.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail
      Article Index
      Pemberantasan Buta Aksara Dengan Hati
      Page 2
      Page 3
      All Pages

      Pemberantasan Buta Aksara Dengan Hati

      Oleh :

      Dedi Sahputra

      Aksara adalah jendela dunia, pintu bagi sebuah pendidikan. Namun Indonesia masih saja bersibuk-sibuk dengan persoalan pemberantasan buta aksara. Padahal upaya pemberantasannya sudah dilakukan sejak awal kemerdekaan tahun 1945. Tapi kenapa buta aksara tak kunjung terberantas. Apa sesungguhnya masalah yang terjadi?

      Peran aksara sangat krusial dan sangat besar pula sumbangannya bagi Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index/ HDI) tak terbantahkan. Karena faktor ini pula pencapaian pembangunan manusia di Indonesia masih tertinggal dengan negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Filipina. Dalam Laporan Pembangunan Manusia (Human Development Report 2005) yang terbaru, Indonesia berada pada tingkat menengah Pembangunan Manusia Global (Medium Human Development), dengan peringkat ke-110 dari 177 negara.

      Berdasarkan data pada tahun 2004, mayoritas penduduk Indonesia atau sebanyak 90,4 persen sudah melek huruf. Artinya, masih tersisa 9,6 persen penduduk yang masih buta aksara dan itu berjumlah sekitar atau 14,8 juta orang, tersebar dari usia 15 tahun ke atas.

      Pada tahun 2005, program pemberantasan buta aksara hanya berhasil mencapai 800 ribu dari 1,7 juta orang yang menjadi target. Sisa target yang belum tercapai sebanyak 900 ribu akan ditambahkan (carried over) ke target 2006 yang 1,5 juta orang.

      Untuk tahun 2006, Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mengatakan jumlah penduduk Indonesia yang mengalami buta aksara sebanyak 14,5 juta jiwa atau 9,55 persen dari total penduduk Indonesia.(Tempo Interaktif, Jum'at, 03 Maret 2006)

      Pemerintah melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah menargetkan hingga tahun 2009, penduduk yang buta aksara paling banyak tinggal 5 persen saja atau sekitar 7,7 juta orang. Untuk ini Departemen Pendidikan Nasional mengajukan tambahan anggaran sebesar Rp 1 triliun per tahun dari anggaran yang tersedia sebesar Rp 175 miliar untuk tahun 2006.

      Presiden juga telah mengeluarkan Inpres No. 5/2006 Tentang Gerakan Nasional Percepatan Pemeberantasan Buta Aksara (GN-PPBA) yang di antara isinya meminta pemerintah provinsi mengalokasikan anggaran untuk pemerintah kabupaten/kota. Bagi daerah mengalokasi anggaran untuk program pemberatasan buta aksara distimuli dengan memberikan reward berupa Anugerah Aksara dari Presiden. Inpres ini juga ditujukan kepada sejumlah instansi dan kementerian, yaitu Menko Kesra, Mendiknas, Mendagri, Menkeu, Menag, Meneg Pemberdayaan Perempuan, Badan Pusat Statistik, serta para gubernur, dan bupati/wali kota.

      Melalui Inpres ini semua perangkat pemerintahan dari mulai tingkat provinsi, kabupaten/kota, camat, lurah, sampai ke tingkat RT/RW akan diberdayakan. Akselerasi ini masih ditambah lagi dengan peran para lembaga swadaya masyarakat.

       


      Hambatan

      Upaya pemerintah yang dilakukan selama ini tentunya sudah cukup baik, meskipun pada kenyataannya belum dapat menuntaskan permasalahan buta aksara. Paling tidak ada dua hal yang menjadi kendala utama kurang berhasilnya upaya pemberantasan buta aksara ini. Pertama karena faktor teknis di mana kurang maksimalnya organ-organ pemerintah di lapangan, dan kedua adalah keinginan dari masyarakat buta huruf sendiri yang masih minim untuk terbebas dari kebutaan tersebut.

      Keberlanjutan pembinaan para buta huruf ini selalu menimbulkan 'orang baru' buta aksara. Orang yang sebetulnya sudah terbebas dari buta aksara dan dapat melihat huruf akan kembali buta karena kurangnya pembinaan dan bahan bacaan.

      Ini juga yang menjadi persoalan selama ini, sejak perang terhadap buta huruf dikumandangkan lebih dari enam dasawarsa lalu. Secara ekstrim boleh dikatakan bahwa penanganan buta aksara yang dilakukan hanya pada tataran 'lepas rodi' saja. Kegiatan pemberantasan buta aksara dengan motivasi yang salah, bukannya untuk membebaskan masyarakat dari kebutaan aksara tapi lebih berorientasi pada proyekÑkarena besarnya dana yang dikucurkan untuk program ini.

      Saya tidak bermaksud menggeneralisir semua upaya yang dilakukan adalah berorientasi pada uang semata. Tapi dalam banyak kasus ini terjadi. Dan inilah penyakit yang sebenarnya yang harus diupayakan diberantas lebih dahulu. Semangat untuk mendidik harus benar-benar merata kepada setiap jajaran pemerintahan dan organ-organnya di lapangan. Tapi tentunya ini bukan hal yang mudah.

      Lebih jauh, penanganan seperti ini kemudian akan menimbulkan perasaan in-group dan out-group bagi orang-orang yang buta aksara dengan non buta aksara. Masyarakat yang buta aksara diperlakukan seolah orang yang tengah menderita penyakit. Maka orang-orang yang sehat kemudian secara berkelompok dan tersistem melakukan pengobatan. Faktor ini bisa menjadi pendorong bagi orang yang buta aksara untuk tidak terlalu merasa perlu belajar lagi. Mereka telah merasa asing dari orang-orang yang 'pintar-pintar' di sekeliling mereka.

      Ditambah lagi secara budaya, kita bukan termasuk orang-orang yang sangat agresif dalam melakukan berbagai hal, seperti halnya orang Jepang, atapun orang-orang di benua Eropah dan Amerika. Kita cenderung tidak sigap dalam bertindak, karena secara sadar atau tidak sadar jargon 'Biar Lambat Asal Selamat' masih dilakoni orang Indonesia.

      Boleh jadi hal inilah yang menjadi penyebab target pemberantasan buta aksara tidak pernah tercapai. Maksimal jumlah orang yang dimelekkan tahun 2005 hanya sebanyak 800 ribu orang. Padahal tahun ini ada sekitar 2,4 juta orang yang perlu dijadikan melek aksara.

      Kata kunci bagi keberhasilan program pemberantasan buta aksara ini tidak lain adalah peran serta seluruh elemen masyarakat Indonesia. Harus ada sinergi yang positif dari mulai perangkat pemerintahan dari tingkat tertinggi sampai terbawah, organisasi kemasyarakat, sampai masyarakat itu sendiri.



      Memberdayakan peserta didik

      Ada baiknya pemerintah mulai 'melirik' para peserta didik untuk diberdayakan ikut memberantas buta aksara. Para anak didik ini bisa diajarkan untuk meneruskan pelajaran membaca yang didapatnya kepada orang-orang di sekitarnya seperti orang tua, adik, kakak, dan teman-temannya. Pada waktu malam hari di rumah, sang anak bisa memberi pelajaran membaca kepada ayah-ibunya. Atau ketika istirahat bermain di pematang sawah bersama-teman. Begitu pula di berbagai kesempatan lainnya.

      Tentunya para guru harus dibekali terlebih dahulu untuk memberikan motivasi dan stimulasi kepada anak didiknya dalam rangka ikut serta dalam program pemberantasan buta aksara. Nantinya akan selalu ada anak didik yang menonjol dan akan menjadi pelopor bagi 'guru' di kampungnya, dan itu akan menulari para peserta didik lainnya.

      Jika setiap murid bisa memberi pengajaran pada lingkungan terkecil saja di sekitar rumahnya, maka hal ini sudah merupakan suatu keberhasilan. Karena progres pengajaran seperti ini tidak akan mengenal batas waktu sepanjang motivasi itu terus dihidupkan. Ini sejalan dengan program untuk mengharuskan para orang tua untuk membimbing dan mengetahui sejauh mana pelajaran anak-anaknya di sekolah. Untuk membimbing anak-anaknya maka orang tua tentunya harus tahu baca tulis.

      Dengan program seperti ini dapat mengeliminir perasaan out group dari para 'penderita' buta aksara di Indonesia. Selain itu, jika si peserta didik adalah keluarga bagi orang yang buta aksara maka program ini bisa lebih efektif dan efisien dalam hal waktu.

      Tentu saja langkah inovatif yang dilakukan harus selalu dibarengi dengan pembenahan di berbagai sektor pendukung. Misalnya kesiapan para guru pengajar yang menjadi pemberi motivasi bagi peserta didik. Ataupun masalah penjabaran program yang mudah difahami secara sederhana oleh berbagai pihak.

      Program pelibatan peserta didik dalam pemberantasan buta aksara ini dapat dijadikan sebagai program dampingan dari program yang sudah ada. Tapi yang jelas program seperti ini dapat memotong jalur birokrasi yang panjang sekaligus dapat memangkas biaya yang terlalu tinggi. Lebih dari itu, pemberantasan buta aksara dengan program ini dapat dilakukan dengan 'hati' karena adanya keterlibatan langsung secara emosional di antara objek dan subjek buta aksara tersebut.

      Comments
      mistriyani   |2011-11-28 22:46:53
      tapi kenapa di indonesia masih banyak yang buta huruf? apa pemerintah tidak
      mampu meratakan pendidikan warganya secara merata?
      ali   |2012-04-02 04:20:42
      exjvt
      ali   |2012-04-02 04:21:12
      ok
      sejatiningsih  - sejati     |2012-04-03 18:20:05
      program yang sangat bagus tetapi kadang sulit pada kenyataan di lapangannya
      karena usia lanjut banyak yang sibuk
      dalikal rizal  - -     |2012-04-21 23:53:50
      -
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 256957 clicks
      • Average hits: 2089.1 clicks / month
      • Number of words: 1483
      • Number of characters: 11661
      • Created 11 years and 3 months ago at Wednesday, 03 June 2009 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,795
      • Sedang Online 72
      • Anggota Terakhir Eka Evriza

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9119455
      DSCF8803.jpg

      Kalender & Agenda

      September 2019
      S M T W T F S
      1 2 3 4 5 6 7
      8 9 10 11 12 13 14
      15 16 17 18 19 20 21
      22 23 24 25 26 27 28
      29 30 1 2 3 4 5

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC