.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Mencermati Penurunan  Kemiskinan

      Badan Pusat Statistik (BPS) sebagaimana biasa secara bulanan merilis. data kondisi ekonomi paling mutakhir. Angka-angka terbaru yang disajikan cukup melegakan, karena semuanya boleh dibilang mengarah ke positif.


      Data perdagangan, misalnya, menunjukkan bahwa pada Mei lalu ekspor sudah mulai membaik. Pada Mei lalu, nilai ekspor naik 9,5 persen. Sementara untuk impor, pada periode yang sama juga naik 17 persen dengan barang yang diimpor mayoritas berupa permesinan atau barang produktif.


      Kemudian untuk laju inflasi, pada Juni 2009 tercatat 0,11 persen, sehingga secara keseluruhan per Januari-Juni inflasi bisa ditekan menjadi hanya 0,21 persen. Dan yang tak kalah menariknya, adalah turunnya jumlah orang miskin dari 34,96 juta (15,42 persen) pada 2008 menjadi 32,53 juta (14,15 persen) pada 2009, atau turun 2,43 juta selama satu tahun terakhir.

      Penurunan angka kemiskinan tersebut tidak lepas dari pertumbuhan ekonomi yang pada kuartal I 4,4 persen. Logikanya memang, ketika pertumbuhan ekonomi naik, berarti produk domestik bruto (PDB) juga naik. Jika PDB naik, pendapatan per kapita juga naik dan secara otomatis kemiskinan juga akan menurun.


      Masalahnya apakah penurunan jumlah orang miskin tersebut setara dengan pertumbuhan ekonomi kita? Karena jika dibandingkan dengan pendapatan per kapita, pendapatan orang miskin tersebut jauh di bawah. Kita tahu pendapatan per kapita Indonesia saat ini sekitar 2.400 dolar AS atau sekitar Rp 24 juta dalam setahun, jadi Rp 2 juta per bulan.


      Angka tersebut sangat jauh dibanding dengan penda­patan orang miskin yang gampangnya saja disamaratakan satu dolar per hari atau 30 dolar per bulan (setara dengan Rp 300 ribu). Dengan begitu, saat ini ada 32,53 juta rakyat miskin yang pendapatannya sepertujuh dari pendapatan per kapita nasional.

      Apa yang bisa dilihat di situ adalah bahwa kesenjangan terlalu melebar. Selisih pendapatan orang miskin dengan pendapatan per kapita nasional itu per orangnya Rp 1,7 juta. Sehingga, jika dikalikan 32,53 juta orang, hasilnya akan Rp 55,3 triliun, dan jumlah itulah yang menumpuk di kalangan atas. Itu membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang telah dihasilkan sekarang ini tidak berkualitas. Pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan secara persentase jauh meninggalkan persentase penurunan orang miskin. Akibatnya, kesenjangan antara yang miskin dan yang kaya semakin besar.

      Sebagai contoh konkret bisa kita lihat bagaimana kekayaan para calon presiden dan calon wakil presiden. Amati perkembangan kekayaan mereka dalam empat atau lima tahun terakhir, pertumbuhannya akan dua kali lipat. Sementara, jumlah orang miskin yang berhasil dien-taskan selama kurun waktu itu tak lebih dari 10 persen.

      Kita gembira dengan data yang dirilis oleh EPS tersebut di mana inflasi bisa terjaga, perdagangan mulai bergairah, dan jumlah orang miskin terkurangi. Tapi, kita masih tetap prihatin karena pencapaian yang bagus itu tidak diimbangi dengan pemerataan sehingga jumlah orang miskin di negeri kaya ini pun masih tetap di puluhan juta orang.

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 658 clicks
      • Average hits: 8.3 clicks / month
      • Number of words: 1450
      • Number of characters: 13042
      • Created 6 years and 7 months ago at Friday, 20 April 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 145
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091307
      Jantung_Sekolah1.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC