.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Keterampilan Membaca

      Oleh:

      Suherman

      Keterampilan membaca bukan didapatkan dari keturunan, warisan, atau faktor genetik yang diturunkan orang tua kepada anak-anaknya. Keterampilan membaca diperoleh dari hasil belajar yang kompleks. Banyak orang yang menyederhanakan masalah keterampilan membaca karena ada atau tidak adanya ketersediaan bacaan. Padahal itu hanya salah satu faktor penyebab, akan tetapi bukan satu-satunya. Kegitan membaca merupakan kegiatan aktif yang melibatkan hampir seluruh dimensi manusia: fisik, psikis, dan emosi. Oleh karena itu, tidak ada rumus, jalan pintas, atau formula yang cespleng untuk membangun keterampilan membaca ini. Akan tetapi, keterampilan membaca dibangun dengan pendekatan yang multidimensi serta usaha yang terus-menerus sehingga membutuhkan konsistensi dan kesabaran yang tidak ada batasnya.

      Dari literatur yang penulis baca ternyata tidak ada batasan usia kapan seharusnya kita menularkan kebiasaan membaca kepada anak dan kapan mengakhirinya. Yang ada pembatasan usia adalah untuk mengajarkan secara formal yaitu antara usia 6 sampai 7 tahun atau usia memasuki sekolah dasar. Dalam kupasan di bawah ini mungkin ada disebut usia anak, itu hanya untuk memudahkan pembahsan saja dan sifatnya tidak linear, karena mungkin saja ada seorang remaja yang harus dikondisikan seperti anak-anak sekolah dasar dan juga pernah ada kejadian seorang siswa SMP yang memiliki keterampilan membaca melebihi anak SMA bahkan dapat melampaui kebiasaan membaca mahasiswa.[1]

      A. Pembelajaran Utero

      Menumbuhkan dan merawat budaya sama dengan memberikan pendidikan pada anak yaitu dimulai dari kandungan (in utero). Seorang janin bukan hanya membutuhkan asupan nutrisi untuk perkembangan otak dan pertumbuhan badannya akan tetapi juga perlu ada “asupan pengetahuan” dengan cara dibac akan buku oleh orang tuanya. Telah banyak hasil riset psikologi modern yang menjelaskan bahwa sebuah janin bisa merespon rangsangan yang berasal dari luar kandungan. Janin yang berada di alam rahim bisa “berinteraksi” dengan kehidupan di alam dunia ini. Salah satu contoh, hasil riset yang sudah populer menganjurkan apabila kita menginginkan anak yang cerdas maka saat hamil harus mendengarkan lagu-lagu klasik (musik barok) terutama gubahan Mozart. Dari penelitian ini maka kemudian lahirlah istilah “efek Mozart (Mozart effect)”.[2]

      Dari kondisi seperti ini, maka apabila orangtua menginginkan memiliki anak yang rajin membaca maka harus dikondisikan sejak dari kandungan. Caranya yaitu ibu dan ayah dari anak itu harus rajin memberikan “pelajaran” kepada janin, misalkan dengan banyak-banyak membaca buku pada saat hamil atau bercerita (mendongeng) langsung ditujukan pada sang janin. [3]

      Andhi Yudha, seorang pakar cerita dan penulis buku-buku anak, (2007, hal. 151-152) telah mempraktekannya dan ternyata setelah bayi lahir memiliki daya tangkap lebih cepat, cenderung cerdas, dan kritis. Menurut Andhi sebetulnya yang terpenting dari bercerita kepada janin adalah untuk menjalin emosi dengan sang anak sejak dini.

      Tentu saja teknis bercerita harus disesuai dengan situasi dan kondisi. Demi menjaga “wibawa” orang tua berceritalah di tempat yang aman dari pandangan orang lain, karena di masyarakat kita hal ini belum biasa—apabila ada orang berbicara sendirian masih dianggap memiliki penyakit kejiwaan.

      B. Pramembaca

      “Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.” Begitu kata pepatah. Jangan bermimpi memiliki seorang anak yang rajin membaca sementara ibu dan bapaknya tidak suka membaca. Orang tua tidak usah buang-buang energi untuk menyuruh anaknya supaya rajin membaca. Selain tidak efektif juga akan menimbulkan perasaan kurang simpati atau mengesalkan pada diri anak. Kata pepatah tindakan lebih efektif daripada seribu kata-kata. Tindakan yang paling baik dan efektif adalah dengan memberikan contoh atau teladan.

      Menurut ahli psikologi anak adalah peniru yang hebat atau seperti sepotong spon. Dia akan menyerap apapun rangsangan dari lingkungan terdekatnya dalam hal ini orang tuanya.[4] Ketika seorang anak melihat orangtuanya serius, antusias, dan hobi membaca, anak akan terangsang, penasaran, dan akhirnya akan termotivasi untuk meniru perbuatan orang tuanya. “Bermula dari motivasi itulah maka anak akan lebih mudah untuk menemukan kesenangan dalam membaca. Sebuah keuntungan bagi orang tua, adalah karena karakter anak yang suka meniru, maka orang tua tak perlu repot-repot memberi pengertian. Anak akan meniru dengan sendirinya.”[5] Selain memberikan teladan, lingkungan juga harus menciptakan suasana yang kondusif untuk membaca. Harus diupayakan supaya setiap saat seorang anak melihat buku dimana pun dia berada. Setiap hari si anak bercengkarama dengan buku. Oleh karennya membuat perpustakaan keluarga sekecil apapun merupakan keniscayaan. Pada momen-momen penting seperti ulang tahun misalnya atau pada saat merayakan prestasi, berikanlah penghargaan atau hadian dengan kado buku.

      Apabila bayi sudah lahir maka segera membacakan buku kepadanya dengan suara dikeraskan (reading aloud), hal ini akan memberikan rangsangan komunikasi yang baik sedari awal. Selain itu juga, akan mempercepat perkembangan kapasitas dan kemampuan otak anak. Yang paling bagus “bacakanlah buku dengan suara yang berubah-ubah sehingga berirama. Sesekali meninggi, sesekali merendah. Membaca dengan suara yang berubah-ubah membuat anak tertarik, sehingga anak benr-benar terlibat secara psikis.”[6] Ketika orang tua membacakan buku kepada seorang anak, ketiga hal penting ini terjadi secara bersamaan dan tanpa kesulitan: (1) hubungan menyenangkan terjalin antara si anak dan buku, (2) baik orang tua dan anak belajar sesuatu dari buku yang mereka nikmati bersama (double learning), (3) orang tua menuangkan bunyi dan suku kata yang disebut sebagai kata-kata ke dalam telinga si anak. Di dalam telinga, kata-kata ini dikumpulkan di dalam suatu tempat penampungan yang disebut sebagai kosakata dari pendengaran (listening vocabulary). Pada akhirnya, apabila orang tua menuangkan banyak kata ke dalam tempat penampungan ini, yang diistilahkan sebagai reservoirmulai, tidak sanggup menampung semuanya dan pada akhirnya akan menuangkan kata-kata ke dalam kosakata peercakapan (speaking vocabulary), kosakata membaca (reading vocabulary), dan kosakata menulis (writing vocabulary). Semua proses itu berasal dari kosakata pendengaran (listening vocabulary).[7] Trelease juga melaporkan dari hasil risetnya bahwa penyimpanan jangka panjang pola bunyi dan kata secara signifikan dimulai sejak usia delapan bulan. Anak-anak yang paling sering mendengar bahasa punya kesempatan terbesar memiliki keahlian bahasa terbaik. Hanya ada dua cara bagi kata-kata masuk ke dalam otak seorang anak: melalui mata atau melalui telinga. Karena anak belum bisa membaca, yang tersisa adalah telinga.

      Tidak ada hasl penelitian atau literatur yang menjelaskan kapan mesti berhenti membaca buku dengan anak. Justru yang dianjurkan adalah membacakan buku sampai anak kita remaja. Yang penting adalah ada kemauan dari para orang tuanya. Dalam tahap pramembaca ini bukan mengajari anak untuk membaca. Tidak boleh tergesa-gesa untuk mengajari anak membaca sebelum usianya enam atu tujuh tahun atau usia memasuki sekolah dasar. Karena itu merupakan waktu perkembangan yang alami. Finlandia menolak mengajarkan anak-anaknya membaca sampai usia mereka tujuh tahun dan negeri ini memiliki angka baca tertinggi di dunia. [8]

      Pramembaca secara teknis bukan membacakan buku kepada anak, bukan pula membaca bersama anak, akan tetapi yang utama adalah kegiatan membaca buku dengan anak. Dengan kegiatan pramembaca di kemudian hari setelah anak memasuki usia belajar membaca sudah tertanam kesiapan membaca (reading readiness) yang diperoleh dari pengalaman membaca (prereading experience).

      Ada sebuah hasil penelitian yang manarik tentang hubungan antara menanamkan kebiasaan membaca sejak dini dengan keberhasilan, terutama keberhasilan akademik, di masa dewasa. Peneliti melakukan wawancara ekstensif dengan tigapuluh orang profesor. Hasilnya adalah: [9]

      A. Dua belas dari lima belas profesor itu dibacakan buku atau diceritakan kisah oleh orangtua mereka, dibanding dengan hanya empat dari kalangan pekerja kerah biru.

      B. Empat belas dari lima belas profesor datang dari kalangan di mana buku dan materi ceetak tersedia dengan melimpah

      C. Para ibu dari tiga belas profesor dan para ayah dari dua belas profesor diidentifikasi sebagai sosok yang sering membaca koran, majalah, atau buku.

      D. Kelima belas profesor itu didorong untuk membaca ketika masih kecil.

      Tujuan utama dari kegiatan pramembaca adalah menumbahkan kecintaan, semangat, dan gairah membaca. Untuk menumbuhkan rasa cinta anak kepada buku maka orang tua membacakan buku juga harus dengan cinta. “Jika Anda orangtua, Anda telah memiliki bahan utama untuk mulai menularkan ‘virus’ membaca—cinta. Anda mencintai anak-anak Anda, dan anak-anak senang dicintai. Tuangkan cinta dalam kegiatan membaca dan Anda akan berhasil..... Cinta adalah fondasi untuk bangunan kita.[10]

      Menenamkan jiwa pembaca kepada anak sedini mungkin bagaikan membangun fondasi bangunan. Semakin dalam membuat fondasi akan semakan kokoh bangunan yang akan berdiri di atasnya. Menjadi manusia pembelajar seumur hidup adalah menjadi manusia pembaca seumur hidup. Apabila tidak memiliki kebiasaan membaca yang kokoh sejak dari kecil tidak mungkin cita-cita menjadi pembelajar seumur hidup akan bisa diwujudkan.

      C. Mengawali Dengan Cerita Atau Dongeng

      Orville Prescott dalam bukunya A Father Reads to His Children menulis, “ Tidak banyak anak-anak yang belajar mencintai buku dari dirinya sendiri. Harus ada orang yang memancing mereka masuk ke dalam dunia bahasa tertulis yang indah, seorang harus menunjukkan jalan pada mereka.” [11]

      Cerita dan dongeng merupakan metode pendidikan universal yang paling tua, setua peradaban manusia. Cerita, dogeng, atau kisah sudah sudah ada sejak lama sebelum ditulis. Belajar dengan cara bercerita sangat sederhana akan tetapi memiliki manfaat yang sangat banyak. Maka tidak heran apabila Tuhan menyampaikan firmannya dalam semua kitab suci dengan kisah atu cerita. Sejarah pada hakikatnya adalah cerita yang dilengkapi dengan fakta. Di setiap negara atau daerah pasti memiliki cerita atau dongeng yang biasanya tersebar secara merata yang dijadikan sebagai sarana hiburan, pendidikan, pelestarian budaya, dan untuk menanamkan nilai-nilai moral.

      Walaupun mendongeng merupakan kegiatan yang sederhana, akan tetapi banyak orang yang tidak mampu melakukannya. Menurut penelitian ternyata kurang lebih hanya 15 persen saja dari orangtua di Indonesia yang rutin mendongeng untuk anak-anaknya. Mendongeng yang baik tidak hanya bertutur kata tanpa bentuk dan tanpa tujuan, akan tetapi mesti disampaikan dengan intonasi yang jelas, menceritakan sesuatu hal yang berkesan, menarik, punya nilai-nilai khsus, dan punya tujuan khusus pula. Menurut Kusumo Priyono, pakar pendongeng, tujuan mendongeng yaitu untuk mengenalkan budi pekerti, mendorong anak berperlilaku positif, dan mengembangkan cakrawala berpikir anak yang disesuaikan dengan nalurinya. Semuanya disampaikan dengan menarik dan menghibur. [12]

      Andi Yudha Asfandiyar mengatakan bahwa dongeng merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengembangkan aspek-aspek kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan), sosial, dan aspek konatif (penghayatan). Dongeng dapat membwa anak pada berbagai pengalaman baru yang belum pernah dialaminya. Dari dongeng tersebar beribu-ribu hikmah yang membut anak-anak merasa belajar sesuatu. Melalui dongeng anak-anak mendapat pendidikan dengan tidak merasa digurui karena mereka merespons segala sesuatu dengan cara mereka sendiri. Dalam bukunya Cara Pintar Mendongeng (Bandung: DAR! Mizan, 2007) Andi membahas tidak kurang dari 28 manfaat mendongeng, yaitu:

      1. Komunikasi yang menarik perhatian anak-anak

      2. Melatih daya konsentrasi anak-anak

      3. Cara belajar yang menyenangkan,

      4. Mengajak anak-anak ke alam fantasi,

      5. Melatih anak-anak berasosiasi

      6. Memupuk rasa keindahan dan kehalusan budi,

      7. Membangkitkan keharuan dan kepekaan,

      8. Membuat seorang anak beridentifikasi,

      9. Dongeng apresiatif pada indra lihat, dengar, gerak dan emosi (feeling) anak

      10. Menjadi rumah imajinasi

      11. Membuat seorang anak berkomunikasi dengan dirinya dan orang lain

      12. Lambang ketulusan dan kasih sayang

      13. Merangsang jiwa petualang

      14. Pemicu daya kritis dan curiosity

      15. Pengantar tidur

      16. Melatih berpikir sistematis

      17. Jendela pengalaman bermakna bagi anak

      18. Rekreasi batin

      19. Mampu menembus ruang dan waktu

      20. Alternatif pengobatan tanpa obat

      21. Secara tidak langsung mengajak anak-anak mengenal kebesaran Sang Pecinta

      22. Membuat otak anak menjadi rileks/nyaman

      23. Melatih kemampuan bahasa anak-anak

      24. Menggiring anak-anak menyukai buku

      25. Memancing anak-anak berekspresi lewat tulisan dan gambar

      26. Memicu dan memacu multiple intelligences

      27. Sumber kearifan

      28. Mengandung hiburan bagi ananak-anak.

      Paul Jennings pun menulis dengan sangat indah tentang kelebihan cerita dibanding dengan metode pembelajaran yang lain. Berikut saya kutip secara utuh pendapat dari Jennings tersebut: [13]

      Tidak seperti film dan televisi, cerita terulis dapat membawa kita masuk ke dalam benak orang lain. Pikiran ajaib penulis dan pembaca dapat menciptakan adegan yang tidak bisa disertai layar mana pun. Tak ada yang mampu menggerakkan kita sampai menangis atau tertawa sebagaimana kata tertulis. Sebuah cerita dalam buku dapat menampilkan adegan paling luar biasa. Kita bisa dibawanya ke ujung alam semesta.

      Sebuah kisah menghadirkan sosok pahlawan untuk kita tiru. Sebuah kisah memberikan teladan. Sebuah kiah memberikan peringatan. Sebuah kisah menujukkan jalan menuju bintang-bintang. Sebuah kisah dapat mengeluarkan kita dari kegelapan. Cerita-cerita dalam buku menjadikan kita anggota terhormat keluarga manusia dan memberi tahu kita bahwa impian bisa menjadi kenyataan.

      Dan buku melakukan semua itu dengan menghibur kita. Tidak semua orang menyakai ceramah. Dan cerita-cerita buku tidak perlu berceeramah. Saya selalu mengtakan bahwa kisah-kisah saya memiliki nilai-nilai etis karena saya bermoral, bukan karena saya ingin mengajarkan moral. Semua cerita yang baik membantu menjadikan kita orang yang baik.

      Anak-anak yang tidak menykai buku kehilangan salah satu alat humanisasi yang paling ampuh. Anda tidak bisa memukuli seorang wanita tua di kereta jka Anda peernahy masuk ke dalam kehidupan si nenek atau seseorang seperti dia dalam sebuah kisah. Anda tidak bisa mendorong perahu penuh pengungsi ke laut agar tenggelam jika Anda pernah membaca kisah teror ruang penyiksaan atau keekejaman lautan yang tidada ampun dan menghayati bagaimana rasanya selamat dari semua itu.”

      Selanjutnya Jennings pun mengatakan cerita atau dongeng dapat mendorong rasa keberanian dan petualangan pada anak. Sebuah cerita secara tidak langsung memberi nasihat kepada si anak: Beranikan dirimu dan hadapi langsung dunia. Cerita bisa mengubah kehidupan dan sikap sorang anak. Cerita menjadikan manusia menjadi lebih manusiawi. Cerita bisa menjadikan anak-anak sebagai manusia sesungguhnya.

      D. Membaca Di Sekolah

      Di awal tulisan sudah dibahas tentang rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Juga sudah disinggung tentang rendahnya budaya baca di sivitas sekolah terutama siswa dan guru. Dari hasil penelitian juga sudah banyak dijelaskan adanya hubungan yang sangat erat antara kualitas pendidikan atau prestasi belajar dengan kebiasaan membaca sisiwa dan guru. Semakin banyak membaca maka akan semakin berprestasi atau semakin berkualitas hasil pendidikan kita.

      Berkaca dari negara maju seperti Amerika Serikat, Trealease mengatakan, “Riset tentang membaca selama tiga puluh tahun terakhir menegaskan formula sederhana ini—apa pun jenis kelamin, ras, kewarganegaraan, atau latar belakang sosial akonomi Anda. Siswa-siswa yang paling sering membaca adalah juga merupakan orang-orang yang paling mahir membaca, mencapai prestasi tertinggi, dan bersekolah lebih lama. Sebaliknya, mereka yang tidak banyak membaca, tidak mahir membaca.”[14]

      Menuntut siswa supaya banyak membaca di sekolah tentu saja sebuah tuntutan yang tidak realistis, karena begitu padatnya jam pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa setiap harinya. Yang bisa dilakukan oleh pihak sekolah adalah mengkondisikan supaya siswa memanfaatkan jam-jam di luar sekolah untuk membaca. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh pihak sekolah di antaranya adalah:

      Pertama, membacakan cerita (reading aloud) oleh guru. Kegiatan ini dilakukan setiap pagi di depan kelas sebelum memulai pelajaran yang lain. Kegiatan ini dilakukan di negara-negara maju yang kualitas pendidikannya terbaik seperti Finlandia dan Amerika Serikat. Seperti telah disinggung di atas tidak ada batas akhir untuk membacakan buku kepada anak, walaupun sudah menginjak usia sekolah atau remaja.

      Kedua, ada pembelajaran literasi informasi (LI) di sekolah. Secara sederhana literasi informasi diartikan kemampuan menemukan, mengelola, dan menggunakan informasi. Pembelajaran LI dapat mengakselerasi tumbuhnya budaya membaca di kalangan para murid. Sepengetahuan penulis pembelajaran LI secara formal di sekolah di Indonesia baru dilakukan di sekolah A-Hikmah Surabaya dengan nama “Kenal Pustaka” yang dijadikan sebagai muatan lokal. Sasaran dari LI ini adalah bagaimana siswa supaya mencintai buku atau rajin ke perpustakaan yang akhirnya gemar membaca. Para murid diajari tentang arti sebuah buku mulai dari bentuk fisik buku (anatomi buku) sampai pada manfaat dan nilai sebuah buku. Untuk memudahkan menghafal nomor klasifikasi (DDC) terutama nomor utamanya atau nomor awalnya maka secara kreatif diciptakan lagu oleh pustakawanan yang dinamakan “Tepuk DDC”. Lagu ini mudah dihafal dan dinyanyikan dengan dengan nada riang gembira.

      Dari koleksi yang berjumlah kurang lebih 40.000 eksemplar, saya tidak melihat ada buku yang disobek atau dicorat-coret oleh murid. Padahal perpustakaan tersebut adalah perpustakaan sekolah dasar. Itu terjadi karena efek dari pembelajaran Kenal Pustaka tersebut. Untuk memastikan bahwa para murid rajid membaca, para wali kelas diberikan tugas tambahan untuk mengevaluasi dan memonitor kegiatan membaca para murid dengan cara memeriksa berapa buku yang dipinjam oleh seorang murid dalam sebulan. Kalau kurang dari empat judul maka si murid ditanyai, bukan dihukum, apa masalahnya. Apakah karena perilaku pustakawannya yang kurang ramah, ada masalah di keluarganya, atau sakit. Pernah terjadi ada seorang siswa menjadi enggan ke perpustakaan karena takut dimarahi petugas pasalnya buku yang dia pinjam rusak. Ada juga yang takut ke perpustakaan karena pernah dipelototi oleh petugas perpustakaan. Setelah mendapatkan konseling dan solusi maka si murid biasanya rajin kembali meminjam buku. Menurut pengakuan petugas perpustakaan semua murid menjadi anggota perpustakaan dan hampir semua murid setiap hari meminjam buku.

      Karena sudah masuk ke dalam kurikulum pembelajaran, maka tentunya tercantum di raport siswa. Bahkan melalui buku penghubung, pustakawan sekolah akan berkoordinasi dengan wali kelas siswa untuk melaporkan kondisi minat baca siswanya kepada orangtua murid melalui buku penghubung. Begitu perhatiannya terhadap pembelajaran perpustakaan dalam memupuk minat baca para murid. Sehingga dari tahun ke tahun telah teruji dan terukur bahwa lulusan SD ini memiliki minat baca yang baik, akrab dengan buku, dan mencintai buku.

      Pembelajaran Kenal Pustaka seperti ini ternyata sama dengan yang dilakukan di negara yang tingkat literasinya tinggi dan pendidikannya terbaik di dunia yaitu Finlandia, Jepang, dan Amerika Serikat seperti ditulis oleh Tati D. Wardi: [15] dalam tulisannya “Nalar dan Paradigma Baru Literasi” di harian Kompas, 14 Desember 2013:

      “Upaya strategis yang bisa kita lakukan menumbuhkan daya literasi Indonesia secara menyeluruh dan berkesinambungan adalah dengan memulainya dari pendidikan di sekolah.

      Negara dengan tingkat literasi tinggi seperti Finlandia, Jepang, dan Amerika Serikat secara sistematis menempatkan buku sebagai pusaran kegiatan pembelajaran. Di AS, misalnya, sejak jenjang pendidikan dini anak diperkenalkan dengan konsep buku dan berdialog dengan teks dan gambar.

      Dengan dibantu guru, sejak belia siswa dibiasakan bertanya, termasuk pesan apa yang ingin disampaikan oleh pengarang buku. Mereka belajar berdialog dengan teks, bukan sekadar membaca sambil lewat.

      Di jenjang SD, siswa dikondisikan belajar memperkaya kosakata dan menumbuhkan daya analisis mereka menggunakan bacaan berjenjang yang disesuaikan dengan tingkat kognitif dan kematangan mereka. Bacaan berjenjang biasanya dibedakan seberapa kompleks bacaan, seperti kosakata, struktur, logika, dan konsep. Di tingkat menengah siswa akan terbiasa mendiskusikan buku beragam genre dan teks beragam bentuk (seperti digital) dengan tingkat kesulitan sesuai dengan yang diharapkan di perguruan tinggi atau dengan kebutuhan literasi ketika mereka terlibat langsung dengan masyarakat luas. Akhirnya keterbiasaan dengan buku akan menumbuhkan cinta mereka membaca.

      Fungsi buku dan teks bukan sekadar rujukan, melainkan juga medium berpikir kritis dengan cara mendiskusikan makna yang tak sekadar di permukaan.

      Pendidikan yang melibatkan buku dan bahan bacaan sebagai sumber ajar akan memfasilitasi guru dan siswa dalam proses pembelajaran yang dialogis, aktif, dan kritis. Ini mengandaikan perlunya guru dipersiapkan menanamkan pemahaman literasi dan mengajarkannya di kelas, dan bagaimana siswa punya kesempatan meningkatkan daya literasi mereka di sekolah.

      Pendidikan literasi butuh kesinambungan, dari jenjang  pendidikan dini hingga dewasa. Tak ada jalan pintas untuk itu.”

      Apa yang dilakukan oleh teman-teman di Al-Hikmah ternyata hampir sama dengan yang dilakukan di negara-negara maju tersebut. Padahal mereka belum pernah pergi ke sana. Hal ini terjadi karena mereka memilki persepsi yang sama tentang pentingnya buku dalam pendidikan. Pendidikan tanpa membaca akan berubah menjadi peternakan manusia. Sekolah tanpa perpustakaan tidak berbeda dengan sebuah kandang.

      Ketiga, optimalisasi perpustakaan sekolah. Perpustakaan dijadikan sebagai jantungnya sekolah. Untuk menjelaskan masalah ini, lagi-lagi saya akan menggunakan hasil riset saya di perpustakaan sekolah Al-Hikmah: Perpustakaan dikelola secara profesional. Ada tiga orang pengelola utama (pustakawan) yang berkdudukan sebagai kepala perpustakaan, bagian teknis, dan bagian layanan. Masing-masing memiliki tugas dan peran yang berbeda. Mereka semua khusus mengelola perpustakaan. Tidak seperti umunya di sekolah lain yang pengelolaan perpustakaan biasanya diserahkan kepada salah seorang guru ajar. Secara organisasi perpustakaan dikepalai oleh seorang pengurus harian yang bertanggung jawab langsung kepada kepala sekolah. Kepala sekolah, yang berperan sebagai penanggung jawab, memiliki tugas merumuskan kebijakan yang dibantu oleh pelaksana harian serta berkoordinasi dengan Komite Sekolah. Ia juga bekrja sama dan bersinergi dengan para pemangku kepentingan.

      Kepala perpustakaan, sebagai pelaksana harian, melakukan pekerjaan manajemen seperti membuat perencaaan, pengorganisasian, pengorganisasian, dan pengawasan terhadap seluruh kegiatan perpustakaan sekolah. Di samping itu ia pun melakukan tugas pengembangan dan program kegiatan.

      Bagian teknis melakukan pekerjaan seperti pembinaan koleksi, pengelolaan bahan pustaka (klasifikasi, perlengkapan buku, dll.), inventarisasi, dan perawatan. Berkat perkembangan teknologi informasi, bagian teknis dimudahakan dengan diterapkan sistem informasi manajemen perpustakaan. Semua pekerjaan teknis dan layanan perpustakaan dapat dikerjakan secara terintegrasi. Sedangkan bagian administrasi dikerjakan sebagian oleh kepala sekolah.

      Saya pun mengunjungi perpustakaan untuk tingkat SMP dan SMA. Ini lebih dahsyat lagi, luasnya hampir setengah lapangan sepak bola. Sistem perpustakaan hampir sama dengan yang diterapakan di perpustakaan SD. Yang membedakan adalah kontek koleksi dan juga program perpustakaan. Di setiap ruang yang strategis dan di sepanjang koridor sekolah dipasang spanduk dengan pesan-pesan dan himbauan menarik untuk mengajak dan mendorong siswa supaya rajin membaca.

      Di sekolah ini siswa dilibatkan dalam pengelolaan perpustakaan terutama yang berkaitan dengan masalah teknis dan layanan. Di bawah arahan dan pengawasan pustakawan para siswa terlibat dalam pengerjaan entri data dan pengerjaan perlengkapan buku seperti memasang label, pembuatan kartu buku, date slip, menempel kantung buku, dan penyampulan. Ada juga siswa ditugasi sebagai layanan sirkulasi (simpan-pinjam buku) berikut pencatanan administrasinya.

      Pelibatan siswa dalam pengelolaan perpustakaan dimaksudkan supaya siswa senantiasa bergaul dengan buku. Dengan semakin seringnya siswa memegang buku maka akan timbul rasa keingintahuan tentang isi buku. Kalau buku sudah dalam genggaman maka siswa akan mengenal judul, membaca sinopsis atau daftar isi yang akhirnya timbul keinginan untuk membacanya. Selain itu, dengan mengalami sendiri dalam mengelola buku maka akan timbul rasya sayang untun mencintai buku baika secara fisik maupun isinya.

      Untuk menambah kecintaan siswa pada buku (ilmu pengetahuan) maka diadakan program rutin berupa kegiatan ilmiah seperti seminar, lokakarya, lomba resensi buku, lomba penelitian, lomba menulis, dll dengan mendatangkan para pakar sebagai narasumbernya. Semua program tersebut dikelola oleh para siswa sendiri. Guru dan pustakawan berperan sebagai pengarah dan fasilitator saja. Yang paling menarik adalah program Bedah Perpustakaan yaitu kegiatan para siswa untuk membuat perpustakaan di sekolah/madrasah lain yang berada di sekitar sekolah mereka. Biasanya program ini dilakukan di sekolah-sekolah yang tidak memiliki perpustakaan. Para siswa yang terlibat dalam kepanitian memiliki tugas masing-masing mulai dari pengadaan bahan pustaka yang mereka kumpulkan dari para donatur, pembuatan rak buku, sampai pada bimbingan pengelolaan perpustakaan untuk para petugas pengelola.

      Itulah beberapa catatan pengalaman nyata tentang bagaimana seharusnya mengelola perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah yang mirip seperti ini jumlahnya sangat jarang sekali atau mungkin hanya satu-satunya di Indonesia. Perpustakaan tersebut patut dijadikan model dan dikloning di serluruh perpustakaan sekolah di tanah air. Saya yakin apabila semua sekolah mengelola perpustakaan seperti di atas maka banyak sekali masalah pendidikan yang bisa terpecahkan. Bukan hanya meningkatkan kebiasaan membaca siswa akan tetapi masalah lain seperti praktek kenakalan (bulying) dan kekerasan di sekolah akan dapat dieliminasi. Dan upaya menumbuhkan kegemaran membaca di kalangan para siswa akan teralisasi dengan mudah.

      E. Tingkatan Membaca

      Keterampilan membaca sangat ditentukan oleh intensitas seseorang dalam membaca. Semakin sering membaca maka akan semakin baik ketermapilan membacanya. Dan sebaliknya, jangan bermimpi memiliki keahlian membaca tanpa sering membaca. Menurut Adler dan Van Doren secara linear ada empat tingkatan membaca: [16]

      Pertama, Membaca Tingkat Dasar, nama lainnya adalah membaca tingkat permulaan, membaca tingkat awal, atau dasar-dasar membaca. Tingkat ini merupakan peralihan dari seseorang yang buta huruf menjadi melek huruf. Di Indonesia biasanya dipelajari di sekolah dasar di mana seorang anak mulai berkenalan dengan buku. Dalam tingkat ini yang banyak ditanyakan adalah arti kata atau arti kalimat secara sederhana.

      Kedua, Membaca Secara Cepat dan Sistematis (inspectional reading). Tingkat membaca ini ditandai dengan penekanan khusus pada waktu. Berapa lama waktu yang diperlukan seseorang dalam membaca buku tertentu. Dalam tingkatan ini yang menjadi ukuran adalah berapa banyak informasi yang dapat diserap dalam durasi waktu tertentu. Minimal pembaca dapat menjawab pertanyaan, “Apa yang dibahas dalam buku ini.” Tingat ini sering juga sisebut dengan membaca sekilas, hanya untuk mengetahui subjek buku, struktur, dan jenis buku.

      Ketiga adalah Membaca Secara Analitis. Tingkatan ini lebih kompleks dan menuntut pembaca bekerja keras untuk mendapatkan informasi yang menyeluruh. Jika membaca inspectional adalah membaca dengan cepat dan terlengkap dengan waktu yang terbatas, maka membaca secara analitis adalah membaca sebaik dan selengkap mungkin dalam waktu yang tidak terbatas. Seseorang yang membaca secara analitis harus mengajukan banyak pertanyaan yang tertata tentang buku apa yang sedang dibaca. Pada tingkat ini, si pembaca dituntut untuk merangkul erat sebuah buku dan terus menggelutinya sehingga buku itu menjadi miliknya sendiri. Francis Bacon pernah mengatakan bahwa “beberapa buku ditulis untuk dirasakan, yang lain untuk ditelan, dan ada sedikit buku yang ditulis untuk dikunyah dan dicerna.” Membaca secara analitis adalah kegiatan mengunyah, melumat, dan mencerna sebuah buku. Tujuan dari membaca secara analitis adalah terutama untuk memahami kandungan sebuah buku.

      Keempat, tingkat yang tertinggi, disebut dengan Membaca Secara Sintopikal (syntopical reading). Ini adalah tingkatan membaca yang paling kompleks dan paling sistematik. Menuntut pembacanya bekerja dengan sangat keras, sekalipun buku yang sedang dibaca relatif mudah dan sederhana. Nama lain dari tingkatan ini adalah membaca secara komparatif. Ketika membaca secara sintopikal, si pembaca tidak hanya membaca satu buku, melainkan banyak buku yang memiliki keterkaitan antara buku yang satu dengan yang lain tentang satu subjek yang menjadi pokok bahasan di dalam buku-buku tersebut. Sebenarnya bukan hanya memperbandingkan saja, tetapi lebih dari pada itu. Dengan bantuan buku-buku yang dibaca, si pembaca mampu mengembangkan sebuah analisis tentang subjek tersebut yang mungkin tidak ada di dalam semua buku tersebut. Karena itu, membaca secara sintopikal jelas merupakan aktivitas membaca yang paling aktif dan penuh upaya, akan tetapi hasilnya paling memuaskan.

      F. Seni Membaca Cepat

      Ledakan informasi, banjir informasi, abad informasi, dan revolusi informasi adalah kata-kata kunci yang sering dijadikan argumen mengapa keahlian membaca cepat (speed reading atau quantum reading) sangat diperlukan sekarang ini. Tidak ada yang salah dengan itu. Membaca cepat memang diperlukan akan tetapi keahlian tersebut dapat diperoleh setelah seseorang memiliki ketertarikan dengan membaca bahkan harus memiliki kebiasaan membaca terlebih dahulu. Akan sulit diterima akal sehat apabila ada seseorang tiba-tiba bisa bisa membaca cepat.

      Apakah semua orang perlu membaca semua informasi. Apakah semua informasi berguna bagi kehidupan seseorang. Ada baiknya kita menyimak kata-kata bijak berikut:[17]

      Tiga abad yang lalu Paskal mengatakan, “jika kita membaca terlalu cepat atau terlalu lambat kita sama sekali tidak memahami apapun”. Menguasai informasi merupakan syarat utma untuk menjadi manusia yang berpengathuan. Akan tetapi banyak informasi belum tentu juga bisa mengakselerasi atau pemahaman. Kita tidak harus mengetahui semua hal tentang sesuatu agar memahaminya. Terlalu banyak fakta seringkali sama-sama menghambat pemahaman seperti juga terlalu sedikit fakta. Ada kesan bahwa kita, manusia modern, terlalu dibanjiri oleh informasi sehingga menghancurkan pemahaman. Yang dimaksud dengan belajar adalah memahami lebih banyak, bukan mengingat lebih banyak informasi yang tingkat keterpahamannya (intelligibility) sama dengan informasi lain yang sudah Anda miliki. Montaigne berbicara tentang “an abecedarian agnorance that precedes knowledge, and another doctoral ignorance that comes after it.” Yang pertama adalah ketidaktahuan orang-orang yang sam sekali tidak bisa membaca karena buta huruf. Yang kedua adalah ketidaktahuan orang-orang yang banyak membaca buku denga cara yang salah. Mereka, seperti dikatakan secara tepat oleh Paus Alexander adalah orang-orang pandir yang banyak membaca buku, yang dibaca dengan cara yang bodoh. Selalu ada orang-orang merelk huruf yang tidak tahu apa-apa, yang sudah banyak membaca tapi tidak membaca dengan baik.

      Sekali lagi harus diingat bahwa seni membaca mencakup semua keahlian yang sama yang terlibat di dalam seni mencari tahu tanpa bantuan: pengamatan yang cermat, ingatan yang siap beroperasi, lingkup imajinasi, dan kecerdasan yang dilatih untuk menganalisis dan mencemati. Membaca, sebagai upaya mencari tahu tanpa bantuan, adalah belajar dari seorang guru yang absen. Kita bisa melakukannya dengan sukses jika kita tahu caranya.

       



      [1] Untuk kasus di Indonesia baca buku Dunia Tanpa Sekolah: Kisah yata seorang anak berusia 15 tahun yang terpenjara oleh sekolah formal (Bandung: Mizan, 2007). Buku tersebut di tulis oleh M. Izza Ahsin seorang anak SMP dan memutuskan diri keluar dari sekolah. Berikut sinopsis yang mencermin semangat dari buku tersebut: “Sindrom sekolah mengalir ke seluruh peredaran darah dan menekan otakku. Merampok kebahagiaanku. Aku semkain tidak betah di sekolah. Ditambah lagi dengan keberadaan guru penghancur mental. Guru yang mempermalukan murid di depan umum. Guru yang tidak mempergunaan jangka sebagai alat mengajar, melainkan sebagai alat menghajar. Guru yang membuat kelas jadi sesunyi kuburan denga dalih menciptakan suasan kondusif. Sekolah seperti memenjarakan dan hanya mengotori otakku, menghambat impianku. Sekolah itu seperti susah payah menimba air dari dalam sumur, lalu mengguyurnya ke tempat semula. Sebagai remaja yang ingin terus belajar dalam arti sebenarnya, aku tidak ingin tersesat di sekolah. Akhirnya, aku memutuskan untuk keluar dari sekolah formal dan menciptakan sekolahku sendiri.

      [2] Hasil penelitian menunjukkan bahwa irama, ketukan, dan keharmonisan musik mempengaruhi fisiologi manusia—terutama gelombang otak dan detak jantung—di samping membangkitkan perasaan dan ingatan. Memainkan musik Mozart akan mengkoordinasikan nafas, irama jantung, dan irama gelombang otak...Musik ini mempengaruhi pikiran tak sadar, merangsang reseptivitas dan persepsi. (Bobbi DePorter, Mark Reardon, Sarah Singer-Npurie. Quantum Teahing. Bandung: Kaifa, 1999. Hal. 73-77)

      [3] Psikolog dari University of North Carolina, Anthony DeCasper meneliti efek membacakan buku kepada anak in utero (ketika masih dalam kandungan). Hasilnya: reaksi para bayi terhadap cerita yang dibacakan dipengaruhi oleh pemaparan lebih dini. Temuan lainnya adalah, pertama, detak jantung si bayi meningkat ketika cerita baru dibacakan dan menurun ketika cerita yang familier dibacakan. Kedua, si anak yang ada dalam kandungan menjadi familier dengan bunyi-bunyian tertentu ketika berada dalam kandungan dan mulai mengasosiasikan bunyi tersebut denga rasa nyaman dan aman. Si baya sedang dikondisikan—kelas pembelajran pertamanya. Bayangkan seberapa banyak yang bisa dicapai ketika si anak bisa melihat dan menyentuh buku, memahami kata-kata dan merasakan si pembaca (Jim Trelease. Read-Aloud Hanbook. Jakarta: Hikmah, 2008, hal. 45)

      [4] Ahli psikologi menyebutnya dengan istilah imprinting: mencetak. Anak-anak mencetak perilaku berdasarkan cetakannya atau orangtuanya. (Mohammad Fauzil Adhim. Hal. 153)

      [5] Irawati Istadi. Istimewakan Setiap Anak. Jakarta: Pustaka Inti, 2005, hal. 140

      [6] Mohammad Fauzil Adhim. Membuat Anak Gila Membaca. Bandung: Mizania, 2007, hal.48.

      [7] Jim Trealase. Op.cit., hal. 54 dan hal. 72

      [8] Jim Trealase. Op.cit., hal. 11

      [9] Jim Trealase. Op.cit., hal. 38

      [10]Paul Jennings. Agar anak Anda Tertulas “Virus” Membaca. Bandung: Mizan Learning Center, 2006, hal.23

      [11] Jim Trealase. Op.cit., hal. 71

      [12] Suherman. Perpustakaan Sebagai Jantung Sekolah. Bandung: Literate Publishing, 2012, hal. 162-174

      [13] Paul Jening. Op.cit., hal. 81

      [14] Jim Trealase. Op.cit., hal. 24

      [15] Tati D. Wardi dalam tulisannya “Nalar dan Paradigma Baru Literasi” di harian Kompas, 14 Desember 2013

      [16] Mortimer Adler dan Charles van Doren. Meraih Kecerdasan: Bagaimana Seharusnya Anda Meraih Manfaat Hebat dari Bacaan?. Bandung: Penerbit Nuansa, 2011. Diterjemahkan dari buku How Read a Book (New York: MJF Books Fine Communication, 1972)

      [17] Mortimer Adler dan Charles van Doren. Op.cit., hal. 18- 33

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 458 clicks
      • Average hits: 21.8 clicks / month
      • Number of words: 14969
      • Number of characters: 128363
      • Created one month and 9 months ago at Wednesday, 22 February 2017 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Google+ Facebook Twitter mail SC