.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Manfaat Membaca

      Oleh:

      Suherman

      Membaca sebenarnya bisa menjadi solusi atau kunci bagi berbagai macam permasalah manusia. Bahkan bisa dikatakan bahwa membaca sangat berkaitan dengan eksistensi manusia itu sendiri. Membaca merupakan pembeda antara manusia dengan mahluk lainnya, maka bisa dikatakan bahwa manusia adalah mahluk membaca. Apabila Rene Descartes mengatakan bahwa “aku berpikir maka akau ada” maka tidak salah, bahkan mungkin ini yang paling tepat, apabila kita mengatakan“aku membaca maka aku ada.” Karena membaca adalah berpikir, bahkan membaca bukan hanya berpikir akan tetapi juga merasa dan berkreasi. Manfaat atau pengaruh membaca sangat berakaitan dengan seluruh dimensi manusia: kognisi, fisik, psikis, emosi, spirit, dan syaraf atau memori.

      Membaca, yang juga dapat diartikan memasukan informasi kedalam otak, merupakan akar dari semua tindakan, perilaku, kebiasaan, dan karakter. Apabila digambarkan sebagai berikut:

      Penjelasannya penulis adaptasi dari buah pikiran Anis Matta :[1] Informasi yang masuk kedalam benak kita melalui kegiatan membaca akan berkembang menjadi memori, dan memori itu secara perlahan akan berkembang dan terkristalisasi yang akhirnya menjadi ide atau gagasan atau pikiran. Pikiran itu selanjutnya menukik lebih jauh dalam diri masuk dalam wilayah emosi dan membentuk keyakinan. Maka, keyakinan berkembang menjadi kemauan, dan secara perlahan berkembang menjadi tekad. Begitu ia menjadi tekad, pikiran itu telah memperoleh energi atau tenaga agar ia terwujud dalam kenyataan. Setelah itu, tekad menjalar ke dalam tubuh dan menggerakaannya, maka lahirlah tindakan. Bila tindakan dilakukan secara berulang-ulang maka terbentuklah kebiasaan, dan apabila kebiasaan itu berlangsung dalam waktu lama maka terbentuklah karakter.

      Jadi, kualitas pikiran kita akan membentuk kualitas kepribadian kita, dan kualitas kepribadian kita akan membentuk kualitas hidup kita. Dan kualitas pikiran seseorang sangat dipengaruhi malah ditentukan oleh kualitas dan kuantitas informasi dan pengetahuan yang dibacanya.

      Dapat dikatakan bahwa seseorang melangkah di atas pengetahuannya. Masa depan seseorang sangat ditentukan oleh seberapa banyak ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Tindakan atau prilaku seseorang tidak mungkin keluar dari bingkai pengetahuan atau pikirannya. Pengetahuan seseorang sangat menentukan kualitas pikirannya. Sedangkan pikiran adalah akar dari terjadinya perubahan, perbaikan, dan pengembangan kepribadian. Oleh karena itu, untuk melakukan pembangunan karakter personal maupun kebudayaan masyarakat maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperbaiki pengatahuannya yang instrumen utamanya adalah membaca.

      Setiap saat informasi menyerbu pikiran manusia melalui pancaindra terutama indra penglihatan dan pendengaran. Dan tidak bisa dihentikan atau dimatikan. Yang dapat dilakukan adalah mengalihkannya dan mengantikannya dengan informasi yang baik. Maka, kita semua harus belajar untuk memikirkan apa yang seharusnya kita pikirkan dan yang seharusnya tidak perlu kita pikirkan. Kita harus bisa menjamin bahwa semua yang kita pikirkan adalah sesuatu yang dapat dipertangunggjawabkan baik secara logika, etika, etiket, dan estetika.

      Input informasi yang salah otomatis akan mengeluarkan output yang berupa ucapan atau perbuatan yang juga salah. Kita akan tetap melakukan sesuatu berdasarkan perintah pikiran kita, walaupun informasi yang membentuk pikiran kita adalah informasi yang tidak benar. Sering terjadi, misalnya seseorang merasa ketakutan karena membayangkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada dalam kenyataan. Tidak jarang konflik terjadi karena misinformasi atau mendapatkan informasi yang keliru melalui intrik atau isu yang kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Itulah sebabnya agama melarang kita untuk percaya pada tahayul, khurafat, gosip, dan lainnya. Sebab, itu semua tidak mempunyai dasar kebenaran yang dipertanggung jawabkan. Kita harus membiasakan diri untuk mengetahui sesatu sebagaimana ia adanya, secara akurat dan objektif yang disebut dengan ilmu pengetahuan. Maka, berpengetahuan berarti bertindak atas dasar kebenaran ilmiah, bertindak dengan bimbingan ilmu pengetahuan, dan berbicara dengan muatan ilmiah. Tidak ada sesuatu yang dapat dilakukan secara benar, kecuali jika kita mempunyai pengetahuan yang benar tentang sesuatu tersebut.

      Tindakan kita atau kejadian dan peristiwa kehidupan yang kita saksikan merupakan penampakan luar dari sesuatu yang ada dalam diri kita, yaitu kesadaran yang terbentuk dalam alam pikiran. Pikiran adalah bingkai yang membatasi ruang tindakan. Pikiran adalah ruang penciptaan pertama bagi manusia. Maka, tidak ada tindakan yang dapat melampaui luasnya wilayah pikiran, dan sebuah tindakan menampakkan diri dalam pikiran, sebelum ia menampakkan diri dalam kenyataan.

      Pikiran merupakan kekuatan pembimbing dan pengarah yang membentuk tindakan serta kebiasaan dan karakter. Pikiran menciptkan perasaan terbimbing dan terarah dalam diri. Suatu perasaan yang selanjutnya menciptakan efek ketenangan, keyakinan, dan kepastian. Efek-efek itulah sesungguhnya yang memberikan kekuatan pada tindakan-tindakan kita.

      Dalam skala yang lebih luas, pikiran-pikiran itu sama dengan nilai-nilai yang berkembang dalam suatu masyarakat, yaitu kekuatan yang mengarahkan dan membentuk perilaku kolektif masyarakat, yang kemudian kita sebut dengan budaya.

      Dengan kaidah di atas dapat menjelaskan benyak fenomena kehidupan seperti telah kita bahas di awal seperti politik (demokrasi), kualitas pendidikan, dan ekonomi (daya saing). Bahwasannya di balik semua fenomena tersebut terdapat pikiran-pikiran pada skala individu atau nilai-nilai pada skala masyarakat, yang mangarahkan dan membentuk mereka. Secara kultural, orang-orang miskin misalnya, hidup dengan pikiran-pikiran dan nilai-nilai tertentu yang mengokohkan kemiskinannya dan tidak memungkinkan mereka keluar dari jeratan kemiskinan itu kecuali jika mereka memutuskan mata rantainya yaitu pikiran-pikiran dan nilai-nilai yang mereka percayai.

      Dari awal kita sudah banyak membahas hubungan antara membaca dengan aspek kognitif. Berikut adalah bukti-bukti hasil penelitian yang berkaitan dengan aspek fisik, psikologis atau kejiwaan, juga dengan aspek daya ingat (otak, memori dan saraf) .

      Orang yang banyak membaca bisa berubaha menjadi seorang pribadi yang menarik secara fisik. Hal ini pernah diteliti oleh Malik bin Nabi, seorang intelektual asal Turki. Malik meneliti tentang imigran Aljazair yang datang ke Perancis. Dia mengatakan bahwa seabad yang lalu para imigran ini datang dengan kondisi buta huruf dan jelek. Akan tetapi hari ini tampang para imigran ini tampan dan menarik. Apa yang membuat perubahan drastis tersebut ternyata adalah buku. Sentuhan peradaban telah meninggalkan goresan keindahan pada sorot mata dan garis-garis wajah mereka. Malik bin Nabi berujar: “Setiap kali pengetahuan dan kemampuan membaca mereka bertambah, kami selalu mencatat wajah mereka. Kemudian kami menemukan fakta bahwa wajah mereka berubah menjadi lebih indah dari waktu ke waktu. Pengetahuan membuat mereka tampak lebih indah.” Riset yang dilakukan oleh Malik bin Nabi melalui suatu eksperimen dengan cara mengajari buruh-buruh kasar dan buta huruf membaca. Dari situ ia menemukan bagaimana pengetahuan dan keindahan memiliki korelasi yang positif. Menjadi indah adalah efek pengetahuan. Pengetahuan membuka ruang kemungkinan lebih luas dan menambah kemahiran. Itu membuat manusia lebih berdaya. Keberdayaan meningkatkan harapan dan keperayaan diri. Dan itu yang mewariskan kegembiraan jiwa. Yang terakhir inilah yang membuat senyum mereka merekah lebih renyah. Karena harapan mereka permanen. Karena kepercayaan diri mereka beralasan.[2]

      Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Robert Wilson dari Rush University Medical Centre di Chicago AS menyimpulkan bahwa rutinitas dan seringnya membaca memiliki pengaruh positif dalam menjaga memori otak bekerja hingga usia tua. “melatih otak dengan membaca sejak anak-anak penting untuk kesehtan otak di usia tua.” [3]

      Penelitian yang berhubungan dengan membaca juga dilakukan MindLab Internasiona di University of Sussex, Inggris, mengungkapkan bahwa membaca buku lebih manjur daripada musik untuk meredakan stres. Dan itu tidak lepas dari efek imajinatif yang lebih bisa ditawarkan kata daripada nada yang berguna bagi tingkat kesadaran yang sehat. Psikolog syaraf kognitif Dr. David Lewis menyatakan dari studi diadapati membaca menjadi jalur terbaik untuk mengurangi tingkat depresi. Terdata angka pengurangan ketegangan psikis itu bisa mencapai 68%.[4]

      Banyak membaca bisa membuat jiwa menjadi sehat dan nyaman karena dapat mengurangi kegelisahan yang diakibatkan oleh terjadinya ketidakseimbangan informasi (resonansi kognitif) yang disebut dengan bibliotheraphy.[5]

      Sebuah penelitian selama enam tahun (1996-2002) dilakukan oleh Sarah Miles dan Deborah Stipek dari Sanford university School of Education Californaia, Amerika Seerikat. Objeknya adalah 400 anak TK dan SD di pedesaan dan wilayah kota miskin yang pendidikannya mudah terpuruk dan terabaikan. Dilaporkan bahwa ada keterkaitan antara tingkat kemampaun membaca dengan tingkat agresivitas (suka berkelahi, tidak sabaran, suka mengganggu, dan kebiasaan menekan orang lain atau bullying). Anak-anak yang kemampuan membacanya rendah cenderung memilki tingkat agresivitas yang tinggi. Jadi, bersamaan dengan tingkat pergaulan mereka, anak-anak yang kemampuan membacanya rendah itu frustrasinya kian menumpuk dan keadaan inilah yang membuat mereke menjadi agresif. Sebaliknya, anak-anak yang memiliki kemampuan membaca yang bagus berkorelasi positif dengan sikap sosial (suka menolong, empati, simpati, dan mengihibur team yang sedang susah).[6] Satu lagi contoh hubungan membaca dan agresivitas:[7] Sebuah eksperimen yang sangat terkenal dilakukan oleh Erin Gruwel, guru sastra Inggris di Wilson High School. Setiap hari sang guru harus berhadan dengan para murid yang hobi berkelahi. Perkelahian terutama dipicu oleh sikap rasis dari para murid yang berasal dari berbagai macam suku bangsa. Berkat kesabarannya, sang guru akhirnya menemukan benda ajaib untuk merukunkan kebengalan para murid. Benda ajaib tersebut adalah buku. Dengan berbekal buku Oddysey karya Homer mulailah Erin berkisah (story telling) untuk meluluhkan keangkuhan dan kebengalan serta menyiram kegersangan jiwa-jiwa pemberontak dengan tiupan angin sepoy sastra adiluhung tersebut. Dan mulailah tumbuh kesadarana nonras. Untk menumbuhkan suka membaca maka Erin mewajibkan para murid menuliskan dalam buku harian kisah mereka tentang apa saja yang ada dalam otak, hati, dan pikiran siswa yang menjadi obesesi, pengalaman, dan pusat kejengkelannya. Para murid harus menulis dengan jujur. Hasilnya sungguh dahsyat, ada cerita tentang kekerasan, perang gengster, pembunuhan, penjara, dan pertengkeran hebat dalam keluarga. Dari catatan harian itu Erin bisa memahami latar belakng siswanya secara mendsar dan menyeluruh. Dari buku harian yang mereka tulis sebagai katarsis atau eskapis terehadap semua dendam yang menggumpal di dalam batin mereka, maka akhirnya timbullah rasa hormat mereka terhadap sang guru.

      Pada kesempatan yang lain Erin menghadirkan buku The Diary of Anne Frank[8] di dalam kelas. Para siswa diharuskan untuk membacanya. Dari buku tersebut para siswa merasa terinspirasi yang akhirnya ada perubahan watak, sikap, menggugah kesadaran, dan meneguhkan keberanian untuk berkata bahwa yang benar itu adalah benar. Walapun kebenaran itu merugikan kaumnya sendiri. Kemudian para siswa pun diajak study tour ke Museum of Tolerance di Paris untuk menapaktilasi semngat toleransi dari tragedi besar yang dilakukan Nazi. Apa yang dilakukan Erin akhirnya membuahkan hasil, akhirnya para siswa menjadi siswa yang penuh toleransi, empati, dan simpati terhdap sesama. Juga mereka memiliki semangat yang menyala untuk menempuh hari depan yang lebih baik. Eksperimen Erin akhirnya menjadi sebuah buku dengan judul The Freedom Writer Diary.

       



      [1] Anis Matta. Delapan Mata Air Kecemerlangan. Jakarta: Tarbawi Press, 2011. Hal. 48-67

      [2] Anis Matta. Serial Cinta. Jakarta: Tarbawi Press, 2008, hal. 155-158.

      [3] Penelitian itu melibatkan 294 orang dengan usia 55 tahun. Mereka menjalani tes kognitif setiap enam tahun samapi kematian mereka pada usia rata-rata 89 tahun. Mereka juga menjawab kuesioner tentang apakah mereka membaca buku, menulis, atau berpartisipasi dalam kegiatan lain sejak kanak-kanak, remaja usia pertengahan hingga usia mereka saat itu. Setelah mereka meninggal, otak mereka diperiksa. Terungkap bahwa orang yang kerap merangsang otak memiliki tingkat lebih lambat dalam penurunan memori jika dibandingkan dengan yang tidak melakukan kegiatan serupa selama hidup mereka (Media Indonesia, 8 Juli 2013)

      [4] Dari penelitian itu juga ada data komparatif bahwa mendengarkan musik bisa mereduksi stres 61%, menyeruput secangkir teh atau kopi menurunkan 54%, serta berjalan-jalan memberi persentase pernurunan 42%. (Koran Tempo, 4 Februari 2014).

      [5] Sebuah istilah yang merujuk pada penyembuhan penyakit kejiwaan dengan buku, sudah menjadi topik yang tidak asing lagi di dunia kepustakawanan.

      [6] Witdarmono. “Membaca dan Agresivitas.” Kompas, 8 September 2006)

      [7] Muhidin M. Dahlan. “Menjinakan Yang Liar Dengan Buku” dalam Para Penggila Buku.... Op.cit. hal. 344-347

      [8] Anne Frank adalah seorang gadis Yahudi yang tinggal dalam persembunyian dengan keluarganya saat Perang Dunia II. Dia selamat dari kekejaman tentara Nazi Jerman. Dalam persembunyian itulah dia menulis buku hariannya.

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 278 clicks
      • Average hits: 13.2 clicks / month
      • Number of words: 10483
      • Number of characters: 81211
      • Created one month and 9 months ago at Thursday, 23 February 2017 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Google+ Facebook Twitter mail SC