.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      Media Indonesia 9-06-2008

       

      Laskar (Jihad)Pelangi

      SEORANG kawan korban tindakk ekerasan peristiwa Monas beberapa waktu lalu bertanya pada Edu. "Edu, dari perspektif pendidikan, adakah hubungan antara peristiwa kekerasan di Monas dan gaya mengajar 'teaching style) se­orang guru?" "Wah, ini pertanyaan yang sulit untuk dijawab secara sederhana, tetapi dapat dijelaskan secara teoritis berdasarkan gaya mengajar seorang guru," kata Edu kemudian. Guru, lanjut Edu, sebagaimana orang tua, adalah orang yang paling mungkin me-mengaruhi jalan pikiran dan perilaku seorang murid karena mereka mempunyai daya pikat tersendiri ketika mengajar.

      Dari perspektif psikologi pendidikan, paling tidak ada empat tipe pendekatan pola asuh dan pola mengajar yang umum diketahui, yaitu lalai (negligent), otoritatif (authoritative), terlalu berhati-hati (indulgent), dan otoriter (authoritarian). Jika digabung dengan unsur kehangatan (warmth) dan kontrol (control) seorang guru, keempat kecenderungan tipe mengajar tersebut dapat diidentifikasi secara mudah pada setiap guru.

      Contohnya, jika seorang guru tidak memiliki kehangatan dan kontrol terhadap siswanya, dapat dipastikan guru tersebut adalah seorang yang lalai (negligent). Akibatnya, seorang murid menjadi nakal, tidak patuh, cepat frustrasi, dan tak dapat mengendalikan diri. Sebaliknya, jika seorang guru memiliki kehangatan sekaligus kontrol yang kuat dan baik terhadap anak didiknya, guru tersebut bersifat otoritatif sehingga efek terhadap siswanya juga positif. Anak akan memiliki kecenderungan untuk selalu percaya diri, mampu mengendalikan diri, selalu gembira, mampu bekerja sama, dan bersahabat dengan setiap orang.

       

      Jika seorang guru memiliki kehangatan, tetapi tidak dapat mengontrol siswanya dengan baik, guru tersebut dapat dikategorikan guru yang terlalu berhati-hati (indulgent). Akibatnya, siswa mudah memiliki kecenderungan agresif dan impulsif, tidak dewasa, kurang perhatian, dan tidak patuh.

      Tipe keempat adalah tipe guru otoriter. la memiliki kontrol yang kuat terhadap siswa-siswanya, tetapi tidak memiliki kehangatan dalam berinteraksi dengan muridnya. Akibatnya, anak-anak akan memiliki kecenderungan mu­dah marah, tidak stabil, cemas, gelisah, khawatir, tidak merasa aman sekaligus agresif.

      Pertanyaannya kemudian, mungkinkah para laskar jihad yang melakukan tindak keke-rasan di Monas tersebut, keti-ka bersekolah dulu, diajar gu­ru yang paling tidak mempunyai karakter otoriter dan in­dulgent? Sangat mungkin itu terjadi. Masalahnya adalah sulit untuk membuktikan se-cara satu-persatu di mana para anggota laskar jihad itu dulu ber­sekolah. Bisa jadi mereka bersekolah di lingkungan yang kurang kondusif, miskin fasilitas dan sarana belajar, serta guru-guru yang tertekan secara empsional sehingga tak dapat mengerahkan ke-mampuan terbaik mereka karena tingkat pendidikan dan gaji yang kurang sehingga mereka tertekan seperti kebanyakan situasi umum sistem pendidikan kita.

      Pertanyaan selanjutnya adalah adakah contoh tipe guru yang otoritatif dan penuh .keikhlasan dalam mengajar mampu menciptakan anak didik yang berhasil secara emosional dan material?' Menurut Edu, sangat banyak tipe guru seperti itu, salah satunya adalah sosok Harfan Efendy Noor dan Muslimah Hafsari atau Bu Mus yang digambarkan secara kasatmata oleh Andrea Hirata dalam buku Laskar Pelangi. Bagi Andrea, kedua sosok gurunya itu selalu tampak berbahagia ketika mengajar, pandai bercerita, tegas, dan berwibawa.

      "Mereka adalah kesatria tanpa pamrih, pangeran keikhlasan, dan sumur jernih ilmu peiigetahuan di ladang yang ditinggalkan. Sumbangan mereka laksana manfaat yang diberikan pohonfilicium yang menaungi atap kelas... dan memberi napas kehidupan bagi ribuan organisme dan menjadi tonggak penting mata rantai ekosistem."

      Terhadap peristiwa Monas, Edu hanya dapat mengelus dada, prihatin dengan kondisi kekerasan yang kian marak di Indonesia. Terlepas dari adanya pertentangan ideologis dan etnis yang pasti keli-runya, semua pihak termasuk pemerintah jelas harus memperbaiki kondisi pendidikan kita, agar masyarakat menjadi cerdas dan tak mudah termakan isu. "Whenever the people are well-informed, they can be trusted with their own government," sebuah imbauan bijak Tho­mas Jefferson yang patut dianut pemerintah kita.

      (Ahmad Baedowi)

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Friday, 24 February 2012 10:06  

      Items details

      • Hits: 756 clicks
      • Average hits: 9.3 clicks / month
      • Number of words: 1625
      • Number of characters: 13198
      • Created 6 years and 9 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator
      • Modified 6 years and 9 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 129
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091494
      DSCF8754.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC