.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Keperpustakaan
E-mail

 

REPUBLIKA   9 SEPTEMBER 2008

 

Semua Berawal dari Masjid

 

Sejatinya masjid tak hanya menjadi tempat beribadah. Menurut J Pedersen dalam bukunya Arabic Book, pada masa keemasan Islam, masjid juga berfungsi sebagai pusat kegiatan intelektualitas. Di era kekhalifahan masjid merupakan tempat para sarjana dan ulama Muslim menyusun buku.

"Sebelum diterbitkan, seorang penulis atau ilmuwan harus mempresentasikan isi bukunya kepada publik. Mereka melakukannya di masjid dengan cara dibaca atau didiktekan," papar Ziauddin Sardar. Paparan penulis atau ilmuwan itu lalu didengarkan masyarakat umum dan djkopi oleh seorang warraqin yang bekerja sebagai penulis yang menyalin berbagai manuskrip yang dipesan para pelanggannya.

Masjid dan perpustakaan pada zaman kejayaan Islam tak bisa dipisahkan. Sebab, masjid juga memainkan peran yang penting lainnya, yakni sebagai perpustakaan. Kehadiran perpustakaan didunia Islam juga berasal dari aktivitas keilmuan yang digelar di rumah Allah SWT. Menurut Pedersen, pada masa itu masyarakat Muslim menyerahkan koleksi bukunya ke masjid untuk disimpan di dar al-kutub (perpustakaan}.

Last Updated on Tuesday, 21 February 2012 13:56 Read more...
 
E-mail

 

KOMPAS, SELASA, 20 NOVEMBER 20O7

 

KEMBANGKAN PERPUSTAKAAN SULIT

Sekolah Bisa Membangun Budaya Baca

 

JAKARTA, KOMPAS - Dalam Undang-Undang tentang Perpustakaan yang disahkan beberapa waktu lalu, sekolah wajib memiliki perpustakaan dan

mengalokasikan dana perpustakaan paling sedikit 5 persen dari anggaran belanja operasional sekolah atau madrasah. Akan tetapi, sekolah dasar atau SD ternyata sulit membangun dan menyiapkan dana khusus bagi perpustakaan.

Turman, Kepala Sekolah Dasar Negeri Nanggung 01, Kabupaten Serang, mengatakan, sekolahnya belum memiliki perpustakaan dan ragu apakah dapat menyediakan 5 persen dana perpus­takaan tersebut karena terdapat sarana dan fasilitas dasar lain yang belum terpenuhi dan masih prioritas.

"Misalnya, masih kekurangan ruangan kelas dan lapangan olah-raga. Terdapat enam rombongan belajar dengan jumlah kelas hanya lima ruangan," ujarnya

Last Updated on Tuesday, 21 February 2012 13:55 Read more...
 
E-mail

 

Media Indonesia 24 agustus 2009

 

 

Sastra Rendra

Dunia pendidikan sastra kita sedang berduka. Wahyu Soelaiman Rendra, atau yang kita kenal dengan nama Mas Willy, penyair modern Indone­sia pasca-Pujangga Baru, menghadap Sang Pencipta. Empat hari sebelum itu, teman karib-nya yang bernama Mbah Surip juga wafat dan meminta untuk dimakamkan di TPU Bengkel Teater milik WS Rendra di Citayam, Depok. Ada sedikit paradoks di antara dua seniman itu. Rendra memiliki gaya bahasa yang sangat kaya akan nuansa, dari mulai riwayat cinta hingga pergerakan sosial dan politik, sedangkan Mbah Surip menggunakan bahasanya sendiri serta memberikan banyak orang untuk mencerna. Keduanya seperti sepakat untuk bertemu di alam baka, menyanyikan lagi kidung cinta dan kepahitan hidup bersama-sama.

Bahasa bagi Edu yang terlahir di era 60-an boleh dibilang lebih banyak tumbuh dan berkembang dari persemaian pergaulan di jalanan, koran bekas, teater serampangan, hingga panggung-panggung pertunjukkan para pe­nyair. Di sekitar era 80-an, anak-anak SMA di Jakarta penggemar sastra sangat bangga jika bisa mengikuti lomba membaca puisi yang diadakan di TIM. Ribuan peserta dan lomba pun berlangsung berhari-hari, kebanyakan dari kita dengan penuh heroik dan suka cita membaca karya-karya besar Rendra, Supardi Djoko Damono, Chairil Anwar, Amir Hamzah, Sanusi Pane, Abdul Hadi WM, Taufik Ismail, hingga Hamid Jabbar.

Last Updated on Tuesday, 21 February 2012 13:14 Read more...
 
E-mail

 

KOMPAS 19 OKTOBER 2007

 

Ruang Pencapaian Obsesi Pribadi

 

Oleh ESTER LINCE NAPITUPULU dan INDIRA PERMANASARI

“Perpustakaan pribadi rupanya tak sekadarruang penyimpan buku-buku yang memang penting dan bernilai. Ruang intim itu, koleksi buku dan dokumen itu adalah bagian dari kepribadian pemiliknya. Dari sana perpustakaan menginspirasi pencapaian dan obsesi pribadi.”

Asep Kambali (27), penggagas dan Ketua Komunitas Historia, begitu menikmati saat menghabiskan waktu di perpustakaan mini di rumahnya di kawasan Kramat, Jakarta Kumpulan buku yang kebanyakan bertema sejarah, terutama tentang kota Jakarta, mampu menggiring Asep pada suasana kota dan kehidupan Jakarta tempo dulu.

"Membaca buku, apalagi se­jarah, sering kali menemukan kejutan-kejutan. Banyak cerita soal Batavia atau Jakarta yang menarik, unik, dan lucu saya dapatkan dari buku. Ketika diceritakan ke orang lain, mereka juga terkejut karena baru tahu atau mendengar," kata Asep.

Last Updated on Tuesday, 21 February 2012 13:13 Read more...
 


Page 5 of 28

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,798
  • Sedang Online 77
  • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9126774
bacalah.jpg

Kalender & Agenda

December 2019
S M T W T F S
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31 1 2 3 4

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC