.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Tempo 1 Februari  2010

      Mengkaji Kembali Upaya Pemberantasan Kemiskinan

      Tahun lalu Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mengumumkan peningkatan jumlah rakyat yang menderita kelaparan di dunia selama dekade terakhir ini. Pada 2008, Bank Dunia mengumumkan penurunan yang berarti jumlah rakyat miskin sampai 2005. Tapi, jika kemiskinan didefinisikan terutama dalam arti pendapatan uang yang dibutuhkan untuk menghindari kelaparan, bagaimana kedua pengumuman FAO dan Bank Dunia itu bisa dipertemukan?.

      Menurut garis kemiskinan intemasional "satu dolar sehari"yang dibuat Bank Du­nia, yang kemudian direvisi pada 2008 menjadi US$ 1,25 sehari berdasarkan harga-harga pada 2005, maka masih terdapat 1,4 miliar orang yang hidup dalam kemis­kinan, turun dari 1,9 miliar pada 1981. Namun, karena sebagian besar penurunan itu terjadi di Cina, sekurang-kurangnya terda­pat pertambahan 100 juta orang yang hi­dup dalam kemiskinan di luar Cina pada 2005 dibanding pada 1981.

      Di Afrika subSahara dan beberapa bagian Asia, angka kemiskinan dan kelapar­an tetap tinggi. Badan-badan intemasional memperkirakan lebih dari 100 juta orang jatuh miskin akibat meningkatnya harga pangan selama 2007-2008, sementara krisis keuangan dan ekonomi pada 2008-2000 menyebabkan bertambahnya rakyat miskin sebanyak 200 juta orang. Lambannya pemulihan tersedianya lapangan kerja serta downturn ekonomi yang melanda dunia tetap merupakan tantangan utama upaya pengentasan masyarakat dari kemiskinan pada tahun-tahun yang akan datang.  

      Sementara itu, kontroversi mengenai ukuran-ukuran yang digunakan terus menimbulkan keraguan mengenai kemajuan sebenarnya yang tercapai dalam upaya pemberantasan kemiskinan. Setelah diadopsinya definisi yang lebih luas menge­nai kemiskinan oleh Social Summit pada 2005, yang mencakup deprivasi, eksklusi sosial, dan peniadaan keikutsertaan, situasinya sekarang mungkin bahkan lebih buruk daripada yang dinyatakan menurut garis kemiskinan berdasarkan pendapatan.

      Ketidaksetaraan tampaknya telah meningkat pada dekade-dekade terakhir ini pada tingkat intemasional dan di sebagian besar negara di dunia. Lebih dari 80 persen penduduk dunia hidup di negara-negara di mana perbedaan pendapatan sema-kin lebar. Rakyat paling miskin, yang merupakan 40 persen dari penduduk di du­nia, menikmati hanya 5 persen dari penda­patan di dunia, sementara mereka yang kaya, yang merupakan 20 persen dari pen­duduk di dunia, menikmati 75 persen dari pendapatan tersebut.

      Beragamnya pencapaian upaya pembe­rantasan kemiskinan menimbulkan pertanyaan akan ampuhnya pendekatan konvensional yang selama ini dilakukan. Negara-negara dianjurkan menggantikan strategi pembangunan nasional dengan globalisasi, liberalisasi pasar, dan privati-sasi. Bukannya menghasilkan pertumbuh-an yang cepat dan berkesinambungan serta stabilitas ekonomi, kebijakan-kebijakan ini justru membuat negara-negara tersebut lebih rentan terhadap tekanan negara-ne­gara kaya dan tingkah laku lembaga-lem-baga keuangan intemasional yang tidak konsisten, serta tidak stabilnya situasi du­nia. yang semuanya semakin kerap dan semakin parah akibat deregulasi.

      Pelajaran paling penting yang diperoleh menunjukkan perlunya pertumbuhan yang ,cepat dan berkesinambungan, serta transformasi struktural ekonomi. Pemerintah perlu memainkan peran pembangunan, de­ngan melaksanakan kebijakan yang. terpadu guna mendukung pertumbuhan produksi dan penyediaan lapangan kerja yang inklusif, serta mengurangi ketidaksetaraan yang memajukan keadilan sosial.

      Kedekatan semacam itu perlu dibarengi dengan kebijakan teknologi dan invistasi di bidang industri yang layak serta dengan penyediaan fasilitas keuangan yang inklusif guna mendukung kebijakan-kebijakan tersebut. Di samping itu, kapasitas produksi yang baru dan berpotensi perlu kembangkan melalui kebijakan mendukung pembangunan tersebut.

      Sebaliknya, tekanan untuk mengurangi peran pemerintah dan meningkatkan ketergantungan pada pasar telah menyebabkan turunnya investasi infrastruktur publik yang tajam, terutama di bidang pertanian. Hal ini tidak hanya merusak pertumbuhan jangka panjang, tapi juga mening­katkan ketidakamanan pangan.

      Para penganjur kebijakan liberalisasi menyebut keberhasilan industrialisasi ne­gara-negara di Asia Timur. Tapi tidak satu pun di antara negara-negara itu telah melakukan liberalisasi ekonomi tanpa kendala. Sebaliknya, pemerintah d negara-negara tersebut memainkan peran pembangunan yang besar dengan mendukung industriali­sasi, pertanian dan jasa yang memberikan nilai tambah yang lebih besar, serta peningkatan kemampuan teknologi dan manusianya

      Transformasi struktural harus sepenuhnya mendorong tersedianya lapangan kerja yang produktif dan layak. Adapun peme­rintah harus memiliki ruang fiskal dan ke­bijakan yang cukup untuk dapat memain­kan peran yang proaktif dan memberikan perhndungan sosial yang universal dan memadang.

      Selama tiga dekade terakhir juga telah terjadi perceraian kebijakan sosial dari strategi pembangunan yang menyeluruh akibat tekanan dikuranginya peran peme­rintah. Strategi pembangunan ekonomi nasional digantikan dengan program pembe­rantasan kemiskinan sesuai dengan kehendak negara-negara donor, seperti sertifikasi tanah, kredit mikro, serta pemasaran model bottom of the pyramid untuk masyarakat miskm.

      Strategi semacam ini tidak berhasil mengentaskan masyarakat dari kemiskin­an secara berarti. Ini bukan untuk menafikan hal-hal positif yang telah diperoleh. Misalnya, kredit mikro telah memberdayakan jutaan wanita, sementara pelajaran penting telah diperoleh dari rancangan dan implementasi program-program terse­but.

      Sementara itu, program-program kemasyarakatan yang universal telah mening­katkan kesejahteraan manusia lebih dari pada program yang dibuat dengan persyaratan dan target tertentu. Namun program bantuan tunai yang bersyarat cukup ber­hasil meningkatkan berbagai indikator pembangunan manusia.

      Sayang sekali, kemiskinan tetap endemik. Lebih dari satu miliar orang sehari-hari masih hidup dalam kelaparan. Diperlukan tindakan yang urgen karena krisis keuangan dan ekonomi akhir-akhir ini, yang terjadi setelah krisis harga pangan sebelumnya, diyakini telah menyebabkan kemunduran lebih lanjut dalam upaya pemberantasan kemiskinan. Ada juga ke-khawatiran yang semakin kuat bahwa per-ubahan iklim bakal lebih mengancam ke-hidupan rakyat miskin.

      Laporan yang diterbitkan dua tahun sekali oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, Report on the World Social Situation (RWSS ^ 2010), yang berjudul "Rethinking Poverty" mengemukakan perlunya upaya pemberantasan kemiskinan dan pengkajian ulang' ukuran mengenai kemiskinan. Bagi rakyat-rakyat miskin di dunia, opsi bminess as usual sama sekali tidak dapat diterima. Kecenderungan yang populer pada dekade-dekade terakhir ini juga terbukti tidak lebih baik. Tidak bakal ada pemberantasan kemiskinan yang riil tanpa pembangunan yang merata dan berkesinambungan. Deregulasi pasar itu tidak mampu mengentas­kan masyarakat dari kemiskinan.

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 1257 clicks
      • Average hits: 15.9 clicks / month
      • Number of words: 3093
      • Number of characters: 28377
      • Created 6 years and 7 months ago at Friday, 20 April 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 128
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091403
      DSCF8768.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC