.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      bintang krisanti

      JIWA pemberontak masih tampak dari penampilan Gola Gong. Penulis yang terkenal lewat novel Balada Si Roy ini masih dengan gaya rambut gondrongnya. Namun, pembawaan pemilik nama asli Heri Hendrayana Harris ini nyatanya jauh dari penampilan garang itu. Gaya bicaranya tenang dan senyum tak pernah lepas dari wajahnya.

      Saat ditemui Rabu, (29/2), di daerah kediamannya di Serang, Banten, Gong tampak sedang asyik berbincang dengan seorang anak kecil di sebuah tanah lapang merah. "Anak-anak lagi gambar di kali. Kita ke sana a/a," katanya kepada Media Indonesia.

      Anak-anak itu bukan sedang ke-betulan bermain di sekitar rumah Gong. Justru apa yang mereka lakukan sebenarnya bagian dari program pelatihan dan pembelajaran yang dimotori oleh pria 48 tahun ini. Sudah sejak tahun 2000, Gong mendirikan Rumah Dunia, yakni taman bacaan masyarakat mandiri yang sekaligus layaknya kawah candradimuka bagi penulis-penulis baru. "Saya ingin membangun Se­rang yang kental dengan tradisi 'adu otot' menjadi pecinta 'adu otak'," kata Gong tentang tempat yang ia gagas bersama sang istri-Tyas Tantaka yang juga penulis.

      Keinginan mendirikan tempat pelatihan non-formal pun makin kuat karena pengalamannya sendiri. Pria yang pernah menempuh kuliah di Jurusan Sastra Universitas Padjadjaran ini merasa pendidikan formal kurang cukup mengasah kemampuan dan kreativitas.

      Dengan dasar keahlian yang dimiliki Gong dan istri, modal untuk mengubah Serang itu pun mereka lakukan dengan kegiatan menulis dan literasi. Di lain hal, sasaran utama Gong adalah anak-anak di dekat rurnahnya yang tadinya bekerja memungut sampan.

      "Kita kasih makanan asal mereka mau cerita di panggung," ujarnya sambil menunjuk panggung kecil berukuran 3x4 meter, yang berada tepat di belakang rumahnya. Pancingan makanan itu sukses membuat anak-anak mulai tertarik ke Rumah Dunia.

      Setelah itu, barulah pria yang besar di Serang ini mengenalkan pola belajar yang ia sebut accelerate learning. Bolak-balik Jakarta-Serang pun dengan semangat dilakoni pria yang kala itu berprofesi sebagai penulis skenario film dan drama dan pekerja kreatif salah satu televisi swasta nasional.

      Pelatihan menulis dibuka setiap hari Minggu, dengan syarat harus melakukan bedah buku di hari Sabtu. Sebulan sekali, anak-anak diajak berkunjung ke alun-alun dan pasar untuk menulis. Bukan hanya anak-anak, maha-siswa pun datang berguru. Para ma-hasiswa ini kemudian ikut menjadi pengurus Yayasan Rumah Dunia.

      Sempattolakdonasi

      Memasuki tahun 2004, dengan makin tingginya antusiasme anak dan padatnya kegiatan di antaranya wisata baca, menggambar, melukis, hingga wisata film Gong pun mulai memperluas Rumah Dunia.

      Dengan bekal honor sendiri, ayah empat anak ini pun membeli tanah seluas 500 meter persegi di samping bangunan pertama. Di tahun yang sama, sebenarnya Gong mendapatkan bantuan dana dari Kemendiknas sebesar Rp2S juta untuk mengembangkan Rumah Du­nia. Namun atas dasar idealis dan keraguan terhadap motif pemerin-tah masa itu, dana yang ditawarkan pun ia tolak.

      "Pengurus Rumah Dunia mengingatkan saya, mau beribadah pun harus berjamaah dan bersahabat dengan pemerintah," tutur Gong mengenang 'kekolotannya' kala itu. Akhirnya, ketika pada 2006 pemerintah kembali menawarkan dana, ia tidak menampik. Pengisi acara yang tadinya tidak dibayar mulai bisa mendapat uang pengganti transportasi dan honor, meski beberapa memilih untuk menyumbangkannya cembali.

      Hingga sekarang, dana operasial Rumah Dunia masih diperoleh dari donasi warga sekitar, relawan, lenulis yang rutin memberikan 2,5% loyalti mereka, dan beberapa sponior, yang dikelola di bawah Yayasan ena Dunia yang ia dirikan juga.

      Setelah berdiskusi dengan istri, iria kelahiran Purwakarta ini kemudian memutuskan untuk membebaskan tanah yang dimiliki. Maka tanah seluas 3.000 meter itu pun kini berada di bawah yayasan. Dengan langkah itu, Gong sekaligus ingin mematahkan anggapan bahwa relawan memanfaatkan uang iumbangan untuk kepentingan pribadi. "Saya bilang, kalau saya mati, terserah yang hidup. Mau rebutan tanah juga terserah," kelakar pria yang didaulat menjadi Ketua Forum Taman Bacaan Masyafrakat Indone­sia sejak 2010 ini.

      Bukan untuk pengangguran

      Perlahan anak didik Gong mulai unjuk gigi di masyarakat. Dua angkatan pertama yang lulus dari Rumah Dunia berhasil meraih juara satu untuk lomba esai yang diselenggarakan PBB bagi penulis muda Indonesia.

      Jack, yang menemani kami berkeliling, juga sedang aktif menulis sembari menjalani pekerjaannya di penjualan gas elpiji. Biasa maksimal saya terima 25 orang. Tapi angkatan ini, ada sekitar 50 orang," jelas Gong soal program pelatihan menulis yang memakan waktu enam bulan.

      Meski begitu, Gong tetap menentukan syarat bagi mereka yang ingin belajar. "Mereka harus bekerja, tidak boleh nganggur. Karena ini bukan rumah singgah ucapnya tegas. Mereka yang pengangguran bisa tetap diterima jika memiliki keingi-nan bersekolah. Yayasan akan membantu mereka mencari beasiswa.

      Berbagai bidang juga telah dirambah anak-anak lulusan Rumah Du­nia, mulai dari penjaga toko butik, surat kabar hingga televisi lokal daerah Banten. Siti Sauni, 19, yang semula berjualan kerupuk kini se­dang menggarap novel dan berkuliah sastra.

      Sampai saat ini setidaknya 500 anak telah 'lulus' dari Rumah Dunia. Bagi Gong bukan angka yang penting, melainkan bagaimana mereka telah menjadi sosok-sosok yang berkarya lewat kemampuan otaknya. (*/M-3)

      This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 625 clicks
      • Average hits: 6.9 clicks / month
      • Number of words: 3653
      • Number of characters: 29132
      • Created 7 years and 7 months ago at Tuesday, 08 May 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 124
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9127194
      bacalah.jpg

      Kalender & Agenda

      December 2019
      S M T W T F S
      1 2 3 4 5 6 7
      8 9 10 11 12 13 14
      15 16 17 18 19 20 21
      22 23 24 25 26 27 28
      29 30 31 1 2 3 4

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC