.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Membuka Mimpi Lewat Buku

      WIAN HALUPI

      Pengantar:

      Dalam rangka merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-42 Media Indonesia, redaksi menyajikan dan memilih 42 sosok anak negeri yang memberi inspirasi perubahan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Mereka berkiprah di segala bidang dengan idealisme tanpa pamrih.

      Berikut ini ialah sosok ke-30, Nila Tanzil. Prihatin akan kondisi pendidikan anak-anak di desa terpencil di Flores, ia pun mendirikan belasan taman bacaan gratis,

      PENGALAMAN bekerja selama 2009 di Labuan Bajo, Flores, Nusa Tenggara Timur, membawa perubahan besar bagi Nila Tanzil. Alih-alih bosan tinggal di daerah yang jauh berbeda dengan gemerlap Ja­karta, Nila jus'tru menikmati kesehariannya di sana.

      Salah satu kesukaannya adalah memanfaatkan waktu senggang dengan keluar masuk kampung-kampung terpencil di Flores. Darisekadar jalan-jalan, wanita yang saat itu bekerja di organisasi lingkungan The Nature Conservancy ini tersadar akan kondisi memprihatinkan pendidikan anak-anak di sana.

      "Banyak desa yangbelum ada listrik. Anak-anak juga jarang baca buku, karena memang tidak ada perpustakaan dan toko buku di sana," papar Nila saat dijumpai Media Indonesia di apartemennya di kawasan Sudirman, Jakarta (14/2).

      Dari situlah tercetus keinginan mendirikan taman bacaan gratis bagi anak-anak setempat. Awalnya ia sempat bingung ba-gaimana harus memulai. Dari mana memperoleh buku-buku bacaan untuk anak-anak dan bagaimana pengelolaannya kelak.

      "Seorang teman menyarankan agar aku enggak usah kebanyakan mikir, langsung jalan a/a," ujar wanita 35 tahun ini. Saat pulang ke Jakarta, Nila membeli 200 buku baru untuk anak-anak. Uang Rp5 juta ia rogoh dari saku pribadi.

      Pada 5 Desember 2009 Ta­man Bacaan Pelangi pertama dibuka di Kampung Roe. Lokasi yang digunakan adalah rumah salah satu warga yang dekat dengan sekolah.

      Rak-rak berisi buku-buku bacaan diletakkan di halaman depan rumah. Jika hujan, pemilik rumah merelakan ruang tamunya untuk digunakan anak-anak membaca.

      "Di sana kan kebersamaannya kuat, beda dengan kita di Jakarta," ujar wanita yang menjabat Head of Corporate Communications Putera Sampoerna Foundation ini.

      Untuk menghindari kerusakan dan kehilangan buku, pengunjung Taman Bacaan Pelangi hanya boleh membaca buku di tempat tersebut. Antusiasme anak-anak Kampung Roe yang besar membuat Nila meluaskan taman bacaan itu ke desa-desa lainnva.


      Kini Taman Bacaan Pelangi sudah ada di 17 desa di Flores. Tiga berada di lokasi sekolah, sisanya di rumah-rumah penduduk. Setiap taman bacaan mini­mum memiliki 400 buku yang setiap 3-4 bulan sekali akan dirotasi ke taman bacaan lainnya. "Denganbegituanak-anak bisa terus mendapatkan bacaan baru," kata wanita yang rutin berkunjung ke Flores itu.

      Setiap kali datang berkun­jung, wanita yang dianugerahi Bayan Award 2010 dan Tupperware SheCan! Award 2011 ini makin ketagihan dengan kegiatan sukarela itu. Binar mata anak-anak saat melihat buku baru membuatnya senang dan terharu.

      "Perasaan seperti itulah yang tidak terbayar dengan uang.Bahkan membuat jadi adiktif," ujar Nila yang Jumat (17/2) lalu kembali ke Flores. Kali ini membuka dua taman bacaan lagi. Tiga taman bacaan lainnya juga akan menyusul dibuka di Sumbawa dan Lombok, Nusa Tenggara Barat.

      Bertarung dengan alam dan kecurigaan warga

      Meski Taman Bacaan Pe­langi telah berkembang pesat, proses pendiriannya tidak mudah. Seperti ketika rnendirikan taman bacaan di sebuah desa di Manggarai Tengah. Dari Labuan Bajo, Nila harus me-nempuh perjalanan 6 jam berkendara mobil dan 1,5 jam dengan motor. Jatuh dari kendaraan hingga menderita retak tulang belakang pun harus ia terima.

      Wanita yang menempuh pendidikan master komunikasi di University of Amsterdam, Belanda, ini juga harus meng-hadapi kecurigaan warga. Di Pulau Rinca, Nila harus menghadap kepala warga karena berhembus isu bahwa dalam setahun taman bacaan memberi uang Rpl2 juta kepada warga yang mengurus tempat tersebut. Warga yang iri kemudian menyuruh anak-anak tidak datang lagi ke ta­man bacaan.

      Nila juga harus pintar-pintar memilih orang yang dipercaya menjaga taman bacaan. Pernah ia mendapat seorang nelayan yang karena begitu menghargai buku justru menghalangi orang membaca. Namun, berbagai tantangan itu tidak membuat wanita vege­tarian ini kapok. Laporan dari guru-guru sekolah setempat soal kemajuan kemampuan berbahasa Indonesia anak-anak sudah menjadi pelecut semangatnya.

      Ia juga gembira ketika anak-anak sudah bisa bermimpi tinggi. "Dulu kalau ditanya cita-citanya apa, kalau tidak jadi guru, pastur, ya nelayan. Tapi sekarang ada yang ingin jadi pilot, polisi, dokter, dan sebagainya," ujar wanita yang mengadopsi beberapa anak asuh di Jakarta ini.

      Hasil seperti itu sudah membuat Nila cukup puas. Pasalnya, ia menyadari bahwa dampak taman bacaan bukan perubahan drastis dan instan. (M-5)

      This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 1158 clicks
      • Average hits: 12.7 clicks / month
      • Number of words: 2940
      • Number of characters: 25694
      • Created 7 years and 7 months ago at Tuesday, 08 May 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 290
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9126989
      DSCF8798.jpg

      Kalender & Agenda

      December 2019
      S M T W T F S
      1 2 3 4 5 6 7
      8 9 10 11 12 13 14
      15 16 17 18 19 20 21
      22 23 24 25 26 27 28
      29 30 31 1 2 3 4

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC