.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail
      Article Index
      Literasi Informasi: Kunci kemajuan yang terbuang
      Page 2
      Page 3
      All Pages

      Literasi Informasi:

      Kunci kemajuan yang terbuang

      Dalam sebuah cerita rakyat, legenda, pewayangan atau cerita-cerita kepahlawanan (epos), yang tumbuh subur di zaman praliterasi, selalu ada dua jenis pusaka yang dijadikan bahan rebutan oleh para jawara atau dua kubu yang berhadap-hadapan. Pusaka tersebut kalau tidak berupa kitab atau buku, pasti berupa senjata. Ini adalah sebuah pesan historis yang kalau ditafsirkan bisa diartikan bahwa perubahan di dunia ini bisa terjadi oleh dua kekuatan yaitu kekuatan intelektual (yang disimbolkan dengan buku) dan yang kedua adalah kekuatan militer (yang disimbolkan dengan senjata). Perubahan akan berjalan serasi apabila ada sinergi di antara keduanya yaitu adanya sinergi atara kepintaran dan kekuatan. Orang pintar tanpa kekuatan akan lemah, dan orang kuat tanpa memiliki pengetahuan (hikmah) akan merusak.

      Kita sudah membuktikannya di republik ini. Indonesia pernah dipimpin oleh seorang intelektual dua kali dan tidak tahan lama karena tidak memiliki kekutan. Kita pun pernah dipimpin oleh militer. Memang lama berkuasa akan tetapi negeri ini menjadi rusak. Juga, kita pernah dipimpin oleh seorang presiden yang bukan militer dan intelek pun tidak. Maka kita sama-sama menyaksikan semakin tidak karuannnya negeri ini.

      Dalam sejarah pernah ada seorang pemimpin yang dapat berkuasa secara penuh dalam rentang waktu yang cukup lama yaitu Firaun. Namanya akan abadi dalam catatan sejarah manusia. Dan ternyata bahwa Firaun membangun kekutannya bukan hanya ditopang oleh kekuatan militer yang besar, akan tetapi dia sendiri merupakan seorang intelektual. Pada saat meniggalnya, dia memiliki 20.000 koleksi ”buku” di perpustakaannya. Tentu saja tidak berupa buku seperti yang kita saksiakan sekarang ini, akan tetapi masih ditulis dalam media tanah liat, kulit kayu, dan kulit binatang. Akan tetapi kita tidak ingin mengatakan: ”Jadi, kalau ingin menjadi orang yang sukes sebagai penjahat jadilah penjahat yang berpengetahuan (white collar crim)”. Ia akan bisa memiliki apa pun yang ia inginkan di negeri ini bukan saja kekayaan akan tetapi juga memiliki kekuasan yang tidak tersentuh oleh para penegak hukum. Penjahat yang tidak berpengatahuan akan menjadi penjahat yang malang. Hasil curiannya tidak seberapa, akan tetapi inilah yang menjadi target buruan penegak hukum. Dan kemudian dieskplotiasi menjadi komoniditas hiburan yang menarik sebagaimana kita saksikan di acara-acara televisi.

      Informasi adalah bebas nilai, sebagaimana juga senjata. Sangat tergantung kepada akhlak orang yang memegangnya. Tapi yang jelas informasi adalah sebuah kekuatan, atau meminjam istilah Francis Bacon ”knowledge is power” adalah sebuah kebenaran yang tidak bisa dibantah. Nabi Muhammad SAW. Bersabda: ” kalau ingin menguasai dunia dan akhirat milikilah ilmu.”

      Literasi Informasi

      Wacana literasi informasi (information literacy) belum begitu populer di Indonesia, walaupun masalah ini bukanlah masalah baru, ” tidak ada yang baru di bawah langit ini” kata Nabi Sulaiman. Kalau kita coba mencari kata ”literasi informasi” ini di Google Indonesia, saya yakin tidak akan lebih dari sepuluh cantuman. Padahal di negara lain litrasi informasi bukan lagi sebagai wacana akan tetapi sudah menjadi sebuah kebijakan. Literasi informasi semakin mencuat kepermukaan berbarengan dengan fenomena buta aksara dan rendahnya minat baca yang sudah menjadi masalah nasional, sehingga mendapat pemberitaan oleh media massa (media exposure) yang sangat kuat tahun ini.

      Literasi informasi sendiri dapat diartikan kemampuan seseorang dalam mencari, mengoleksi, mengevaluasi atau menginterpreatisakan, menggunkan, dan mengkomunikasikan informasi dari berbagai sumber secara efektif. Keahlian ini seharusnya telah dimiliki oleh orang-orang yang terbiasa dengan dunia tulis-menulis atau pendidikan yang dimulai semenjak di bangku SMP.Akan tetapi disitulah letak masalahnya, jangankan murid SMP mahasiswa pun banyak yang belum memiliki keahlian ini. Padalah tujuan utama dari pendidikan sendiri adalah bagaimana supaya manusia pandai memberdayakan informasi. Untuk dapat dikatakan bahwa seseorang telah melek informasi (information literate) paling tidak harus memiliki kemampuan:

      • menentukan cakupan informasi yang diperlukan

      • mengakses informasi secara efektif

      • mengevaluasi informasi dan sumber-sumbernya dengan kritis

      • menggunakan informasi sesuai dengan tujuan

      Jelas bahwa dalam dunia pendidikan kemampuan literasi informasi merupakan yang sangat esensial harus dimiliki oleh setiap peserta didik. Sering kita mendengar pribahasa yang mengatakan ” jangan beri ikan, berilah pancingnya”. Kemampuan literasi informasi adalah ”pancing” bagi sang murid supaya ia dapat belajar mandiri (students’ freedom to learn). Peserta didik akan diajarkan pada sebuah metode untuk menelusri informasi dari berbagai sumber informasi yang terus berkembang. Karena tidak akan ada seorang pun pada zaman sekarang ini yang mampu untuk mengikuti semua informasi yang ada. Beradasarkan catatan menunjukkan bahwa sekarang ini perkantoran saja menghasilkan 2,7 miliar dokumen pertahun dan satu juta publikasi diterbitkan setiap tahun.

      Oleh karenanya, literasi informasi adalah merupakan sebuah bekal yang sangat berharga untuk tercapainya pembelajaran seumur hidup. Mengingat juga, bahwa sekarang ini kita sedang memasuki era informasi atau ”gelombang ketiga” dalam peradaban manusia menurut Alvin Toffler. Di mana informasi menjadi komoditas yang setiap hari diperebutkan dalam pentas pertarungan global ini. Siapa yang dapat menguasai informasi dialah yang akan bertahan hidup, dan kuncinya adalah literasi informasi. Literasi informasi adalah sebuah keniscayaan zaman.

      Landasan yang kokoh untuk menuju melek informasi (information literate) adalah budaya baca masyarakat. Dan budaya baca akan terbentuk manakala minat baca di masyarakat telah tumbuh dan berkembang. Melihat kenyataan Indonesia dalam masalah mianat baca mengingatkan kita pada perkataan Soekano, ”menjadi koeli bangsa asing di negeri sendiri,” bahkan mungkin mengingatkan kita sebuah kisah perbudakan bahkan kematian bangsa yang diakibtkan oleh kebodohan rakyatnya

      Salah satu jawaban atas kemelut kemiskinan atau keterbelakangan yang terjadi di negeri ini tidak lain adalah: minat baca. Maka kita dapat melihat bahwa jarak minat baca berbanding lurus dengan jarak kemajuan sebuah bangsa. Bahkan dapat dikatakan bahwa kunci utama untuk keluar dari kemiskinan dan menuju menjadi bangsa yang makmur adalah dengan membangkitkan minat baca masyarakat. Akar kemiskinan, yang menerpa sebagian rakyat Indonesia, adalah karena masih tingginya tingkat melek aksara dan sangat payahnya minat baca seagian besar masyarakat. Kita tidak akan menemukan sebuah kenyataan di belahan bumi manapun ada orang berilmu dan luas pengetahuannya tapi hidupnya miskin, kecuali atas dasar pilihan hidup.



      Comments
      Febby  - belum tentu...     |2011-07-01 04:00:04
      Memang nampaknya dipermukaan seperti itu kenyataannya, namun kita lihat dikancah
      Internasional Indonesia seringkali masih menduduki peringkat atas, walau
      sedikit, tapi itu karena tiap negara ada eranya, maka Indonesia ibarat 'orang
      ngantuk'...banyakperpustakaan tapi anyak yang belum sadar arti penting
      membaca,padahal mayoritas muslim! Tapi kami tetap optimis Indonesia akan terus
      berkembang oleh masalah...bukankah masyarakat yang mkin banyak masalah makin
      bergerak menuntaskan masalahnya?just wait in the right time and place
      rahmat   |2011-09-29 18:27:42
      yupz...wokey...saya juga pustakawan
      Anonymous   |2012-03-12 17:06:49
      Miris memang melihat budaya baca di sekeliling kita.....
      Sebagai contoh kecil,
      ibu rumah tangga yg merasa dirinya sudah mengenyam pendidikan merasa bahwa
      mereka tidak perlu lagi membaca karena membaca hanya menghabiskan waktu saja
      sementara pekerjaan rumah menuntut mereka untuk menyelesaikannya, sehingga waktu
      senggang lebih baik digunakan untuk ngobrol atau menonton TV. Yah itulah
      gambarankecil dari masyarakat kita. Namun pemerintah tdk blh lepas tangan bgt
      sj. Sebaiknya program membaca ditularkan bukan sj kpd generasi muda tp jg pd Ibu
      rumah tangga............
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Monday, 01 June 2009 15:14  

      Items details

      • Hits: 7309 clicks
      • Average hits: 64.7 clicks / month
      • Number of words: 2275
      • Number of characters: 17151
      • Created 9 years and 5 months ago at Monday, 01 June 2009 by Administrator
      • Modified 9 years and 5 months ago at Monday, 01 June 2009 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 132
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091400
      DSCF8790.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC