.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Literasi Informasi
E-mail

bintang krisanti

JIWA pemberontak masih tampak dari penampilan Gola Gong. Penulis yang terkenal lewat novel Balada Si Roy ini masih dengan gaya rambut gondrongnya. Namun, pembawaan pemilik nama asli Heri Hendrayana Harris ini nyatanya jauh dari penampilan garang itu. Gaya bicaranya tenang dan senyum tak pernah lepas dari wajahnya.

Saat ditemui Rabu, (29/2), di daerah kediamannya di Serang, Banten, Gong tampak sedang asyik berbincang dengan seorang anak kecil di sebuah tanah lapang merah. "Anak-anak lagi gambar di kali. Kita ke sana a/a," katanya kepada Media Indonesia.

Anak-anak itu bukan sedang ke-betulan bermain di sekitar rumah Gong. Justru apa yang mereka lakukan sebenarnya bagian dari program pelatihan dan pembelajaran yang dimotori oleh pria 48 tahun ini. Sudah sejak tahun 2000, Gong mendirikan Rumah Dunia, yakni taman bacaan masyarakat mandiri yang sekaligus layaknya kawah candradimuka bagi penulis-penulis baru. "Saya ingin membangun Se­rang yang kental dengan tradisi 'adu otot' menjadi pecinta 'adu otak'," kata Gong tentang tempat yang ia gagas bersama sang istri-Tyas Tantaka yang juga penulis.

Keinginan mendirikan tempat pelatihan non-formal pun makin kuat karena pengalamannya sendiri. Pria yang pernah menempuh kuliah di Jurusan Sastra Universitas Padjadjaran ini merasa pendidikan formal kurang cukup mengasah kemampuan dan kreativitas.

Read more...
 
E-mail

Mengenalkan Islam Lewat Bacaan


Setiap  anak  pasti  senang   membaca   atau mendengarkan dongeng. Masa ini harus dimanfaatkan dengan menyuguhkan  cerita-cerita yang mengandung nilai-nilai. Sebagai Muslim, nilai-nilai yang ha­rus ditanamkan tentunya bersumber dari Alquran dan hadis. Misi ini yang ditanamkan  penulis  cerita  Islam, Rani Yulianty (31 tahun). Dia berha-rap, setelah membaca karya-karya-nya, akan terbentuk anak-anak Islami yang    memiliki kualitas Qurani.

"Saya mengenalkan nilai-nilai Islam, keteladan para Nabi, dan sahabat melalui dongeng dan komik agar anak-anak paham dan mengerti Islam. Ceritanya dikemas dengan menarik, kaya warna, dan tidak menggurui sehingga tidak bosan membacanya," papar Rani kepada Republika.

Kebetulan dunia dongeng bukan hal baru baei Rani. Seiak kecil dia senang membaca dan ra]in menulis komik. Namun, ia belum pede mengirimkan karyanya ke majalah. Karya-karyanya baru dibaca oleh sebatas teman-teman di sekolah. Lulus kuliah dari Sastra Bahasa Indonesia UPI Bandung, semangat menulis Rani semakin menggelora. Ide cerita semakin menumpuk dan tinggal dituangkan dalam bentuk tulisan. Na­mun, hal itu tidak semudah yang dibayangkannya. Karya perdana perempuan yang masa kecil hingga remaja dihabiskan di Sukabumi, Jawa Barat, ini sempat ditolak pihak penerbit.

Read more...
 
E-mail

Mengelola Warung Pasinaon

Ada apa saja di Warung Pasinaon? "Semuanya ada. Mau minta apa saja di sini, kalau dapat memenuhinya, akan kami penuhi. Makanya, kami menamai tempat ini warung. Bedanya, ini warung untuk siapa saja belajar banyak hal," kata Tirta Nursari menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya.

OLEH AMANDA PUTRI NUGRAHANTI

Tirta Nursari adalah pendiri Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Warung Pasinaon di Desa Bergas Lor, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Diberi nama warung agar banyak orang tertarik datang ke tempat itu dan pulang dengan "kenyang" ilmu pengetahuan. Sedangkan "pasinaon" dalam bahasa Jawa berarti pembelajaran. Siapa saja yang ingin belajar boleh datang ke warung ini.

Berawal tahun 2007, Tirta melihat banyak anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya kurang mendapat perhatian orangtua. Sejak daerah itu tumbuh menjadi kawasan industri, sebagian besar warga bekerja sebagai buruh pabrik, terutama kaum perempuan.

Waktu seorang ibu berada di rumah justru minim. Para ibu pergi bekerja pagi dan pulang pada malam hari. Peran mereka di sektor do-mestik digantikan kaum bapak Anak-anak yang kurang mendapat perhatian, pergaulannya pun tak ter-kontrol. Beberapa anak bahkan mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

Kondisi tersebut membuat Tirta memutuskan berhenti mengelola lembaga bimbingan belajar (bimbel) miliknya Alasannya, pengelolaan bimbel yang profesional tak mampu menjangkau anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu.

"Saya putuskan bergerak di bidang sosial saja supaya anak-anak itu bisa memiliki tempat belajar. Saat itu saya niembayangkan, anak-anak butuh tempat untuk menyalurkan energi mereka dengan hal-hal yang positif," kata Tirta yang kemudian membuka bimbel Bahama Inggris gratis untuk Keberadan Bahasa Inggris itu ditawarkan kepada warga melalui pengumuman di masjid. Proses pembelajaran pun dimulai di masjid. Berawal dari 14 anak yang tertarik mengikuti bimbel, dalam tempo sebulan, jumlahnya bertambah men­jadi 40 orang.

Read more...
 
E-mail

Mengabdi Melalui Karya Multatuli

KABUT dan asap mengepul dari sebuah genteng rumah. Ayam berkokok menggantikan gelap malam di sebuah kam­pung yang belum dilalui listrik. Kampung itu merupakan bagian dari kawasan Taman Na-sional Gunung Halimun dengan lanskap batuan terjal. Tidak ada sinyal alat komunikasi di sana. Di kampung itulah Ubaidilah Muchtar mengabdikan dirinya di sebuah SMP di Kampung Ciseel, Lebak, Banten, Jawa Barat.

Ubai, panggilan akrabnya, menghabiskan tiga hari dalam sepekan di Kampung Ciseel. la menempuh perjalanan 120 km dari rumahnya di Depok dengan menggunakan sepeda motor da-lam waktu sekitar 3,5 jam. Jarak 20 km terakhir berupa perbukit-an terjal tanpa aspal. Menjadi guru di desa terpencil bukanlah cita-cita Ubai. la bah-kan tak pernah menduga lolos tes CPNS menjadi guru. la semakin kaget saat melihat lokasi ker-janya dan sempat berpikir untuk menyerah serta tidakmengambil kesempatan sebagai PNS.

Namun, proses adaptasi awal yang dirasa berat tersebut tak lama berlangsung. "Anak-anak bersemangat untuk belajar, saya jadiikut bersemangat. Merekalah yang membuat saya bertahan," cetusnya.

Kesunyian desa, ketiadaan listrik, dan infrastruktur yang terbatas menjadi pemicu yang menggerakkan hati Ubai untuk berbuat sesuatu. la pun mengontrak rumah sederhana berukuran 5x2,5 me­ter. Rumah itu dia jadikan tempat tinggal sekaligus Taman Baca Multatuli. Melalui taman baca itu, Ubai mendekatkan anak-anak dan warga kampung lainnya ke-pada dunia sastra.

Ubai juga membuat kelompok baca Multatuli. Secara rutin, ia membaca buku karya Multatuli berjudul Max Havelaar bersama anak-anak di Kampung Ciseel. Alasannya, buku itu dianggap memiliki nilai sejarah yang lekat dengan Kabupaten Lebak.

Read more...
 


Page 3 of 18

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,797
  • Sedang Online 125
  • Anggota Terakhir Suwardi

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9124544
DSCF8754.jpg

Kalender & Agenda

November 2019
S M T W T F S
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC