MEMBANGUN CITRA PUSTAKAWAN INDONESIA PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 01 June 2009 15:18
Article Index
MEMBANGUN CITRA PUSTAKAWAN INDONESIA
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
All Pages

MEMBANGUN CITRA PUSTAKAWAN INDONESIA

 

Pustakawan! Sebuah kata yang sedang mengalami keretakkan makna, melahirkan multitafsir dan beragam persepsi. Dalam konteks keindonesiaan, pemegang kunci jendela dunia ini, kini nasibnya tidak jauh dari para pembuka pintu lintasan kereta. Masyarakat pun memberikan penghargaan kepada pustakawan lebih rendah dibanding kepada profesi lain seperti dokter, pengacara, guru, peneliti, dan lain-lain. Malah masih banyak masyarakat yang belum tahu makhluk jenis apa pustakawan itu. Di Indonesia pustakawan kalah populer dibanding dengan komen-tator artis atau dukun santet yang memang sedang menjadi hegemoni komoditas industri irrasional. Cobalah anda bertanya kepada anak-anak yang baru masuk sekolah, saya jamin tidak ada satu orang pun yang cita-citanya ingin menjadi pustakawan. Keadaan ini mengingatkan kita pada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa hanya orang yang berilmu yang akan menghargai ilmu. Hanya masyarakat terdidik yang akan menghargai pustakawan. Citra pustakawan adalah cermin realitas bangsa.

Pemeritah pun menghargai pustakwan sama halnya dengan masyarakat umum. Dari semua jenis fungsional yang ada, pustakawan berada pada “kasta” yang paling rendah, tentu saja dengan tunjangannya pun yang paling sedikit

 

No.

Jenis Jabatan

Jenjang Jabatan

Tunjangan Jabatan

1

Peneliti

Utama

1.118.000

2

Perencana

Utama

1.118.000

3

Perekayasa

Utama

1.118.000

4

Pranata komputer

Utama

1.000.000

5

Pustakawan

Utama

500.000

6

Arsiparis

Utama

500.000

 

Sumber: diolah dari Profil Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil.

Badan Kepegawaian Negara, 2004.

 

Apalagi kalau kita melihat porsi anggaran untuk keperpustakaan di dalam APBN atau APBD, porsinya tidak lebih dari 0,1%. Kita ambil contoh anggaran untuk perpustakaan di DKI Jakarta, sebagai daerah yang paling maju, untuk tahun 2005 porsinya hanya 0,08-0,1 %. Bayangkan porsi anggaran di daerah yang bukan perkotaan. Padahal kita semua tahu bahwa pendidikan tidak akan berhasil tanpa didasarkan kepada keberadaan perpustakaan. Malaysia bisa melampaui Indonesia dalam waktu yang singkat karena sekolahnya berbasis perpustakaan. Pelajaran literasi informasi atau library skill sudah diperkenalkan semenjak SMP. Mungkin dapat dikatakan lebih baik menyekolahkan anak ke lembaga pendidikan yang perpustakaannya bagus tapi tidak memiliki ruang kelas, daripada ke sekolah mewah tapi tidak memiliki perpustakaan.

Yang tidak kalah menariknya adalah sebuah kenyataan bahwa keterpurukan citra pustakawan dirusak oleh “pustakawan” sendiri. Pada saat ini kita sedang menyaksikan sebuah fenomena yang memilukan, yaitu para pengelola perpustakaan merasa malu atau minder mengenalkan dirinya sebagai pustakawan. Sampai ada seseorang yang latar pendidikan sampai jenjang S2 perpustakaan, akan tetapi tidak digunakan untuk menunjang kariernya sebagai pustakwan, malah memilih menjadi peneliti pusdokinfo dengan alasan predikat peneliti lebih keren daripada pustakawan. Demikian juga di kalangan mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan, apabila ditanyakan tentang jurusan yang diambilnya, biasanya dengan malu-malu mengatakannya. Begitu juga banyak terjadi di perusahaan-perusahaan besar, bidang dokinfo—yang perpustakaan berada di dalamnya—menjadi bidang untuk menampung orang-orang “buangan.” Ditempatkan di bagian perpustakaan sama dengan dimasukan kedalam “peti mati” atau karirnya telah berakhir.

Begitulah kita saksikan potret buram pustakawan dalam realitas keindonesiaan. Gambaran di atas sangat kontradiktif dengan citra pustakawan di masa lalu. Kalau kita berkaca pada sejarah, disana kita akan menyaksikan pustakawan menjadi elit politik dalam struktur sosial. Kedudukannya disejajarkan dengan tokoh spiritual dan para pemegang kebijakan, karena pada waktu itu memang perpustakaan hanya ada di dua tempat yaitu di istana (pusat kekuasaan) dan kuil atau tempat ibadah (pusat kekutan spiritual). Dari segi kompetensi pun seorang pustakawan biasanya memiliki berbagai macam kecakapan (multitalenta) dan berbagai macam bahasa (polilinguish). Sebagai contoh kita lihat misalnya Jorge Luis Borges yang pernah mengatakan "I have imagined that paradise will be a kind of library." Ia menjadi pustakawan dengan dilandasi oleh keinsafan bahwa menjadi pengelola perpustakaan merupakan panggilan jiwa bukan sekedar panggilan tugas untuk mencari nafkah. Satu lagi contoh, yang dekat dengan kesejarahan kita, adalah GP Rouffaer, ia adalah seorang pustakawan ahli pada lembaga studi kolonial (KITLV) yang menyusun Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie dan De batikkunst in Nederlandsch-Indie en haar geschidiedenis (Seni Batik di Hidia Belanda dan Sejarahnya). Rouffaer juga dilibatkan oleh Alexander Idenburg, Menteri Urusan Jajahan, dalam penelitian tentang keadaan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat pribubumi (Kompas, 8 Januari 2007)

Borguis dan Rouffaer telah tiada dan mungkin hanya mereka berdualah pustakawan ideal yang ada dalam sejarah peradaban manusia. Akan tetapi bukan hal yang mustahil bahwa citra ideal tersebut menjadi sebuah inspirasi untuk memulai membangun citra pustakawan Indonesia.



Comments
Add New
icuk  - comment   |2009-07-13 17:05:02
mangnya pa ja seh kriteria mjd seorg pustkwan yang profesionl?
suherman   |2009-07-14 16:26:24
Selain sebagaimana artikel di atas, untuk menjadi seorang pustakawan profesional
memerlukan kriteria yang sama dengan profesional lainnya (hard skill + soft
skill + jaringan sosial yang luas). Tapi yang paling pokok adalah mencintai
profesi sebagai pustakaan. Soalnya hanya dengan cinta semua dapat dilakukan
dengan baik dan benar. oke.
yulianti.sdq     |2009-08-25 17:27:58
Hanya orang berilmu yang akan menghargai ilmu, hanya masyarakat terdidik yang
akan menghargai pustakawan.....

Kalau di tempat kerja saya, pa Her...(ini yang
aneh)...hal itu masih menjadi cita-cita...Pustakawan masih belum dihargai dan
diberi kesempatan yang cukup. Bahkan terakhir, untuk ikut penelitian pun (yang
dari sisi angka kredit sudah jelas), pustakawan tidak diijinkan.

Jadi,
pertanyaan saya adalah apakah kasus di tempat saya itu karena apa, ya...

Di
salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di Indonesia, bahkan ada pembinaan
pustakawan se-universitas yang rutin. Jadi, akhirnya pustakawan menjadi
"hidup". Perpustakaan di lingkungan Ui pun relatif maju...bergerak,
begitu.

Jadi, doakan saja.
Suherman   |2009-08-25 18:43:04
Bu Yuli,
Itu merupakan KLB (kejadian luar biasa), di sebuah PT yang jelas ada
jurusan perpustakaan tapi nasib pustakawan "terlantar" seperti itu.
Seperti intro dari tulisan Bu Yuli: Hanya orang yang berilmu yang akan
menghargai pustakawan. Ya, mesti sabar. Dalam arti jangan menyerah pada sistem
atau keadaan. Di sinilah perlunya sebuah gerakan bersama untuk memperjuangkan
eksistensi kita. Hanya kita sendiri yang akan merubah diri kita. Jadi, mari...!
din  - he he he   |2010-01-13 01:56:08
he he he. pustakawan, profesi apaan? he he he....memangnya di Indonesia ini ada
pustakawan? he he he.... kok kalah populer dengan tukang parkir? kerja
profesional, penguasa aja takut. kalau pustakawan apaan. he he he.... apalagi
tokoh-tokoh nasionalnya.... he he he... cape....
Ani  - Pustakawan   |2010-03-04 21:09:07
saya sudah bekerja kurang lebih 27 tahun di dua tempat (Perpustakaan sekolah)
apakah saya pustakawan...? Banyak pelatihan,seminar bahkan nara sumber untuk
perpustakaan sekolah lain,......tapi....???? ya begitu lah.....sampai sekarang.
Alhamdulillah saya masih menyenangi bidang ini, walaupun...??? he he he
Suherman   |2010-03-13 01:51:19
Bu Ani yang baik, salut saya buat Ibu yang sudah sekian lama mengabdi pada
profesi. Secara defacto Ibu adalah pustakawan walaupun secara dejure (mungkin)
tidak diberi SK oleh pemerintah. Sekarang ini saya lihat banyak pustakawan yang
hanya dejure saja, defacto-nya tidak ada. Misalnya dengan membuat angka kredit
fiktif.
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Kalender & Agenda

March 2010
S M T W T F S
28 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 1 2 3

Tidak Mungkin Intelektual Menganggur

Oleh:

Suherman

Ketua Masyarakat Literasi Indonesia (MLI)

Sarjana menganggur sangat banyak, tapi intelektual menganggur rasanya tidak mungkin alias mustahil. Sarjana dan intelektual tidak sama dan sebangun alias memiliki pengertian yang berbeda. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sarjana adalah gelar yang dicapai seseorang yang telah menamatkan pendidikan tingkat terakhir di perguruan tinggi. Sedangkan intelektual artinya seseorang yang cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan atau disebut juga cendekiawan. Jelas sarjana bukan padanan kata intelektual. Dengan memperhatikan definisi atau arti kata intelektual saja sudah dapat disimpulkan mustahil ada intelektual yang memnganggur atau terjadi trategi “pengangguran intelektual”. Akan tetapi, walaupun kata “pengangguran intelektual“ terasa rancu namun sudah terbiasa diucapkan di masyarakat umum alias salah kaprah. Seperti judul sebuah artikel di harian Tribun Jabar edisi tanggal 15 Oktober 2009 “Mewaspadai Booming Pengangguran Intelektual”, yang ditulis oleh seorang dosen pascasarjana.

Read more...