menemukan kekuatan mereka dari sini. Bahwa apa yang sekarang kita sebut visi dan kreativitas adalah ujung dari pangkal yang kita sebut iamjinasi. Bacalah biografi Bill Gates atau Ciputra, maka Anda akan menemukan seorang pengkhayal. Bacalah biografi John F. Kennedy atau Soekarno, maka Anda juga akan menemukan seorang pengkhayal. Bacalah pula biografi Sayyid Quthb, maka sekali lagi Anda akan menemukan seorang pengkhayal. Dalam dunia pemikiran, kebudayaan, dan kesenian, imajinasi bahkan menjadi tulang punggung yang menyangga kreativitas para pahlawan di bidang ini.

      Kekuatan imajinasi sesungguhnya terletak pada beberapa titik. Pertama, pada wilayah kemungkinan yang tidak terbatas, yang terangkai dalam ruang imajinasi. Itu membantu kita untuk berfikir holistik dan komprehensif, menyusun peta keinginan dan menentukan pilihan-pilihan tindakan yang sangat luas. Kedua, optimisme yang selalu lahir dari luasnya ruang gerak dalam wilayah kemungkinan serta banyaknya pilihan tindakan dalam segala situasi. Ketiga, imajinasi membimbing kita bertindak secara terencana oleh karena ia menjelaskan ruang dan memberi arah bagi apa yang mungkin kita lakukan.

      Akan tetapi, imajinasi tentu saja bukan mukjizat. Harus ada kekuatan lain yang menyertainya agar ia efektif. Yang jelas, Anda mau belajar menjadi ‘pengkhayal ulung’, barangkali Anda telah memiliki sebagian dari potensi ledakan kepahlawanan” (Tarbawi, 30 Juni 2001).

      Salah satu kelemahan orang Indonesia adalah kurangnya daya khayal atau mimpi dalam dirinya. Padahal, khayalan akan melahirkan kreativitas dan produktivitas. Tidak ada suatu bangsa yang mampu eksis tanpa ide-ide besar” demikian kata Fyodor Dostoevsky (1821-1881) novelis besar dari Rusia. Mimpi ibarat ibu hamil yang akan melahirkan inspirasi dan inovasi. Kalau kita perhatikan ternyata lembaran-lembaran sejarah ditulis oleh para pemimpi. Apakah mereka itu usahawan, negarawan, ilmuwan, maupun budayawan.

      ” Buku-buku motivasi dan pengembangan kepribadian selalu mendoktrin kita : Mulailah dari mimpi, karena kebesaran selalu bermula dari sana. Kalimat itu telah menjadi sebuah ‘sabda’ yang diriwayatkan oleh para motivator dan inovator dalam beerbagai pelatihan manajemen, mereka seperti menemukan sumber energi bagi kemajuan mereka. Mimpi adalah kata yang menyederhanakan rumusan dari segenap keinginan-keinginan kita, cita-cita yang ingin kita raih dalam hidup, atau visi dan misi. Anggapan ia seperti sebuah maket, ia adalah miniatur kehidupan yang ingin Anda ciptakan.

      Kekuatan mimpi terletak pada kejelasannya. If you have a clear vision you’ll even forget your breakfast” kata Bill Gates pendiri Microsoft yang juga menjadi salah seorang terkaya di dunia. Sebuah keinginan yang tervisualisasi dengan jelas dalam benak kita akan menjelma menjadi kekuatan motivasi yang dahsyat. Kemauan dan tekad menemukan akarnya pada mimpi kita. (Tarbawi, 31 Juli 2001).

      Michelangelo (1475-1564) maestro seni patung mengatakan, “ancaman terbesar bagi keberhasilan hidup kita bukan berasal dari menggantungkan cita-cita setinggi langit tak mampu mencapainya secara penuh, namun berasal dari pematokan cita-cita terlalu datar hingga mudah mencapainya.” Maka tidak heran apabila Soekarno mengucapkan kata-kata yang sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia, “ gantungkanlah cita-citamu setinggi langit!” Tidak ada masalah, karena menurut Peter F. Drucker, sang manajemen guru, “ Cita-cita bukanlah takdir, tapi sebuah penunjuk arah. Ia bukan perintah, tapi komitmen. Ia tak menetukan masa depan, melainkan wahana untuk menggerakkan sumber daya dan energi bagi usaha membangun masa depan. “

      “Negeri kita kaya, kaya, kaya-raya, Saudara-saudara. Berjiwa besarlah, ber-imagination. Gali! Bekerja! Gali! Bekerja! Kita adalah satu tanah air yang paling cantik di dunia.” (Soekarno, 1901-1970; kutipan pidato di Semarang, 29Juli 1956).

      Ketiga, alat untuk menggapai mimpi adalah pengetahuan yang diperoleh dari hasil membaca. Keberhasilan menjelmakan mimpi menjadi kenyataan sangat tergantung kepada sikap dan persepsi kita terhadap mimpi tersebut. Persepsi adalah kumpulan informasi yang membetuk pemahaman dan kesadaran kita tentang sesuatu. Akan tetapi, mimpi itu juga akan terwujud manakala manakala ia telah masuk dalam wilayah kesadaran kita. Maka, kita bukan hanya sekedar memiliki mimpi, tetapi kita sadari keberadaannya. Dengan dasar itu, kita menentukan kedudukannya (persepsi) dan kemudian menentukan bagaimana cara mensikapinya.

      Jadi, kesadaran, mimpi, dan pengetahuan—yang didapat dari membaca—adalah tiga serangkai kegiatan untuk menumbuhkan dan merawat semangat membaca supaya terus bergelora di dalam dada.

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 391 clicks
      • Average hits: 18.6 clicks / month
      • Number of words: 6246
      • Number of characters: 52629
      • Created one month and 9 months ago at Thursday, 23 February 2017 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Google+ Facebook Twitter mail SC