.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Literasi Informasi
E-mail

PIKIRAN RAKYAT, 13 DESEMBER 2007


Mengkritisi GerakanLiterasi Lokal

Oleh TARLEN HANDAYANl

"Jika gerakan literasi sekadar ajakan membaca, saya kira semua orang sepakat. Namun, ada apa di balik ajakan itu dan bagaimana implementasinya, itu yang sulit, hal itu terlontar dari

PuthutE.A. penulis danaktivis komunitas Tanda Baca, dalam diskusi "Gerakan Literasi Lokal dan Peluang Membangun Jaringan", beberapa waktu lalu di UGM, Yogyakarta. Apa yang disampaikan Puthut menjadi gugatan atas persoalan klasik negeri ini bahwa gerakan-gerakan sosial seringkali berhenti sebatas jargon belaka.

PADA tahun 2003, UNESCO mendefm-isikan literasi sebagai kemampuan untuk mengiden-tifikasi, memahami, menaf-sirkan, menciptakan, me-ngomunikasikan, dan ke­mampuan berhitung melalui materi-materi tertulis dan ter-cetak termasuk juga variasi bahan yang sesuai dengan konteks definisi literasi itu sendiri. Dari definisi tersebut, Koiichiro Matsuura, Director-General UNESCO menje-laskan bahwa literasi lebihdari sekadar membaca dan menulis. Melainkan juga men-cakup bagaimana kita berko" munikasi dalam masyarakat, Karena literasi berarti juga praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan penge-tahuan, bahasa, dan budaya.

Last Updated on Tuesday, 13 March 2012 09:19 Read more...
 
E-mail

Mendalami Literasi lewat Hobi

Tarlen Handayani

Program Director Tobucil & Klabs


PADA awal-awal klub hobi diadakan di To­bucil, banyak orang yang bertanya kepada saya, "Apa hubungan buku dengan merajut dan melipat kertas?"

Pertanyaan tersebut dilontarkan karena membaca moto Tobucil: "Supporting Local Literacy Movement". Sedangkan orang, sering kali, memaknai literacy movement ha-nya sebatas kegiatan yang berhubungan dengan buku.

Nah, ketika itu, biasanya saya teringat sebuah buku percobaan sederhana di masa kecil dulu. Buku sederhana yang menjelaskan hukum-hukum fisika lewat percobaan-percobaan kecil yang bisa dijalankan anak-anak seusia saya pada waktu itu. Percobaan-percobaan itu, selain menarik untuk dilakukan, membuat hukum-hukum fisika yang saya pelajari di sekolah menjadi lebih 'nyata' dan terbayang bagaimana aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian pula pengalaman sejak masa kecil, ketika itu saya dan teman-teman biasa membuat mainan sendiri dari barang-barang bekas. Dari mulai menemukan bahan yang semula tidak terbayang bisa dijadikan apa, kemudian memikirkan ide yang menarik untuk bahan itu, sampai cara mem-buatnya. Pengalaman-pengalaman itu memberi saya proses eksperimentasi dari mulai menemukan ide sampai realisasinya. Itu sebabnya, kegiatan hobi menjadi penting un­tuk dilakukan.

Last Updated on Tuesday, 13 March 2012 09:18 Read more...
 
E-mail

Media Indonesia

30 November 2010

Membangun Bangsa Berbasis Pengetahuan

Oleh Deni Shidqi Khaerudini

Peneliti muda di Puslit Fisika LIPI

PEMBANGUNAN bertujuan meningkatkan kemajuan bangsa melalui peningkatan kuali-tas hidup masyarakat. Peneli­tian dilakukan untuk mendapat, kebenaran tentang sesuatu yang belum diketahui dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah. Kedua konsep tersebut dapat saling berhubungan. Pembangunan berjalan sesuai dengan apa yang dicita-citakan jika ditunjang dengan penelitian yang bermutu. Hanya saja, komitmen bangsa dan dunia industri terhadap hasil penelitian (peneliti) masih sangat rendah.

Dukungan industri

Untuk mencapai hasil maksi-mal di bidang riset, penataan lembaga riset juga perlu dilaku­kan dengan melibatkan sektor swasta. Industri dapat berperan dalam mendorong peningkatan riset aplikatif. Hal tersebut berpengaruh dalam pembangunan ekonomi agar tidak hanya berfokus pada sumber daya alam mentah, tapi juga diarahkan ke pembangunan ekonomi berbasis pengetahuan melalui sentuhan perekayasaanteknologi. Bahkan bila perlu, pemerintah memberikan tindakan tegas kepada pihak industri yang

hanya mengekspor produk mentah, sebagai bukti langkah mendorong proses pertambah-an nilai dan motor penggerak dalam demand teknologi, khususnya teknologi karya anak bangsa.

Kalau kita simak berbagai indikator kemampuan inovasi suatu negara, daya serap teknologi di level industri di Indonesia (dengan indeks 4,5) lebih rendah daripada beberapa negara tetangga seperti Thailand (5,3), Malaysia (5,8), dan Singapura (6). Begitu juga kolaborasi litbang dan industri pada 2006 di Indonesia (dengan indeks 2,8) lebih rendah jika dibandingkan dengan China (3,9), Thailand (4,2), dan Malay­sia (4,9) (sumber: World Bank). Memang banyak kendala diha-dapi untuk membangun kolaborasi antara lembaga riset dan industri.

Salah satunya perbedaan kepentingan/sudut pandang antara pelaku riset dan pelaku usaha. Produk riset lahir dari lingkungan/budaya yang lebih fleksibel dan masih memung-kinkan adanya toleransi. Se-mentara sektor produksi lebih mengedepankan pentingnya nilai tambah. Selain itu, kecilnya daya serap industri yaitu lamanya waktu riset sehingga layak diterapkan, antara 5 dan 20 tahun. Lamanya waktu dan besarnya biaya riset membuat industri memilih membeli lisensi produk asing. Riset sampai saat ini masih dianggap se­bagai temuan ilmiah

Last Updated on Tuesday, 13 March 2012 09:17 Read more...
 
E-mail

KOMPAS, 6 OKTOBER 2008

Membaca Kertas, Memahami Peradaban

Oleh ACEP I WAN SAID I

Hari-hari ini masih daTam suasana Lebaran. MemberflKl ucapan salam Lebaran dalam bentuk apa pun (kata-kata, gambar, foto diri, dan bahkan audiovisual) kini bukan lagi masalah. Dengan biaya relatif murah dan tanpa ber-susah payah memilih gambar tercetak di toko-toko, kita bisa mengirimnya dalam hitungan detik ke kerabat palingjauh seka-lipun. Bahkan, kita pun acap menerima dari atau secara iseng saja mengirim kepada orangyangkurang atau tidak dikenal.

Inilah era di mana semua alamat menjadi sangat dekat. Jarak antara seseorang di sebuah belahan bumi yang satu dan seseorang lain di be­lahan bumi yang lain seakan tak terantai sama sekali. Semuanya seperti berada dalam sebuah geng-gaman tangan. Kita seperti berada pada sebuah ruang yang sangat sempit.

Akan tetapi, apakah kita memang begitu dekat satu sama lain? Setiap zaman, dengan segala tandanya, selalu membawa konse-kuensi tertentu. Kutub-kutub positif-negatif selalu tidak pernah bisa melepaskan diri dari pasangannya. Setiap zaman adalah paradoks. Demikian hahiya zaman ini yang dikendalikan sedemikian rupa oleh teknologi informasi yang revolusioner. Kita berada dalam berbagai paradoks, bahkan kontradiksi-kontradiksi yang sangat tajam.

Last Updated on Tuesday, 13 March 2012 09:17 Read more...
 


Page 12 of 18

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,798
  • Sedang Online 126
  • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9127498
DSCF8790.jpg

Kalender & Agenda

December 2019
S M T W T F S
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31 1 2 3 4

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC