.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Masyarakat Yang Makin Sakit

      Oleh NALINI MUHDI

      Betul-betul ini sudah zaman edan!" kata pembantu saya yang juga ibu dua anak. "Masak ada ibu ngqjak bareng mati keempat anaknya...." Matanya nanap memelototi televisi yang menyiarkan berita seorang ibu di Kota Malang membunuh keempat anaknya, lantas dia sendiri menyusul anak-anaknya itu ke alam baka. Peristiwa itu terjadi hari Minggu (11/3/2007). Tragis. Rasanya akhir-akhir ini berita orang bunuh diri atau membunuh orang lain bertubi-tubi disuguhkan dalam keseharian kita. Apa yang salah dengan kita?

      Keseimbangan yang terganggu

      Ibu yang mengakhiri hidup dengan mengajak keempat anaknya mati itu (ho­micide and suicide), apa pun alasannya, tak bisa dibenarkan. Hal itu adalah sebuah tindakan agresi. Mengutip teorinya Karl Menninger, ada tiga komponen permusuhan (hostility) dalam bunuh diri, yaitu keinginan untuk membunuh, keinginan untuk dibunuh; dan keinginan untuk mati. Dan itu mungkin terjadi pada ibu itu.

      Apa pun, bunuh diri adalah suatu tin­dakan di mana seseorang telah kehilangan mekanisme kontrol diri. Sebuah kompo­nen mahapenting untuk ketenteraman hi­dup umat manusia. Jadi, tak bisa dikatakan, hal itu semata-mata disebabkan tekanan ekonomi atau karena kondisi kesehatan anaknya yang memburuk.

      Di antara kita, siapakah yang tak pernah dihantam masalah? Pernyataan permisif itu hanya akan menjadi pembenaran bagi orang-orang yang sedang kalut dan bi-ngung untuk melakukan hal serupa, paling tidak memberi inspirasi. Pembenaran yang ujung-ujungnya akan diidentifikasi sebagai jalan keluar yang instan. Segampang orang memperkaya diri lewat cara korupsi afmi "memalak" orang lain lewat snap. Bunuh diri bukan karena faktor tunggal. Begitu kompleks psikopatologi yang me-latarbelakanginya. Namun, yang lebih penting, bagaimana mencegahnya.

      Menurut WHO, di seluruh dunia, setiap tahun lebih dari satu juta orang meninggal karena bunuh diri. Angka ini jelas tidak bisa diabaikan begitu saja. Angka itu men­jadi penyebab kematian ketiga terbanyak di dunia. Sebagian besar punya dasar gangguan mental-emosional, khususnya gang-guan depresi. Indonesia ditengarai men­jadi wilayah yang amat rentan akan terjadi ledakan angka gangguan jiwa di tahun-tahun mendatang. Akankah kita masih bersedeku tangan? Lalu kembali panik plus reaktif bila prediksi itu sudah benar-benar terjadi.

      Indikator taraf kesehatan mental masyarakat yang memburuk itu kian terasa nyata. Manifestasinya terdapat dalam gangguan perilaku dan kepribadian. In­dikator itu benar-benar kian jelas terpampang dalam kehidupan. Meningkatnya kejadian bunuh diri, kejahatan dan kekerasan, kerusuhan dan kebrutalan, atau amuk massa, pemakaian napza, kekerasan dalam rumah tangga, angka delinkuensi dan kriminalitas, serta meningkatnya gangguan jiwa terasa semakin meningkat. Sayang, angkanya sulit dipastikan (kita lemah dalam data dan penelitian yang akurat), tetapi bentuknya bisa dirasakan dalam perubahan perilaku serta perasaan.

      Alarm sudah berbunyi

      Semua itu amat jelas mengindikasikan alarm taraf kesehatan mental masyarakat sudah berbunyi. Bahaya menghadang, terutama menggerogoti kualitas hidup kita, yang akhirnya mengancam pertahanan bangsa. Relakah kita bila bangsa ini amblas dimakan zaman? Cuma menjadi pengemis bantuan dan tak berdaya atau makin mudah meradang. Manusia yang kalah.

      Perubahan yang amat cepat dan menekan dalam semua sendi kehidupan, sering kali tidak terduga, apalagi tidak ada antisipasi yang sistematis sebelumnya di negeri ini, jelas akan mengganggu ekui-librium, merobek ketenangan dan kedamaian hidup. Tiap hari kita menyaksikan suguhan berita yang mengusik kepedulian. Kecela-kaan alat transportasi, bencana alam murni maupun akibat ulah manusia sampai munculnya banjir hebat atau semburan

      lumpur, ketidakadilan, sikap kemaruk dan ketidakpedulian pemimpin pada jeritan rakyat yang menderita, jurang kaya-miskin yang kian menganga, penyakit yang merajalela, kriminalitas dan sederet "racun" yang mengguyuri otak kita pelan-pelan. Siapa yang tak terusik ketenteramannya?

      Pelan tetapi pasti, berbagai stresor itu mengguncang kekebalan mental kita. Mulai dari tekanan, konflik, frustrasi, sampai krisis, lengkap mendera dan mengisi hidup keseharian kita beberapa tahun belakangan. Ditambah coping style mechanism yang tak terlatih baik dalam menghadapi kesulitan, karena sering penyelesaiannya ti­dak berorientasi pada masalah (kita sering cuma saling menyalahkan, mencari kambing hitam, mencari pembenaran, menghindar, menyangkal kenyataan, dan sebagainya), betul-betul kian membuat kita terpuruk.

      Kemiskinan dan kebodohan memang sumber penderitaan dan masalah. Namun, ketidakpastian masa depan serta ketidak­adilan ternyata lebih hebat dampaknya bagi keseimbangan jiwa. Ketidakpastian lebih menyakitkan dari kenyataan paling getir sekalipun.

      Bisakah pemimpin masyarakat mampu memberi kepastian hidup yang agak me-legakan napas, bukan sekadar janji-janji yang ternyata hanya pepesan kosong? Membuat tumpukan sampah kekecewaan masyarakat kian menumpuk yang akhir­nya tumpah dalam bentuk keputusasaan, yang menurut Aaron Beck, menjadi indikator paling bermakna dari tingginya risiko bunuh diri dalam jangka panjang. Tentu saja keputusasaan inilah bibit dari munculnya gangguan depresi.

      Salah satu gejala depresi bisa muncul dalam bentuk agresi yang beragam. Agresi yang dibelokkan ke dalam (inward) berupa perilaku yang membahayakan diri sendiri sampai bunuh diri ataupun yang ditujukan keluar (outward) berupa perilaku keke­rasan kepada orang lain. Secara kolektif bisa muncul sebagai tindakan anarki atau orang awam kerap menyebut sebagai "amok masal".

      Kepedulian sosial

      Sesungguhnya kita masih mempunyai asa asal segera menyadari dan bertindak. Kepedulian kepada sesama kembali dikuatkan. Bukan hanya kepedulian sesaat dan reaktif-emosional yang sering diperlihatkan saat suatu wilayah sedang dilanda bencana. Kepedulian yang dimaksud ada­lah yang terus-menerus inheren dengan napas kehidupan kita. Kita mempunyai potensi itu, mulai dari kepedulian pada tetangga, teman, keluarga, yang akhirnya mengerucut ke atas sebagai kepedulian pemimpin kepada rakyatnya.

      Kita mempunyai akar budaya, sistem sosial, serta nilai-nilai kehidupan yang menguntungkan untuk bisa mencegah fenomena ini bertambah buruk. Asal dii mobilisasi secara proporsional, lebih pen-ting lagi, ada kemauan bertindak. Penelitian menunjukkan, seseorang ter­nyata sering melaksanakan niatnya untuk mati saat mereka tidak memiliki dukungan sosial dari lingkungan keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Perasaan teralienasi dan tak berdaya kerap menjadiibeban yang tak tertanggungkan pada orang-orang tertentu.

      Jadi, niat untuk mengakhiri hidup se-betulnya bisa dicegah. Dari celah inilah sebetulnya kita bisa memulai langkkh an­tisipasi yang mendasar, apa pun bentuk­nya. Plus meningkatnya kesadaran pe­merintah dan masyarakat pada kesehatan mental (mental health), sepenting mereka memandang taraf kesehatan fisik. Sebelum keburu meledak dan kecolongan lagi.

      Ada apa dengan kita? Ketika kebanyak-an masyarakat kian terimpit ruang yang pengap, dan masa depan kabur tak tertembus cahaya kepastian, ternyata keadilan terasa menjauh. Berharap tergugahnya sikap empati pemimpin kita dan masyarakat untuk segera tergerak dengan pertanyaan "tanya kenapa dan mengapa" (bukan sekadar menyesalkan apa yang terjadi dan lantas terlupakan), kemudian mengantisipasinya dengan sigap. Kita merindukan hal itu.

      NALINI MUHDI

      Psikiater, Pengurus Perhimpunan Dokter

      Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia

      (PDSKJI) Pusat

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 803 clicks
      • Average hits: 10.2 clicks / month
      • Number of words: 2898
      • Number of characters: 23760
      • Created 6 years and 7 months ago at Friday, 27 April 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 132
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091311
      Dialog_Peradaban.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC