.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      MEDIA INDONESIA, 1 SEPTEMBER 2008

       

      Syarat Masuk Perguruan Tinggi Negeri

      Oleh Syamsir Alam

      Tim Pendidikan Yayasan Sukma

      Dirjen Pendidikan Tinggi Depdiknas, Fasli Jalal, mengusulkan supaya hasil ujian nasional siswa dapat dijadikan bahan pertimbangan akademik untuk dapat diterima pada perguruan tinggi negeri (PTN). Menurut Fasli Jalal, tes kompetensi jangan sampai diulang dua kali. Kalau memang dipandang perlu memberikan tes tambahan, bisa ditambah dengan tes bakat/skolastik. Usulan Fasli Jalal ini perlu dipikirkan dan dipertimbangkan dengan lebih serius karena usulan itu mengandung dua pesan berupa keingi­nan pemerintah untuk melembagakan uji­an nasional dan mengubah substansi selek­si masuk PTN. Pertama, usulan itu merupakan sebuah sinyal bahwa kebijakan pe­merintah tentang ujian nasional akan tetap sama dengan sebelumnya, yaitu sebagai penentu kelulusan siswa sebagaimana tersirat dari keinginan pemerintah untuk menggunakan hasil UN SMA sebagai persyaratan masuk PTN. Sebelumnya, skor UN SMA hanya digunakan sebagai penen­tu kelulusan. UN masih dipandang peme­rintah sebagai cara yang paling murah, mudah, dan efektif untuk mendorong dan meningkatkan mutu pendidikan.

      UN sudah dianggap sebagai the magic one, yang dapat dengan mudah menyelesaikan berbagai persoalan ketimpangan yang terjadi pada dunia pendidikan saat ini. Pemerintah merasa lebih berhak dan memiliki kewenangan sehingga dapat dengan mudahnya mengabaikan aspirasi dan keinginan untuk mengkaji ulang penggunaan hasil UN yang sudah banyak disuarakan masyarakat baik melalui para pandit bidang pendidikan maupun masyarakat yang peduli pendi­dikan selama ini. Jangankan membuka ruang dialog dengan pihak-pihak yang berseberangan, pemerintah malah berencana akan memperluas penggunaan hasil UN SMA sebagai syarat masuk PTN. Kedua, keinginan pemerintah untuk mengubah/menambah substansi seleksi masuk PTN dengan tes skolastik sangat positif karena soal tes seleksi masuk PTN yang diguna­kan selama ini masih sangat terkait dengan kurikulum, sehingga potensi biasnya terhadap kandidat dari keluarga yang mampu (economically advantaged family) diduga akan sangat tinggi. Oleh karena itu, soal tes seleksi masuk PTN yang selama ini di­gunakan memang selayaknya diubah agar dapat lebih memberikan rasa keadilan bagi semua kandidat tanpa membedakan status ekonomi dan sosial mereka.

       

      Sistem seleksi PTN

      Setiap sistem seleksi haruslah dapat memenuhi tiga kriteria utama, yaitu: 1) berkaitan dengan keadilan (equity); 2) kesempatan (opportunity); dan 3) efisiensi (econo­mic efficiency). Dalam konteks seleksi masuk PTN, keadilan (equity) merupakan sesuatu yang berkaitan dengan unbias test instrument. Instrumen tes seleksi yang akan digunakan haruslah bersifat adil terhadap setiap kandidat dan transparan. Alat selek­si yang digunakan haras mampu menjaring kandidat sesuai dengan kriteria yang ditetapkan tanpa memberikan keuntungan/keberpihakan (bias) kepada kelompok masyarakat (kandidat) tertentu. Instrumen tes itu   harus   dapat membedakan kan­didat yang semestinya dapat diterima atau ditolak berdasarkan kemampuan/potensi akade­mik semata; jadi bu­kan  kemampuan yang diperoleh sebagai akibat dari kegiatan karbitan (seperti latihan/dri­fting soal tes), yang dilakukan menjelang ujian atau diuntungkan dari pro­ses pengalaman pembelajaran sebelumnya. Soal UN menyimpan potensi bias sebagaimana yang dikhawatirkan di muka, sebab soal tes pada UN merupakan instrumen yang terkait langsung dengan kurikulum. Instrumen UN sangat dipengaruhi oleh praktik pembelajaran dan kurikulum yang digunakan di sekolah. Apabila sebuah sekolah memiliki guru, fasilitas, dan budaya belajar yang baik, peluang keberhasilan siswanya pada ujian nasional lebih besar; sebaliknya, bila sekolahnya memiliki fasilitas yang serba terbatas dan dengan guru yang mutunya sangat rendah, maka peluang siswanya untuk berhasil pada UN akan kecil. Oleh karena itu, bila skor UN di­gunakan sebagai syarat satu-satunya selek­si masuk PTN, potensi biasnya akan besar.

      Instrumen tes seleksi perguruan tinggi yang juga banyak digunakan adalah tes skolastik atau tes kemampuan umum. Tes skolastik ini dikonstruksi bukan didasarkan pada kurikulum (curriculum free); dan karena itu, sumber/bahan yang digunakan untuk menyusun soal tes bisa sangat berbeda dengan tes prestasi belajar (achieve­ment test). Tes skolastik, seperti SAT (scho­lastic aptitude test) banyak digunakan pada universitas terkemuka di Amerika Serikat. Pusat Penilaian Pendidikan, Balitbang Diknas juga sudah mengembangkan tes sko­lastik ini, dan bahkan alat tersebut sudah sering digunakan di perguruan tinggi swasta sejak tahun 90-an.

      Selanjutnya, sistem seleksi itu harus dapat memberikan akses yang sama (equalopportunity) kepada setiap kandidat. Sistem seleksi harus mampu menjangkau (outreach) setiap anggota masyarakat yang memerlukannya sehingga meskipun kandidat secara geografi berdomisili sangat jauh dari keberadaan univer­sitas yang akan dilamar, mereka ha­rus tetap dapat dilayani dengan baik. Sedangkan persyaratan terakhir ada­lah economic effi­ciency. Persyaratan ini berkaitan de­ngan sumber dan waktu. Pemerintah biasanya akan memberikan penekanan pada poin terakhir ini. Karena itu, seleksi masuk PTN selama ini hanya menyandarkan pada hasil dari satu kali ujian (one shotsitting exams) tanpa memasukkan informasi pendidikan tentang kandidat yang lainnya. Meskipun informasi akademik tambahan itu diakui sangat penting dan berharga dalam membuat keputusan      kelulusan, pemerintah selalu mengesampingkannya.

      Namun, bila pemerintah memang berkehendak membenahi sistem penilaian termasuk seleksi masuk PTN, yang seharusnya dipertimbangkan dan diprioritaskan adalah membangun lembaga penilaian (examination authority) mandiri. Karena seluruh karut-marut sistem penilaian dan seleksi masuk PTN selama ini berpangkal dari ketiadaan lembaga penilaian yang independen. Kegiatan penilaian nasional dan seleksi masuk PTN yang dianggap sangat penting itu ternyata masih dilaksanakan secara ad hoc (kepanitiaan). Karena itu, bukanlah sesuatu yang mengejutkan bila selama beberapa tahun terakhir ini pelaksanaan seleksi masuk PTN selalu mengalami perubahan dan macamnya pun terus bertambah banyak sehingga sering mengaburkan tujuan seleksi masuk itu sendiri.

      Di banyak negara terkemuka terrnasuk Malaysia, penilaian pendidikan sudah diselenggarakan oleh lembaga penilaian yang mandiri dan independen (examination authority). Pentingnya lembaga penilaian mandiri itu adalah untuk menjaga konsistensi kebijakan tentang penilaian, kredibilitas penyelenggaraan ujian dan hasil (skor) ujian. Dengan dihadirkannya lembaga penilaian mandiri dan independen, berbagai benturan kepentingan yang mungkin terjadi pada pengelola perguruan tinggi akan dapat dihindari, karena penyelenggara uji­an seleksi bukanlah pihak yang akan menggunakan hasil ujian seleksi itu. Perguruan tinggi nantinya hanya menerima hasil, bila hasil (skor) itu memenuhi standar yang diinginkan, kandidat yang bersangkutan dapat diterima atau sebaliknya. Dengan demikian, PTN akan dapat lebih fokus pada bidang pekerjaan utamanya, yaitu melakukan pengajaran dan penelitian (tea­ching and research). Secara bergurau seorang teman berkata, "PTN di negeri ini memang mampu mengerjakan apa saja termasuk mengurusi KPU; kecuali satu, yaitu bidang yang menjadi tugas utamanya, melaksanakan praktik pengajaran dan penelitian yang bermutu." Ungkapan itu kelihatannya bernada sinis, tetapi faktanya memang de­mikian. Lihatlah hasil laporan sejumlah lembaga pemeringkat dunia, kedudukan sejumlah PTN bangsa ini masih pada deretan ratusan bila disandingkan dengan per­guruan tinggi lainnya di planet bumi ini. Bahkan menurut laporan Globe Asia guide To Indonesian Universities, sejumlali universitas swasta nasional sudah mulai berhasil mengungguli beberapa universitas negeri terkemuka (the best ten state run uni­versities) berdasarkan kriteria yang meliputi: 'Academic Greatness' dan 'Holistic Edu­cation and Campus Dynamism' (Campus Asia, Volume 1 number 3, 07/08).

      Sejak tahun 80-an, yaitu saat diperkenalkannya model seleksi PMDK (telent scou­ting) pada Institut Pertanian Bogor (IPB) guna mengatasi persoalan keadilan dan akses terhadap pendidikan bermutu pada jenjang pendidikan tinggi, Depdiknas selebihnya hanya terperangkap rutinitas. Oleh karena itu, bila Depdiknas mampu mewujudkan berdirinya sebuah lembaga penilai­an yang mandiri dan independen, maka bangsa ini akan dapat mulai membangun sistem penilaian nasional yang solid, berkualitas, kredibel, dan memperoleh pengakuan (recognition) dari pihak-pihak pengguna hasilnya (users) termasuk perguruan tinggi dan dunia usaha pada tingkat nasio­nal, regional, dan internasional.

      » PARTISIPASI OPINI

      Kirimkan ke email:

      This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it atau This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it atau fax: (021) 5812105

      (Maksimal 7500 karakter tanpa spasi. Sertakan nama. alamat lengkap, nomor telepon dan foto kopi KTP).

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Friday, 24 February 2012 07:20  

      Items details

      • Hits: 1841 clicks
      • Average hits: 19.8 clicks / month
      • Number of words: 4171
      • Number of characters: 32941
      • Created 7 years and 9 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 9 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 75
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9125080
      Jantung_Sekolah1.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC