.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Meneliti Budaya Baca Negara Maju:

      Sebuah Impian

      Oleh:

      Suherman

      Survei ini dilakukan di Amerika Serikat: Bertahun-tahun tim merek Diet Coke mengadakan survei untuk mengetahui apa keinginan-keinginan konsumen—yang rata-rata adalah orang orang sibuk. “Tatkala ditanya apa yang mereka sukai, jawaban terbanyak adalah membaca.”[1]

      Ada pengalaman menarik lain yang berasal d ari negara maju lain yang dialami oleh Betsy Sahetapy, pengajar di The Jakarta International School, pada saat dia naik bus sekolah di Finlandia[2]. Setiap hari dia melihat seorang siswi yang membaca buku dalam perjalanan ke sekolah. Karena penasaran Betsy bertanya ”How long does it take you to read a 500-or so page book?” Dia menjawab, “Two or three days.”[3]

      Cerita tentang budaya baca yang sama sering kita dengar dari negara-negara maju lainnya seperti Jepang, Singapura, dan Korea Selatan. Semuanya sangat kontras dengan kondisi budaya baca masyarakat di negara kita yang akan dibahas secara panjang lebar pada bab berikutnya.

      Fakta berbicara kepada kita semua bahwa semua negara maju memiliki budaya baca yang bagus. Bahkan dapat dikatakan bahwa budaya baca yang bagus merupakan syarat utama untuk menjadi negara baju. Amartya Sen, pemenang hadian Nobel dalam bidang ekonomi 1998, dalam bukunya Beyond the Crisis: Devevelopment Startegies in Asia, mengemukakan bahwa Jepang dan Cina bisa bangkit menjadi negara yang maju di Asia karena melandasi pembangunannya pada budaya literasi atau budaya baca[4]. Kedua negara ini menjadikan budaya baca sebagai fondasi pembangunan. Masyarakat di negara-negara maju menganggap bahwa membaca bukan lagi sebagai keharusan, pengisi waktu luang atau hobi akan tetapi sudah menjadi budaya.

      Ekses dari lemah atau buruknya budaya baca akan berdampak buruk juga kepada hampir seluruh bidang kehidupan. Permasalahan-permasalahan yang senantiasa menimpa bangsa Indonesia seperti pendidikan, ekonomi, politik, tidak terlepas dari akibat lemahnya budaya membaca masyarakat. Bidang pendidikan misalnya, sejak Indonesia merdeka sampai hari ini sudah sepuluh kali berganti kurikulum, akan tetapi mutu pendidikan tetap saja rendah. Ekeses dari keadaan ini adalah daya saing nasional kita juga lemah sehingga wajar saja banyak orang yang was-was bahkan stres dalam menghadapi persaingan tingkat regional dan global seperti Masyarakat Ekonomi ASEAN, AFTA, dan lain-lain.

      Begitu juga yang terjadi dalam bidang politik, bidang yang paling gegap-gempita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, paling banyak memusingkan kehidupan masyarakat. Sistem demokrasi yang diterapkan di Indonesia tidak kunjung berkualitas, bahkan para pakar mencemooh bahwa demokrasi di Indonesia baru berupa demokrasi administratif belum substantif, demokrasi fashion, dan lain-lain sebutan untuk menunjukkan rendahnya kualitas demokrasi di Indonesia atau untuk menunjukkan bahwa demokrasi yang ada di Indonesia bukanlah demokrasi. Sejak dari awal Bung Hatta sudah mengatakan bahwa demokrasi kita ini adalah demokrasi-demokrasian.

      Kondisi keberadaan bangsa kita sekarang ini, secara paradoksal sangat tepat digambarakan oleh B.J. Habibie, “Kita kaya tapi miskin, merdeka tapi terjajah, kuat tapi lemah, indah tapi jelek.”[5]. Tentu saja kondisi paradoksal ini terjadi akibat dari kebijakan yang keliru atau sistem yang salah. Dari sejarah saya menemukan sebenarnya Indonesia tidak memiliki rencana yang jelas dari mana kita mengawali untuk membangun. Karena tidak jelas di awal tentu saja tujuan akhirnya pun tidak akan memberikan kejelasan, apa sesungguhnya yang akan kita capai. Maka dari perencanaan yang blunder ini maka lahirlah kebingungan-kebingunan dan masalah-masalah yang tiada akhir, sehingga Massardi dengan miris menilai, “Belum pernah bangsa Indonesia memasuki labirin persoalan yang demikian rumit dan kompleks seperti sekarang ini. Bahkan, setiap celah yang semula dianggap jalan keluar, setelah dilalui, teranyata membawa kita memasuki labirin baru yang jauh lebih rumit dan kompleks dibandingkan sebelumnya” [6]

      Memang tragedi yang terjadi seperti di atas tidak disebabkan oleh faktor tunggal atau monokausal. Akan tetapi faktor determinan yang banyak disepakati adalah karena rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) sebgai produk dari pendidikan. Kualitas pendidikan menjadi taruhan eksistensi sebuah bangsa. Akan tetapi tragisnya pendidikan yang ada di Indonesia sekarang ini, meminjam kata-kata Iwan Fals, adalah “pendidikan rongsokan”, sehingga bukan menghasilkan solusi malah mencipta lingkaran masalah yang tidada ujung.

      Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas pendidikan seperti infrastruktur, kualtis guru, dan muatan kurikulum. Faktor-faktor tersebut menjadi agenda tetap dan agenda utama pemerintah dalam melakukan program perbaikan. Sebenarnya ada sebuah program yang sangat esensial akan tetapi selalu diabaikan yaitu pembangunan budaya membaca. Pendidikan kita adalah pendidikan tanpa membaca. Padahal roh atau esensi pendidikan adalah membaca. Tujuan pendidikan untuk mencipta manusia Indonesia yang pembelajar seumur hidup, masyarakat terdidik, atau masyarakat berpengetahuan akan sulit tercapai bila tidak dilandai oleh kebiasaan membaca yang baik. Dalam konteks pendidikan, budaya baca adalah fondasi yang keberdannya tidak bisa tidak bisa ditiadakan (conditio sine quanon)

      Dengan pesimistis saya memprediksikan bahwa program-program pembangunan yang pernanah dicetuskan oleh pemimpin bangsa ini sejak “Trisakti”-nya Soekarno sampai “Nawa Cita”-nya Joko Widodo sekarang ini, nampaknya tidak pernah dan tidak akan pernah berhasil diimplemantasikan. Apa pun programnya dan siapapun presidennya, dijamin tidak akan pernah bisa menyejahterakan masyarakat selama budaya baca tidak dibangun. Nampaknya Indonesia bukan hanya terkena kutukan kekayaan (sumber daya alam) atau paradoks keberlimpahan tapi yang paling jelas adalah juga terkena kutukan budaya baca.

      Pentingnya pembangunan budaya baca sudah sangat sering disuarakan oleh berbagai kalangan seperti para pendidik, budayawan, politisi, dan lain-lain akan tetapi masih dianggap sepi oleh negara. “Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu” sangat tepat untuk menggambarkan kondisi ini. Untung saja banyak warga negara yang merasa terpanggil dengan kondisi ini dengan berbagai kreativitasnya sehingga banyak terbentuk komunitas, forum, dan lain-lain lembaga baik formal maupun non-formal yang memiliki tujuan bersama untuk membangun budaya baca masyarakat.

      Akan tetapi muculnya gerakan ini masih sporadis dan tanpa dilandasi dengan konsep yang kuat sehingga hasilnya pun tidak berdampak secara massif, terstruktur, dan sistematis. Sinergi antara gerakan masyarakat dengan pemerintah belum terjalin dengan baik, bahkan terkesan pemerintah pusat tidak memiliki cetak-biru untuk membangun budaya baca masyarakat.

      Kita hanya pandai merujuk kepada negara-negara maju apabila sedang membahas tentang budaya baca. “Tuh lihat masyarakat Amerika atau Jepang. Mereka membaca di setiap tempat dan setiap waktu” Itulah kata-kata yang sering kita dengar. Akan tetapi kita belum pernah mengetahui mengapa Amerika memiliki budaya baca seperti itu. Sampai saat ini penulis belum pernah menemukan tulisan yang mengungkap masalah ini. Padahal persoalan budaya baca adalah persoalan yang sangat fundamental untuk diseriusi.

      Terdorong oleh rasa pensaran dan rasa ingin tahu seperti di atas, maka saya bermimpi melakukan penelitian yang akan berusaha mengunggkap mengapa Amerika, Finlandia, Jepang, dan negara-negara maju lainnya memilki budaya baca yang baik. Diharapkan hasil penelitian ini bisa dijadikan rujukan untuk membangun budaya membaca di tanah air, tentu saja setelah diadaptasi dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi keindonesiaan.

      Penelitian yang saya impikan ini sangat menantang untuk dilakukan karena sejak Indonesia meredeka sampai hari ini belum ada yang melakukannya dengan serius. Sudah ada mamang usaha-usaha pembangunan budaya baca yang dilakukan oleh perpusatakaan nasional, perpustakaan daerah provinsi, dan perpustakaan daerah kabupaten/kota, akan tetapi belum mendapat kemajuan yang berarti bahkan bisa dikatakan stagnan. Selain kurang mendapat dukungan secara struktural, juga memiliki beberapa kelemahan akademis yang sangat menantang di antaranya sebagai berikut[7]:

      Pertama, kemandulan konsep. Masalah budaya baca masih sangat jarang menjadi objek penelitian oleh para akademisi baik mahasiswa atau dosen. Institusi yang sangat terkait seperti Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sangat jarang, atau mungkin juga tidak pernah, menjadikan penelItian budaya baca menjadi prioritas program. Hal ini bisa dilihat dari langkanya mempublikasikan hasil riset tentang budaya baca. Di sinilah terletak kemandulan konsep pembangunan budaya baca karena tidak ditunjang oleh riset.

      Memang, telah banyak beredar buku dan literatur baik yang ditulis oleh penulis kita maupun hasil terjemahan yang membahas tentang minat baca, akan tetapi kalau kita perhatikan ternyata hampir sebagian besar buku-buku tersebut membahas tentang peran orang tua atau guru dalam mengkondisikan anak atau murid, terutama usia Balita sampai sekolah dasar, supaya gemar membaca. Secara teoritis buku-buku tersebut kebanyakan menggunkan pendekatan Pavlovian yang berlandaskan pada teori stimulus-respon serta pengkodisian (conditioning). Termasuk buku Pedoman Minat Baca yang dibuat oleh Perpustakaan Nasional (2002) juga menggunakan pendekatan ini.

      Masalah budaya baca adalah masalah yang kompleks, menyangkut masalah ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya. Tidak sesederhana seperti pandangan orang banyak yang melihat rendahnya budaya baca hanya disebabkan oleh kurangnya infrastuktur (buku/koleksi informasi) misalnya. Tentu saja untuk menghasilkan kajian yang komprehensif diperlukan pendekatan multidimensi atau multidisiplin.

      Untuk sosialisasi budaya baca secara struktural kelembagaan kita sudah memiliki wadah yang namanya Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) yang sturkturnya sudah rapih dari tingkat nasional, provinsi, dan daerah kabupaten/kota. Akan tetapi sejarah sering membuktikan bahwa sebuah gerakan tanpa landasan konseptual yang kuat hanya akan melahirkan gerakan yang tidak berkembang dan tidak berkelanjutan seperti yang kita saksikan sekarang ini.

      Kedua, kekurangan dialog ilmiah. Hasil riset di lapangan hanya dapat berkembang apabila ada diseminasi pada masyarakat. Ilmu dihasilkan dari hasil dialog dengan rumusan: tesis, antitesis,dan sintesis. Dari dialektika data dan informasi seperti inilah maka lahir ilmu pengetahuan. Sekarang ini jarang sekali ada dialog yang dilakukan oleh para pakar, karena memang tidak ada yang harus didialogkan, karena tidak adanya penelitian yang dilaksanakan.

      Agenda nasional kepustakawanan dan juga pendidikan seperti konferensi atau kongres jarang menjadikan budaya baca sebagai tema sentralnya. Agenda kepustakawanan banyak disibukkan oleh hal-hal yang bersifat teknis, seperti masalah otomasi, layanan, dan manajemen, padahal sudah jelas dalam konstitusi (terutama UU No. 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan) bahwa fungsi utama perpustakaan adalah membangun budaya baca. Konferensi Perustakaan Digintal misalnya, sudah menjadi agenda nasional yang diselenggarakan setiap tahun (sekarang/2015 sudah tahun ke-7), akan tetapi dengan capaian yang sangat kurang atau malah bisa dianggap nihil, karena sampai hari ini belum ada satu pun perpustakaan digital di Indonesia. Sekali lagi problem terbesar dan mendasar bangsa Indonesia adalah tentang budaya baca bukan hanya masalah teknis yang bisa diselesaikan oleh para teknisi komputer atau para vendor.[8]

      Ketiga, isolasi pemikiran. Sebuah fenomena budaya, seperti rendahnya budaya baca, bukan disebabkan oleh monokausal atau disebabkan oleh satu faktor. Oleh karena itu pendekatannya pun hasur melibatkan multidisiplin atau mutidimensi. Untuk itu, selain kedalaman pemikiran juga diperlukan keluasan wawasan. Sepertinya peraturan yang dikeluarkan oleh MENPAN perlu ditinjau kembali karena dalam regulasi tersebut pustakawan tidak boleh menulis bidang lain selain tentang kepusakawanan dalam arti yang sempit pula. Maka pantaslah kalau profesi pustakawan tidak populer dan kurang di hargai di masyarakat.

      Itulah beberapa kelemahan yang menjadi hambatan terhadap pembangunan budaya baca di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini dirasakan sangat perlu selain untuk mencari solusi kompresehensif dan integral juga untuk menyulut atau men-trigger munculnya berbagai konsep, dialog, dan wacana yang mudah-mudahan dapat memperkaya pemikiran tentang bagaimana seharusnya membangun budaya baca



      [1] Putut Widjanarko. Elegi Gutenberg. Bandung: Mizan, 200, hal. 104-106.

      [2] Finlandia selain menjadi negara terbaik dalam bidang pendidikan juga merupakan negara yang memiliki pembaca terbaik di dunia. Pada tahun 1990-1991 Warwick Elley dari International Association for the Evaluation of Educational Achievement melakukan studi internasional yang paling komprehensif tentang membaca. Penelitian tersebut melibatkan 210.000 anak usia sembilan dan empat belas tahun. Peringkat pembaca terbaik berturut-turut adalah: Finlandia, Amerika Serikat, Swedia, dan Prancis (Jim Trelease. Read-Aloud Hanbook. Jakarta: Hikmah, 2008, hal.24)

      [3]Betsy Sahetapy. “Reading culture: The long journey to becoming a developed nation”. The Jakarta Post, October 15 2011

      [4] Suherman. Mereka Besar Karena Membaca. Bandung: Literate Publishing, 2012, hal. 9-11

      [5]Bacharuddin Jusuf Habibie, “Quo Vadis Indonesia?”, Republika, 22,23, 24, Desember 2011.

      [6]Adhie M. Massardi,“Indonesia Dalam Penantian”, Kompas, 22 Juni 2013

       

      [7]Diadaptasi dari buku H.A.R.Tilaar. Perubahan Sosial dan Pendidikan: Pengantara pedagogik transformatif untuk Indonesia. Jakarta: Grasindo, 2002, hal. 109-110

      [8]Saya pernah dua kali mengiikuti kegiatan ini. Terakhir di Samarinda tahun 2011. Setelah dua hari para pustakawan berdebat membicarakan tentang “interoperabilitas sisitem perpustakaan digital” dan tentu saja tetap saya merasa tidak paham. Akan tetapi ternyata mampu didemon-trasikan dengan jelas oleh vendor produk ITC hanya 15 menit saja .

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Wednesday, 01 February 2017 11:16  

      Items details

      • Hits: 462 clicks
      • Average hits: 22 clicks / month
      • Number of words: 6173
      • Number of characters: 53756
      • Created one month and 9 months ago at Wednesday, 01 February 2017 by Administrator
      • Modified one month and 9 months ago at Wednesday, 01 February 2017 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Google+ Facebook Twitter mail SC