.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail
      Article Index
      MELUPAKAN ESENSI PENDIDIKAN
      Page 2
      All Pages

      MELUPAKAN ESENSI PENDIDIKAN

      Oleh:

      Suherman

      Pustakawan Berprestasi TerbaikTingkat Jawa Barat

      Penulis buku Perpustakaan Sebagai Jantung Sekolah


      Faktor penyebab rendahnya mutu pendidikan ternyata sangat beragam. Yang menjadi ukuran mutu pendidikan ini adalah kualitas para lulusannya, terutama berkaitan dengan masalah pengangguran lulusan lembaga pendidikan. Saya kurang setuju dengan istilah “pengangguran intelektual”, karena orang intelek tidak mungkin menganggur.

       

      Kita boleh tidak sepakat tentang apa sebenarnya esensi pendidikan, akan tetapi dalam perspektif keperpustakaan esensi pendidikan adalah membaca, dalam arti sebuah proses pendidikan dikatakan berhasil apabila menciptaka murid-murid yang rajin membaca. Apabila sebuah lembaga pendidikan tidak menganggap penting masalah minat dan kegemaran membaca , bisa dipastikan akan mengalami kegagalan. Sebuah pepatah yang sering kita dengar akan tetapi sering pula diingkari adalah “buku gudang ilmu dan membaca adalah kunci.” . Sekarang ini banyak lembaga pendidikan yang kehilangan “kunci’ tersebut, dan konsekuensinya adalah banyak alumninya yang tidak berilmu. Dalam istilah sunda disebut dengan “cul dog-dog tinggal igel”, artinya untuk menggambarkan sebuah perbuatan atau proses yang kehilangan esensi, hanya formalitas belaka. Penulis memiliki sebuah “formula pendidikan” sederhana seperti berikut: Sekolah-gemar membaca = bermasalah (dibaca, bersekolah akan tetapi tidak memiliki kegemaran membaca akan menghasilkan lulusan yang bermasalah; gemar membaca + (-sekolah) = berhasil; (-sekolah) + (-gemar membaca) =gagal; Sekolah + gemar membaca = sukses

      Sekolah - gemar membaca = masalah

      Seorang anak yang sekolah akan tetapi tidak memiliki kegemaran membaca ia akan menemui berbagai kesulitan atau akan banyak membuat kesulitan bagi orang lain. Menurut Witdarmono, dalam artikelnya “Membaca dan Agresivitas” (Kompas, 8 September 2006) mengutip sebuah hasil penelitian yang dimuat dalam majalah Child Development membuktikan bahwa ada korelasi antara kegemaran membaca dengan agresivitas siswa. Anak-anak yang memiliki kemampuan membaca rendah cenderung memiliki tingkat agresivitas tinggi. Sebaliknya, ada keterkaitan antara sikap sosial dan kemampuan membaca. Yang dimaksud sikap sosial adalah suka menolong, empati, dan punya perhatian kepada yang susah. Ini bisa dijadikan sebuah acuan bahwa untuk meniadakan konflik (tawuran) antar siswa atau mahasiswa bisa dengan kamapanye minat bica disekolah atau perguruan tinggi.

      Selain itu, dapat dipastikan bahwa seorang anak yang lulus sekolah atau perguruan tinggi tanpa memiliki kegemaran membaca akan susah mencari peluang, karena tidak memiliki pengetahuan yang cukup. Penulis berani mengatakan bahwa para pengangguran lulusan lembaga pendidikan adalah mereka yang tidak memiliki kegemaran membaca yang baik.


      Gemar membaca - sekolah = bisa berhasil

      Sebaliknya dari kasus di atas, apabila seseorang yang tidak sekolah akan tetapi memiliki kegemaran membaca kemungkinan besar dia akan berhasil. Terlalu banyak contoh yang dapat di ambil dari tokoh-tokoh sejarah yang sukses tanpa sekolah. Mulai dari tokoh internasional maupun dari Indonesia. Para pecinta novel detektif mungkin akan kenal dengan Agatha Cristie. Dalam riwayat kepengarangannya dia telah menghasilkan hamper satu miliar novel dan apabila ditumpuk akan menyamai gunung Everest , padalah dia tidak pernah sekolah. Michael Faraday adalah seorang anak yang terusir dari sekolahnya gara-gara tidak bisa menyebut huruf “r” dan kemudian didik membaca oleh ibunya, berhasil menjadi ilmuwan yang terkenal sepanjang masa. Ahmad Deedat, seorang kristolog dan ahli debat kelas dunia telah menulis 25 judul buku adalah seorang yang sekolahnya hanya sampai kelas sembilan, dan masih banyak lagi, Oprah, Newton, dll. Di tanah air juga kita kenal dengan beberapa budayawan yang bermasalah dengan sekolahnya, di antaranya dalah Ajip Rosidi dan Emha Aiun Nadjib. Kang Ajib sekolahnya hanya sampai SMA, yang ijazahnya tidak pernah diambil, tapi bisa berprofesi sebagai pengajar di Jepang bertahun-tahun (lihat otobiografinya Hidup Tanpa Ijazah), sedangkan Cak Nun tidak betah dengan kultur sekolah akan tetapi menjadi seorang budayawan yang sangat produktif menulis, serta dijuluki oleh teman-temannnya sebagai “perpustakaan berjalan”. (lihat buku Jalan Sunyi Emha karya Ian L. Betts)



      Comments
      MANSUR JOHAIR   |2009-10-29 00:17:41
      trimss,,. artikel ini sangat memotivasi
      sahidillah   |2012-01-26 19:35:24
      sangat memotivasi sekali
      Amin Soleh   |2011-05-02 09:29:07
      Pintu gerbang ilmu pengetahuan adalah membaca. Ini sudah didengungkan ribuan
      tahun. Saat Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama kali yang diucapkan adalah
      Iqro = membaca.
      Memang prihatin kalau kita melihat sekolah-sekolah yang tidak
      mengelola dengan baik mengenai pentingnya eksistensi perpustakaan yang
      strategis. Kalau diperhatikan disekolah SD yang tersebar yang namanya
      perpustakaan sangat tersembunyi. Seharusnya didepan sekolah ada perpustakaan
      yang memungkinkan memudahkan dilihat oleh anak-anak saat pulang atau saat mau
      masuk sekolah tentu efeknya akan dahsyat dalam mengembangkan minat baca secara
      dini. Semoga anak-anak bangsa kita cepat maju dan tercerahkan. Selamat,
      artikelnya sangat menarik.
      sahidillah   |2012-01-26 19:34:13
      inti persoalan dari setiap masalah yang ada di indonesia ini memang tidak ada
      atau kurangnya kesadaran masyarakat dalam membaca..
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 7168 clicks
      • Average hits: 64 clicks / month
      • Number of words: 1600
      • Number of characters: 11759
      • Created 9 years and 4 months ago at Thursday, 30 July 2009 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 132
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091311
      DSCF8794.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC