.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Sepenggal Ayat Menyelamatkanya


      im living with my passion," begitu kata Ahmad Fuadi, penulis novel laris Negeri 5 Menara, yang kini telah dibuat filmnya dan sedang diputar di berbagai kota. "Saya tidak menganggap menulis sebagai pekerjaan, melainkan hobi yang banyak manfaat."

      Perjalanan dunia kepenulisan Pria 40 tahun, sudah cukup panjang. la pernah.bergabung dengan Tempo sebagai wartawan. Ketika dia meneruskan pendidikan ke George Washington Uni­versity, Amerika Serikat, ia juga meneruskan profesi di medianya. la menjadi kontributor untuk Tempo dan Voice of America.

      Pada 2007, ia mulai menuliskan kisah hidupnya, terutama di bagian dia di Pondok Pesantren Modern Gontor. Negeri 5 Mena­ra diluncurkan dua tahun kemudian. Langsung menggebrak. No­vel penulis baru ini langsung masuk daftar buku paling laris. Kini, novel itu sudah dicetak ulang belasan kali dengan oplah su­dah lebih dari 200 ribu buku. Istilah man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil, yang merupakan kompas kehidupan para tokoh dalam novel ini, menjadi ngetop di jagat Indonesia. Bahkan Negeri 5 Menara telah diterjemahkan ke bahasa Melayu dan Inggris.

      Berbagai penghargaan pun dikantongi Puadi. Di antaranya, Long List Khatulistiwa Literary Award 2010; Penulis dan Flksi Terfavorit Anugerah Pembaca Indonesia 2010; Penulis/Buku Fik' si Terbaik, Perpustakaan Nasional Indonesia 2011; dan Liputan 6 Award SCTV untuk kategori Pendidikan dan Motivasi 2011.

      Namun pria asal Maninjau, Sumatera Barat, ini belum puas. la meneruskan novel keduanya, Ranah 3 Warna. Kini, ia dalam pro­ses penulisan novel ketiganya yang akan melengkapi trilogi yang dia rencanakan. Di jalur lain, Negeri 5 Menara telah difilmkan. Kini, Fuadi sibuk berkeliling berbagai kota.Tak hanya untuk mempromosikan filmnya, tapi juga berbagi kisah, pengalaman, dan ilmu.

      Seperti pekan lalu. Pernah dalam sehari ia berada di tiga kota. Tepatnya pada Rabu lalu. Ia menapakkan kaki di Padang, Me-dan, dan Jakarta. Padahal, sebelumnya, ia sudah ke Bandung dan Surabaya. Kamisnya, ia meninggalkan Jakarta menuju Palem-bang dan langsung kembaji ke Jakarta malam harinya. Sementara Sabtunya, Makassar menunggu.

      "Acara meet and greet dengan penggemar yang kebanyakan anak SMA dan kuliahan. Ngobrol, berbagi cerita, foto, dan tanda tangan buku," Fuadi menjelaskan kegiatannya di berbagai kota tersebut kepada Tempo. Ada juga acara nonton bareng film Ne­geri 5 Menara. Kamis itu, wartawan Tempo, Parliza Hendrawan dan Evieta Eadjar, memotret kegiatan sang penulis, baik yang di Palembang maupun di Jakarta.

      Fuadi meninggalkan Bandara Soekarno-Hatta menuju Palembang. Dalam perjalanan satu jam ini, ia membuka komputer jinjingnya, mencoba menambah halaman novel ketiganya yang belum berjudul. "Minimal 30 menit saya harus menulis novel ini. Bisa menulis sampai 1 atau 2 jam. Kalau ngantuk, saya tidur,"kata pria berkacamata ini saat berkisah pada malamnya.

      Di tengah padatnya segala kegiatan, Fuadi mengaku kesulitan membagi waktu. Sehingga novel ketiganya yang rencananya dirilis tahun lalu terpaksa molor. "Untungnya, cerita inspirasi ini kisah pribadi, tinggal dikembangkan karena garis ceritanya sudah ada di kepala saya."

      Awalnya, Fuadi tak menyangka novel pertamanya akan laris. Pasalnya, ketika memulai menulis, dia hanya ingin berbagi pengalaman yang penuh inspirasi selama menjalani masa empat tahun di Pondok Pesantren Gontor. Penulisan pun tidak di-lakukan secara tergesa-gesa layaknya sebuah produksi sinetron kejar tayang. la mulai menulis pada 2007, dan baru diterbitkan dua tahun kemudian.

      Saat itu, ia belajar menulis lagi. Terbiasa menulis berita semasa jadi wartawan, menulis novel adalah hal berbeda. "Saya selalu memakai energi menulis sebagai se-orang wartawan. Tidak selalu mengandalkan mood atau suasana hati untuk menu­lis," kata Fuadi, yang belajar menulis no­vel dari buku panduan dan buku tentang kehidupan asrama di luar negeri yang dibelikan istrinya.

      Untung, Fuadi kuat dalam soal riset. la membaca berbagai buku, di antaranya Plot and Structure, Write Great Fiction karya Bell; Characters, Emotions, View­point; dan Revision and Self Editing.

      Begitu novelnya mendapat tanggapan bagus, ia memikirkan untuk membawa Misahnya ke layar lebar. Sembilan perusahaan film berniat memfilmkan Negeri 5 Me-nara. Fuadi memilih Million Pictures. "Bagi saya, film itu bonus."

      Fuadi dan Andy F Noya dari program Kick Andy disambut hangat oleh penggemar. "Tidak ada capek, demi memberi spirit bagi adik-adik pelajar/'kata Fuadi di sela acara"Ge-rakan Pemasyarakatan Minat Baca" dengan Andy Noya sebagai pemandunya.

      Perjalanan hidup Fuadi penuh liku. Berbagai pilihan sulit ataupun tembok penghambat tak jarang menghadang. Seperti saat tamat SMP di kampungnya di Maninjau, orang tuanya memintanya melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Modern Gontor, Jawa Timur. Padahal Fuadi ingin bersekolah di sekolah umum. Tapi akhirnya,"Saya ikuti keinginan orang tua."

      Keinginan belajar di lembaga pendidik­an umum terpenuhi ketika dia kuliah di Universitas Padjadjaran, Bandung, setelah lulus dari Gontor pada 1992. Itu pun bukannya tanpa hambatan. "Saya mengalami masa galau, istilah anak sekarang," katanya. Ia harus meng-atasi ketertinggalan pelajaran untuk bekal tes masuk perguruan tinggi. la pun mendatangi teman-teniannya yang belajar di SMA."Semua buku SMA mereka saya baca untuk mempersiapkan UMPTN," katanya. la berhasil melewati tembok penghalang.

      Tapi kegalauan masih menghampirinya. Ayahnya waf at pada tahun pertama ia ku­liah. "Galau lebih gelap." Memikirkan dua adik perempuan yang harus sekolah, ibu yang membiayainya.dari penghasilan se­bagai guru, Fuadi hidup prihatin. "Mau makan sarapan bubur saja harus berpikir ulang," katanya.

      la sempat berjualan parfum dan pakaian dari pintu ke pintu. Namun ia gagal sebagai pedagang, Cobaan lain masih menyusul. Fuadi sakit-sakitan dan pernah kena tipu. la pun sempat berpikir untuk berhenti kuli-ah. Tetapi ia teringat semangat semasa di pesantren."Betapa pentingnya punya tujuan hidup. Untung saya dulu di pesantren. Bila tidak, mungkin tidak kuat juga." Man jadda wajada menjadi semangat hidupnya.

      Fuadi pun mulai rajin mengirim tulisan ke media massa bertema politik luar negeri. Maklum, dia kuliah di jurusan hubungan in-ternasional. Honor pertama Rp 12 ribu, "Ti­dak cukup buat traktir teman kuliah," kata Fuadi, yang seminggu sekali mengirim tulis­an ke media massa untuk kebutuhan makan.

      la juga aktif mencari beasiswa. Pertukaran pemuda ke Kanada dan Singapura dia dapatkan. Bahkan kemudian dia juga mendapat beasiswa kuliah di School of Media and Public Affairs George Washington Uni­versity, Amerika, dan beasiswa Chevening untuk belajar soal film dokumenter di Royal Holloway University of London, Inggris. "Meraih beasiswa mengembangkan kepercayaan diri saya," katanya.

      13.15

      RESTORAN BERINGIN, JALAN DEMPO DALAM, PALEMBANG

      Di restoran yang menyajikan menu tradisional Palembang ini, Fuadi memesan pempek, otak-otak, dan segelas jus be-limbing tanpa es. la juga menyantap sepiring nasi putih dan pindang ikan belida. Menurut dia, sekarang ini ia lebih memilih ikan ketimbang Soto Betawi Bang Madun di Jalan Barito, Kebayoran Baru, kesukaannya. "Kolesterol saya tinggi," ia memberi alasan.

      Fuadi tak susah dalam urusan makanan. Yang penting harus ada nasi, dan menu ru-mahan."Dulu, sewaktu di Amerika, saya ga-bungkan makan pizza sebagai lauk dan na­si putih." '

      14.30

      TOKO BUKU GRAMEDIA ATMO PALEMBANG

      Para penggemar begitu antusias. Fuadi memang populer. Di berbagai kota yang ia sambangi, banyak penggemar berebut meminta tanda tangan dan berfoto bersama. "Jakarta, Medan, Padang, pengge-marnya heboh dan ekspresif. Saya harus keluar ke belakang panggung, bukan menghindari penggemar, untuk efisiensi waktu."

      Bahkan pengagum Fuadi sampai ada yang meminta ditelepon lewat pesan di jejaring sosial. Bahkan ada yang membuat Twitter berseri no. 1 sampai belasan. "Tidak akan berhenti sebelum saya mention"kata Fuadi. Juga ada yang meminta diperhatikan agar mention hari ulang tahunnya. Istri Fuadi, Danya Dewanti, yang biasa disapa Yayi, per­nah memprotes, tidak suka kalau ada peng­gemar perempuan yang agresif mengajak mengobrol dan foto bareng."Perempuan bisa melihat bahasa tubuh perempuan lain yang mendekati suaminya,"ujar Fuadi, terbahak.

      Yayi adalah perempuan pertama yang di-cintainya. Mereka selalu bersama saat meliput berita dan ketika bekerja di Tempo, VOA Amerika, dan stasiun televisi independen di Kanada. "Saya cenderung pendiam," katanya.

      Semasa di pesantren, ia tidak pernah me-miliki hubungan kasih dengan perempuan. "Di Gontor, orang dibuat sangat sibuk, tidak ada kesempatan lain membina hubungan," katanya.

      20.30

      BANDARA SOEKARNO-HATTA

      Fuadi belum memperlihatkan kelelahan. Dalam kendaraan menuju rumahnya di Bintaro, ia banyak berkisah. Kini ia dan istrinya mengem­bangkan Komunitas Menara. Lembaga ini memberikan sumbangan pendidikan prasekolah bagi 40 anak di dekat rumah mereka di Bintaro. Modalnya dari 80 persen royalti buku dan film. Mengapa kegiatan sosial? "Saya melakukan giving back," katanya. Pada 2007, ia menjadi Direktur Komunikasi The Nature Conservancy. Saat itu ia ingat nasihat ustadnya."Sebaik-baik manusia harus bermanfaat bagi orang lain." Maka, ia merealisasi pemikirannya. Apa obsesinya ke depan?" Mendirikan seribu sekolah di seluruh Indonesia.


      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 458 clicks
      • Average hits: 5.1 clicks / month
      • Number of words: 4243
      • Number of characters: 35228
      • Created 7 years and 6 months ago at Tuesday, 08 May 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,797
      • Sedang Online 83
      • Anggota Terakhir Suwardi

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9124321
      Dialog_Peradaban.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC