.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Steve Jobs dan Etos Teknologis

      Sementara kebun binatang atau pemelihara rumahan cenderung menjinakkan binatang-binatang atau mengurungnya agar menjadi jinak, Pusat Penyelamatan Satwa Jogjakarta (PPSJ) justru membinatangkan kembali binatang-binatang. Sekolah-sekolah seharusnya bertindak seperti PPSJ yang akan meliarkan siswa, bukan malah menjinakkan siswa...."

      Itu adalah refleksi seorang sis­wa saat melakukan studi ekskursi atau lapangan di PPSJ, di kawasan Sentolo,Yogyakarta, se­perti ditulis seorang guru, St Kartono (2011: 97), dalam Men­jadi Guru untuk Muridku. Siswa itu melihat bagaimana naluri hewani binatang dirangsang dan dikembalikan lagi untuk bisa hidup sebagai hewan di alam raya. Refleksi siswa itu menarik, karena dia membandingkan dirinya dengan binatang dan ini tidak berlebihan, saya pikir. Sekolah atau perguruan tinggi cenderung tidak memanusiakan (kembali) manusia saat mereka berada di ruang-ruang kelas atau kampus. Sastrawan India yang sangat peka terhadap anak-anak, Rabindranath Tagore (2011: 179), mengatakan, "Mereka yang (juga) menjalani perawatan khusus dan pembentukan ulang di pabrik pendidikan mendapatkan nilai tukar di pasaran merek dagang." Sekolah atau perguruan tinggi secara perlahan tapi pasti membentuk anak-anak muda dengan pola yang menumpulkan daya kreatif. Lembaga pen­didikan dan masyarakat global saat ini cenderung membangun ; sistem pendidikan massal dengan "kurikulum pabrik" untuk memberikan pelajaran.

      Stephen Paul Jobs (1955-2011) adalah salah seorang yang meloloskan diri dari pabrik pen­didikan. Jobs tidak mengalami penjinakan dalam dunia pendi­dikan yang akan melumpuhkan daya kreatifnya. "Jangan Mar­ian opini orang-orang mengubah suara batin Anda. Yakin dan ikutilah suara hati dan intuisimu. Hal-hal lain hanyalah faktor sekunder," kata Jobs.

      Tak mengherankan jika Man (moto) Apple Inc adalah tentang the crazy ones: the misfits, the re­bels, the troublemakers, manusia yang melihat dengan cara berbe-da, yang tidak hormat dengan status quo dan pengekangan. Orang boleh setuju atau tidak dengan mereka, boleh mengutip, memuja, atau menjelek-jelekkan. Tapi satu hal yang tidak bi­sa Anda lakukan adalah mengabaikan mereka. Mereka mengubah segalanya. Mereka memaksa manusia maju. Ketika mungkin sebagian orang mengatakan mereka gila, kita menganggapnya jenius. Visi masa depan, yang terasa fiksi ilmiah, menjadi ob-sesi dan terealisasi. Mereka ini, seperti Jobs, yang akan mengubah dunia, dunia kita.

      Dari tangan Jobs, lahir berbagai-inovasi teknoiogi: Apple II (1977), Macintosh (1984), iMac (1998), iPod (2001), iPod Nano. iTunes Music Store (2003). iPhone (2007), dan iPad (2010). Seni dan teknoiogi berpadu dalam karya-karya sentuhan Jobs. Jobs mem­bentuk ulang perilaku kita ten-tang dunia teknoiogi. Kreatif destruktif dalam sistem kapita-lisme, seperti dikatakan ekonom Joseph Schumpeter, terjadi ha-nya dalam beberapa tahun di ta­ngan Jobs.

      Dalam diri Jobs, kita mene-mukan apa yang sering dikata­kan Ki Hajar Dewantara: cipta. rasa, dan karsa. Dalam definisi yang padat-singkat, kita mene-mukan sebuah kausalitas yang berujung pada penciptaan. Cip­ta adalah olah pikir dari manu­sia. Ini adalah gerakan pertama (asali) yang akan dilalui oleh manusia untuk mencipta. Ber-ikutnya adalah rasa, bentuk batiniah dari hasil pemikiran yang termanifestasi dalam bentuk sikap budaya, kebiasaan sehari-hari. Dan pada ujung prosesnya adalah keterampilan mencipta. Inilah etos teknologis yang saya maksudkan sebagai sebuah semangat, kepribadian, dan karakter diri yang selalu berada dalam proses, meminjam kata-kata Soedjatmoko (2009), "eksperimentasi, pencarian imajina-tif, dan kreativitas yang sebesar-besarnya". Etos teknologis ini-lah yang bisa melahirkan teknolog pencipta seperti Jobs. Lawan dari etos teknologis ini adalah sikap konformitas yang akan menjadi bahaya besar perkembangan kreativitas.

      Tapi, sejak bangsa ini menyadari pentingnya teknoiogi, terutama sejak kekalahan teknoiogi perang dengan Peranggi (Portugis), kemudian menguat pada sa­at pemikiran Marxisme banyak dianut oleh pemimpin bangsa, sampai pada masa pembangunanisme Soeharto yang berubah. dari pengejaran teknoiogi tinggi ke teknoiogi madya, kita belum pernah memiliki ikon teknolog. Seseorang yang akan meniadi teladan bagi generasi dicontoh dan dibanggakan un­tuk membangun kultur etos tek­nologis. Pada masa B.J. Habibie menjadi Menteri Negara Riset dan Teknoiogi sekaligus Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknoiogi pada 1978-1998, harapan untuk mengembangkan etos teknologis sempat bangkit. Namun sejauh ini tampaknya belum banyak hasilnya.

      Sementara itu, peranan pemerintah sangat memprihatinkan, terutama dalam pendanaan riset untuk membangun etos teknolo­gis. Pada 2008, anggaran riset In­donesia hanya 0,07 persen atau 0.1 persen dari produk domestik bruto. Anggaran riset Thailand mencapai empat kali, dan Je-pang 45 kali, jauh lebih banyak daripada Indonesia (Seputar In­donesia, 19 Agustus 2008).

      Saya. ingat pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono da­lam acara Silaturahim dengan Akaderhi Ilmu Pengetahuan In­donesia (AIPI) dan Masyarakat Ilmiah, di gedung AIPI, Puspiptek, Serpong,Tangerang Selatan, Banten, Rabu (20 Januari 2010). Dalam pidatonya, Yudhoyono mengatakan satu proposisi: "Abad ke-21 akan menjadi abad paling inovatif dalam sejarah umat manusia, yang mendudukkan teknoiogi sebagai the most powerful driver of change dan the biggest driver for change"

      Lebih lanjut Yudhoyono me­ngatakan, "Teknoiogi tidak bisa dimimpikan dan didatangkan begitu saja bukan seperti membeli barang di supermar­ket. Mungkin satu-dua teknoio­gi bisa dibeli seperti itu tapi ti­dak untuk mencapai technologi­cal society, dan juga knowledge society. Dan untuk itu, bangsa Indonesia harus menjadi inno­vation nation bangsa inovasi! Rumah bagi manusia-manusia yang kreatif dan inovatif." Ba­gaimana nasib realisasi pidato ini? Tinggal kata-kata?

      Hal ini sepertinya berbeda de­ngan yang terjadi di Amerika Serikat. Lewat tulisannya yang terkenal "Science: The Endless Presiden Amerika Senkat saat itu. Franklin D. Roosevelt, Dr Yannevar Bush (1945) menyarankan pentingnya penguasaan teknoiogi pada masa depan bagi kemakmuran, pertahanan, kesehatan, dan kemajuan Amerika.

      Maka pemerintah Amerika harus mengalokasikan dana yang besar untuk penelitian yang akan melibatkan akademi, perguruan tinggi, ilmuwan, bangsa Indonesia, swasta, departemen dalam pemerintah, dan lembaga lain, baik dari dalam ' negeri maupun luar negeri. Bush memperkirakan US$ 10-50 juta untuk anggaran selama sekitar lima tahun saja. Dan untuk itu, dibentuklah National Research Foundation untuk menghimpun dan mengelola keuangan serta mengkoordinasi penelitian dasar dan teknologi terapan.

      Maka apa dan bagaimana de­ngan kebijakan penelitian dasar dan teknoiogi terapan pemerin­tah Indonesia, terutama sejak reformasi? Entahlah. Sepertinya satu ini: mari menjadi pecandu teknoiogi asing dan tingkatkan etos konsumtivisme teknoiogi asing! Tragis dan ironis?

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 4455 clicks
      • Average hits: 49.5 clicks / month
      • Number of words: 2602
      • Number of characters: 21026
      • Created 7 years and 6 months ago at Tuesday, 08 May 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,797
      • Sedang Online 118
      • Anggota Terakhir Suwardi

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9124469
      DSCF8754.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC