.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      KORAN TEMPO, SELASA, 5 JANUARI 2010

      Jiwa Kewirausahaan dan Peluang Kurikulumnya


      Rumtini Swamiksan,

      Masih hangat dalam ingatan kita sebuah wacana yang dilontarkan oleh Presiden beberapa waktu yang lalu sebagai pesan kepada Menteri Pendidikan Nasional yang baru agar jiwa kewirausahaan, kreativitas, dan inovasi ditumbuhkembangkan pada anak didik. Respons cepat berdatangan, baik dari masyarakat praktisi pendidikan maupun dari Departemen Pendidikan Nasional sendiri. Bahkan Departemen Pendi­dikan menyatakan akan mengeluarkan kurikulum tahun ajaran 2010/2011. Belajar dari pengalaman merupakan hal yang ba­ik, bahkan keharusan. Hanya sekadar mengingat ke belakang, tepatnya kepada pemikiran yang pernah dilontarkan oleh Menteri Malik Fajar tentang life skill. Kenapa sekarang seakan tenggelam?

      Penulis berpendapat, suramnya suatu program begitu penggagasnya pergi kurang lebih me­rupakan akibat dari kurang kuatnya lapisan-lapisan konkret yang dipilih sebagai artikulasi dari sebuah konstruk. Juga ditambah dengan kebiasaan pengalokasian muatan ke dalam ruang-ruang yang telah padat. Ruang di sini terutama pada muat­an kurikulum, yang harus ditransfer guru ke anak didik. Pada kurikulum, hal itu bisa dipaksakan karena bersifat dokumen. Tetapi tidak demikian de­ngan guru dan anak didik, mengingat adanya keterbatasan kapasitas, yang jika telah penuh justru akan tumpah. Kembali pada pesan kewirausahaan, tulisan ini bertujuan, pertama, mengkaji kompleksitas kewira­usahaan sebagai variabel laten; kedua, bersikap kritis terhadap content kurikulum standar yang menurut penulis sangat tepat dan terkadang tumpang-tindih, untuk memberikan ruang bagi penanaman jiwa kewirausa­haan pada anak didik.

       

      Jiwa Kewirausahaan

      Disebut sebagai variabel laten atau konstruk, karena jiwa kewi­rausahaan merupakan suatu konsep yang abstrak, yang tidak bisa diobservasi tetapi ada tersembunyi, sehingga memerlukan variabel-variabel perantara yang lebih konkret. Jiwa kewirausa­haan perlu pengartikulasian ke dalam aspek-aspek yang lebih konkret atau lapisan-lapisan yang lebih dapat diobservasi. Salah satu aspek terpenting adalah content kurikulum, di mana ketepatan pemilihan content kuri­kulum akan mengarahkan pada kemudahan pencapaian tujuan. Ini baru pada tahap content ku­rikulum dan belum menyentuh pada aspek proses pembelajarannya yang biasanya lebih kompleks dan beragam. Namun, setidaknya content standar kuriku­lum akan menjadi acuan dalam pembelajarannya, di mana con­tent yang terencana secara eksplisit disebut sebagai kurikulum tertulis, dan yang implisit meru­pakan kurikulum tersembunyi (hidden curriculum).

      Adapun kewirausahaan seba­gai jiwa, peluang penanamannya bisa dimulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, di mana content kurikulum yang sederhana tentunya diberikan kepada anak didik pada jenjang sekolah awal dan seterusnya, sehingga semakin tinggi jenjang sekolah akan semakin luas dan dalam tingkat pembelajarannya. Seba­gai jiwa, penanamannya akan le­bih kompleks dibanding pena­naman keterampilan yang langsung bisa dipraktekkan seperti pada pendidikan kejuruan. Penanaman jiwa akan berkaitan dengan pengenalan kepada nilai-nilai, pola pikir dan pola hidup, kebiasaan, bahkan filosofi yang sering tidak bisa dilihat langsung begitu anak meninggalkan bangku sekolah. Penanaman jiwa ti­dak mudah, namun juga bukan tidak mungkin. Di sinilah pentingnya artikulasi dari jiwa kewi­rausahaan ke dalam aspek-aspek kependidikan yang lebih konkret.

      Kurikulum Tertulis

      Jika penanaman jiwa kewira­usahaan dilakukan melalui hid­den curriculum, akan sangat memudahkan bagi guru jika nilai-nilai tersebut sudah tertanam dalam masyarakat di lingkungan anak didik. Misalnya di lingkungan masyarakat pedagang, guru hanya tinggal mengangkat ke permukaan karakter-karakter yang kuat dari masyarakat terse­but. Demikian pula bagi ling­kungan masyarakat daerah wisata, lingkungan masyarakat nelayan, dan lingkungan masyarakat petani atau lingkungan lainnya dimana anak-anak akrab dengan nilai-nilai di sekitarnya. Namun, untuk hal yang sama, barangkali akan lebih sulit bagi guru untuk menanamkan mela­lui hidden curriculum, jika ling­kungan anak didik kurang menunjang.

      Jika melalui kurikulum tertu­lis (written curriculum), sebaiknya beberapa permasalahan diselesaikan terlebih dulu, karena content pada beberapa mata pelajaran kurikulum saat ini telah begitu padat dan tumpang tindih pada satu tempat, dan kosong pada tempat yang lain. Meski demikian, kondisi ini ba­rangkali merupakan peluang un­tuk mencari ruang bagi upaya penanaman jiwa kewirausahaan. Agar diperoleh gambaran lebih jelas, tinjauan akan dititikberatkan pada aspek adanya tumpang tindih content pada bebe­rapa mata pelajaran dan kekosongan pada content yang lain. Jika dipelajari dengan teliti standarisi dan standar kompetensi kurikulum sekolah kita telah sangat padat, baik dalam hal banyaknya mata pelajaran maupun luasnya content. Untuk memperoleh ruang bagi penanaman jiwa kewirausahaan, beberapa langkah perlu dilakukan. Pertama, melakukan integrasi kurikulum. Sebagai contoh, topik hidup rukun ternyata diajarkan di dua mata pelajaran: kewarganegaraan dan IPS. Kedua, pada mata pelajaran bahasa Indonesia, kita perlu mengurangi content sastra yang terlalu detail karena materi itu memerlukan bakat dan minat. Dan sebaliknya, kita per­lu menekankan content membaca penekanan pada kosakata, strategi, dan pemahaman menu penekanan pada kosakata, struktur menulis, tata bahasa, dan pilihan kata dan berbicara bertanya, berkomentar, dan presentasi. Ketiga, menjadikan materi bahasa Indonesia sebagai alternatif muatan lokal yang selama ini banyak didominasi pengajaran bahasa daerah. Selanjutnya, ruang-ruang mata pe­lajaran diintegrasikan, dan pada keterampilan membaca dan me­nulis, dapat diisi dengan content kewirausahaan.

      Penanaman jiwa kewirausaha­an penting dilakukan sedini mungkin, namun ketepatan pemilihan content dan program di se­kolah mutlak perlu dilakukan. Lebih padatnya content kurikulum saat mi barangkali akan menjadi hambatan bagi penanaman jiwa kewirausahaan tersebut. Namun kemauan untuk mengkaji lagi content kurikulum menjadi lebih terintegrasi dan menampilkan content membaca-menulis-berbicara akan sangat bermanfaat bukan hanya pada penanaman jiwa kewirausahaan, tapi juga pada keterampilan itu sendiri bagi anak di masa depan.

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Monday, 27 February 2012 06:40  

      Items details

      • Hits: 357 clicks
      • Average hits: 3.8 clicks / month
      • Number of words: 3390
      • Number of characters: 27113
      • Created 7 years and 9 months ago at Monday, 27 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 9 months ago at Monday, 27 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 73
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9125122
      bacalah.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC