.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      KOMPAS, 04-04-2010

       

      PEMIKIRAN SOEDJATMOKO

      Menjadi Bangsa Pembelajar


      Judul di atas dipungut dari usul Dr Karlina Supelli, yang disampaikan dalam diskusi buku Menjadi Bangsa Terdidik, Menurut Soedjatmoko dan buku Asia di Mata Soed­jatmoko di Balai Soedjatmoko, Solo, 11 Januari 2010. Tampil bersama Prof Dr Mohtar Mas'oed, Karlina usul judul bu­ku Menjadi Bangsa Terdidik diganti Menjadi Bangsa Pembelajar.

      Pembelajar menekankan pro­ses yang tidak pernah selesai, lebih dari kata terdidik. Orang kerap merasa sudah selesai karena sudah berpendidikan, su­dah menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu. Untuk pembelajar, kata Karlina, Soedjatmo­ko menggunakan kata-kata "kemampuan kolektif seluruh bangsa untuk belajar", seraya menegaskan "keharusan untuk belajar bersama terus-menerus".

      Catatan singkat ini tidak ingin mempersoalkan relevan tidaknya pemikiran Soedjatmoko. Itu sudah merupakan keniscayaan. Tetapi, mau menggarisbawahi usul Karlina. Tidak terutama menyangkut judul buku, tetapi tentang perlunya paradigma tidak sampai tingkat metodologi memberi tempat pada pemikiran-pemikiran menerobos terbang tinggi. Cara berpikir ini mungkin tidak langsung memberikan solusi atas persoalan aktual; melainkan lebih mengajak orang memiliki pemahaman mendalam, sehingga paham betul duduk soalnya, sementara solusi diharapkan muncul dari hasil eksplorasi persoalan.

       

      Jagat pemikiran

      Setelah satu per satu pemikir menerobos terbang tinggi meninggal dan jagat pemikiran didominasi pragmatisme (Peirce dan William James), semua pe­mikiran yang berkembang belakangan ini langsung menampilkan solusi, menawarkan jalan keluar tanpa lebih dulu mengkajinya dari berbagai dimensi dan nuansa. Cendekiawan dan ilmuwan Indonesia, apalagi politisi praktis, tidak jauh beda da­ri aktivis. Yang kita saksikan tak ada lagi pemikir-pemikir besar semacam Sartono Kartodirdjo, memungut contoh yang namanya identik dengan penganjur mes ubud, asketisme intelektual.

      Asketisme intelektual, ya itulah kata suci yang telah dihidupi Soedjatmoko. Lewat pemikiran-pemikiran yang menjebol de­ngan berpijak pada kemanusiaan dalam konteks sosialitas masyarakat manusia, ia terus-me­nerus belajar.

      Pendidikan dalam konsep Soedjatmoko adalah ranah un­tuk berbagi pengalaman batin dengan sesama anggota masya­rakat. Tidak ada satu pun per­soalan bangsa yang lepas dari perhatian, telaah, dan tawaran jalan keluarnya. Peristiwa 1965-1966, ada yang mengkritik lepas dari perhatian Soedjatmo­ko, bagi Soedjatmoko menunjukkan rapuhnya struktur sosial masyarakat majemuk Dari sana muncul keyakinan tentang ke butuhan mekanisme efektif bagi resolusi konflik dan ketangguhan sosial, tepatnya daya lenting (rgsifience.) masyarakat. Daya penting membuat sebuah bangsa bertahan bukan karena paksaan stabilitas dari luar diri, melain­kan bersumber dari dalam dirinya.

      Uraian Karlina mengingatkan sosok Soedjatmoko lewat karya-karyanya, masih banyak yang belum dipublikasikan dan tersimpan rapi di rumah keluarga, juga pertemuan-pertemuan secara fisik dalam berbagai kesempatan selagi Soedjatmoko Pak Koko masih hidup TCLCT Januari 1922-meninggal 21 Desember 1989).

      Satu di antaranya harapan Koko terhadap peranan agama untuk mengatasi berbagai persoalan dunia. Tentu ini hanya salah satu proses belajar, saat ia menyaksikan persoalan keprihatinan yang membelit dunia. Di­sampaikan dalam sebuah semi­nar terbatas, di Wisma Kompas, Facet, 1-2 September 1989.

      Dalam diskusi itu Koko mengisahkan pertemuannya de­ngan Paus Yohanes Paulus II di Roma dengan topik nilai hak asasi manusia. Waktu yang disediakan 10 menit, tetapi pertemuan berlangsung sampai sa­tu jam lebih. Di antaranya mereka berdua sepakat, para agamawan sudah lama dijajah oleh para pakar. Para pakar telah mendefinisikan masalah-masalah yang dihadapi, sementara yang seharusnya para agamawan merumuskan lebih dulu masalah dari segi moral dan baru para pakar memberikan jawaban. Para agamawan sendiri tidak mampu merumuskan persoalan hak-hak dasar manusia dan angkat tangan terhadap kemerosotan moral yang terjadi.

      Apa makna sepotong kisah di atas? Koko senantiasa berpikir keras untuk kemajuan bangsa ini, bahkan nyaris jadi obsesi yang terlihat dari serakan warisan karyanya. Baginya ilmu harus bermanfaat untuk perubahan dan perbaikan hidup ma­syarakat, sama seperti yang dianjurkan Antonio Gramsci un­tuk sebutan intelektual organis. Meskipun Koko masuk dalam kategori itu, tentu simpel sekali kalau lantas dia dimasukkan da­lam kelompok intelektual orga­nis. Koko, dalam memberikan gambaran dan menawarkan ja­lan keluar, jauh dari maksud dan latar belakang sebagai penasihat pemerintah. Memang il­mu pengetahuan harus berman­faat bagi kemajuan masyarakat dan pemikiran-pemikiran yang dijabarkannya dimaksudkan ju­ga untuk kebijakan pemerintah dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

      Yang  terlihat, pemikiran Ko­ko bercabang-cabang, antara kepentingan individu dan kepentingan kolektif, antara jalan agama dan nonagama, antara rasionalitas nalar dan irasionalitas emosi, antara tradisi dan modernitas. Kedua entitas itu merupakan dua kutub sebagai realitas yang niscaya, menjadi pembatas ruang terbuka bagi pemikiran-pemikiran menerobos, terayun-ayun dalam sebuah irama yang padu untuk kemajuan masyarakat.

      Dalam berpikir, Koko tidak melupakan faktor sejarah. Dia bukan seorang ahistoris istilah yang kemudian diperkenalkan di Indonesia oleh, antara lain, Arief Budiman. Realitas sejarah dia taruh sebagai bagian dari ber­pikir yang holistik, tidak sepenggal-sepenggal hanya demi kepentingan pragmatis. Meminjam istilah Karlina mengacu pada kebutuhan saat ini, Koko barangkali seorang sosok yang diharapkan oleh Daoed Joesoef sebagai "seorang spesialis dalam konstruksi keseluruhan". Koko tampil sebagai pemikir tidak ha­nya lewat pendekatan multidisiplin atau lintas disiplin, tetapi terutama pendekatan transdisiplin, peleburan berbagai disip­lin keilmuan dalam satu pengertian untuk membentuk keterpaduan pendekatan mengenai suatu masalah.

      Konstruksi keseluruhan

      Dalam karya-karya Koko, termasuk yang dibukukan dalam asm di Mata Soedjatmoko, kata panelis Mohtar Mas'oed, terlihat politik sebagai sarana penting menyelesaikan persoalan publik. Politik adalah panggilan, bukan sekadar profesi yang hanya me-merlukan kepiawaian memenangi pemilu.

      Demokrasi bagi Koko adalah variabel independen bahwa ke-majuan kehidupan materil tidak mungkin tercapai tanpa kemerdekaan berpikir, berbalikan dengan pengartian umum bah­wa demokrasi sebagai variabel depende demokrasi bergantung pada tingkat kemajuan ekonomi, kesejahteraan masya­rakat, tingkat pendidikan, dan stabilitas keamanan. Demokrasi bukan juga sekadar masalah kebijakan publik. Demokrasi memerlukan praktik politik demokratik dan itu memerlukan politisi.

      Ya, dari sisi ini Koko juga seorang politisi. Lewat posisinya sebagai cendekiawan dia menawarkan solusi dengan cara mengajak setiap individu berusaha menemukan solusi. la pun ibarat seorang pendidik yang mengajak masyarakat berpikir tentang posisi manusia Indone­sia di tengah masyarakat dunia. Karena itu, analisisnya selalu aktual, tidak dalam arti perso­alan, tetapi dalam arti cara mendekati soal.

      Cara berpikir demikian membuat pemikiran Koko selalu terarah untuk kebaikan umum, menjadi metode mendekati per­soalan aktual. Sosok Soedjatmoko tidak saja tampil ilmuwan asketis, tetapi juga ilmuwan yang berangkat dengan empati atas kekerdilan bangsa Indonesia.

      Dengan pe­mikiran seperti itulah tanpa sadar, ia tampil sebagai fururolog semacam Alfin Toffler dan Paul Aburdene. Jabatan dua periode sebagai Rektor Universitas PBB memberikan kesempatan bagi Soedjatmoko untuk mengenal manusia dan masyarakat manu­sia sebagai entitas yang harus dipahami bersama, bukan terkotak-kotak, yang obses bagi ke­majuan bersama.

       

       

      Comments
      zian   |2012-12-26 21:38:10
      good
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:29  

      Items details

      • Hits: 1538 clicks
      • Average hits: 19 clicks / month
      • Number of words: 4792
      • Number of characters: 39989
      • Created 6 years and 9 months ago at Monday, 27 February 2012 by Administrator
      • Modified 5 years and 6 months ago at Thursday, 30 May 2013 by Suherman

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 130
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091493
      DSCF8798.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC