.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Menggugat Makna Kemiskinan


      Selama bertahun-tahun, isu kemiskinan menjadi perhatian serius dan fokus kajian para sarjana dan perumus kebijakan publik. Kemiskinan dianalisis dari berbagai sudut pandang dan pendekatan guna mendapatkan pemahaman yang utuh. Kemis­kinan bukan gejala sederhana, pun tidak terkait ekonomi semata, tetapi saling terkait dengan masalah lain yang amat kompleks. Para sarjana mencoba merumuskan definisi baru kemiskinan dengan memberi makna melampaui pengertian konvensional yang selama ini dipahami umum.

      Pengertian kemiskinan

      Pengertian konvensional kemiskinari hanya berdimensi tunggal: pendapatan kurang, distribusi kekayaan tidak merata, menyebabkan seseorang atau keluarga ti­dak mampu memenuhi kebutuhan dasar untuk kehidupan sehari-hari. Parameter pokok untuk mengetahui kekurangan pendapatan adalah pengeluaran rumah tangga yang amat rendah, bahkan untuk mencukupi kebutuhan konsumsi.

      Di sini ada dua isu sentral. Pertama, ketersediaan lapangan kerja. Kedua, upah minimum yang menjadi instrumen penting guna melihat tingkat pemerataan dis­tribusi pendapatan. Maka, pendekatan dalam memahami fenomena kemiskinan pun bervariasi.

      Pertama, menggunakan model perbandingan antarlapisan sosial yang bertujuan menjelaskan fakta-fakta empiris perbedaan distribusi pendapatan berdasar kelompok masyarakat. Kedua, menerapkan model regresi guna mengukur upah bekerja berdasar teori modal manusia, merujuk pandangan ahli ekonomi ketenagakerjaan, seperti Becker (1964), Schultz (1963,1971), dan Mincer (1974).

      Pengertian   konvensional   kemiskinan ini lalu dikoreksi. Makna kemiskinan diperluas tak hanya menyangkut kesenjangan pendapatan. Pada pertengahan 1980-an muncul rumusan definisi baru: "Kemis­kinan harus dimaknai: orang, keluarga, dan sekelompok masyarakat yang memiliki   keterbatasan sumber daya material, sosial, dan budaya sehingga menghalangi mereka untuk dapat hidup layak menurut ukuran Pan paling minimal di suatu negara tempat mereka bermukim" (Komisi Eropa, 1984 Ekonom Amartya Sen) juga mengenalkan makna ke­miskinan secara lebih luas, yakni       ketidakmampuan manusia, yang. ditandai pendidikan rendah, tak berpengetahuan, tak berketerampilan, tak berdayaan Bahkan, Sen menyentuh dimensi politik ketiadaan kebebasan dan keterbatasan ruang partisipasi, yang menghalangi warga untuk terlibat proses pengarnbilan kebijakan publik. Dalam situasi demikian, masyarakat ada dalam posisi tidak setara untuk   mendapatkan akses ke sumber-sumber ekonomi produktif sehingga terhalang untuk   memperoleh   sesuatu yang menjadi hak mereka (lihat Deve­lopment as Freedom, 1999).

      Perluasan makna

      Perluasan makna kemiskinan menjadi perdebatan akademik serius di kalangan para sarjana, seperti Schiller: The Econo­mics of Poverty and Discrimination (1995), Sen: Inequality Reexamined (1992), Kanbur & Squire: The Evolution of Thinking about Poverty (2001), Danziger & Haveman? Understanding Poverty (2001), Jenkins & Micklewright: Inequality and Po­verty Reexamined (2007).

      Para sarjana ini menegaskan, kemis­kinan bukan hanya terkait kesenjangan pendapatan atau ketidakmerataan distribusi keka­yaan. Dalam membuat analisis, mereka menggunakan pendekatan multidimensi­onal yang menjangkau aneka masalah besar di balik kesenjangan    pendapatan, seperti dimensi struktural, relasi kekuasaan tak seimbang,   dan  sistem  politik monolitik. Semua itu dipandang sebagai akar permasalahan yang  menyebabkan ketidakmerataan distribusi kekayaan dan kesejahteraan di masyarakat.

      Perubahan makna

      Pemikiran para sarjana dunia itu bertemu pada satu titik: makna kemiskinan bukan lagi ketidakadilan dalam memperoleh pendapatan guna memenuhi kebutuhan konsumsi, tetapi lebih ditekankan pada pemerataan kesempatan untuk mendapatkan hak-hak dasar, yang dimulai sejak manusia lahir. Maka, isu pemenuhan gizi bagi anak balita, kesehatan dan asupan nutrisi bagi ibu hamil, dan kecukupan pangan jadi bagian penting dalam melihat akan makna kemiskinan ini jelas terlihat dalam laporan Bank Dunia, Equity and Development (2006), membahas isu pembangunan sosial dengan pendekatan lintas ilmu dan analisis multidimensional.


      Maka, pengukuran kemiskinan dipandang tidak memadai lagi bila hanya menggunakan indikator tingkat pendapatan per kapita atau per satuan rumah tangga. Karena itu, berbagai kebijakan untuk meningkatkan pendapatan dengan maksud menambah kemampuan daya beli masyarakat, misalnya program bantuan langsung tunai, bukan saja tidak efektif meski dinilai sedikit membantu dalam jangka pendek tetapi tidak menyelesaikan akar ke­miskinan.


      Kesenjangan pendapatan adalah gejala permukaan, sedangkan pangkal kemiskin­an pada ketidakmerataan akses problem struktural ke sumber daya ekonomi serta penguasaan aset dan kapital oleh kelompok kecil masyarakat. Situasi timpang ini melahirkan marjinalisasi, disposesi, deprivasi, dan eksklusi sosial sehingga masalah kemiskinan tak dapat diatasi hanya melalui kebijakan sementara dan sektoral.


      Kebijakan pemberantasan kemiskinan harus menyentuh akar masalah. Untuk itu, kebijakan strategis yang harus ditempuh adalah perluasan dan pemerataan pendidikan, peningkatan layanan kesehatan, pembangunan perumahan, penciptaan lapangan kerja, pembangunan infrastruktur untuk memperlancar transaksi ekonomi dan perdagangan, serta pembangunan daerah untuk mengurangi disparitas eko­nomi antarwilayah.


      Comments
      Bahruddin Mansur  - Menggugat makna kemiskinan   |2012-08-02 21:14:44
      Bermanfaat untuk dijadikan bahan tentang makna kemiskinan secara luas
      Bahruddin Mansur  - Menggugat Makna Kemiskinan   |2012-08-02 21:16:35
      Amat bermanfaat dalam memahami kemiskinan secara luas
      Bahruddin Mansur  - Menggugat Makna Kemiskinan   |2012-08-02 21:18:46
      Kemiskinan bukan hanya jasmani tetapi juga rohani. Dengan perkataan lain adalah
      kerana rusaknya keyakinan kepada Allah swt. yang pada akhirnya kurang keyakinan
      diri
      Alamyin  - Menggugat Makna Kemiskinan     |2012-08-04 00:26:20
      penggalan kalimat terakhirnya bagus. Pembangunan daerah untuk mengurangi
      disparitas ekonomi.
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 6943 clicks
      • Average hits: 87.9 clicks / month
      • Number of words: 2629
      • Number of characters: 22689
      • Created 6 years and 7 months ago at Friday, 20 April 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 138
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091311
      DSCF8794.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC