.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Hatta, Tan Malaka, dan Masa Depan Membaca


      Hatta dan Tan Malaka adalah dua manusia pencinta buku. Namun, 'keduanya sedikit berbeda nasib dalam keterikatannya dengan buku. Tan Malaka, sebagai buronan politik, tak bisa membawa buku-bukunya dalam pelarian sehingga terpaksa membuang buku-bukunya. Hatta, meski dibuang ke Banda Naira, tetap bisa membawa berpeti-peti bu­ku. Maka, jika ditanyakan kepada kedua orang itu apa pendapat mereka tentang e-book versus buku cetak konvensional terhadap masa depan membaca, tentu akan menarik

      Dalam pendahuluan magnum opus-nya, Madilog, Tan Malaka mengenang pembuahgan Leon Trotzky ke Alma Ata dan pembuangan Muhammad Hatta. Dua tokoh pencinta buku itu membawa buku berpeti-peti ke tempat pembuangan mereka. "Saya maklumi sikap kedua pemimpin itu dan sebetulnya saya banyak menyesal karena tak bi-sa berbuat begitu dan selalu ga-gal kalau mencoba berbuat be­gitu," kata Tan Malaka.

      Saya membayahgkan Tan Malaka mungkin akan senang dan terbantu dengan e-book berikut perkakas pembacanya. Dengan perkakas itu, Tan Malaka bisa membawa ratusan, bahkan ribuan, buku dalam genggaman. Sementara Hatta, saya membayangkan, tak begitu antusias dengan e-book. Bagi Hatta, buku (cetak) adalah benda sakral da­lam hidupnya. Mungkin ia tak akan menemukan sakralitas bu­ku dalam e-book. Di sana tak ada material, kenangan, sejarah, posisi ruang sebuah buku untuk ditata rapi, bau buku, coretan para pembaca, atau tanda tangan asli penulis. 

      "Membaca adalah pengalaman tersendiri, ditandai tegangan antara teks dan keadaan badan serta jiwa pembaca. Kian kuat dan mantap tegangan itu, menjadi Man 'fungsional' teks itu," tulis Ronald Barker clan Robert Escarpit (1976:156). Saya pikir, Hatta merasakan pengalaman itu.

      Karakter "e-book"

      E-book hampir seperti benda yang tidak ada, yang bisa cliraba, disentuh, dipegang, dan dipandang. E-book adalah benda maya. Saat manusia memegang iPad, misalnya, masihkah ia sadar bahwa ia memegang buku? Buku, dalam pengertian kon­vensional, hilang. E-book nyaris tak menghadirkan tubuh mate­rial buku di hadapan manusia. E-book hendak mengelak dari sejarah dan selalu memosisikan diri dalam sebuah rumah kaca. Hendak mengelak ruang dan waktu serta akan selalu baru sa-at dibuka. Tak ada bekas sentuhan manusia, tempat manusia menaruh sejarah.

      Rasanya, e-book tak mungkin melahirkan manusia protektif terhadap buku. Diceritakan da­lam buku Bung Ilatta, Pribadi-nya dalam Kenain/an. Saat menguji pemahanian satu buku yang dipinjam keponakannya, Hasvim Ning, Hal la menemu­kan halaman dilipal. Ilatta marali dan meminta lasyim mencari dan mengganU buku itu. Di selunih Jakarta tak ada buku itu. Saat Hasyim pulang, Hatta terse nyurn. Begitulah Hatta mengajari orang untuk menjaga dan mmghormati buku.

      E-book juga tak akan mela­hirkan manusia sentimental tor hadap buku dan perpustakaan seperti Nobelis Sastra 2010, Mario Vargas Llosa. "Belum pcniah saya alanii perasaan dikhianali dan kesepian macam ini srjnk berumur lima tahun," kata Llosa (2007), saat melihat pemugaian dan penghilangan ruang di Bri­tish Museum, ruang ia menmbaca menulis dan mengenang ruang membaca Karl Marx.

      Teknologi membaca

      Bagi orang yang optimistis, e-book barangkali memang bisa mewujudkan impian UNESCO dalam Piagam Buku. Pada tanggal 22 Oktober 1971, UNESCO mengeluarkan Piagam Buku di Brussels, Belgia. Pasal pertamanya berbunyi: "Setiap orang berhak membaca", yang diangkat jadi tema pencanangan Tahun Buku Internasional 1972, yakni "Buku untuk Semua Orang".

      Saat ini, banyak perguruan tinggi, pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan perseorangan mulai memberi e-book gratis dalam dunia maya. Penjualan e-book juga terus meningkat. Terjadi digitalisasi buku dan perpustakaan maya yang pesat. Namun, pertanyaannya, apakah perkembangan teknologi dan pemasaran itu dengan sendirinya akan nu'mbawa perkem-bangan padabudaya baca? Secara kuantitatif historis, meski bclum ada penelitian yang komprehensif dan nasional, bisa dikatakan perkembangan budaya membaca buku cetak bangsa ini niasih tak berkembang.

      Taufik Abdullah (2001), Goenawjin Mohamad (2001), Idi Subandy Ibrahim (2007), Jakob Oetama (2009), untuk menyebut beberapa saja, menulis bahwa budaya membaca bangsa ini tak tumbuh baik Perlu diperhatikan, yang terjadi adalah perkembangan tek­nologi cetak/tulis, bukan tekno­logi membaca (kalau boleh disebut demikian). Sejak aksara ditemukan dan digunakan manusia, setidaknya terjadi empat kali revolusi cetak. Saat ditemu­kan kertas oleh Ts'ai Lun, saat ditemukan mesin cetak massal pertarna oleh Gutenberg, saat terjadi "revolusi paperback", dan saat pendiri Gutenberg Project, Micheal Hart, pada 1971 membuat e-book pertama di dunia untuk naskah The United States Declaration of Independence. Apakah revolusi e-book akan membawa revolusi membaca? Jawabannya, seperti peneli­tian Ronald Barker dan Robert Escarpit (1976:166) untuk UNESCO dalam buku The Hu­nger Book, "Walaupun tercapai kemajuan dan penyebarluasan pendidikan di negara-negara maju, buku masih juga terasing bagi sebagian besar rakyatnya; kemajuan teknis, yang berlangsung hampir lima abad sejak ditemukan dan dikembangkan percetakan, yang telah me-mungkinkan berkembang biak-nya buku, tidaklah diikuti ke­majuan yang memadai dalam perkembangan sikap-sikap kejiwaan budaya membaca.Yang jelas, bagi Hatta dan Tan Malaka, tanpa teknologi canggih, tetap akan membaca! Anda?

      M FAUZI SUKRI Santri Bilik Literasi Solo.

      Mahasiswa American Studies

      Universitas Sebelas

      Maret(UNS), Surakarta.

      Bergiat di Bale Sastra Kecapi dan Pengajian Senin Solo.


      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 4898 clicks
      • Average hits: 53.8 clicks / month
      • Number of words: 4703
      • Number of characters: 38017
      • Created 7 years and 7 months ago at Tuesday, 08 May 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 75
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9126587
      DSCF8794.jpg

      Kalender & Agenda

      December 2019
      S M T W T F S
      1 2 3 4 5 6 7
      8 9 10 11 12 13 14
      15 16 17 18 19 20 21
      22 23 24 25 26 27 28
      29 30 31 1 2 3 4

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC