.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Keperpustakaan
E-mail

Republika 16 mei 1998

 

Perpustakaan Nasional dalam Era Globalisasi

Mirwansyah Karyawan Perpustakaan Nasional RI

 

 

Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas) meru­pakan penggabungan dan beberapa perpus-takaan, antara lain Perpustakaan Museum Nasional, Perpustakaan Sejarah Politik dan Sosial, Perpustakaan Wilayah Depdikbud DKI Jakarta, dan Bidang Bibliografi Pusat Pembinaan Perpustakaan Depdikbud. Penggabungan keempat perpustakaan yang dilaksanakan pada 1980 ini dapat dijadikan bukti besarnya perhatian pemerintah .terhadap perpus­takaan. Ditindak lanjuti dengan lahirnya Keppres No 11/1989, maka Perpustakaan Nasional RI Depdik­bud berintegrasi dengan Pusat Pembinaan Perpusta­kaan Depdikbud menjadi Perpustakaan Nasional RI, yaitu suatu Lembaga Pemerintahan Nondepartemen.

Sejak peleburannya pada 1980, maka pada 17 Mei 1998 Perpusnas berusia 18 tahun. Di usia Perpusnas masih mendapat perhatian dari pemerintah dengan revisi Keppres No 11/1989 menjadi Keppres No 507-1997 tepatnya tanggal 29 Desember 1997. Revisi Keppres ini merupakan tuntutan terhadap pentingnya eksistensi perpustakaan di era informasi saat ini. Sebenarnya usia Keppres No 11/1989 hanya sembilan ta­hun. Perpustakaan dalam menjalankan Keppres itu selalu mendapat hambatan yang cukup berarti. Namun kita sadari, betapa pun suatu program yang berorientasi pada layanan masyarakat (public service) dan nirlaba, masa sewindu belumlah dapat memberikan hasil yang optimal seperti yang diharapkan. Beda de­ngan perusahaan komersial misalnya, yang dalam li­ma tahun sudah mendapat break even point karena perusahaan berorientasi pada keuntungan.

Last Updated on Tuesday, 21 February 2012 08:46 Read more...
 
E-mail

 

MEDIA INDONESIA, 11 FEBRUARI 2006

 

PERPUSTAKAAN MERANA,

PEMERINTAH CUEK

'Masyarakat kita lebih menggunakan budaya lisan untuk menyebarkan informasi dan menularkan ilmu pengetahuan. Maka tidak salah, kalau budaya lisan dan.pertunjukkan berkembang pesat.

IQRA bacalah. Demikian ayat pertama kitab suci Alquran. Namun, soal baca membaca, bukan menjadi yang pertama di negeri ini. Tidak ada yang memungkiri kenyataan bahwa minat baca masyarakat kita amat rendah. Berbagai survei maupun indikator dapat menjelaskannya mulai dari oplah koran yang stagnan, jumlah buku yang diterbitkan per tahun, perpustakaan yang semakin tidak terurus juga penelitian yang dilakukan berbagai lembaga.

Pada 1992, badan PBB untuk pendidikan, UNESCO, menyebutkan, tingkat minat baca rakyat Indonesia menempati urutan 27 dari 32 negara. Juga hasil survei yang dilakukan Departemen Pendidikan Nasional, 1995 menyatakan, sebanyak 57% pembaca dinilai sekadar membaca, tanpa memahami dan menghayati apa yang dibacanya. Belum lagi kalau kita lihat jumlah buku yang diter­bitkan tiap tahunnya yang tidak beranjak naik. Berdasarkan data Ikapi, rata-rata jum­lah buku terbit 6.000 judul per tahun, sedangkan jumlah penduduk Indonesia 210 juta, ini berarti 29 buku untuk satu juta penduduk.

Last Updated on Tuesday, 21 February 2012 08:43 Read more...
 
E-mail

 

PIKIRAN RAKYAT, 17 JUNI 2009

Perpustakaan Majalengka Memprihatinkan

 

MAJALENGKA, (PR).-

Akibat tidak memiliki anggaran untuk kegiatan operasional, Perpustakaan Kabupaten Majalengka hanya bisa memberikan pelayanan setengah hari.

Selain pelayanan kunjungan yang terbatas, perpustakaan juga tidak bisa memberikan layanan telefon dan air bersih sehubungan seluruh fasilitas tersebut telah diputus akibat tidak mampu membayar.

Kasi Perpustakaan Daerah di Kantor Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Ma­jalengka Ande Jatnika, Selasa (16/6), menuturkan, pemutusan sambungan te­lefon dan saluran air PDAM telah ber-langsung cukup lama. Bahkan, saluran listrik pun, menurut dia, sering kali di­putus oleh pihak PLN akibat tidak mam­pu membayar.

Last Updated on Tuesday, 21 February 2012 08:41 Read more...
 
E-mail

Republika 9 September 2008

 

PERPUSTAKAAN

 

Lumbung llmu di Era Kekhalifahan

 

Sejak peradaban Islam menguasai teknologi pembuatan kertas,  aktivitas penulisan buku di akhir abad ke-8 M kian menggeliat. Jumlah buku yang terbit di era kekuasaan Dinasti Abbasiyah itu sungguh melimpah. Pada era itu minat baca sangat tinggi, sehingga setiap orang berlomba membeli dan mengoleksi buku. Ziauddin Sardar dan MW Davies dalam bukunya berjudul Distorted Imagination menggambarkan penerbitan buku di dunia Islam 10 abad silam, hampir setara dengan pencapain peradaban Barat saat ini, baik secara kualitas maupun kuanti-tas. "Hampir 1.000 tahun sebelum buku hadir di peradaban Barat, industri pener­bitan buku telah berkembang pesat di dunia Islam," paparnya.

Guna menampung buku-buku yang ter­bit setiap saat, pada abad ke-9 M di hampir seluruh kota Islam sudah ada perpustakaan. Masyarakat Islam menyebutnya sebagai dar al-'ilm. Sejatinya konsep perpustakaan atau library sudah mulai muncul di era per­adaban bangsa Sumeria Kuno. Para arkeolog menemukan bekas bangunan perpus­takaan di Nippur bertarikh 1900 SM.

Last Updated on Tuesday, 21 February 2012 08:40 Read more...
 


Page 9 of 28

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,798
  • Sedang Online 71
  • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9127584
Jantung_Sekolah1.jpg

Kalender & Agenda

December 2019
S M T W T F S
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31 1 2 3 4

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC