Literasi
PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 30 July 2009 10:55

Tip dan Trik sederhana 

Membimbing  siswa SD kelas 4,5,dan 6

dalam  Menggunakan index buku

 

oleh : Irawan Haryadi

A.    Pendahuluan

Sebagai seorang pustakawan sekolah yang berkarya sejak tahun 1999 , penulis sering melihat para siswa merasa kesulitan bila di berikan tugas oleh gurunya khususnya pada pelajaran IPA dan IPS untuk mencari informasi atau menelusur informasi di perpustakaan, para siswa lebih sering mencari informasi pada koleksi biasa karena penyajian informasinya  lebih mudah di pahami dan informasi yang dibutuhkan lebih mudah di dapatkan , hal yang berbeda di amati oleh penulis  bahwa bila siswa dihimbau oleh guru dan pustakawan untuk menelusur informasi di koleksi referensi perpustakaan, para siswa lebih enggan menggunakaannya  karena mereka  memiliki anggaapan bahwa dalam memanfaatkan informasi pada bahan pustaka tercetak koleksi referensi membutuhkan waktu yang lebih lama karena bukunya lebih tebal dan terdiri dari beberapa jilid bahkan ada yang lebih dari sepuluh (10) jilid, hal ini di karenakan para siswa tidak memiliki pengetahuan untuk mencari informasi pada koleksi referensi dengan menggunakan index buku.

Hal ini sangat di sayangkan bila  terus menerus dibiarkan, para siswa tersebut harus di berikan bimbingan agar memiliki pengetahuan menggunakan index buku agar informasi yang ada di koleksi referensi dapat di gunakan. Pengetahuan ini sangat berguna dan akan terus terpakai sampai  para siswa menjadi dewasa kelak.

Read more...
 
PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 04 June 2009 08:35

Praliterasi, Literasi, dan Posliterasi
 

Oleh:

Alfathri Adlin

 

Suatu ketika seorang Indonesia berbincang dengan cendekiawan dunia, Seyyed Hosein Nasr. Dia menceritakan kompleksitas peradaban Indonesia. Kehidupan masyarakatnya merentang mulai dari zaman batu hingga ke era cyberspace.

Dia pun melukiskan, di daerah pedalaman, banyak suku terasing yang masih menggunakan kapak batu untuk membuat perahu. Sementara di kota, orang membuat perahu menggunakan teknologi canggih dan berskala industri massal, dan bahkan telah bersentuhan dengan cyberspace. Mendengar itu, Nasr berkata bahwa seandainya di Indonesia muncul seorang pemimpin yang bisa mengelolanya, Indonesia akan jadi negara yang hebat dan besar.

Read more...
 
PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 04 June 2009 08:34

Mengokohkan Tradisi Ilmiah

Oleh

Anis Matta

 

OSAMA” kata Fisk, seorang wartawan Inggris yang pernah menemuinya, “adalah sedikit orang Arab yang tidak merasa malu untuk berpikir sebelum berbicara”. Kesan wartawan Barat yang dinukil majalah Tempo itu kemudian dijadikan ciri yang membedakan Osama dengan Saddam Hussain atau Muammar Qaddafi, misalnya.

Read more...
 
PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 04 June 2009 08:32

Knowledge-Based Economy

Oleh

Amich Alhumami

Pembangunan telah mendorong proses transformasi sosial ekonomi secara fun­damental. Transformasi itu berlang­sung makin cepat seiring dengan kian menguatnya globalisasi ekonomi, yang melahirkan paradigma baru pembangunan, knowledge-based economy (KBE). Sudah sejak lama wacana pembangunan yang merujuk pada paradigma KBE ini mulai menggeser paradigma lama yang bertumpu pada modal fisik dan modal sumber daya alam.

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>

Page 1 of 2

Kalender & Agenda

March 2010
S M T W T F S
28 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 1 2 3

Tidak Mungkin Intelektual Menganggur

Oleh:

Suherman

Ketua Masyarakat Literasi Indonesia (MLI)

Sarjana menganggur sangat banyak, tapi intelektual menganggur rasanya tidak mungkin alias mustahil. Sarjana dan intelektual tidak sama dan sebangun alias memiliki pengertian yang berbeda. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sarjana adalah gelar yang dicapai seseorang yang telah menamatkan pendidikan tingkat terakhir di perguruan tinggi. Sedangkan intelektual artinya seseorang yang cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan atau disebut juga cendekiawan. Jelas sarjana bukan padanan kata intelektual. Dengan memperhatikan definisi atau arti kata intelektual saja sudah dapat disimpulkan mustahil ada intelektual yang memnganggur atau terjadi trategi “pengangguran intelektual”. Akan tetapi, walaupun kata “pengangguran intelektual“ terasa rancu namun sudah terbiasa diucapkan di masyarakat umum alias salah kaprah. Seperti judul sebuah artikel di harian Tribun Jabar edisi tanggal 15 Oktober 2009 “Mewaspadai Booming Pengangguran Intelektual”, yang ditulis oleh seorang dosen pascasarjana.

Read more...