.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Personalisasi Kepemimpinan


      Yasmi Adriansyah

      Direktur Eksekutif Projecting

      Indonesia, Mahasiswa PhD

      Australian National University

      Relasi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa belakangan sempat menjadi headline di media massa. Tulisan reporta-searialitis ,di salah satu harian berbahasa Inggris (Signs point to Marty's isolation in the Palace, 26/12/11) menyiratkan adanya fe-nomena pengasingan menlu dari lingkar kekuasaan presiden. Menlu Marty digambarkan semakin kehilangan pengaruh dalam beberapa kegiatan kenegaraan yang berdimensi Iuar negeri yang notabene portofolio utama jabatannya. Bahkan, sempat pula muncul rumor pinggiran soal penggan-tian Menlu Marty.

      Asumsi artikel ini diambil dari, pertama, sikap presiden yang lebih memilih bertanya kepada Dino Patti Djalal, Dubes RI untuk Ame-rika Serikat, tatkala melakukan konferensi pers KTT ASEAN di Bali, November 2011. Padahal, saat itu Menlu Marty dan Juru Bicara Presiden Teuku Faizasyah sudah 'siap di tempat'. Asumsi ke-dua adalah 'insiden' di saat pelantikan duta besar RI untuk negara-negara sahabat, Desember 2011. Menlu Marty tidak diletak-kan di barisan depan para menteri melainkan di barisan lain. Padahal, momen tersebut seharusnya men­jadi 'pertunjukan' Menlu Marty.

      Isu-isu seperti ini sejatinya ti­dak terlalu Iuar biasa dalam konteks kebijakan publik. la terlalu personal. Sehingga, observasi dari artikel tersebut tidaklah perlu ditanggapi secara berlebihan, khu-susnya oleh jajaran pemerintahan SBY sendiri. Namun, ketika Sek-retaris Kabinet Dipo Alam merasa perlu memberikan Idarifikasi bah-wa "hubungan SBY dan Marty tidak retak" (Republika, 29 Desember 2011), publik justru men­jadi bertanya-tanya. Ada apa gerangan?

      Unsurkedekatan

      Tulisan ini tidak berkehendak meramaikan perdebatan retak-tidaknya hubungan Presiden SBY dengan Menlu Marty. Fenomena tersebut, menurut hernat penulis, lebih merupakan masalah dari ga-ya kepemimpinan, khususnya kepemimpinan Presiden SBY Karena, faktor kepemimpinan presiden jelas lebih determinan dibanding menlu yang merupakan bawahan.

      Dalam hal ini, gaya kepemim­pinan Presiden SBY dapat dihipo-tesiskan lebih bersifat personal dibanding mengedepankan sistem. Berangkat dari fenomena konfe­rensi pers KTT ASEAN di Bali, SBY lebih memilih Dubes Dino Djalal yang notabene mantan jubir presiden periode 2004-2009. Terlepas dari substansi pertanyaan atau suasana kebatinan presiden saat itu, sudah menjadi rahasia publik bahwa Presiden SBY dan Dubes Dino memiliki kedekatan personal melebihi hubungan atasan-bawahan.

      Semasa menjadi Jubir Presiden SBY, Dino memang terlihat bersinar. la sangat aktif tampil di hadapan publik guna menyampaikan pandangan presiden untuk isu-isu Iuar negeri. Jubir Dino bahkan menerbitkan dua buku yang spektakuler tentang SBY. Yang perta­ma, Harus Bisa, berisikan catatan personal Dino atas kepemimpinan SBY Buku ini menggambarkan betapa Iuar biasanya SBY sebagai pemimpin, Buku kedua, Energi Positif, mendeskripsikan kesan-kesan positif sejumlah tokoh terhadap sang presiden.

      Tentu saja adalah hak Dubes Dino untuk menggambarkan kesan positifnya atas Presiden SBY. Selaras dengan itu, adalah juga hak Presiden SBY jika memiliki kesan yang sangat positif terhadap Dino. Permasalahannya adalah ketika kesan-kesan yang bersifat personal itu terbawa ke dalam sistem pemerintahan. Karena bagaimanapun, 'insiden' konferensi pers KTT ASEAN di Bali adalah refleksi dari gaya kepemimpinan yang lebih mengarah kepada personalisasi dibanding penerapan sistem formal pemerintahan.

      Amanah kepemimpinan

      Gaya personalisasi kepemim­pinan ini sebenarnya telah terdeteksi dengan ramainya perdebatan publik atas berbagai 'keluhan' Presiden SBY. Ketika presiden mengeluhkan sejumlah masalah, seperti gaji, uang negara yang dirampok, atau birokrasi yang dianggap sebagai penghambat pembangunan, publik menganggap presiden terlalu sering melakukan 'curhat' pribadi.

      Walaupun dapat dipahami bah­wa presiden sebenarnya ingin berkata betapa sulitnya mengurus negara ini, publik menafsirkan lain. Presiden dianggap terlalu mempersonalisasi, 'curhat', tanggung jawab jaba tan publiknya. Gaya personalisasi kepemim­pinan ini juga terasa ketika jajaran pemerintahan tampak sibuk dalam masa-masa menjelang per-helatan pernikahan putra presi­den, Edhie Baskoro. Tidak saja Jubir Presiden Julian Pasha yang merasa perlu meluruskan berbagai kritikan publik atas isu-isu seperti biaya perhelatan, para menteri pun juga urun suara dalam mela­kukan pelurusan.

      Padahal, jika urusan pernikahan ini sepenuhnya dibiayai secara pribadi dan tidak sedikitpun menggunakan uang negara, sejatinya berbagai perangkat negara tidak perlu terlalu sibuk memberikan pembelaan. Biarlah persoalan per­nikahan menjadi urusan keluarga dan bukan problem negara.

      Selaku warga yang merasa miris ketika kepala negaranya terus-menerus dikecam publiknya sendiri, saya berharap Presiden SBY akan menuntaskan masa pemerintahannya dalam situasi In­donesia yang lebih baik lagi. Ma­salah gaya kepemimpinan seyogianya diarahkan kepada sistemasi dibanding personalisasi.

      Klise memang. Namun, bagi demokrasi Indonesia yang relatif belia dan belum memiliki sistem ketatanegaraan yang baik, minimal perbaikan bangunan sistem melalui pilar eksekutif dapat memberikan kontribusi signifikan bagi negeri ini. Indonesia bisa, Pak Presiden, hams bisa rnalah. Satu hal yang pasti, amanah kepresidenan sungguh sangat besar pengaruhnya bagi jati diri suatu bangsa seperti Indonesia. Jadikan berbagai kritik sebagai pacuan agar amanah ke­pemimpinan dapat dituntaskan dalam kebaikan. Karena di akhir zaman nanti, amanah seperti ini akan melewati peradilan besar di mimbar utama para penghuni langit. Wallahu a'lam.

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 517 clicks
      • Average hits: 5.7 clicks / month
      • Number of words: 2741
      • Number of characters: 23795
      • Created 7 years and 6 months ago at Tuesday, 08 May 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,797
      • Sedang Online 80
      • Anggota Terakhir Suwardi

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9124480
      DSCF8754.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC