.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      KOMPAS, 3-09-2009

       

      Kritik Pendidikan

      Oleh AGUS SUWIGNYO

      Meski mewarisi sistem kolonial, pendidikan kita dibangun dan dibesarkan dalam tradisi kritik nasionalis. Pendiri Sarekat Islam, Taman Siswa, Muhammadiyah, dan sekolah-sekolah yang dikategorikan "liar" oleh pemerintah ko­lonial menyandarkan keberhasilan perjuangan politik pada ketangguhan kritik yang dibangun. Kritik menjadi kekuatan perlawanan atas sistem pendidikan yang hegemonik, diskriminatif, dan hanya terpaku pada misi reproduksi kelas sosial.

      Tradisi kritik yang tangguh itu kini luntur atau bahkan lenyap. Indikasinya, semakin deras kritik dilontarkan atas suatu kebijakan pendidikan, semakin keukeuh ke­bijakan dipertahankan. Indikasi ini memiliki dua dimensi. Sikap pembuat kebijakan yang amat kenyal semakin sulit ditembus karena pisau kritik yang tumpul.

      Kunci efektivitas kritik adalah campuran verbalitas, frekuensi kritik, dan rasionalitas substansi. Selain itu perlu disadari, ranah sepublik pendidikan adalah ekosistem aneka kepentingan. Implikasinya, tiap kebijakan dan praktik pendidikan pasti bermuatan politis. Kritik pendidikan yang efektif mengandaikan terbukanya ruang kompromi. Sudahkah ini terperhatikan?

       

      Dua hal

      Ada dua hal yang mendesakkan kebutuhan akan kritikus pendidikan yang tangguh. Pertama, akar krisis pendidikan Indo­nesia (Kompas online, 21/8/2009) bukan hanya hilangnya political will pemerintah untuk melindungi rakyat dari neoliberalisme, tetapi juga absennya kontrol atas kebijakan melalui kritik tajam dan terukur.

      Kedua, jajak pendapat Kompas (24/8/2009) menunjukkan, pemerintahan nanti cenderung su­lit dikontrol karena kuatnya koalisi partai dan lemahnya pengawasan. Hal ini mencuatkan penguatan civil society. Bersama elemen masyarakat (mahasiswa dan LSM), kritikus pendidikan ditantang menjalankan fungsi penyeimbang kebijakan public

      Otokritik

      Selama ini kritik pendidikan cenderung menyorot pemerintah secara bias. Pemerintah menjadi faktor sentral pembuatan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan. Namun, mustahil jika kisruh pendidikan seluruhnya bersumber pada pemerintah.

      Pemerintah yang mana? Dalam anggaran pendidikan, peme­rintah pusat dan daerah senapas desentralisasi dan otonomi. Ujian nasional adalah kebijakan pusat, tetapi juga harus disebut Badan Standar Nasional Pendidikan dan mungkin dinas pendidikan didaerah.

      Sertifikasi guru diatur peme­rintah pusat. Namun, dalam beberapa kasus, seperti terlihat pada surat pembaca, kepala sekolah bertindak sebagai "pemerintah", meramaikan proses sertifikasi.

      Kedua, kritik sering mengabaikan karakter politis pendidikan sebagai ekosistem aneka kepen­tingan. Dalam hal ujian nasional dan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan, ada arah untuk menolak tanpa kompromi. Artinya, sementara mengkritik paradigma kekuasaan, penolakan tanpa kompromi menunjukkan hal yang sama Perspektimya win-lost alihalih win-win.

      Ketiga, banyak kritik kering sajian dan kajian data, mengemuka hanya sebagai wacana, Ini bisa diamati dalam berita dan opini di media sepanjang tahun (misalnya menjelang 2 Mei, 17 Agustus, dan 25 November). Forum diskusi pendidikan sering menjadi ajang curahan hati daripada pembahasan secara substantif.

      Keringnya sajian dan kajian data membuat kritik gagal membangun rasionalitas argumen yang, meski politis, berpijak pada kadar obyektivitas tertentu.

      Membangun tradisi

      Tradisi kritik harus dikembangkan dan kritikus disiapkan. David J Flinders dan Elliot W Eisner (2000) menyebut kritik pendidikan sebagai "pendekatan yang menghidupkan keragarnan dan aneka peluang belajar dalam interaksi dalam ruang kelas". Se­mentara itu, Mary Stokrocki (1991) mengurai sebagaia re­search process of describing, ana­lyzing, interpreting, and evalua­ting an everyday school activity in order to understand it more fully. Pemahaman ini cukup untuk keperluan assessment pengajaran, tetapi belum mengakomodasi konsep kritik dalam konteks hubungan warga dan negara. Maka, tumbuhnya tradisi kritik belum dapat diharapkan melalui cabang ilmu pendidikan seperti evaluasi maupun kebijakan pendidikan.

      Meski demikian, cara struk-tural tetap dapat ditempuh, mi­salnya melalui komponen ana-lisis sosial dalam pengajaran. Ju­ga diperlukan pengenalan lebih luas teks-teks kuliah yang berperspektif filsafati dan historis.

      Lembaga penelitian pendidik­an perlu dikembangkan sebagai think tank. Bagian litbang media massa dan media kampus digiatkan sebagai penyedia data dan kajian agar berita-berita pendi­dikan lebih kritis. Berbagai organisasi guru adalah buah reformasi bertumbuhnya kesadaran politik tentang aneka masalah pendidikan.

      Kesediaan melakukan otokritik merupakan kunci berkembangnya kritik pendidikan tang­guh sebagaimana dilakukan Ki Hadjar Dewantara dan YB Mangunwijaya.

      AGUS SUWIGNYO Pedagog FIB UGM

       

       

      Comments
      naim   |2012-07-10 01:08:45
      memang seharusnya pendidilkan di indonesia perlu dibenahi.
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Monday, 27 February 2012 07:17  

      Items details

      • Hits: 44916 clicks
      • Average hits: 483 clicks / month
      • Number of words: 2587
      • Number of characters: 21090
      • Created 7 years and 9 months ago at Monday, 27 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 9 months ago at Monday, 27 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,797
      • Sedang Online 121
      • Anggota Terakhir Suwardi

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9124534
      DSCF8790.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC