.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Kerangka Pemikiran

      Untuk Penelitian Budaya Baca

      Oleh:

      Suherman

      Permasalahan yang dikaji dalam studi budaya baca adalah berupa faktor-faktor apa yang berpengaruh dalam membangun budaya baca masyarakat. Untuk mengkaji permasalahan tersebut supaya mendapatkan hasil yang komprehensif, maka dalam membaut kerang pemikiranya pun harus menggunakan grand theory dengan pendekatan politik, pedagogi, psikologi, ideologi, dan sosiologi. Yang dimaksud dengan budaya dalam kajian ini adalah “kebiasaan yang sukar untuk berubah.”[1] Maka dengan demikian budaya baca artinya membaca dijadikan kebiasaan atau sudah mendarah daging dalam diri seseorang atau masyarakat. Untuk menjadikan membaca menjadi budaya secara psikologis dapat dilakukan dengan pengkondisian (conditioning). Pendekatan ini bersifat Pavlovian yang berlandaskan pada teori stimulus-respon. Pendekatan tersebut akan dilengkapi dengan pendekatan yang lebih humanstis yang sering diajukan oleh Steven Covey. Pendekatan Covey (1997) didasarkan kepada sebuah teori bahwa manusia tidak hanya digerakan oleh stimulus yang sangat mekanistis, akan tetapi manusia adalah merupakan makhluk yang memiliki kehendak bebas. Di antara stimulus dan respons terdapat kekuatan manusia yang besar, yaitu kebebasan untuk memilih. Untuk membangkitkan dan membangun minat baca tidak hanya harus dilandaskan pada lingkungan atau kondisi, tetapi juga dapat didasarkan pada pilihan yang sadar. Membaca bukan sebuah kewajiban yang datang dari ”luar” dan harus dilakukan dengan terpaksa, akan tetapi sebuah kebutuhan yang timbul dari ”dalam diri” akan dilakukan dengan senang hati. Tentu saja perasaan itu akan timbul dalam diri seseorang setelah diberikan pemahaman tentang pentingnya membaca untuk peningkatan kualitas hidup seseorang.

      Secara sosiologis, lemahnya budaya baca di Indonesia selain merupakan masalah personal juga menjadi masalah sosial.[2] Sehingga untuk memecahkanya diperlukan rekayasa sosial atau perencanaan sosial supaya terjadi perubahan sosial (berubah menjadi masyarakat yang gemar membaca) berupa aksi-aksi kolektif, community development, social movement, dan revolusi. (Rakhmat, 1999) Untuk melakukan perubahan sosial secara massif, bersifat memaksa dan mengikat di masyarakat paling efektif menggunakan pendekataan politik atau kekuasaan. Negara atau pemerintah misalnya dapat membuat regulasi atau legislasi tentang budaya baca. Dengan strategi persuasif melalui saluran media massa dan jalur-jalur resmi kelembagaan (terutama melalui departemen pendidikan dan perpustakaan umum) pemerintah secara bertahap mengimplementasikan regulasi yang telah dibuatnya. Melalui pendekatan pedagogi ditekankan untuk mengubah paradigma dan mind-set masyarakat tentang pentingnya membaca bagi peningkatan kualitas hidup. Sedangkan pendekatan ideologis lebih kepada menanamkan kesadaran bahwa membaca merupkan kewajiban asasi manusia yang tidak bisa ditinggalkan. Membaca merupakan jalan kenabian untuk meraih kebahagian baik di dunia maupun di akherat kelak.

      Masa depan seseorang atau bangsa sangat ditentukan oleh seberapa banyak ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Tindakan atau prilaku seseorang tidak mungkin keluar dari bingkai pengetahuan atau pikirannya. Pengetahuan seseorang sangat menentukan kualitas pikirannya. Sedangkan pikiran adalah akar dari terjadinya perubahan, perbaikan, dan pengembangan kepribadian. Oleh karena itu, untuk melakukan pembangunan karakter personal maupun kebudayaan masyarakat maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperbaiki pengatahuannya yang instrumen utamanya adalah membaca.



      [1] Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) “budaya”artinya: 1. Pikiran, akal budi, 2. Adat istiadat, 3. Sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang (beradab, maju), 4. Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sukar diubah.

      [2] Masalah personal adalah masalah yang dialami oleh seseorang yang diakibatkan oleh sikap dan kepribadian orang tersebut, sedangkan masalah sosial adalah masalah yang dialami oleh banyak orang sebagai akibat dari sistem atau kebijakan yang tidak benar.Misalnya, ada seorang anak yang tidak bisa belajar karena malas, miskin, broken home, atau mengalami child abuse. Itu adalah persoalan personal. Akan tetapi ternyata anak yang tidak bisa belajar itu jumlah banyak dan merata di seluruh wilayah maka itu adalah masalah sosial. Lihat buku Jalaluddin Rakhmat. Rekayasi sosial (Bandung: Rosda, 2000). Juga dibahas secara mendalam dalam buku Soerjono Soekanto. Sosiologi Suatu Pengantar. (Jakarta: CV Rajawali, 1987)

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 255 clicks
      • Average hits: 12.1 clicks / month
      • Number of words: 3296
      • Number of characters: 29856
      • Created one month and 9 months ago at Wednesday, 22 February 2017 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Google+ Facebook Twitter mail SC