.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Literasi Informasi
E-mail

Literasi Estetis Ateis

AsepSalahudin

Wakil Rektor IAIN Pesantren Suryalaya Tasikmalaya, kandidat doktor Unpad

SANGAT menarik membincangkan I novel Achdiat, Atheis, dalam konteks seka-rang, ketika isu terorisme dan fundamentalisme yang bia-sanya dihubungkan dengan Nil acap kali merebak dan merebak lagi. Mengangkat kembali 'ateis' juga memiliki relevansi ketika Alexander, seorang CPNS di Kabupaten Dharmasraya, harus berstatus tersangka gara-gara mengumbar paham yang ditengarai beraroma ateisme. Sejumlah kecaman kemudian berdatangan ke alumnus Universitas Padjadjaran jurusan statistik itu.

Ketua Majelis Ulama Indo­nesia Sumatra Barat Syamsul Bahri Khatib menyayangkan sikap Alexander yang mem-bawa nama Minang. Menurut penyidik, Alexander diancam dengan Pasal 27 ayat 3 UU ITE, Pasal 156 A KUH Pidana tentang Penodaan Agama. Pro dan kontra kemudian merebak.Gerakan garis keras biasa-nya ditautkan secara gene-alogis dengan Darul Islam (DI/ Nil), literer estetis ateis-nya Achdiat Karta Mihardja di hadapan fakta empiris skrip turalisnya Darul Islam Karto-suwiryo yang pengaruhnya disebut-sebut masih terasa sampai saat ini.

Tentu tidak ada hubungan darah antara Achdiat Karta Mihardja dan Kartosuwiryo walaupun ada kemiripan nama. Yang pertama ialah sastrawan terkemuka kelahiran Cibatum, lama bermukim di Australia, dan karyanya sangat melimpah. Sebut saja, semisal, Keretakan dan Ketegangan (1956), Polemik Kebudayaan (editor, 1948), Bentrokan dalam Asmara (drama, 1952), Keretakan dan Ketegangan (kumpulan cerpen), Kesan dan Kenangan (1960).

Read more...
 
E-mail

Ghost Writer


GHOST writer" dalam bahasa Inggris menurut The New Shorter Oxford English Dictionary suntingan Lesley Brown (1993) adalah "a person who writes something on behalf of an­other person who lake the credit (cf. sense to above)". Kamits Inggris-Indohesia susunan John M. Echols dan Hassan Shadily (1982) menerangkan bahwa "ghost writer" itu adalah "pengarang untuk orang lain." Dalam bahasa Indonesia belumada istilahnya, sehingga Ikhals dalam kamusnya itu memberikau keterangan bukan padanannya dalam bahasa In­donesia, melainkan berupa kete­rangan arti. Pidato 17 Agustus Presi­den Sukarno sekilar la him 1950, konon ditulis oleh M. Natsir, sedangkan sekitar tahun 1960-1965 ditulis olehNjoto. Baik Natsir maupun njoto dalam hal ini berlindak sebagai ghost writer untuk Presiden Su­karno. Sementara Moerdiono dikenal sebagai ghost writer untuk sambutan-sambutan dan pidato-pidato Presiden Scenario. Para pemimpin dan pembesar negara terutamapara presiden di berbagai negara biasa mempunyai ghost writer. Di Amerika ada seorang ghost writer yang membuatkan konsep-konsep pidato untuk lima orang presiden.

Seorang ghost writer hams merelakan link ciptanya akan apa yang ditulisnya untuk atasannya atau orang yang memesan tulisan itu. Namanya tidak akan disebut sebagai pencipta dan kalau diterbitkan dia pun tidak berhak atas honorarium yang ditimbulkan oleh tulisannya itu. Tentu saja untuk itu ia telah mendapat "ganti rugi", baik berupa gaji letap kalau dia bekerja sebagai staf yang tugasnya adalah membuat konsep-konsep pidato dll. kalau berupa pembayaran sekaligus unluk mengeijakan sesuatu tulisan yang lelah disepakati bersama. Di Indonesia |nm sekarang banyak penulis yang menyediakan diri seba­gai ghost writer untuk orang-orang yang ingin inenerbitkan buku tetapi tidak manipulasi menulis sendiri atau tidak sempat mengeriakannyakare-na kesibukannya atau sebab lainnya. Tentu saja atas kesepakatan mengenai prmbayarannya. Konon jumlah pembayaran ilu sering kali jauh lebih besar daripada honorarium yang di-dapal si penulis jika buku itu diterbitkan alas namanya sendiri, karena penerbit biasanya menyediakan hon­orarium buat pengarang sekitar 10 persen dari harga, sedangkan pemba-yarannya dicicil sesuai dengan jumlah buku yang terjual. Sementara kalau dia bertindak sebagai ghost writer, orang yang memesannya akan mem-bayarnya sekaligus dengan jumlah ba-yaran yang sering kali lebih besar daripada 10 persen dari harga jual buku tersebut

Read more...
 
E-mail

Dari Fikih Hingga llmu Gempa


Ribuan manuskrip terserak di Tanah Rencong. Sebagian telah diarsip, sebagian lagi takjelas rimbanya. Gempa dan tsunami Aceh tahun 2004 turut mengubur warisan sejarah yang tak ternilai itu. Pusat warisan naskah kuno Aceh, antara tain, di Dayah Tanoh Abee. Menurut Henri Chamberi Loir, peneliti di Ecole Francaise d Extreme Orient, yang memberi pengantar datam Katalog Naskah Dayah Tanoh Abee Aceh Sesarsusunan Oman Fathurahman, khasanah manuskrip di dayah ini mengan-dung informasi yang cukup unik tentang se­jarah pendidikan agama Islam di nusantara.

Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa politik, dagang, agama, dan budaya sejak abad ke-15 telah rnendorong tradisi tulis dan keilmuan yang sangat pesat di wilayah ini, Bahkan, hingga berabad-abad berikutnya, khususnya abad ke-16 dan ke-17 ketika kesultanan Aceh menggapai zaman keemasannya.

Nama-nama seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrai, Nurudin at-Raniri, Abdurauf ibn All al-Jawi al-Fansuri, Mudammad Zain anak Fakih Jalaludin, dan Te-ungku Khatib Langgien sohor sebagai cendekiawan Muslim masa tampau. Dari berbagai penjuru, santri datang berguru. Mereka memberi warna khusus pada naskah Aceh, yaitu penuh nuansa keagamaan.

Read more...
 
E-mail

Berkiblat Pada Aceh dan Banten

Ibnu Batutah dalam bukunya Rihlah Ibnu Bathutah dalam pengembangan tradisi keilmuan di Aceh.


Perjalanan Oman Fathurahman, ketua umum Masyarakat Pernaskahan  Nusantara ke Min­danao, Filipina, akhir bulan lalu, menguatkan prognosis sebelumnya  bahwa Aceh dan Banten adalah kiblat keilmuan di masa lampau. Sebanyak 49 manuskrip Islam Melayu dan Arab warisan Haji Muhammad Said atau Sayyidna, seorang ulama pengembara abad ke-19 asal Magonaya, Mindanao, jelas tersurat pengaruh ulama Banten dan Aceh dalam karya tulis tangan abad lampau. la pernah singgah di Bor­neo, Lingga, Johor, dan Palembang, sebelum akhirnya belajar selama tujuh di Haramayn. Menyimak lembar demi lembar manusia Melayu dan Arab tersebut, membawa saya pada satu asumsi bahwa hubungan keilmuan antara Muslim Mindanao dan ulama-ulama nusantara di Aceh dan Banten telah terjalin cukup kuat pada masa lalu," katanya.

Salah satu manuskrip tasawuf berjudul Sayyid akiaarz/karangan ulama Mindanao, Syekh Ihsan al-Din, misalnya, menyebutkan "... bahwasanya Syekh kita, Syekh Haji Abdullah ibn Abdul Qahhar al-Syattari al-Syafi'i Banten telah mengambil Tarekat al-Syattari jalan kepada Allah ..." Seperti kita mafhum, Abdul Qahhar al-Bantani yang disebut sebagai 'Syekh kita" itu adalah mursyid Tarekat Syat-tariyah pada masa Sultan Zain al-Asyiqin, penguasa Kesultanan Banten abad ke-18.

Nama-nama guru yang disebut dalam sil-silah ulama Mindanao ini ujung-ujungnya ternyata juga terhubungkan kepada Ahmad al-Qusyasyi, guru bagi ulama Aceh terkemuka abad ke-17, Abdurrauf al-Jawi al-Sinkili.

Bukti hubungan intelektual Muslim Maranaos dengan Aceh juga dapat ditemukan da­lam beberapa manuskrip koleksi Shiek Ahmad Basher di Jamiat Muslim Mindanao, yang an­tara lain, menyebut kitab tasawuf Umdat al-muhtajin karya al-Sinkili dan kitab hadis Hidayat al-Habib fi al-Targhib wa al-Tarhib karya Nuruddin al-Raniri sebagai rujukan dalam karya-karyanya.

Read more...
 


Page 9 of 18

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,797
  • Sedang Online 87
  • Anggota Terakhir Suwardi

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9124788
DSCF8794.jpg

Kalender & Agenda

November 2019
S M T W T F S
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC